Wednesday, January 31, 2018

Thursday, March 5, 2015

Cadikmu

Cadik berayun, menerpa lintasan cahaya
harum selaksa wangi menguar dari wajahmu
kabut dini hari memeluk erat dalam bayang

Jika kau,
berurai coleteh burung yang selalu menyapa dalam anggun
tanpa beranjak
membisikan kekata manis diamdiam

Apapun terjadi saat ini
bukanlah sebuah kesalahan terdedah
terlipat dalam ketiak masa

Harapan terbentang sekian detik terlewati
bersua dengan garisgaris membiru
tanpa batas
aku menanti hingga batasmu

Nusakambangan, Februari keenam

Thursday, October 2, 2014

KERLINGAN DARI MASA LALU UNTUK SAHABAT



          Pagi ini Nampak berbeda dengan kemarin. Aku amat sangat bersemangat menyambutnya. Entah karena Dia atau entahlah. Sehabis mandi, aku membersihkan sepeda onthel yang selalu menemaniku ke mana aku suka. Siap sudah dan jreng-jrennng sepedaku akan mengkilat kecoklatan. Tapi tak apalah aku bersyukur saja. Ini juga jauh lebih baik daripada berjalan.
          Mengayuh sepeda sejauh 5 kilo meter bukanlah hal yang memberatkan pagi itu. Belokan dan tanjakan sedikit jalan lobang itu sudah biasa. Anak muda sepertiku memang masih penuh semangat dan ibarat kata ini masih full start engine. Hehe..aku mencoba menghibur diri disela-sela kelemahanku sebagai anak kampong dan anak seorang petani biasa. Tak terasa sampai juga aku ke tujuan. Rumah temanku yang terletak ditepi rel kereta api sebut saja Melly teman yang begitu menyenangkan. Tapi bukan dia tujuanku adalah seorang gadis mungil dan berpipi padat bulat, mata agak sipit yang telah lama aku kenal dalam kamus sekolahku. Ya ya ya..dialah Ening gadis pujaan untuk cinta monyetku. Hadueh…berdebar jantung ini saat memasuki pekarangan rumah Melly.
          Kulihat Ening sudah duduk bersama Melly dengan lesehan di ruang tengah rumah Melly. “Assalamualaikum” sapaku ramah. “Walaikumussalam “ jawaban yang kompak dari sahabatku ini. “Gimana udah mulai belum belajarnya?” tanyaku ringan. “Belumlah..kan kita nungguin kamu”. Jawab Ening dengan senyum ramah sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ujung bollpointnya. “Okelah kita mulai yah..’ ajakku untuk segera mengerjakan tugas sekolah yang memang harus selesai hari itu juga.
Beberapa lama kami asyik dengan mengerjakan tugas, tiba-tiba terdengar suara adzan. Spontan Ening meminta diam dan berhenti sejenak untuk mendengarkan seeruan adzan dari sebuah mushola seberang jalan. Ada rasa kagum dalam benakku. Dilingkungan yang belum sempurna kulihat kecintaan orang akan agama islam, ada satu generasi islam yang mempunyai karakteristik islamiyah walau berbekal ilmu agama hanya disekolah umum pada biasanya. Sungguh aku terpesona.
          Setelah selesai adzan kamipun melanjutkan tugas kami hingga selesai. Perdebatan dan gurauan kecil sesekali tampak dalam suasana kami waktu itu. Waktu terus berjalan dan sudah saatnya kami harus pulang. “Ening pulang sama aku kan kedepan?”tanyaku pada Ening. “Bolehlah…tapi sampai depan aja yah”pintanya manja. “Oke”. Meski hanya beberapa meter aku mengantarkan Ening ke depan gang aku merasa cukup senang saat itu. Sebuah vespa yang aku hafal plat nomernya saat itu sudah tampak menjemput Ening. “Zan, sampai besok yah..Makasih loh” kata Ening sambil menuju ke vespa yang menjemputnya.
Pelan tapi pasti bayang masa lalu itu hadir dalam keseharianku di Jakarta. Hari demi hari, bulan berganti bulan hingga tahunpun berganti. Mencari dan terus mencari melalui media onlinepun ku jalani demi hanya untuk mendengar kabar dan bagaimana Ening sekarang. Rupaya Tuhan menjawab seuntai do’a dalam keputus asaan. Malam itu aku online dengan media social yang sudah lama tak aku sentuh karena kesibukanku dalam bekerja. Hah ! Ening! Aku kaget seperti menemukan mutiara yang hilang beberapa tahun lamanya. Sebuah permintaan pertemanan yang baru saja aku buka.
          Seketika itu pula semua menjadi jelas. Aku bukan lelaki yang dipenuhi rasa penasaran lagi tentang Ening. Ada kelegaan mengetahui kondisinya dan bahkan keluarganya. Ada kerelaan hati ada keihlasan ada sejuta do’a untuk Ening dan keluarganya. Oh…kegembiraan ini tak akan mampu aku lukiskan. Meski aku jago melukis saat SMA dulu.
          Akupun demikian bersyukur dengan apa yang tuhan berikan dan limpahkan kepadaku. Tak terasa mata ini dipenuhi linangan air mata saat memandang wajah polos seorang istri dihadapanku dan dua putriku ini, yang tak mungkin aku berbagi cerita bahagia ini. Tapi sudahlah. Dengan hati penuh syukur ini aku menghadap-Mu yaa Rabb. Limpahkan segala kebaikan buat Ening beserta keluarganya dan Kami sekeluarga tentunya. Aamiin. (Sebuah Coretan Kehidupan).

