Thursday, March 5, 2015
Cadikmu
Cadik berayun, menerpa lintasan cahaya
harum selaksa wangi menguar dari wajahmu
kabut dini hari memeluk erat dalam bayang
Cadik berayun, menerpa lintasan cahaya
harum selaksa wangi menguar dari wajahmu
kabut dini hari memeluk erat dalam bayang
Jika kau,
berurai coleteh burung yang selalu menyapa dalam anggun
tanpa beranjak
membisikan kekata manis diamdiam
Apapun terjadi saat ini
bukanlah sebuah kesalahan terdedah
terlipat dalam ketiak masa
Harapan terbentang sekian detik terlewati
bersua dengan garisgaris membiru
tanpa batas
aku menanti hingga batasmu
Nusakambangan, Februari keenam
berurai coleteh burung yang selalu menyapa dalam anggun
tanpa beranjak
membisikan kekata manis diamdiam
Apapun terjadi saat ini
bukanlah sebuah kesalahan terdedah
terlipat dalam ketiak masa
Harapan terbentang sekian detik terlewati
bersua dengan garisgaris membiru
tanpa batas
aku menanti hingga batasmu
Nusakambangan, Februari keenam
Thursday, October 2, 2014
KERLINGAN DARI MASA LALU UNTUK SAHABAT
Pagi ini Nampak berbeda dengan kemarin. Aku amat sangat
bersemangat menyambutnya. Entah karena Dia atau entahlah. Sehabis mandi, aku
membersihkan sepeda onthel yang selalu menemaniku ke mana aku suka. Siap sudah
dan jreng-jrennng sepedaku akan mengkilat kecoklatan. Tapi tak apalah aku
bersyukur saja. Ini juga jauh lebih baik daripada berjalan.
Mengayuh sepeda sejauh 5 kilo meter bukanlah hal yang
memberatkan pagi itu. Belokan dan tanjakan sedikit jalan lobang itu sudah
biasa. Anak muda sepertiku memang masih penuh semangat dan ibarat kata ini
masih full start engine. Hehe..aku mencoba menghibur diri disela-sela
kelemahanku sebagai anak kampong dan anak seorang petani biasa. Tak terasa
sampai juga aku ke tujuan. Rumah temanku yang terletak ditepi rel kereta api
sebut saja Melly teman yang begitu menyenangkan. Tapi bukan dia tujuanku adalah
seorang gadis mungil dan berpipi padat bulat, mata agak sipit yang telah lama
aku kenal dalam kamus sekolahku. Ya ya ya..dialah Ening gadis pujaan untuk
cinta monyetku. Hadueh…berdebar jantung ini saat memasuki pekarangan rumah
Melly.
Kulihat Ening sudah duduk bersama Melly dengan lesehan di
ruang tengah rumah Melly. “Assalamualaikum” sapaku ramah. “Walaikumussalam “
jawaban yang kompak dari sahabatku ini. “Gimana udah mulai belum belajarnya?”
tanyaku ringan. “Belumlah..kan kita nungguin kamu”. Jawab Ening dengan senyum
ramah sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ujung bollpointnya. “Okelah kita mulai
yah..’ ajakku untuk segera mengerjakan tugas sekolah yang memang harus selesai
hari itu juga.
Beberapa lama kami asyik dengan mengerjakan tugas, tiba-tiba
terdengar suara adzan. Spontan Ening meminta diam dan berhenti sejenak untuk
mendengarkan seeruan adzan dari sebuah mushola seberang jalan. Ada rasa kagum
dalam benakku. Dilingkungan yang belum sempurna kulihat kecintaan orang akan
agama islam, ada satu generasi islam yang mempunyai karakteristik islamiyah
walau berbekal ilmu agama hanya disekolah umum pada biasanya. Sungguh aku
terpesona.
Setelah selesai adzan kamipun melanjutkan tugas kami hingga
selesai. Perdebatan dan gurauan kecil sesekali tampak dalam suasana kami waktu
itu. Waktu terus berjalan dan sudah saatnya kami harus pulang. “Ening pulang
sama aku kan kedepan?”tanyaku pada Ening. “Bolehlah…tapi sampai depan aja yah”pintanya
manja. “Oke”. Meski hanya beberapa meter aku mengantarkan Ening ke depan gang
aku merasa cukup senang saat itu. Sebuah vespa yang aku hafal plat nomernya
saat itu sudah tampak menjemput Ening. “Zan, sampai besok yah..Makasih loh”
kata Ening sambil menuju ke vespa yang menjemputnya.
