Wednesday, September 10, 2014

SELAKSA RINDU



SELAKSA RINDU
By: Mutiara Sakha


Awan hitam menggantung menutupi cahaya matahari yang bersikukuh untuk tetap menerangi indahnya mayapada.  Saling berlomba untuk menunjukkan pengabdian terbaik pada penciptanya. Sebagai tanda bersujud syukur atas semau karunia yang terlimpah  dalam setiap hembusan angin.
Anggo, kucing kesayanganku   masih tertidur malas beralaskan karpet di beranda. Tempat dimana aku selalu duduk bercengkrama bersamanya  dan ketiga permata hati titipan Illahi. Hampir setiap senja kunikmati keindahan warna langit saga dalam rasa syukur mendalam atasa segala rahmat yang telah diberikan.
Semua terasa sempurna dalam buaian angin semilir rumah sederhana dengan hamparan sawah membentang melenakan mata. Masih kuingat ketika suatu sore wajah muram miliknya bergelayut dengan sejuta bimbang penuh tanda tanya.
“Bunda, anak kita semakin besar, akan butuh biaya yang tidak sedikit agar mereka bisa tetap sekolah tinggi seperti mimpi manis kita.”
Kutatap wajah teduh  kekasih hati belahan jiwa yang telah mengarungi bahtera rumah tangga bersama selama 15 tahun, berjuang menjaga agar  tak pernah karam dalam badai lautan kehidupan.
‘Maksudnya apa sih,Yah. Bunda jadi bingung  loh?”
Tiada jawaban. Hanya matanya yang setajam elang menatap sawah menghijau milik para petani yang tetap tekun berpeluh mengabdikan dirinya kepada ibu pertiwi. Setia terpanggang matahari dan basah kuyup oleh hujan. Tak jarang mereka terpanggang petir di tengah sawah membentang. Ironis, tak sepadan dengan hasil tak memadai yang akan dituai. Kebijakan pemerintah dengan mengimpor beras telah menjadikan petani di negeri ini bagaikan ayam yang mati di lumbung padi.
“Jangan diam saja dong. Bikin senewen. Katakan walaupun pahit, My Baby,” godaku sambil tersenyum menatapnya jenaka. Rayuan maut. Kulihat senyum manisnya mengembang.
“Begini, Bun. Maaf kalau membuatmu marah nantinya. Ayah pikir kalau hanya mengandalkan hasil sawah yang hanya sepetak ini, tak mungkin rasanya bisa kuliahin anak-anak nantinya.”
“Teruss.....?! Aku menggelembungkan mulut tak sabar.
“Kalau Bunda setuju sih. Biar kita  bisa menabung. Rencananya Ayah mau ikutan kerja proyek di luar negeri. Tadi ada rekan yang baru pulang dari Kuwait mengajak untuk gabung. Ada pekerjaan dengan upah lumayan membutuhkan skill yang kumiliki.”
Aku terpana dan mendadak sedih. Sungguh bukan suatu yang mudah untuk menjatuhkan pilihan. Antara keinginan dan realita kehidupan. Huff...
“Kalau Bunda nggak setuju ya sudah. Ayah ngerti banget  jika hal ini sangat berat untuk ditempuh. Tapi Ayah mohon agar Bunda memohon petunjuk dari-Nya sebelum memutuskan. Semoga Dia berikan  jalan yang terbaik.”
Aku hanya bisa diam tergugu. Ya Malik, kuatkanlah hatik ini untuk melepas milik-Mu yang telah menjadi amanah bagiku selama ini. Tiada daya upaya selain atas kehendak-Mu.
            Seminggu kemudian belum ada jawaban pasti. Namun kucoba menguatkan jiwa untuk mengikhlaskan kepergiannya. Demi masa depan anak-anak kami berdua. Ya, aku harus mampu  mengalahkan rasa  ego dan cemas serta ketakutan akan kehilangan. Sebagai orangtua  mengalah dan bersabar demi buah hati adalah suatu keharusan, walaupun pahit bagai empedu.
“Beneran nih, Bunda melarang mending batalin aja. Semuanya khan harus ada komitmen plus kerelaan. Tapi janji jangan sedih ya. Maaf nanti Bunda jadi repot  sendiri tanpa Ayah yang siaga membantu apa saja.” Kerlingan manja itu tak mungkin terlupa. Hiks... Jadi ingat lagu malam terakhir milik Bang Haji  Rhoma Irama.