JALUR FLAMBOYAN

Hamparan landscape itu
Aku tak lupakan sedikitpun tiap detailnya
Pohon flamboyan seolah menjadi cirinya
Hampir setiap hari aku selalu melewatinya
             Meniti jalur flamboyan bersama teman sekolah
             Seperti merajut benang menjadi kain primadona
             Seperempat abad sudah kenangan itu terkubur dalam
             Jejak flamboyan bak sebuah landasan pacu pesawat
             Yang mengantarkan aku dan puluhan bahkan ratusan jejak yang melewatinya
             Berada dalam langkah sekarang
Seandainya aku diijinkan sejenak
Kembali menemui masa itu
Aku ingin mengajakmu kembali berjalan
Menapaki panasnya aspal dan debu jalan
            Oh tidak !
            Aku tak ingin mengulang perpisahan
            Cukup bagiku sekali saja berpisah
            Agar luka tak semakin terasa
Aku hampir lupa
Tuhan telah menulis takdir dengan siapa kita berjodoh.
Namun tetap kusebut namamu dalam setiap  do'a dan pinta
Terima kasih telah singgah

(Sebuat Titipan Coretan Pena Sahabat)





Wednesday, September 10, 2014

SELAKSA RINDU



SELAKSA RINDU
By: Mutiara Sakha


Awan hitam menggantung menutupi cahaya matahari yang bersikukuh untuk tetap menerangi indahnya mayapada.  Saling berlomba untuk menunjukkan pengabdian terbaik pada penciptanya. Sebagai tanda bersujud syukur atas semau karunia yang terlimpah  dalam setiap hembusan angin.
Anggo, kucing kesayanganku   masih tertidur malas beralaskan karpet di beranda. Tempat dimana aku selalu duduk bercengkrama bersamanya  dan ketiga permata hati titipan Illahi. Hampir setiap senja kunikmati keindahan warna langit saga dalam rasa syukur mendalam atasa segala rahmat yang telah diberikan.
Semua terasa sempurna dalam buaian angin semilir rumah sederhana dengan hamparan sawah membentang melenakan mata. Masih kuingat ketika suatu sore wajah muram miliknya bergelayut dengan sejuta bimbang penuh tanda tanya.
“Bunda, anak kita semakin besar, akan butuh biaya yang tidak sedikit agar mereka bisa tetap sekolah tinggi seperti mimpi manis kita.”
Kutatap wajah teduh  kekasih hati belahan jiwa yang telah mengarungi bahtera rumah tangga bersama selama 15 tahun, berjuang menjaga agar  tak pernah karam dalam badai lautan kehidupan.
‘Maksudnya apa sih,Yah. Bunda jadi bingung  loh?”