Pelan tapi pasti bayang masa lalu itu hadir dalam
keseharianku di Jakarta. Hari demi hari, bulan berganti bulan hingga tahunpun
berganti. Mencari dan terus mencari melalui media onlinepun ku jalani demi hanya
untuk mendengar kabar dan bagaimana Ening sekarang. Rupaya Tuhan menjawab
seuntai do’a dalam keputus asaan. Malam itu aku online dengan media social yang
sudah lama tak aku sentuh karena kesibukanku dalam bekerja. Hah ! Ening! Aku kaget
seperti menemukan mutiara yang hilang beberapa tahun lamanya. Sebuah permintaan
pertemanan yang baru saja aku buka.
Seketika itu pula semua menjadi jelas. Aku bukan lelaki yang
dipenuhi rasa penasaran lagi tentang Ening. Ada kelegaan mengetahui kondisinya
dan bahkan keluarganya. Ada kerelaan hati ada keihlasan ada sejuta do’a untuk
Ening dan keluarganya. Oh…kegembiraan ini tak akan mampu aku lukiskan. Meski
aku jago melukis saat SMA dulu.
Akupun demikian bersyukur dengan apa yang tuhan berikan dan
limpahkan kepadaku. Tak terasa mata ini dipenuhi linangan air mata saat memandang
wajah polos seorang istri dihadapanku dan dua putriku ini, yang tak mungkin aku
berbagi cerita bahagia ini. Tapi sudahlah. Dengan hati penuh syukur ini aku
menghadap-Mu yaa Rabb. Limpahkan segala kebaikan buat Ening beserta keluarganya
dan Kami sekeluarga tentunya. Aamiin. (Sebuah Coretan Kehidupan).
JALUR FLAMBOYAN
Hamparan landscape itu
Aku tak lupakan sedikitpun tiap detailnya
Pohon flamboyan seolah menjadi cirinya
Hampir setiap hari aku selalu melewatinya
Meniti jalur flamboyan bersama teman sekolah
Seperti merajut benang menjadi kain primadona
Seperempat abad sudah kenangan itu terkubur dalam
Jejak flamboyan bak sebuah landasan pacu pesawat
Yang mengantarkan aku dan puluhan bahkan ratusan jejak yang melewatinya
Berada dalam langkah sekarang
Seandainya aku diijinkan sejenak
Kembali menemui masa itu
Aku ingin mengajakmu kembali berjalan
Menapaki panasnya aspal dan debu jalan
Oh tidak !
Aku tak ingin mengulang perpisahan
Cukup bagiku sekali saja berpisah
Agar luka tak semakin terasa
Aku hampir lupa
Tuhan telah menulis takdir dengan siapa kita berjodoh.
Namun tetap kusebut namamu dalam setiap do'a dan pinta
Terima kasih telah singgah
(Sebuat Titipan Coretan Pena Sahabat)
Aku tak lupakan sedikitpun tiap detailnya
Pohon flamboyan seolah menjadi cirinya
Hampir setiap hari aku selalu melewatinya
Meniti jalur flamboyan bersama teman sekolah
Seperti merajut benang menjadi kain primadona
Seperempat abad sudah kenangan itu terkubur dalam
Jejak flamboyan bak sebuah landasan pacu pesawat
Yang mengantarkan aku dan puluhan bahkan ratusan jejak yang melewatinya
Berada dalam langkah sekarang
Seandainya aku diijinkan sejenak
Kembali menemui masa itu
Aku ingin mengajakmu kembali berjalan
Menapaki panasnya aspal dan debu jalan
Oh tidak !
Aku tak ingin mengulang perpisahan
Cukup bagiku sekali saja berpisah
Agar luka tak semakin terasa
Aku hampir lupa
Tuhan telah menulis takdir dengan siapa kita berjodoh.
Namun tetap kusebut namamu dalam setiap do'a dan pinta
Terima kasih telah singgah
(Sebuat Titipan Coretan Pena Sahabat)
Wednesday, September 10, 2014
SELAKSA RINDU
SELAKSA RINDU
By: Mutiara Sakha
Awan hitam menggantung menutupi cahaya
matahari yang bersikukuh untuk tetap menerangi indahnya mayapada. Saling berlomba untuk menunjukkan pengabdian
terbaik pada penciptanya. Sebagai tanda bersujud syukur atas semau karunia yang
terlimpah dalam setiap hembusan angin.