Malam ini malam terakhir bagi kita
Untuk mencurahkan rasa rindu di dada
Esok aku akan pergi lama kembali
Kuharapkan agar engkau sabar menanti

Kepergianku hanya untuk kembali
Kita berpisah untuk berjumpa lagi
Kecuali bila Tuhan menghendaki
Tentu saja kita harus rela hati
Karena kehendak-Nya itu yang terjadi

Potongan syair lagu itu terasa sekali mewakili gundahnya hatiku. Apa daya memang harus demikian yang terjadi. Semoga saja semuanya akan lebih baik .
Kutitipkan kekasih hati dan belahan jiwa kepada pemiliknya. Dimanapun berada Alloh akan tetap bersamanya. Insha Alloh.
            Hari ini genap  satu tahun kepergiannya. Pada  enam bulan pertama, sekali dalam seminggu komunikasi tetap terjalin lewat  telepon selular. Banyak cerita  menarik yang kudengar. Tentu saja adat budaya yang berbeda akan menyebabkan shock culture baginya.
Kuwait adalah negara monarki yang kaya akan minyak  terletak di pesisir Teluk Persia, Timur Tengah. Ia berbatasan dengan Arab Saudi  di sebelah selatan dan Irak di utara. Nama 'Kuwait' berasal dari kata Arab  yang bermakna benteng yang dibangun dekat air. Banyak juga Nakerwan  di sini, Bun.” Dia menjelaskan layaknya seorang guru kepada muridnya.
“Kapan aku bisa jalan-jalan ke sana ya,Yah. Waduh, jadi iri banget. Pengen...”
“Ya. Sabar aja dulu. Ayah tahu cita-cita Bunda yang kepingin berkelana ke seluruh dunia itu masih menjadi impian khan?”
“Banyak-banyak berdoa aja. Entah bagaimana caranya  Dia pasti akan memberikan  jalan.”
Setelah itu seperti biasa  perbincangan bergeser kepada masalah anak-anak. Tentang si Sulung yang tahun ini akan masuk Aliyah dan adiknya yang akan masuk Tsanawiyah. Sementara si Bungsu akan naik kelas lima Sekolah Dasar. Tahun ini kami harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi untuk biaya mereka berdua.
Sudah enam bulan Ayah tak bisa dihubungi. Walaupun nafkah mengalir lancar dan tiada kekurangan akan tetapi rasa hampa dan rindu kami  rasakan  menjadi kian menyesakkan dada.
Terlampau sering aku menangis dalam sujud panjang di malam  hening. Mengadukan kegundahan hati  kepada Sang Khalik. Hanya kepada-Nya aku merintih  dan memohon keselamatan dan keteguhan hati untuk keluarga ini.  Mohon keselamatan dan keteguhan.Tak tega rasanya untuk berburuk sangka pada Ayah dari anak-anaku itu. Apalagi pada Tuhanku. Aku tetap memelihara pikiran positif apapun yang terjadi. Untuk mengadu kepada orangtua yang telah renta tentu saja tak mungkin kulakukan. Mereka sering  menderita sakit mengingat usia yang sudah uzur. Aku harus tegar dan selalu mengatakan bahwa semuanya lancar, sehat baik yang ditinggalkan ataupun yang sedang berjuang di negara manca.
Selalu kukatakan kepada anak-anak agar tidak memberitahu hal-hal yang tidak menyenangkan tentang Ayah mereka kepada  Eyang.
            Suatu malam  yang dingin seorang tamu datang bertandang ke rumah dengan mengendarai sepeda motor. Mendengar suara motor dengan serempak anak-anak berebut membukakan pintu. Mereka berharap ayahnya  pulang ke rumah. Tak terkecuali aku, bahkan dengan kerudung seadanya yang kusambar dari gantungan baju di balik pintu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa alaikum salam.” Silakan masuk. Maaf, Bapak siapa ya?”
“Yaaa... Kok bukan  Ayah sih. Kenapa nggak pulang-pulang juga. Khan udah janji mau beliin sepeda baru.” Aisyah menangis dan berlari masuk kamar.
Aku dan tamuku tertegun di ruang tamu. Anak bungsuku itu memang paling dekat dengan ayahnya.  Agak kolokan dan manja.
“Rio, tolong susul adikmu. Usakan supaya diam ya. Malu dilihat tamu.”
Kedua anakku hanya menggangguk lemah dan pelan-pelan berbalik menghampiri pintu kamar adiknya yang sedang menangis keras.  Si Bungsu ini memang unik kalau sedang kesal durasi menangisnya bisa berjam-jam mirip sinetron saja. Bahkan setelah tertidurpun bila terbangun bisa berlanjut lagi meweknya. Biasanya hanya Rio anak sulungku yang sanggup membuatnya tenang.
            “Maaf, Pak jadi terganggu ya. Silakan duduk. Oya, Anda siapa dan ada keperluan apa kemari?” Tak sabar kutanyakan semuannya. Kontrak kerja Ayah hanya setahun jadi pantaslah semua keluarga berharap-harap cemas.
“Nggak apa, Bu. Saya  Hidayat, teman kerja Mas Ridho di Kuwait. Datang ke sini mau menyampaikan surat saja. Maaf baru hari ini  bisa mengantarkan.”
 Kuterima surat beramplop putih  itu dengan tangan gemetar. Seketika muncul rasa cemas dan suatu  firasat tidak baik dalam dada. Kubuka surat itu dan kubaca perlahan-lahan agar tidak ada satu katapun terlewatkan.