Tiada jawaban. Hanya matanya yang setajam elang menatap sawah menghijau milik para petani yang tetap tekun berpeluh mengabdikan dirinya kepada ibu pertiwi. Setia terpanggang matahari dan basah kuyup oleh hujan. Tak jarang mereka terpanggang petir di tengah sawah membentang. Ironis, tak sepadan dengan hasil tak memadai yang akan dituai. Kebijakan pemerintah dengan mengimpor beras telah menjadikan petani di negeri ini bagaikan ayam yang mati di lumbung padi.
“Jangan diam saja dong. Bikin senewen. Katakan walaupun pahit, My Baby,” godaku sambil tersenyum menatapnya jenaka. Rayuan maut. Kulihat senyum manisnya mengembang.
“Begini, Bun. Maaf kalau membuatmu marah nantinya. Ayah pikir kalau hanya mengandalkan hasil sawah yang hanya sepetak ini, tak mungkin rasanya bisa kuliahin anak-anak nantinya.”
“Teruss.....?! Aku menggelembungkan mulut tak sabar.
“Kalau Bunda setuju sih. Biar kita  bisa menabung. Rencananya Ayah mau ikutan kerja proyek di luar negeri. Tadi ada rekan yang baru pulang dari Kuwait mengajak untuk gabung. Ada pekerjaan dengan upah lumayan membutuhkan skill yang kumiliki.”
Aku terpana dan mendadak sedih. Sungguh bukan suatu yang mudah untuk menjatuhkan pilihan. Antara keinginan dan realita kehidupan. Huff...
“Kalau Bunda nggak setuju ya sudah. Ayah ngerti banget  jika hal ini sangat berat untuk ditempuh. Tapi Ayah mohon agar Bunda memohon petunjuk dari-Nya sebelum memutuskan. Semoga Dia berikan  jalan yang terbaik.”
Aku hanya bisa diam tergugu. Ya Malik, kuatkanlah hatik ini untuk melepas milik-Mu yang telah menjadi amanah bagiku selama ini. Tiada daya upaya selain atas kehendak-Mu.
            Seminggu kemudian belum ada jawaban pasti. Namun kucoba menguatkan jiwa untuk mengikhlaskan kepergiannya. Demi masa depan anak-anak kami berdua. Ya, aku harus mampu  mengalahkan rasa  ego dan cemas serta ketakutan akan kehilangan. Sebagai orangtua  mengalah dan bersabar demi buah hati adalah suatu keharusan, walaupun pahit bagai empedu.
“Beneran nih, Bunda melarang mending batalin aja. Semuanya khan harus ada komitmen plus kerelaan. Tapi janji jangan sedih ya. Maaf nanti Bunda jadi repot  sendiri tanpa Ayah yang siaga membantu apa saja.” Kerlingan manja itu tak mungkin terlupa. Hiks... Jadi ingat lagu malam terakhir milik Bang Haji  Rhoma Irama.

Malam ini malam terakhir bagi kita
Untuk mencurahkan rasa rindu di dada
Esok aku akan pergi lama kembali
Kuharapkan agar engkau sabar menanti

Kepergianku hanya untuk kembali
Kita berpisah untuk berjumpa lagi
Kecuali bila Tuhan menghendaki
Tentu saja kita harus rela hati
Karena kehendak-Nya itu yang terjadi

