Thursday, October 2, 2014

KERLINGAN DARI MASA LALU UNTUK SAHABAT



          Pagi ini Nampak berbeda dengan kemarin. Aku amat sangat bersemangat menyambutnya. Entah karena Dia atau entahlah. Sehabis mandi, aku membersihkan sepeda onthel yang selalu menemaniku ke mana aku suka. Siap sudah dan jreng-jrennng sepedaku akan mengkilat kecoklatan. Tapi tak apalah aku bersyukur saja. Ini juga jauh lebih baik daripada berjalan.
          Mengayuh sepeda sejauh 5 kilo meter bukanlah hal yang memberatkan pagi itu. Belokan dan tanjakan sedikit jalan lobang itu sudah biasa. Anak muda sepertiku memang masih penuh semangat dan ibarat kata ini masih full start engine. Hehe..aku mencoba menghibur diri disela-sela kelemahanku sebagai anak kampong dan anak seorang petani biasa. Tak terasa sampai juga aku ke tujuan. Rumah temanku yang terletak ditepi rel kereta api sebut saja Melly teman yang begitu menyenangkan. Tapi bukan dia tujuanku adalah seorang gadis mungil dan berpipi padat bulat, mata agak sipit yang telah lama aku kenal dalam kamus sekolahku. Ya ya ya..dialah Ening gadis pujaan untuk cinta monyetku. Hadueh…berdebar jantung ini saat memasuki pekarangan rumah Melly.
          Kulihat Ening sudah duduk bersama Melly dengan lesehan di ruang tengah rumah Melly. “Assalamualaikum” sapaku ramah. “Walaikumussalam “ jawaban yang kompak dari sahabatku ini. “Gimana udah mulai belum belajarnya?” tanyaku ringan. “Belumlah..kan kita nungguin kamu”. Jawab Ening dengan senyum ramah sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ujung bollpointnya. “Okelah kita mulai yah..’ ajakku untuk segera mengerjakan tugas sekolah yang memang harus selesai hari itu juga.
Beberapa lama kami asyik dengan mengerjakan tugas, tiba-tiba terdengar suara adzan. Spontan Ening meminta diam dan berhenti sejenak untuk mendengarkan seeruan adzan dari sebuah mushola seberang jalan. Ada rasa kagum dalam benakku. Dilingkungan yang belum sempurna kulihat kecintaan orang akan agama islam, ada satu generasi islam yang mempunyai karakteristik islamiyah walau berbekal ilmu agama hanya disekolah umum pada biasanya. Sungguh aku terpesona.
          Setelah selesai adzan kamipun melanjutkan tugas kami hingga selesai. Perdebatan dan gurauan kecil sesekali tampak dalam suasana kami waktu itu. Waktu terus berjalan dan sudah saatnya kami harus pulang. “Ening pulang sama aku kan kedepan?”tanyaku pada Ening. “Bolehlah…tapi sampai depan aja yah”pintanya manja. “Oke”. Meski hanya beberapa meter aku mengantarkan Ening ke depan gang aku merasa cukup senang saat itu. Sebuah vespa yang aku hafal plat nomernya saat itu sudah tampak menjemput Ening. “Zan, sampai besok yah..Makasih loh” kata Ening sambil menuju ke vespa yang menjemputnya.
Pelan tapi pasti bayang masa lalu itu hadir dalam keseharianku di Jakarta. Hari demi hari, bulan berganti bulan hingga tahunpun berganti. Mencari dan terus mencari melalui media onlinepun ku jalani demi hanya untuk mendengar kabar dan bagaimana Ening sekarang. Rupaya Tuhan menjawab seuntai do’a dalam keputus asaan. Malam itu aku online dengan media social yang sudah lama tak aku sentuh karena kesibukanku dalam bekerja. Hah ! Ening! Aku kaget seperti menemukan mutiara yang hilang beberapa tahun lamanya. Sebuah permintaan pertemanan yang baru saja aku buka.
          Seketika itu pula semua menjadi jelas. Aku bukan lelaki yang dipenuhi rasa penasaran lagi tentang Ening. Ada kelegaan mengetahui kondisinya dan bahkan keluarganya. Ada kerelaan hati ada keihlasan ada sejuta do’a untuk Ening dan keluarganya. Oh…kegembiraan ini tak akan mampu aku lukiskan. Meski aku jago melukis saat SMA dulu.
          Akupun demikian bersyukur dengan apa yang tuhan berikan dan limpahkan kepadaku. Tak terasa mata ini dipenuhi linangan air mata saat memandang wajah polos seorang istri dihadapanku dan dua putriku ini, yang tak mungkin aku berbagi cerita bahagia ini. Tapi sudahlah. Dengan hati penuh syukur ini aku menghadap-Mu yaa Rabb. Limpahkan segala kebaikan buat Ening beserta keluarganya dan Kami sekeluarga tentunya. Aamiin. (Sebuah Coretan Kehidupan).

No comments:

Post a Comment