LINGKAR GULITA
By: Mutiara Sakha
Deras aliran sungai saat senja merona, hanyutkan cerita dan cinta
yang telah lapuk untuk terjaga.
Kutermangu dalam temaram keruhnya rasa hati. Menghayati kesunyian, meratapi
kabut pekat yang luruh tanpa suara.
“Mengapa
harus keheningan yang tertinggal di sini. Kenapa harus kerinduan terjejak menyisakan tangisan.”
“
Apa yang bisa aku lakukan lagi. Bahkan aku
tak mampu untuk sekedar berteriak, tanpa daya hanya merana dalam diam.”
“Tentu
tak seorangpun akan sudi melihatku apalagi mengerti tentang diri ini. Semuanya semu antara ada dan tak berarti.” Sejenak aku
berhenti berkata-kata sendiri, tiada
berkawan melainkan sepi.
Seorang
gadis ayu beralis tebal menjatuhkan badannya
ceria, bersandar dalam dekapanku. Kurasakan damai dan sukacita yang
membuncah dalam dadanya. Penuh gairah cinta.
“Hai sayang, kenapa lama sekali sih datangnya, aku
dah kangen banget nih,” suara merdu itu terdengar renyah ketika menyambut
datangnya kekasih hati.
“Sabar
dong sayang, khan aku baru aja pulang kerja,” lelaki kurus berhidung mancung dan berwajah tampan itu membelai rambut
gadisnya, mesra. Huff.. sungguh membuatku mati rasa. Andaikan saja aku bisa
seperti mereka, tapi apa daya?
“Ah
bohong pasti kamu nyamperin pacarmu yang lain khan. Hayo... ngaku ajalah. Aku
dah baca SMS dari cewe rese itu kemaren,” wajah cantik gadis berubah menjadi
masam seperti buah mangga mengkal. Hemm... begini rupanya rerupa orang yang
sedang cemburu buta.
“Sudahlah
sayang. Kenapa sih selalu saja mesti ribut dengan sesuatu yang tidak penting.
Dengar ya sampai langit terbelahpun hatiku hanya untuk kamu. Bahkan separuh
nyawa ini sudah menyatu dalam ragamu. Apakah kamu tak mengerti jua?”
“Ah
gombal dasar cowo semuanya sama saja doyan merayu dan setelah itu ditinggalkan
begitu saja,” wajah gadis masih saja tak sedap dipandang. Susah ternyata untuk
membuka hati wanita yang terkena virus merah jambu.
“Duhai,
Dinda apakah lagi yang harus kubuktikan padamu saat ini, masih kurangkah
pengorban yang telah kulakukan untukmu?” Dengan berlutut bak pangeran dalam
dongeng lelaki itu memegang kedua tangan
gadis. Huhh.... lebay banget deh.
“Ya
sudahlah untuk saat ini aku percaya. Entah esok hari dan nanti.”
“Terimakasih
cinta. Kau memang sangat penuh pengertian, calon pengantin yang sempurna
untuku.”
Dalam temaram kabut aku tak mampu menatap dua
insan yang sedang terbang mengangkasa, tanpa sadar mereka terbelenggu nafsu
angkara. Sungguh celaka.
Dandelion
terangguk-angguk menari dalam ayunan angin sepoi, ya angin dan bunga itu telah
bertasbih pada penciptanya dengan cara mereka yang indah. Walaupun tak semua
akan mengerti akan wujud syukur itu.
Gadis kembali
hadir dalam dekapanku saat ini setelah sekian lama tak bersua. Rinduku
terobati sudah. Heiii.... wajah yang ayu dengan bibir tipis memukau itu
tenggelam dalam duka. Garis bibirnya melengkung sempurna, miris yang hampir
meluruh dengan gigil tangis.
Andai
bisa kukatakan padamu bahwa semua akan
berakhir bahagia seperti dongeng putri
dan pangeran yang selalu kau baca sejak
belia. Walaupun akupun mengerti sungguh mengerti bahwa di dunia ini tak
ada kebahagiaan yang sempurna. Hanya dalam mimpi manismu saja semuanya bisa
terjadi.
“Kenapa
lama sekali tak datang? Sudah berapa kali aku hubungi kamu? Apakah kamu telah
bosan padaku dan mau ninggalin aku begitu saja?” gadis meradang, tangannya
mencengkeram kuat pada kemeja milik pujaan hatinya.
Sunguh bukan sesuatu yang nyaman untuk disaksikan,
dua sejoli ini telah mengingkari janjinya. Salah satu dari mereka telah
berkhianat, terlaknat.
“Sabar
dong sayang, aku khan sedang bekerja keras demi kita. Juga anak kita yang akan
segera lahir.”
“Sudahlah
jangan banyak alasan rupanya kamu mau lari meninggalkan aku yang sudah berbadan
dua ini khan? Dimana hatimu saat ini? Mana janji busuk itu? Kamu ingkar?
Penghianat cinta?”
“Sttt....
tenanglah. Jangan berteriak seperti itu nanti orang akan mendengarnya.”