Potongan syair lagu itu terasa sekali mewakili gundahnya hatiku. Apa daya memang harus demikian yang terjadi. Semoga saja semuanya akan lebih baik .
Kutitipkan kekasih hati dan belahan jiwa kepada pemiliknya. Dimanapun berada Alloh akan tetap bersamanya. Insha Alloh.
            Hari ini genap  satu tahun kepergiannya. Pada  enam bulan pertama, sekali dalam seminggu komunikasi tetap terjalin lewat  telepon selular. Banyak cerita  menarik yang kudengar. Tentu saja adat budaya yang berbeda akan menyebabkan shock culture baginya.
Kuwait adalah negara monarki yang kaya akan minyak  terletak di pesisir Teluk Persia, Timur Tengah. Ia berbatasan dengan Arab Saudi  di sebelah selatan dan Irak di utara. Nama 'Kuwait' berasal dari kata Arab  yang bermakna benteng yang dibangun dekat air. Banyak juga Nakerwan  di sini, Bun.” Dia menjelaskan layaknya seorang guru kepada muridnya.
“Kapan aku bisa jalan-jalan ke sana ya,Yah. Waduh, jadi iri banget. Pengen...”
“Ya. Sabar aja dulu. Ayah tahu cita-cita Bunda yang kepingin berkelana ke seluruh dunia itu masih menjadi impian khan?”
“Banyak-banyak berdoa aja. Entah bagaimana caranya  Dia pasti akan memberikan  jalan.”
Setelah itu seperti biasa  perbincangan bergeser kepada masalah anak-anak. Tentang si Sulung yang tahun ini akan masuk Aliyah dan adiknya yang akan masuk Tsanawiyah. Sementara si Bungsu akan naik kelas lima Sekolah Dasar. Tahun ini kami harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi untuk biaya mereka berdua.
Sudah enam bulan Ayah tak bisa dihubungi. Walaupun nafkah mengalir lancar dan tiada kekurangan akan tetapi rasa hampa dan rindu kami  rasakan  menjadi kian menyesakkan dada.
Terlampau sering aku menangis dalam sujud panjang di malam  hening. Mengadukan kegundahan hati  kepada Sang Khalik. Hanya kepada-Nya aku merintih  dan memohon keselamatan dan keteguhan hati untuk keluarga ini.  Mohon keselamatan dan keteguhan.Tak tega rasanya untuk berburuk sangka pada Ayah dari anak-anaku itu. Apalagi pada Tuhanku. Aku tetap memelihara pikiran positif apapun yang terjadi. Untuk mengadu kepada orangtua yang telah renta tentu saja tak mungkin kulakukan. Mereka sering  menderita sakit mengingat usia yang sudah uzur. Aku harus tegar dan selalu mengatakan bahwa semuanya lancar, sehat baik yang ditinggalkan ataupun yang sedang berjuang di negara manca.
Selalu kukatakan kepada anak-anak agar tidak memberitahu hal-hal yang tidak menyenangkan tentang Ayah mereka kepada  Eyang.
            Suatu malam  yang dingin seorang tamu datang bertandang ke rumah dengan mengendarai sepeda motor. Mendengar suara motor dengan serempak anak-anak berebut membukakan pintu. Mereka berharap ayahnya  pulang ke rumah. Tak terkecuali aku, bahkan dengan kerudung seadanya yang kusambar dari gantungan baju di balik pintu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa alaikum salam.” Silakan masuk. Maaf, Bapak siapa ya?”
“Yaaa... Kok bukan  Ayah sih. Kenapa nggak pulang-pulang juga. Khan udah janji mau beliin sepeda baru.” Aisyah menangis dan berlari masuk kamar.
Aku dan tamuku tertegun di ruang tamu. Anak bungsuku itu memang paling dekat dengan ayahnya.  Agak kolokan dan manja.
“Rio, tolong susul adikmu. Usakan supaya diam ya. Malu dilihat tamu.”
Kedua anakku hanya menggangguk lemah dan pelan-pelan berbalik menghampiri pintu kamar adiknya yang sedang menangis keras.  Si Bungsu ini memang unik kalau sedang kesal durasi menangisnya bisa berjam-jam mirip sinetron saja. Bahkan setelah tertidurpun bila terbangun bisa berlanjut lagi meweknya. Biasanya hanya Rio anak sulungku yang sanggup membuatnya tenang.
            “Maaf, Pak jadi terganggu ya. Silakan duduk. Oya, Anda siapa dan ada keperluan apa kemari?” Tak sabar kutanyakan semuannya. Kontrak kerja Ayah hanya setahun jadi pantaslah semua keluarga berharap-harap cemas.
“Nggak apa, Bu. Saya  Hidayat, teman kerja Mas Ridho di Kuwait. Datang ke sini mau menyampaikan surat saja. Maaf baru hari ini  bisa mengantarkan.”
 Kuterima surat beramplop putih  itu dengan tangan gemetar. Seketika muncul rasa cemas dan suatu  firasat tidak baik dalam dada. Kubuka surat itu dan kubaca perlahan-lahan agar tidak ada satu katapun terlewatkan.