Anggo, kucing kesayanganku masih tertidur malas beralaskan karpet di
beranda. Tempat dimana aku selalu duduk bercengkrama bersamanya dan ketiga permata hati titipan Illahi. Hampir
setiap senja kunikmati keindahan warna langit saga dalam rasa syukur mendalam
atasa segala rahmat yang telah diberikan.
Semua terasa sempurna dalam buaian
angin semilir rumah sederhana dengan hamparan sawah membentang melenakan mata.
Masih kuingat ketika suatu sore wajah muram miliknya bergelayut dengan sejuta
bimbang penuh tanda tanya.
“Bunda, anak kita semakin besar, akan butuh biaya
yang tidak sedikit agar mereka bisa tetap sekolah tinggi seperti mimpi manis
kita.”
Kutatap wajah teduh kekasih hati belahan jiwa yang telah
mengarungi bahtera rumah tangga bersama selama 15 tahun, berjuang menjaga
agar tak pernah karam dalam badai lautan
kehidupan.
‘Maksudnya apa sih,Yah. Bunda jadi bingung loh?”
Tiada jawaban. Hanya matanya yang setajam elang
menatap sawah menghijau milik para petani yang tetap tekun berpeluh mengabdikan
dirinya kepada ibu pertiwi. Setia terpanggang matahari dan basah kuyup oleh
hujan. Tak jarang mereka terpanggang petir di tengah sawah membentang. Ironis,
tak sepadan dengan hasil tak memadai yang akan dituai. Kebijakan pemerintah
dengan mengimpor beras telah menjadikan petani di negeri ini bagaikan ayam yang
mati di lumbung padi.
“Jangan diam saja dong. Bikin senewen.
Katakan walaupun pahit, My Baby,” godaku sambil tersenyum menatapnya jenaka.
Rayuan maut. Kulihat senyum manisnya mengembang.
“Begini, Bun. Maaf kalau membuatmu marah nantinya.
Ayah pikir kalau hanya mengandalkan hasil sawah yang hanya sepetak ini, tak
mungkin rasanya bisa kuliahin anak-anak nantinya.”
“Teruss.....?! Aku menggelembungkan mulut tak
sabar.
“Kalau Bunda setuju sih. Biar kita bisa menabung. Rencananya Ayah mau ikutan
kerja proyek di luar negeri. Tadi ada rekan yang baru pulang dari Kuwait
mengajak untuk gabung. Ada pekerjaan dengan upah lumayan membutuhkan skill yang
kumiliki.”
Aku terpana dan mendadak sedih. Sungguh bukan
suatu yang mudah untuk menjatuhkan pilihan. Antara keinginan dan realita
kehidupan. Huff...
“Kalau Bunda nggak setuju ya sudah. Ayah ngerti
banget jika hal ini sangat berat untuk
ditempuh. Tapi Ayah mohon agar Bunda memohon petunjuk dari-Nya sebelum
memutuskan. Semoga Dia berikan jalan
yang terbaik.”
Aku hanya bisa diam tergugu. Ya Malik, kuatkanlah
hatik ini untuk melepas milik-Mu yang telah menjadi amanah bagiku selama ini. Tiada
daya upaya selain atas kehendak-Mu.
Seminggu
kemudian belum ada jawaban pasti. Namun kucoba menguatkan jiwa untuk
mengikhlaskan kepergiannya. Demi masa depan anak-anak kami berdua. Ya, aku
harus mampu mengalahkan rasa ego dan cemas serta ketakutan akan kehilangan.
Sebagai orangtua mengalah dan bersabar
demi buah hati adalah suatu keharusan, walaupun pahit bagai empedu.
“Beneran nih, Bunda melarang mending batalin aja.
Semuanya khan harus ada komitmen plus kerelaan. Tapi janji jangan sedih ya. Maaf
nanti Bunda jadi repot sendiri tanpa
Ayah yang siaga membantu apa saja.” Kerlingan manja itu tak mungkin terlupa.
Hiks... Jadi ingat lagu malam terakhir milik Bang Haji Rhoma Irama.
Malam ini malam terakhir
bagi kita
Untuk mencurahkan rasa
rindu di dada
Esok aku akan pergi lama
kembali
Kuharapkan agar engkau
sabar menanti
Kepergianku hanya untuk
kembali
Kita berpisah untuk
berjumpa lagi
Kecuali bila Tuhan
menghendaki
Tentu saja kita harus rela
hati
Karena kehendak-Nya itu
yang terjadi
Potongan syair lagu itu
terasa sekali mewakili gundahnya hatiku. Apa daya memang harus demikian yang
terjadi. Semoga saja semuanya akan lebih baik .
