Wednesday, September 10, 2014

LINGKAR GULITA



LINGKAR GULITA
By: Mutiara Sakha


Deras aliran sungai  saat senja merona, hanyutkan cerita dan cinta yang telah lapuk untuk terjaga.
Kutermangu dalam temaram  keruhnya rasa hati. Menghayati kesunyian, meratapi kabut pekat  yang luruh tanpa suara.
            “Mengapa harus keheningan yang tertinggal di sini. Kenapa harus kerinduan terjejak  menyisakan tangisan.”
            “ Apa yang bisa aku lakukan lagi. Bahkan aku  tak mampu untuk sekedar berteriak, tanpa daya hanya merana dalam diam.”
            “Tentu tak seorangpun akan sudi melihatku apalagi mengerti tentang  diri ini. Semuanya semu  antara ada dan tak berarti.” Sejenak aku berhenti berkata-kata sendiri,  tiada berkawan melainkan sepi.
            Seorang gadis ayu beralis tebal menjatuhkan badannya  ceria, bersandar dalam dekapanku. Kurasakan damai dan sukacita yang membuncah dalam dadanya. Penuh gairah cinta.
“Hai sayang, kenapa lama sekali sih datangnya, aku dah kangen banget nih,” suara merdu itu terdengar renyah ketika menyambut datangnya kekasih  hati.
            “Sabar dong sayang, khan aku baru aja pulang kerja,” lelaki kurus berhidung mancung  dan berwajah tampan itu membelai rambut gadisnya, mesra. Huff.. sungguh membuatku mati rasa. Andaikan saja aku bisa seperti mereka, tapi apa daya?
            “Ah bohong pasti kamu nyamperin pacarmu yang lain khan. Hayo... ngaku ajalah. Aku dah baca SMS dari cewe rese itu kemaren,” wajah cantik gadis berubah menjadi masam seperti buah mangga mengkal. Hemm... begini rupanya rerupa orang yang sedang cemburu buta.
            “Sudahlah sayang. Kenapa sih selalu saja mesti ribut dengan sesuatu yang tidak penting. Dengar ya sampai langit terbelahpun hatiku hanya untuk kamu. Bahkan separuh nyawa ini sudah menyatu dalam ragamu. Apakah kamu tak mengerti jua?”
            “Ah gombal dasar cowo semuanya sama saja doyan merayu dan setelah itu ditinggalkan begitu saja,” wajah gadis masih saja tak sedap dipandang. Susah ternyata untuk membuka hati wanita yang terkena virus merah jambu.
            “Duhai, Dinda apakah lagi yang harus kubuktikan padamu saat ini, masih kurangkah pengorban yang telah kulakukan untukmu?” Dengan berlutut bak pangeran dalam dongeng lelaki itu memegang  kedua tangan gadis. Huhh.... lebay banget deh.
            “Ya sudahlah untuk saat ini aku percaya. Entah esok hari dan nanti.”
            “Terimakasih cinta. Kau memang sangat penuh pengertian, calon pengantin yang sempurna untuku.”
Dalam temaram kabut aku tak mampu menatap dua insan yang sedang terbang mengangkasa, tanpa sadar mereka terbelenggu nafsu angkara. Sungguh celaka.
            Dandelion terangguk-angguk menari dalam ayunan angin sepoi, ya angin dan bunga itu telah bertasbih pada penciptanya dengan cara mereka yang indah. Walaupun tak semua akan mengerti akan wujud syukur itu.
Gadis kembali  hadir dalam dekapanku saat ini setelah sekian lama tak bersua. Rinduku terobati sudah. Heiii.... wajah yang ayu dengan bibir tipis memukau itu tenggelam dalam duka. Garis bibirnya melengkung sempurna, miris yang hampir meluruh dengan gigil tangis.
            Andai bisa kukatakan  padamu bahwa semua akan berakhir bahagia seperti dongeng  putri dan pangeran yang selalu kau baca sejak  belia. Walaupun akupun mengerti sungguh mengerti bahwa di dunia ini tak ada kebahagiaan yang sempurna. Hanya dalam mimpi manismu saja semuanya bisa terjadi.
            “Kenapa lama sekali tak datang? Sudah berapa kali aku hubungi kamu? Apakah kamu telah bosan padaku dan mau ninggalin aku begitu saja?” gadis meradang, tangannya mencengkeram kuat pada kemeja milik pujaan hatinya.
Sunguh bukan sesuatu yang nyaman untuk disaksikan, dua sejoli ini telah mengingkari janjinya. Salah satu dari mereka telah berkhianat, terlaknat.
            “Sabar dong sayang, aku khan sedang bekerja keras demi kita. Juga anak kita yang akan segera lahir.”
            “Sudahlah jangan banyak alasan rupanya kamu mau lari meninggalkan aku yang sudah berbadan dua ini khan? Dimana hatimu saat ini? Mana janji busuk itu? Kamu ingkar? Penghianat cinta?”
            “Sttt.... tenanglah. Jangan berteriak seperti itu nanti orang akan mendengarnya.”