Teruntuk Bunda tersayang,
Assalamu’alaikum, Bunda cantik.
Sebelumnya Ayah kabarkan bahwa disini baik dan sehat. Terlebih dahulu Ayah mohon maaf yang sebesar-besarnya karena sudah enam bulan tiada sanggup bersilaturrahim denganamu dan anak-anak kita. Sungguh rasa rindu ini tak tertahankan merobek hatiku tapi apa daya ada sesuatu yang menahanku untuk pulang menjumpai  kalian.
Bunda, ampuni Ayah yang pengecut dan tak setia ini. Ayah akui sebagai istri Bunda adalah wanita sempurna yang selalu menjadi bidadari dihati ini. Akan tetapi Ayah juga mempunyai kekurangan dan kelemahan. Rasa rindu kepada Bunda yang setiap saat menyiksa ini pada akhirnya dengan terpaksa sekali...
Ayah telah menikah lagi. Karena takut berzina. Tolong maafkan.
Ayah menikah dengan wanita asal Indonesia yang terlantar di Kuwait karena disiksa oleh majikannya. Niat semula ingin menolongnya tapi ternyata semuanya menjadi seperti ini... Maaf sekali lagi. Satu bulan yang lalu Nafisha telah meninggal dunia dalam keadaan hamil karena sakit yang tak kuketahui penyebabnya sampai saat ini.

Bunda sayangku,
Ayah tak punya muka lagi untuk menjumpai Bunda dan keluarga besar kita. Apalagi menatap bening mata polos anak-anak yang selalu membuatku merasa berdosa. Aku mohon tolong rahasiakan semua ini kepada mereka. Dan jika Bunda tak menghendaki kepulanganku, maka nafkah kalian tetap akan kupenuhi. Aku malu telah berkhianat padamu. Rasanya tak lagi pantas anak-anak memanggilku Ayah, dan tanganmu tak pantas lagi memeluk hatiku yang telah mendua.
Ayah, selalu sayang dan kangen kalian. Cinta ini kudekap erat.Bukalah hatimu untukku kembali. Dekap erat untuk anak-anak. Ayah kangen kalian.
Assalamulaikum wr wb.
Yang mencintaimu sepenuh hati.
Ridho
Mataku mengabur dalam keperihan yang sangat dalam. Ayah telah berubah. Tak kukenali lagi hatinya. Tak sanggup lagi kuterima cintaku yang telah dibaginya kepada wanita lain.
“Bu, mohon maaf bila  saya lancang bicara. Sekedar informasi bahwa sayapun pernah menikah dengan wanita Indonesia di sana. Akan tetapi kami berpisah baik-baik karena saya lebih mencintai keluarga. Mereka segalanya bagi saya. Alhamdulillah pada akhirnya keluarga saya menerima kekhilafan itu. Semaunya terjadi begitu saja.”
“Sekarang semua terserah kebijakan Ibu, akhir-akhir ini Mas Ridho sering sakit dan muram seakan tak punya gairah hidup. Surat itupun saya yang menyarankan untuk segera ditulisnya. Dia benar-benar menyesal dan  putus asa.”
Saat ini aku tak mampu berkata-kata apalagi berfikir jernih. Setelah tamuku berpamitan segera kuseret kakiku menuju kamar mandi, menangis  nelangsa. Aku tak mau buah hatiku cemas dan tahu kondisi Ayah terkasih.
            Berhari-hari kuadukan airmata duka ini hanya kepada Illahi Robbi, Pemilik nyawa kami. Hati ini telah terluka pedih berdarah. Mampukah aku menerimanya kembali? Aku tak tahu, biarlah waktu yang akan menjawabnya, akan kusongsong takdir hidup ini apapun itu.