Kutitipkan kekasih hati dan
belahan jiwa kepada pemiliknya. Dimanapun berada Alloh akan tetap bersamanya.
Insha Alloh.
Hari ini genap satu
tahun kepergiannya. Pada enam bulan
pertama, sekali dalam seminggu komunikasi tetap terjalin lewat telepon selular. Banyak cerita menarik yang kudengar. Tentu saja adat budaya
yang berbeda akan menyebabkan shock
culture baginya.
“Kuwait
adalah negara monarki yang kaya akan minyak terletak di
pesisir Teluk Persia, Timur Tengah. Ia berbatasan dengan Arab Saudi di sebelah selatan dan Irak di utara. Nama
'Kuwait' berasal dari kata Arab yang
bermakna ‘benteng
yang dibangun dekat air’. Banyak juga Nakerwan di
sini, Bun.” Dia menjelaskan layaknya
seorang guru kepada muridnya.
“Kapan aku bisa jalan-jalan ke sana ya,Yah. Waduh, jadi iri banget. Pengen...”
“Ya. Sabar aja dulu. Ayah tahu cita-cita Bunda
yang kepingin berkelana ke seluruh dunia itu masih menjadi impian khan?”
“Banyak-banyak berdoa aja. Entah bagaimana
caranya Dia pasti akan memberikan jalan.”
Setelah itu seperti biasa perbincangan bergeser kepada masalah
anak-anak. Tentang si Sulung yang tahun ini akan masuk Aliyah dan adiknya yang
akan masuk Tsanawiyah. Sementara si Bungsu akan naik kelas lima Sekolah Dasar.
Tahun ini kami harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi untuk biaya mereka
berdua.
Sudah enam bulan Ayah tak bisa dihubungi. Walaupun
nafkah mengalir lancar dan tiada kekurangan akan tetapi rasa hampa dan rindu
kami rasakan menjadi kian menyesakkan dada.
Terlampau sering aku menangis dalam sujud panjang
di malam hening. Mengadukan kegundahan
hati kepada Sang Khalik. Hanya
kepada-Nya aku merintih dan memohon
keselamatan dan keteguhan hati untuk keluarga ini. Mohon keselamatan dan keteguhan.Tak tega
rasanya untuk berburuk sangka pada Ayah dari anak-anaku itu. Apalagi pada
Tuhanku. Aku tetap memelihara pikiran positif apapun yang terjadi. Untuk
mengadu kepada orangtua yang telah renta tentu saja tak mungkin kulakukan.
Mereka sering menderita sakit mengingat
usia yang sudah uzur. Aku harus tegar dan selalu mengatakan bahwa semuanya
lancar, sehat baik yang ditinggalkan ataupun yang sedang berjuang di negara
manca.
Selalu kukatakan kepada anak-anak agar tidak
memberitahu hal-hal yang tidak menyenangkan tentang Ayah mereka kepada Eyang.
Suatu
malam yang dingin seorang tamu datang
bertandang ke rumah dengan mengendarai sepeda motor. Mendengar suara motor
dengan serempak anak-anak berebut membukakan pintu. Mereka berharap
ayahnya pulang ke rumah. Tak terkecuali
aku, bahkan dengan kerudung seadanya yang kusambar dari gantungan baju di balik
pintu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa alaikum salam.” Silakan masuk. Maaf, Bapak
siapa ya?”
“Yaaa... Kok bukan
Ayah sih. Kenapa nggak pulang-pulang juga. Khan udah janji mau beliin
sepeda baru.” Aisyah menangis dan berlari masuk kamar.
Aku dan tamuku tertegun di ruang tamu. Anak
bungsuku itu memang paling dekat dengan ayahnya. Agak kolokan dan manja.
“Rio, tolong susul adikmu. Usakan supaya diam ya.
Malu dilihat tamu.”
Kedua anakku hanya menggangguk lemah dan
pelan-pelan berbalik menghampiri pintu kamar adiknya yang sedang menangis
keras. Si Bungsu ini memang unik kalau
sedang kesal durasi menangisnya bisa berjam-jam mirip sinetron saja. Bahkan
setelah tertidurpun bila terbangun bisa berlanjut lagi meweknya. Biasanya hanya
Rio anak sulungku yang sanggup membuatnya tenang.
