Pagi ini Nampak berbeda dengan kemarin. Aku amat sangat
bersemangat menyambutnya. Entah karena Dia atau entahlah. Sehabis mandi, aku
membersihkan sepeda onthel yang selalu menemaniku ke mana aku suka. Siap sudah
dan jreng-jrennng sepedaku akan mengkilat kecoklatan. Tapi tak apalah aku
bersyukur saja. Ini juga jauh lebih baik daripada berjalan.
Mengayuh sepeda sejauh 5 kilo meter bukanlah hal yang
memberatkan pagi itu. Belokan dan tanjakan sedikit jalan lobang itu sudah
biasa. Anak muda sepertiku memang masih penuh semangat dan ibarat kata ini
masih full start engine. Hehe..aku mencoba menghibur diri disela-sela
kelemahanku sebagai anak kampong dan anak seorang petani biasa. Tak terasa
sampai juga aku ke tujuan. Rumah temanku yang terletak ditepi rel kereta api
sebut saja Melly teman yang begitu menyenangkan. Tapi bukan dia tujuanku adalah
seorang gadis mungil dan berpipi padat bulat, mata agak sipit yang telah lama
aku kenal dalam kamus sekolahku. Ya ya ya..dialah Ening gadis pujaan untuk
cinta monyetku. Hadueh…berdebar jantung ini saat memasuki pekarangan rumah
Melly.
Kulihat Ening sudah duduk bersama Melly dengan lesehan di
ruang tengah rumah Melly. “Assalamualaikum” sapaku ramah. “Walaikumussalam “
jawaban yang kompak dari sahabatku ini. “Gimana udah mulai belum belajarnya?”
tanyaku ringan. “Belumlah..kan kita nungguin kamu”. Jawab Ening dengan senyum
ramah sambil mengetuk-ngetuk meja dengan ujung bollpointnya. “Okelah kita mulai
yah..’ ajakku untuk segera mengerjakan tugas sekolah yang memang harus selesai
hari itu juga.
Beberapa lama kami asyik dengan mengerjakan tugas, tiba-tiba
terdengar suara adzan. Spontan Ening meminta diam dan berhenti sejenak untuk
mendengarkan seeruan adzan dari sebuah mushola seberang jalan. Ada rasa kagum
dalam benakku. Dilingkungan yang belum sempurna kulihat kecintaan orang akan
agama islam, ada satu generasi islam yang mempunyai karakteristik islamiyah
walau berbekal ilmu agama hanya disekolah umum pada biasanya. Sungguh aku
terpesona.
Setelah selesai adzan kamipun melanjutkan tugas kami hingga
selesai. Perdebatan dan gurauan kecil sesekali tampak dalam suasana kami waktu
itu. Waktu terus berjalan dan sudah saatnya kami harus pulang. “Ening pulang
sama aku kan kedepan?”tanyaku pada Ening. “Bolehlah…tapi sampai depan aja yah”pintanya
manja. “Oke”. Meski hanya beberapa meter aku mengantarkan Ening ke depan gang
aku merasa cukup senang saat itu. Sebuah vespa yang aku hafal plat nomernya
saat itu sudah tampak menjemput Ening. “Zan, sampai besok yah..Makasih loh”
kata Ening sambil menuju ke vespa yang menjemputnya.
Pelan tapi pasti bayang masa lalu itu hadir dalam
keseharianku di Jakarta. Hari demi hari, bulan berganti bulan hingga tahunpun
berganti. Mencari dan terus mencari melalui media onlinepun ku jalani demi hanya
untuk mendengar kabar dan bagaimana Ening sekarang. Rupaya Tuhan menjawab
seuntai do’a dalam keputus asaan. Malam itu aku online dengan media social yang
sudah lama tak aku sentuh karena kesibukanku dalam bekerja. Hah ! Ening! Aku kaget
seperti menemukan mutiara yang hilang beberapa tahun lamanya. Sebuah permintaan
pertemanan yang baru saja aku buka.
Seketika itu pula semua menjadi jelas. Aku bukan lelaki yang
dipenuhi rasa penasaran lagi tentang Ening. Ada kelegaan mengetahui kondisinya
dan bahkan keluarganya. Ada kerelaan hati ada keihlasan ada sejuta do’a untuk
Ening dan keluarganya. Oh…kegembiraan ini tak akan mampu aku lukiskan. Meski
aku jago melukis saat SMA dulu.
Akupun demikian bersyukur dengan apa yang tuhan berikan dan
limpahkan kepadaku. Tak terasa mata ini dipenuhi linangan air mata saat memandang
wajah polos seorang istri dihadapanku dan dua putriku ini, yang tak mungkin aku
berbagi cerita bahagia ini. Tapi sudahlah. Dengan hati penuh syukur ini aku
menghadap-Mu yaa Rabb. Limpahkan segala kebaikan buat Ening beserta keluarganya
dan Kami sekeluarga tentunya. Aamiin. (Sebuah Coretan Kehidupan).