Nusakambangan, 31 Mei 2014.
**********************************************************************
           

Kidung Cinta Pak Tuo



Kidung Cinta Pak Tuo
By:  Mutiara Sakha

Malam baru saja menjelang ketika suara kidung jawa  terdengar syahdu membelah kesunyian.  Kami tinggal di desa yang terletak di pegunungan kidul  jauh dari keramaian kota, hanya berpenduduk sedikit saja apabila dibandingkan dengan luas wilayahnya.
“Kidung itu indah ya, Pak Tuo tapi sayang aku  nggak tahu artinya. Boleh lihat bukunya? Siapa tahu aku nanti bisa jadi Sinden betulan,” rayuku sambil tersenyum. Sudah menjadi rahasia umum bahwa lembaran kertas yang sudah mulai menguning itu merupakan warisan turun temurun yang tidak boleh rusak. Tak sembarang orang diperbolehkan untuk menyentuhnya.
“Yo wis. Tapi hati-hati jangan sampai sobek soale lembaran-lembaran kidung itu sudah mulai rapuh seperti halnya gending jawa yang sudah mulai disingkirkan oleh Wong Jowo itu sendiri. Kalau mau belajar nembang ya nanti tak ajari.”
“Njih, maturnuwun. Sebenarnya kita nggak lupa kok cuma saja sepertinya pemerintah memang sangat kurang dalam memelihara warisan adiluhung  seperti ini. Beda sekali sama orang luar negeri sana yang sangat peduli terhadap karya besar bangsanya.”
“Pak Tuo ora mudheng kuwi. Sing jelas kalau rakyatnya masih pada kelaparan maka maka mereka tidak akan peduli dengan hal lain selain urusan perut. Lha wong kalau orang lapar itu biarpun dihibur dengan tembang ya ndak akan kenyang kok.” Pak Tuo tergelak  dengan gigi palsunya yang terlihat rapi.
Malam itu aku  belajar nembang dalam bahasa jawa. Sangat  indah sekaligus menyentuh kalbu terdalam. Isi kidung itu adalah  nasihat kehidupan bagi manusia   agar welas asih dan mawas diri menghadapi zaman yang terus berubah. Sungguh kenangan yang sangat indah, tak lekang dalam ingatan.
Hari ini sudah genap satu tahun Pak Tuo terkena serangan stroke, setelah beberapa kali menjalani rawat di rumah sakit yang berbeda-beda, kondisinya tetap saja tidak berubah. Selain sulit untuk berbicara juga  secara perlahan-lahan tidak lagi memiliki kemampuan untuk berjalan.
Pada suatu pagi saat matahari beranjak tinggi tiba-tiba “Gesit, sini dulu tak kasih sangu.” Kami terkejut menyadari bahwa Pak Tuo telah berada di depan pintu kamar tengah dengan menggenggam uang seribuan ditangannya. Ya, hanya dengan merangkak seorang kakek yang sudah renta dan lemah masih berusaha untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada cicitnya dengan memberikan uang jajan. Subhanallah. Maha Suci Alloh yang telah menciptakan orangtua dengan kasih tiada berbatas kepada anak keturunannya.
Beberapa bulan sebelumnya Beliau menjalani perawatan  di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta selama dua minggu. Dalam kondisi yang lemah tak bernafsu makan dan tidak bisa tidur maka siapapun pasti akan trenyuh melihatnya. Hanya tinggal tulang berbalut kulit yang keriput. Ya Rabbi, inikah seorang kakek perkasa yang dulu selalu menggendongku kemanapun aku mau? Tergolek lemah dengan berbagai macam alat menempel di tubuh kurusnya?  Seseorang yang telah berjuang menghidupiku dengan berjualan kambing di pekan? Apa yang  bisa kuperbuat? Seandainya aku bisa menggantikannya. Tentu akan meringankan deritanya. Biar kutebus rasa cinta dan keringat yang telah tercurah sejak bayi merah. Apalagi ketika mendengar   bibirnya  selalu berbisik lemah” Tolong... Tolong... Aduh, sakit semua badanku. Aku ora betah di sini. Aku pengen pulang. Kenapa,Kalian tega  membiarkanku disiksa dengan jarum-jarum tajam ini?”
Melihat perjuangan perjuangan yang luar biasa dan penuh kesakitan selama berbulan-bulan akhirnya aku menyadari bahwa tak ada yang bisa dilakukan lagi karena Pak Tuo memang telah uzur  dan tak bisa disembuhkan. Setiap saat aku selalu bertanya kenapa harus ada sakit, mengapa manusia harus mati. Sementara  di sini aku hanya bisa tediam pilu  tanpa mampu berbuat sesuatu. Hanya airmata dan doa pengharapan yang bisa kupanjatkan dalam setiap waktu.
“Wahai Tuhan. Maha Pemilik Ampunan. Curahkanlah berjutaa  kasih sayang kepada orang yang  sangat kucintai. Tiada daya upaya selain karena kehendakmu karena akupun tak pernah bisa membalas tetesan darah dan airmata yang telah mengalir. Kurelakan dia bersamamu. Peluklah dengan segenap kerahiman yang Kau miliki.”
Pak Tuo  cucumu sangat kangen dengan kidungmu. Semoga Alloh mempertimukan kita kelak di Jannah-Nya. Amiinn.
“ Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami lah kamu akan dikembalikan. ” QS. Al-Anbiya` (21), Ayat 35
Nusakambangan, 29 Mei 2014.