“Aku
tak peduli lagi. Biar semua orang tahu bahwa kamu bukan pria yang dewasa dan bertanggungjawab. Sudah lima bulan
lamanya kamu menghilang raib bagai
ditelan bumi. Kemana saja kamu?”
“Ah.
Jangan menuntut lebih dariku. Kamu khan tahu penghasilanku tak seberapa,
bagaimana mungkin mampu mencukupi
kebutuhan kita? Sabarlah barang satu tahun lagi pasti kutepati janjiku.” Wajah
pria itu mengeras kaku dengan mata liar memerah. Aduh... tak sanggup
kumenatapnya. Sungguh sudah kusangka akan begini jadinya. Begitu banyak cerita
kudengar dari para Emak yang mencuci setiap pagi di sungai ini bahwa tak kan ada bahagia bagi
para pelanggar hukum-Nya.
Aku
semakin merasa pilu, serasa kelam
mencekam suasana hari, tak kuhiraukan canda burung-burung pipit yang mengajak
bersenda. Risau. Resah tak bermuara.
Telah lama kunanti gadis ayu akan kembali datang
bermanja didadaku. Akan kusapu dukanya dengan
embun yang jernih setiap pagi. Tapi dia tak datang lagi. Hilang bagaikan
asap yang terbawa angin, jauh membumbung tak pernah kembali.
Tubuhku
layu menghitam penuh dengan jamur-jamur
nakal melingkupi, tapi aku tak lagi peduli. Untuk apa semua itu? Tak akan ada
gadis yang membelaiku dengan mata berbinar penuh cahaya kehidupan. Apa lagi
yang tersisa kini, separuh bahkan seluruh nyawaku telah terbawa pergi dan mati.
Bahkan airmata yang menetes darinyapun telah kering terbawa sinar mentari.
Tanpanya aku tak berarti.
Gelak
tawa anak-anak yang riang berbaur dengan percik air bening laksana kaca, tak
hirau dengan dingin hawa pegunungan beku, mereka tetap berteriak penuh
sukacita.
Tapi gembira itu bukan lagi miliku. Rapuh tubuhkan
tak kuasa mengelak takdir sang waktu. Entah siapa yang akan mengerti? Tak ada lagi?
Sore
temaram itu menjadi saksi abadi, sejak selaksa harapan musnah tanpa sisa.
Kabutpun masih enggan berlari meninggalkan kisah kepedihan hati.
Gadis ayu datang menghampiri dengan peluh
bercucuran dan muka pias pucat pasi, tak ubahnya mayat hidup berjalan tanpa
tujuan.
Tunggu!!
Apa yang didekapnya? Sebuah buntalan putih penuh dengan darah. Memerah marah.
Mata indah yang sangat kurindukan itu telah menjadi
semakin asing tanpa nyawa, mencekam tak lagi kukenali. Memilukan, mengerikan.
Dibawanya
buntalan itu melewatiku. Gadis terus
berjalan menuju arus terdalam aliran sungai di bawah kakiku. Tanpa
suara dilemparkan dengan sekuat tenaga.
Pyarr..........!!! Tidak... buntalan apa itu?
Sungai berteriak menerima sesuatu yang tak pernah
disangkanya. Sungkan hendak menolak tapi tiada kuasa.
“Jangannn.....
jangan.... tolong dengarkan aku. Jangan kau buang bayimu. Biar kupeluk dalam
dada. Tinggalkan dia dalam dekapanku.” Suaraku tak akan pernah kau dengar gadis
ayu. Sampai habis terputus urat leherku.
Aku tersedu menjerit dalam gelapnya malam. Semua telah berakhir dalam duka dan dosa.
Mimpi manis itu telah menipu.
Gadis
berjalan gontai tanpa melihat ke arahku dan buntalan itu telah hilang terbawa
arus air yang deras, sederas air hujan yang kini luruh ke bumi. Malam kian
dingin. Suara binatang malampun pergi menjauh berganti gemuruh suara langit
yang murka. Kilat berlarian mencari apa yang bisa disambarnya, api membara
datang bersama kilat dan guruh menjelma laksana raksasa yang murka.
Mata
merahnya semakin merana, bersimpuh dalam hujan menangis lalu menjerit dalam
darah airmata. Bersimbah dendam cinta
dusta. Berkalang kepahitan hidup yang telah lama tak tertahankan. Lalu gadis
tertawa panjang melengking bagaikan jeritan burung kematian yang menyaksikan onggokan tubuh tak
bernyawa.
Gadis
ayu terus tertawa sambil mencabik wajah yang kini penuh luka menganga, meratap
merintih berlari terhuyung-huyung
menembus hujan. Dalam pekat malam.
Kini kutahu tak akan lagi mampu kubertahan, patah
jiwaku tercabik lenyap dalam kisah cinta yang palsu. Ya, gadisku telah pergi
dan mungkin akan mati. Cerita indahnya bersamaku telah usai. Aku bangku bambu
yang selama ini menemaninya selalu tanpa bisa berbuat apapun untuknya.
Nusakambangan. 21 Juni 2014.
###########################The
End#####################################
No comments:
Post a Comment