“Maaf,
Pak jadi terganggu ya. Silakan duduk. Oya, Anda siapa dan ada keperluan apa kemari?”
Tak sabar kutanyakan semuannya. Kontrak kerja Ayah hanya setahun jadi pantaslah
semua keluarga berharap-harap cemas.
“Nggak apa, Bu. Saya Hidayat, teman kerja Mas Ridho di Kuwait.
Datang ke sini mau menyampaikan surat saja. Maaf baru hari ini bisa mengantarkan.”
Kuterima
surat beramplop putih itu dengan tangan
gemetar. Seketika muncul rasa cemas dan suatu
firasat tidak baik dalam dada. Kubuka surat itu dan kubaca
perlahan-lahan agar tidak ada satu katapun terlewatkan.
Teruntuk
Bunda tersayang,
Assalamu’alaikum,
Bunda cantik.
Sebelumnya
Ayah kabarkan bahwa disini baik dan sehat. Terlebih dahulu Ayah mohon maaf yang
sebesar-besarnya karena sudah enam bulan tiada sanggup bersilaturrahim
denganamu dan anak-anak kita. Sungguh rasa rindu ini tak tertahankan merobek
hatiku tapi apa daya ada sesuatu yang menahanku untuk pulang menjumpai kalian.
Bunda,
ampuni Ayah yang pengecut dan tak setia ini. Ayah akui sebagai istri Bunda
adalah wanita sempurna yang selalu menjadi bidadari dihati ini. Akan tetapi Ayah
juga mempunyai kekurangan dan kelemahan. Rasa rindu kepada Bunda yang setiap
saat menyiksa ini pada akhirnya dengan terpaksa sekali...
Ayah
telah menikah lagi. Karena takut berzina. Tolong maafkan.
Ayah
menikah dengan wanita asal Indonesia yang terlantar di Kuwait karena disiksa
oleh majikannya. Niat semula ingin menolongnya tapi ternyata semuanya menjadi
seperti ini... Maaf sekali lagi. Satu bulan yang lalu Nafisha telah meninggal
dunia dalam keadaan hamil karena sakit yang tak kuketahui penyebabnya sampai
saat ini.
Bunda
sayangku,
Ayah tak
punya muka lagi untuk menjumpai Bunda dan keluarga besar kita. Apalagi menatap
bening mata polos anak-anak yang selalu membuatku merasa berdosa. Aku mohon
tolong rahasiakan semua ini kepada mereka. Dan jika Bunda tak menghendaki
kepulanganku, maka nafkah kalian tetap akan kupenuhi. Aku malu telah berkhianat
padamu. Rasanya tak lagi pantas anak-anak memanggilku Ayah, dan tanganmu tak
pantas lagi memeluk hatiku yang telah mendua.
Ayah,
selalu sayang dan kangen kalian. Cinta ini kudekap erat.Bukalah hatimu untukku
kembali. Dekap erat untuk anak-anak. Ayah kangen kalian.
Assalamulaikum
wr wb.
Yang
mencintaimu sepenuh hati.
Ridho
Mataku mengabur dalam keperihan yang sangat dalam.
Ayah telah berubah. Tak kukenali lagi hatinya. Tak sanggup lagi kuterima
cintaku yang telah dibaginya kepada wanita lain.
“Bu, mohon maaf bila saya lancang bicara. Sekedar informasi bahwa
sayapun pernah menikah dengan wanita Indonesia di sana. Akan tetapi kami
berpisah baik-baik karena saya lebih mencintai keluarga. Mereka segalanya bagi
saya. Alhamdulillah pada akhirnya keluarga saya menerima kekhilafan itu.
Semaunya terjadi begitu saja.”
“Sekarang semua terserah kebijakan Ibu,
akhir-akhir ini Mas Ridho sering sakit dan muram seakan tak punya gairah hidup.
Surat itupun saya yang menyarankan untuk segera ditulisnya. Dia benar-benar
menyesal dan putus asa.”
Saat ini aku tak mampu berkata-kata apalagi
berfikir jernih. Setelah tamuku berpamitan segera kuseret kakiku menuju kamar
mandi, menangis nelangsa. Aku tak mau
buah hatiku cemas dan tahu kondisi Ayah terkasih.
Berhari-hari
kuadukan airmata duka ini hanya kepada Illahi Robbi, Pemilik nyawa kami. Hati
ini telah terluka pedih berdarah. Mampukah aku menerimanya kembali? Aku tak
tahu, biarlah waktu yang akan menjawabnya, akan kusongsong takdir hidup ini
apapun itu.