Teruntuk Bunda tersayang,
Assalamu’alaikum, Bunda cantik.
Sebelumnya Ayah kabarkan bahwa disini baik dan sehat. Terlebih dahulu Ayah mohon maaf yang sebesar-besarnya karena sudah enam bulan tiada sanggup bersilaturrahim denganamu dan anak-anak kita. Sungguh rasa rindu ini tak tertahankan merobek hatiku tapi apa daya ada sesuatu yang menahanku untuk pulang menjumpai  kalian.
Bunda, ampuni Ayah yang pengecut dan tak setia ini. Ayah akui sebagai istri Bunda adalah wanita sempurna yang selalu menjadi bidadari dihati ini. Akan tetapi Ayah juga mempunyai kekurangan dan kelemahan. Rasa rindu kepada Bunda yang setiap saat menyiksa ini pada akhirnya dengan terpaksa sekali...
Ayah telah menikah lagi. Karena takut berzina. Tolong maafkan.
Ayah menikah dengan wanita asal Indonesia yang terlantar di Kuwait karena disiksa oleh majikannya. Niat semula ingin menolongnya tapi ternyata semuanya menjadi seperti ini... Maaf sekali lagi. Satu bulan yang lalu Nafisha telah meninggal dunia dalam keadaan hamil karena sakit yang tak kuketahui penyebabnya sampai saat ini.

Bunda sayangku,
Ayah tak punya muka lagi untuk menjumpai Bunda dan keluarga besar kita. Apalagi menatap bening mata polos anak-anak yang selalu membuatku merasa berdosa. Aku mohon tolong rahasiakan semua ini kepada mereka. Dan jika Bunda tak menghendaki kepulanganku, maka nafkah kalian tetap akan kupenuhi. Aku malu telah berkhianat padamu. Rasanya tak lagi pantas anak-anak memanggilku Ayah, dan tanganmu tak pantas lagi memeluk hatiku yang telah mendua.
Ayah, selalu sayang dan kangen kalian. Cinta ini kudekap erat.Bukalah hatimu untukku kembali. Dekap erat untuk anak-anak. Ayah kangen kalian.
Assalamulaikum wr wb.
Yang mencintaimu sepenuh hati.
Ridho
Mataku mengabur dalam keperihan yang sangat dalam. Ayah telah berubah. Tak kukenali lagi hatinya. Tak sanggup lagi kuterima cintaku yang telah dibaginya kepada wanita lain.
“Bu, mohon maaf bila  saya lancang bicara. Sekedar informasi bahwa sayapun pernah menikah dengan wanita Indonesia di sana. Akan tetapi kami berpisah baik-baik karena saya lebih mencintai keluarga. Mereka segalanya bagi saya. Alhamdulillah pada akhirnya keluarga saya menerima kekhilafan itu. Semaunya terjadi begitu saja.”
“Sekarang semua terserah kebijakan Ibu, akhir-akhir ini Mas Ridho sering sakit dan muram seakan tak punya gairah hidup. Surat itupun saya yang menyarankan untuk segera ditulisnya. Dia benar-benar menyesal dan  putus asa.”
Saat ini aku tak mampu berkata-kata apalagi berfikir jernih. Setelah tamuku berpamitan segera kuseret kakiku menuju kamar mandi, menangis  nelangsa. Aku tak mau buah hatiku cemas dan tahu kondisi Ayah terkasih.
            Berhari-hari kuadukan airmata duka ini hanya kepada Illahi Robbi, Pemilik nyawa kami. Hati ini telah terluka pedih berdarah. Mampukah aku menerimanya kembali? Aku tak tahu, biarlah waktu yang akan menjawabnya, akan kusongsong takdir hidup ini apapun itu.


Nusakambangan, 31 Mei 2014.
**********************************************************************
           

No comments:

Post a Comment