KERINDUAN TIADA AKHIR



KERINDUAN TIADA AKHIR
By: Mutiara   Sakha


Matahari  siang membakar wajah kotaku yang terletak di ujung  selatan propinsi  Jawa Tengah, Cilacap sebauh kota industri yang sangat dekat dengan pulau Nusakambangan. Sebuah pulau terapung yang terdengar menyeramkan karena banyaknya Lembaga Pemasyarakatan  berdiri angkuh di dalamnya. Dibalik kegarangan pulau bui itu sebenarnya  memendam pesona pantai pasir putih yang indah nan mempesona, pantai Permisan. Hanya saja jalanan yang jauh dari mulus telah menjadikannya enggan terjamah. Heem.... pulau misteri dengan hutan dan hewan setengah perawan turut menjadikannya penuh rahasia hingga sekarang.
“Warti, ayuh cepetan sih. Keburu  telat maning kita nanti. Kamu sih mandinya kelamaan melulu, bete tahu nungguin terus. Huh...” Suti, sahabat setiaku ini ngomel panjang pendek sambil melirik dengan gemas.
“Ya. Pangapura lah, Yu...Aja ngomel baen. Mengko ayune ilang lho. Kepriben jajal?” Aku menatap matanya yang lebar bak jengkol mentah itu.
Wis ra usah ngerayu maning. Coba aja kalau kita telat lagi bakal babak belur kena hukuman sama Miss. Anna. Pelajaran bahasa inggris itu menyenangkan, sayang gegara dosen killer  jadi nyebelin.”
“Ya udah sabar ajalah. Orang sabar itu disayang pacar, eh... salah  dicintai sama Alloh. Betewe udah selesai belum tuh PR yang kemaren? Loh kok motornya goyang gini ya? Gimana ini? Turun dulu, stop.”
“Waduh kempes nih, War. Mana tambal ban nggak ada lagi. Habis deh kita dibantai sama dosen. Huff.... matahari  kian garang aja nih rasanya membakar ubun-ubun. Derita kita berlipat.”
“Udah   jangan ngomel lagi. Kita dorong aja ke tambal ban terdekat di depan sana.”
“Ayo yang kuat dorongnya. Berat banget loh. Kaya lagi nyeret kebo aja.”
“Iya ini juga lagi usaha, secara gitu loh mahasiswi secantik aku kok dorong motor. Lemes pastinya.” Kuharap ada Pangeran penolong datang hari ini. Ngayal super tinggi.
Malam telah menjelang, hewan-hewan bergegas mencari kehangatan  di sarangnya, demikian pula hatiku yang senantiasa hangat terisi dengan selaksa cinta nan bergelora melebihi dahsyatnya ombak pantai selatan.
“Minum dulu, Kang Darwis. Mumpung masih hangat kopinya. Ada pegangannya juga loh. Pisang goreng kepok dari kebun depan rumah kita.”
“Makasih, Warti sayang. Pasti manis, bikinan istri tercinta.” Senyum teduh itu kini mengisi hari-hariku sejak tiga bulan yang lalu. Ya, dialah pangeran yang telah datang menolong untuk menambal ban motorku beberapa waktu yang lalu. Pangeran itu adalah pemilik bengkel motor yang lumayan ramai di kotaku.
Kami menikah segera setelah beberapa saat ta’aruf singkat, Kang Darwis melamarku. Terkadang sulit dipercaya bahwa aku sudah menyempurnakan separuh agama ini. Dalam tempo yang sesingkat- singkatnya dan dengan cara yang diridhoi-Nya.
“Kang, Kang  Darwis. Aduh celaka. Gimana ini?” Tiba-tiba saja Parmin pegawai di bengkel suamiku datang dengan wajah bingung pucat pasi.