Nusakambangan, 31 Mei 2014.
**********************************************************************
Kidung Cinta Pak Tuo
Kidung Cinta Pak Tuo
By: Mutiara Sakha
Malam
baru saja menjelang ketika suara kidung jawa terdengar syahdu membelah kesunyian. Kami tinggal di desa yang terletak di
pegunungan kidul jauh dari keramaian
kota, hanya berpenduduk sedikit saja apabila dibandingkan dengan luas
wilayahnya.
“Kidung itu indah
ya, Pak Tuo tapi sayang aku nggak tahu
artinya. Boleh lihat bukunya? Siapa tahu aku nanti bisa jadi Sinden betulan,”
rayuku sambil tersenyum. Sudah menjadi rahasia umum bahwa lembaran kertas yang
sudah mulai menguning itu merupakan warisan turun temurun yang tidak boleh
rusak. Tak sembarang orang diperbolehkan untuk menyentuhnya.
“Yo
wis. Tapi hati-hati jangan sampai sobek soale lembaran-lembaran kidung itu
sudah mulai rapuh seperti halnya gending jawa yang sudah mulai disingkirkan
oleh Wong Jowo itu sendiri. Kalau mau belajar nembang ya nanti tak ajari.”
“Njih,
maturnuwun. Sebenarnya kita nggak lupa kok cuma saja sepertinya pemerintah
memang sangat kurang dalam memelihara warisan adiluhung seperti ini. Beda sekali sama orang luar
negeri sana yang sangat peduli terhadap karya besar bangsanya.”
“Pak
Tuo ora mudheng kuwi. Sing jelas kalau rakyatnya masih pada kelaparan maka maka
mereka tidak akan peduli dengan hal lain selain urusan perut. Lha wong kalau
orang lapar itu biarpun dihibur dengan tembang ya ndak akan kenyang kok.” Pak
Tuo tergelak dengan gigi palsunya yang
terlihat rapi.
Malam
itu aku belajar nembang dalam bahasa jawa. Sangat
indah sekaligus menyentuh kalbu terdalam. Isi kidung itu adalah nasihat kehidupan bagi manusia agar welas asih dan mawas diri menghadapi
zaman yang terus berubah. Sungguh kenangan yang sangat indah, tak lekang dalam
ingatan.
Hari
ini sudah genap satu tahun Pak Tuo terkena serangan stroke, setelah beberapa
kali menjalani rawat di rumah sakit yang berbeda-beda, kondisinya tetap saja
tidak berubah. Selain sulit untuk berbicara juga secara perlahan-lahan tidak lagi memiliki
kemampuan untuk berjalan.
Pada
suatu pagi saat matahari beranjak tinggi tiba-tiba “Gesit, sini dulu tak kasih
sangu.” Kami terkejut menyadari bahwa Pak Tuo telah berada di depan pintu kamar
tengah dengan menggenggam uang seribuan ditangannya. Ya, hanya dengan merangkak
seorang kakek yang sudah renta dan lemah masih berusaha untuk menunjukkan kasih
sayangnya kepada cicitnya dengan memberikan uang jajan. Subhanallah. Maha Suci
Alloh yang telah menciptakan orangtua dengan kasih tiada berbatas kepada anak
keturunannya.
Beberapa
bulan sebelumnya Beliau menjalani perawatan
di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta selama dua minggu. Dalam
kondisi yang lemah tak bernafsu makan dan tidak bisa tidur maka siapapun pasti
akan trenyuh melihatnya. Hanya tinggal tulang berbalut kulit yang keriput. Ya
Rabbi, inikah seorang kakek perkasa yang dulu selalu menggendongku kemanapun
aku mau? Tergolek lemah dengan berbagai macam alat menempel di tubuh
kurusnya? Seseorang yang telah berjuang
menghidupiku dengan berjualan kambing di pekan? Apa yang bisa kuperbuat? Seandainya aku bisa
menggantikannya. Tentu akan meringankan deritanya. Biar kutebus rasa cinta dan
keringat yang telah tercurah sejak bayi merah. Apalagi ketika mendengar bibirnya
selalu berbisik lemah” Tolong... Tolong... Aduh, sakit semua badanku. Aku
ora betah di sini. Aku pengen pulang. Kenapa,Kalian tega membiarkanku disiksa dengan jarum-jarum tajam
ini?”