            “Aku tak peduli lagi. Biar semua orang tahu bahwa kamu bukan pria yang dewasa  dan bertanggungjawab. Sudah lima bulan lamanya kamu menghilang  raib bagai ditelan bumi. Kemana saja kamu?”
            “Ah. Jangan menuntut lebih dariku. Kamu khan tahu penghasilanku tak seberapa, bagaimana mungkin  mampu mencukupi kebutuhan kita? Sabarlah barang satu tahun lagi pasti kutepati janjiku.” Wajah pria itu mengeras kaku dengan mata liar memerah. Aduh... tak sanggup kumenatapnya. Sungguh sudah kusangka akan begini jadinya. Begitu banyak cerita kudengar dari para Emak yang mencuci setiap pagi  di sungai ini bahwa tak kan ada bahagia bagi para pelanggar hukum-Nya.
            Aku semakin merasa pilu, serasa  kelam mencekam suasana hari, tak kuhiraukan canda burung-burung pipit yang mengajak bersenda. Risau. Resah tak bermuara.
Telah lama kunanti gadis ayu akan kembali datang bermanja didadaku. Akan kusapu dukanya dengan  embun yang jernih setiap pagi. Tapi dia tak datang lagi. Hilang bagaikan asap yang terbawa angin, jauh membumbung tak pernah kembali.
            Tubuhku layu menghitam  penuh dengan jamur-jamur nakal melingkupi, tapi aku tak lagi peduli. Untuk apa semua itu? Tak akan ada gadis yang membelaiku dengan mata berbinar penuh cahaya kehidupan. Apa lagi yang tersisa kini, separuh bahkan seluruh nyawaku telah terbawa pergi dan mati. Bahkan airmata yang menetes darinyapun telah kering terbawa sinar mentari. Tanpanya aku tak berarti.
            Gelak tawa anak-anak yang riang berbaur dengan percik air bening laksana kaca, tak hirau dengan dingin hawa pegunungan beku, mereka tetap berteriak penuh sukacita.
Tapi gembira itu bukan lagi miliku. Rapuh tubuhkan tak kuasa mengelak takdir  sang waktu. Entah siapa yang akan mengerti? Tak ada lagi?
            Sore temaram itu menjadi saksi abadi, sejak selaksa harapan musnah tanpa sisa. Kabutpun masih enggan berlari meninggalkan kisah kepedihan hati.
Gadis ayu datang menghampiri dengan peluh bercucuran dan muka pias pucat pasi, tak ubahnya mayat hidup berjalan tanpa tujuan.
            Tunggu!! Apa yang didekapnya? Sebuah buntalan putih penuh dengan darah. Memerah marah. Mata  indah  yang sangat kurindukan itu telah menjadi semakin asing tanpa nyawa, mencekam tak lagi kukenali. Memilukan, mengerikan.
            Dibawanya buntalan itu melewatiku. Gadis terus  berjalan menuju arus terdalam aliran sungai di bawah kakiku. Tanpa suara  dilemparkan dengan sekuat tenaga. Pyarr..........!!! Tidak... buntalan apa itu?
Sungai berteriak menerima sesuatu yang tak pernah disangkanya. Sungkan hendak menolak tapi tiada kuasa.
            “Jangannn..... jangan.... tolong dengarkan aku. Jangan kau buang bayimu. Biar kupeluk dalam dada. Tinggalkan dia dalam dekapanku.” Suaraku tak akan pernah kau dengar gadis ayu. Sampai habis terputus urat leherku.
Aku tersedu menjerit dalam gelapnya malam.  Semua telah berakhir dalam duka dan dosa. Mimpi manis itu telah menipu.
            Gadis berjalan gontai tanpa melihat ke arahku dan buntalan itu telah hilang terbawa arus air yang deras, sederas air hujan yang kini luruh ke bumi. Malam kian dingin. Suara binatang malampun pergi menjauh berganti gemuruh suara langit yang murka. Kilat berlarian mencari apa yang bisa disambarnya, api membara datang bersama kilat dan guruh menjelma laksana raksasa yang murka.
            Mata merahnya semakin merana, bersimpuh dalam hujan menangis lalu menjerit dalam darah airmata. Bersimbah  dendam cinta dusta. Berkalang kepahitan hidup yang telah lama tak tertahankan. Lalu gadis tertawa panjang melengking bagaikan jeritan burung  kematian yang menyaksikan onggokan tubuh tak bernyawa.
            Gadis ayu terus tertawa sambil mencabik wajah yang kini penuh luka menganga, meratap merintih berlari  terhuyung-huyung menembus hujan. Dalam pekat malam.
Kini kutahu tak akan lagi mampu kubertahan, patah jiwaku tercabik lenyap dalam kisah cinta yang palsu. Ya, gadisku telah pergi dan mungkin akan mati. Cerita indahnya bersamaku telah usai. Aku bangku bambu yang selama ini menemaninya selalu tanpa bisa berbuat apapun untuknya.


Nusakambangan. 21 Juni 2014.

###########################The End#####################################

No comments:

Post a Comment