“Ehh.. ada apa Parmin.  Ada apa ini? Duduk dulu jangan panik tho. Warti tolong ambilkan air putih.”
Setelah meneguk habis  minumannya lelaki kurus berambut keriting itu menghela nafas pelan. “Anu... itu, Kang. Anu bengkel kita terbakar. Ayo kita kesana sekarang?!”
“Astagfirullah. Ya Rabbi. Kenapa bisa begitu.” Bergegas Kang Darwis  berlari mencari kunci mobil dan pergi.
Aku hanya bisa cemas memandangi mereka berdua. “Ya Malik. Tuhan  yang Maha kaya selamatkanlah apa yang telah Kau titpkan kepada kami sebagaimana kehendak-Mu,” air mataku menetes perlahan. Kulangkahkan kaki untuk menunaikan panggilan-Nya.  Pedih.
Tengah malam terdengar suara mobil memasuki garasi, letakkan Al Qur’an di atas meja, bergegas membuka pintu.
“Asalamu’alaikum. Belum tidur, Warti ? Jangan takut sesungguhnya Alloh bersama kita. Ingat  calon anak kita, kasihan dia kalau kamu kurang tidur.”
“Wa alaikum salam,  Kang. Kepriwe? Nggak apa-apa tho? Bengkelnya selamat?”
“Kamu yang sabar ya. Insha Alloh ini cobaan, bengkel kita habis tapi rahmat-Nya nggak akan pernah  habis.”
“Iya, Kang. Asal bersamamu tak ada artinya semua cobaan ini.”
Sebulan berlalu tanpa ada yang bisa dikerjakan, modal  kami habis untuk makan. Mobilpun sudah terjual. Dalam kebingungan  ada seorang tetangga yang mengajak Kang Darwis untuk bekerja di Papua. Perusahaan asing itu membutuhkan tenaga sopir sekaligus mekanik, kemampuan yang pas buat suamiku.
“Piye. Boleh nggak aku pergi.” Airmataku berlinang tanpa bisa menjawab pertanyaan berat dari imam sekaligus tonggak rumah tanggaku. Tapi aku tak punya pilihan lain.
Dengan rasa berat hati kulepas dia mencari nafkah demi keutuhan keluarga. Komunikasi berjalan lancar, telepon seminggu sekali membantu jarak terbentang untuk sedikit terlipat. Cukup sebagai hiburan dan memupuk harapan. Rindu? Tentu saja tak mampu terkatakan, hanya doa yang terucapkan senantiasa.
Satu tahun berlalu, buah hatiku sudah mampu berjalan hilir mudik untuk membuat ulah yang aneh sekaligus menyengkan. Bahagia sangat.
“Warni ini ada telpon. Cepat diangkat.” Mamak membawa handphone yang terus berdering. “Halo... asalamu’alaikum. Siapa ini ya, maaf?”
“Wa alaikum salam. Maaf apakah ini Ibu Warni? Saya Iwan, teman kerja Kang Darwis di Papua.”
“Iya. Ada apa ya?”
“Maaf, Bu. Saya mau mengabarkan bahwa.” Jeda itu membuatku menjadi tak enak hati rasanya. Firasatku buruk.
“Begini. Saat ini Kang Darwis sudah meninggal. Terkena tembakan oleh orang yang tidak dikenal semalam di tempat kerjanya. Jenazahnya akan segera diterbangkan esok hari.”
Bumiku bergoncang hebat. Tak mampu lagi berdiri semuanya hanya gelap. Selamanya rinduku tak akan pernah bertepi. Tiada lagi pengisi lara hati ini. Separuh nyawaku telah pergi bersamanya.

Nusakambangan,   28  Juni 2014.
**********************************************************************