Melihat
perjuangan perjuangan yang luar biasa dan penuh kesakitan selama berbulan-bulan
akhirnya aku menyadari bahwa tak ada yang bisa dilakukan lagi karena Pak Tuo
memang telah uzur dan tak bisa
disembuhkan. Setiap saat aku selalu bertanya kenapa harus ada sakit, mengapa
manusia harus mati. Sementara di sini
aku hanya bisa tediam pilu tanpa mampu
berbuat sesuatu. Hanya airmata dan doa pengharapan yang bisa kupanjatkan dalam
setiap waktu.
“Wahai
Tuhan. Maha Pemilik Ampunan. Curahkanlah berjutaa kasih sayang kepada orang yang sangat kucintai. Tiada daya upaya selain
karena kehendakmu karena akupun tak pernah bisa membalas tetesan darah dan
airmata yang telah mengalir. Kurelakan dia bersamamu. Peluklah dengan segenap
kerahiman yang Kau miliki.”
Pak Tuo cucumu sangat kangen dengan kidungmu. Semoga
Alloh mempertimukan kita kelak di Jannah-Nya. Amiinn.
“ Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan
menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami lah kamu akan dikembalikan. ” QS.
Al-Anbiya` (21), Ayat 35
Nusakambangan, 29
Mei 2014.
KERINDUAN TIADA AKHIR
KERINDUAN TIADA
AKHIR
By: Mutiara Sakha
Matahari siang membakar wajah kotaku yang terletak di
ujung selatan propinsi Jawa Tengah, Cilacap sebauh kota industri
yang sangat dekat dengan pulau Nusakambangan. Sebuah pulau terapung yang terdengar
menyeramkan karena banyaknya Lembaga Pemasyarakatan berdiri angkuh di dalamnya. Dibalik
kegarangan pulau bui itu sebenarnya
memendam pesona pantai pasir putih yang indah nan mempesona, pantai
Permisan. Hanya saja jalanan yang jauh dari mulus telah menjadikannya enggan
terjamah. Heem.... pulau misteri dengan hutan dan hewan setengah perawan turut
menjadikannya penuh rahasia hingga sekarang.
“Warti, ayuh cepetan sih. Keburu telat maning
kita nanti. Kamu sih mandinya kelamaan melulu, bete tahu nungguin terus.
Huh...” Suti, sahabat setiaku ini ngomel panjang pendek sambil melirik dengan
gemas.
“Ya. Pangapura lah, Yu...Aja ngomel
baen. Mengko ayune ilang lho. Kepriben
jajal?” Aku menatap matanya yang lebar bak jengkol mentah itu.
“Wis
ra usah ngerayu maning. Coba aja kalau kita telat lagi bakal babak belur
kena hukuman sama Miss. Anna. Pelajaran bahasa inggris itu menyenangkan, sayang
gegara dosen killer jadi nyebelin.”
“Ya udah sabar ajalah. Orang sabar itu
disayang pacar, eh... salah dicintai
sama Alloh. Betewe udah selesai belum tuh PR yang kemaren? Loh kok motornya
goyang gini ya? Gimana ini? Turun dulu, stop.”
“Waduh kempes nih, War. Mana tambal
ban nggak ada lagi. Habis deh kita dibantai sama dosen. Huff.... matahari kian garang aja nih rasanya membakar
ubun-ubun. Derita kita berlipat.”
“Udah
jangan ngomel lagi. Kita dorong
aja ke tambal ban terdekat di depan sana.”
“Ayo yang kuat dorongnya. Berat banget
loh. Kaya lagi nyeret kebo aja.”
“Iya ini juga lagi usaha, secara gitu
loh mahasiswi secantik aku kok dorong motor. Lemes pastinya.” Kuharap ada Pangeran
penolong datang hari ini. Ngayal super tinggi.
Malam telah menjelang, hewan-hewan
bergegas mencari kehangatan di
sarangnya, demikian pula hatiku yang senantiasa hangat terisi dengan selaksa
cinta nan bergelora melebihi dahsyatnya ombak pantai selatan.
“Minum dulu, Kang Darwis. Mumpung
masih hangat kopinya. Ada pegangannya juga loh. Pisang goreng kepok dari kebun
depan rumah kita.”
“Makasih, Warti sayang. Pasti manis,
bikinan istri tercinta.” Senyum teduh itu kini mengisi hari-hariku sejak tiga
bulan yang lalu. Ya, dialah pangeran yang telah datang menolong untuk menambal
ban motorku beberapa waktu yang lalu. Pangeran itu adalah pemilik bengkel motor
yang lumayan ramai di kotaku.
Kami menikah segera setelah beberapa
saat ta’aruf singkat, Kang Darwis melamarku. Terkadang sulit dipercaya bahwa
aku sudah menyempurnakan separuh agama ini. Dalam tempo yang sesingkat-
singkatnya dan dengan cara yang diridhoi-Nya.
“Kang, Kang Darwis. Aduh celaka. Gimana ini?” Tiba-tiba
saja Parmin pegawai di bengkel suamiku datang dengan wajah bingung pucat pasi.
“Ehh.. ada apa Parmin. Ada apa ini? Duduk dulu jangan panik tho.
Warti tolong ambilkan air putih.”
Setelah meneguk habis minumannya lelaki kurus berambut keriting itu
menghela nafas pelan. “Anu... itu, Kang. Anu bengkel kita terbakar. Ayo kita
kesana sekarang?!”
“Astagfirullah. Ya Rabbi. Kenapa bisa
begitu.” Bergegas Kang Darwis berlari
mencari kunci mobil dan pergi.
Aku hanya bisa cemas memandangi mereka
berdua. “Ya Malik. Tuhan yang Maha kaya
selamatkanlah apa yang telah Kau titpkan kepada kami sebagaimana kehendak-Mu,”
air mataku menetes perlahan. Kulangkahkan kaki untuk menunaikan
panggilan-Nya. Pedih.
Tengah malam terdengar suara mobil
memasuki garasi, letakkan Al Qur’an di atas meja, bergegas membuka pintu.
“Asalamu’alaikum. Belum tidur, Warti ?
Jangan takut sesungguhnya Alloh bersama kita. Ingat calon anak kita, kasihan dia kalau kamu
kurang tidur.”
“Wa alaikum salam, Kang. Kepriwe?
Nggak apa-apa tho? Bengkelnya selamat?”
“Kamu yang sabar ya. Insha Alloh ini
cobaan, bengkel kita habis tapi rahmat-Nya nggak akan pernah habis.”
“Iya, Kang. Asal bersamamu tak ada
artinya semua cobaan ini.”
Sebulan berlalu tanpa ada yang bisa
dikerjakan, modal kami habis untuk
makan. Mobilpun sudah terjual. Dalam kebingungan ada seorang tetangga yang mengajak Kang
Darwis untuk bekerja di Papua. Perusahaan asing itu membutuhkan tenaga sopir
sekaligus mekanik, kemampuan yang pas buat suamiku.
“Piye. Boleh nggak aku pergi.” Airmataku
berlinang tanpa bisa menjawab pertanyaan berat dari imam sekaligus tonggak
rumah tanggaku. Tapi aku tak punya pilihan lain.
Dengan rasa berat hati kulepas dia
mencari nafkah demi keutuhan keluarga. Komunikasi berjalan lancar, telepon
seminggu sekali membantu jarak terbentang untuk sedikit terlipat. Cukup sebagai
hiburan dan memupuk harapan. Rindu? Tentu saja tak mampu terkatakan, hanya doa
yang terucapkan senantiasa.
Satu tahun berlalu, buah hatiku sudah
mampu berjalan hilir mudik untuk membuat ulah yang aneh sekaligus menyengkan.
Bahagia sangat.
“Warni ini ada telpon. Cepat
diangkat.” Mamak membawa handphone yang terus berdering. “Halo...
asalamu’alaikum. Siapa ini ya, maaf?”
“Wa alaikum salam. Maaf apakah ini Ibu
Warni? Saya Iwan, teman kerja Kang Darwis di Papua.”
“Iya. Ada apa ya?”
“Maaf, Bu. Saya mau mengabarkan
bahwa.” Jeda itu membuatku menjadi tak enak hati rasanya. Firasatku buruk.
“Begini. Saat ini Kang Darwis sudah
meninggal. Terkena tembakan oleh orang yang tidak dikenal semalam di tempat
kerjanya. Jenazahnya akan segera diterbangkan esok hari.”
Bumiku bergoncang hebat. Tak mampu
lagi berdiri semuanya hanya gelap. Selamanya rinduku tak akan pernah bertepi.
Tiada lagi pengisi lara hati ini. Separuh nyawaku telah pergi bersamanya.
Nusakambangan,
28 Juni 2014.
**********************************************************************
Subscribe to:
Posts (Atom)