Friday, January 24, 2014

KOLABORASI SEPANJANG JALAN KENANGAN

Perorang satu (1) koment dua baris kalimat atau di pisah dengan tanda (/)

Tema: "Sepanjang Jalan Kenangan"

PUISI SATU

Judul:

Oleh: Richie Permana Ardiansyah, Raditya Nugraha, Dekik, Ika Setyaningsih II, Nawaites Pesa, Irma Kurniasari

Di tepi padang ilalang
Kenangan tentangmu selalu terbayang
Gontai langkah perlahan menapaki jejak memori
Hidup menyusuri orbit—rindu tanpa gerang

Selepas mata menengok kebelakang
Setangkup pilu tertangkap maya
Adamu, berjeda—
Ilalang kuterjang
Mengejar kenang berkunang-kunang, sayang

Sesalku lari menyusup kabut senja tenggelam
Seiring degup mengeja impian tak bertepi sunyi
Berbayang rona lalu
Telusuri patahan kisah kesah

Memori melayang
Bersama lepas genggammu, kembang
Sisa—sia tarian sepi di tepi jalan
Pengantar rasa agar tak henti melupa luka
Membiru, berambigu menguak;

—sepanjang jalan kenangan

edit by Dk, 240114



Wednesday, January 22, 2014

SINARAN


Serupa warna pelangi
Lantakkan nurani

Pergi meradang
Geram terhempas  dalam penat

Silaumu terang
Dalam nyanyian hujan

Wahai sinaran,
Ku menatap mohon

Renta asaku 
Kabut menderu
Dirimu dalam kalbu

Putih  bercahaya bagaikan bintang
Menguak kesuraman

Galau memgayuh bahtera hitam

Sinaran,
Terangi hatiku
Lelap......

Nusakambangan, 22 januari 2014
Coretanpenabunda.blogspot.com

ke 11

MILAD MU


Alunan adzan mengalun
Haru  
Debaran  jantung berpacu
Air wudhu yang bisu

Temaram dalam buaian
Tanpa cahaya
Tanpa lilin
Tanpa suara

Di lirik senyum disana
Lugu sayu mengadu

Dalam diam kita bercumbu
Dalam hening kita merayu

Adakah esok masih   ada  hadirku
Inginku, inginmu selalu...

Nusakambangan , 22 jan 2014.
Coretanpenabunda.blogspot.com

Untuk guru terbaikku
happy birthday Mas Dekik.

LARASATI



Nduk, cah ayu
Permata hati
Dengar  gending mendayu
Alunan seruling bambu
Elok di kalbu


Nduk, cah ayu
Impian waktuku
Lihat lambaian Serimpi
Gemulai membelai raga
Halus menukik dalam sukma


Nduk, cah ayu
Serpihan laraku
Simaklah dongeng cinta  Sunan Kalijaga
Surga dalam dunia
Tak ingkar  ekang  oleh  masa


Nduk, cah ayu
Pujaan jiwaku
Mawar yang lincah gemulai
Melati yang harum   kesturi


Nduk Larasatiku,
Engkau lebih indah  dari mereka


Nusakambangan. 22 januari 2014.
Coretanpenabunda.blogspot.com

Allahu akbar

ke 10

ASA PEKAT




Jemari menari bagaikan bidadari, menyetak pergi dalam kesunyian panjang
Rasa melanglang dalam jelaga hitam pekat terjerembab
Jiwaku merindu dalam tobat
Hariku  teramat padat dalam maksiat

Topi yang biadap merontokan gigi malu
Terkapar dalam candu asmara pongah

Mabuk dalam angkara nafsu fitnah

Tak  siapapun mau mendekat
Tak seorangpun hadir
Apatah lagi Malaikat hitam

Jiwa  bermunajat
Dalam khianat   sekarat

Kemana aku kan pergi........
Sendiri....
Merintih....
Perih....

Nusakambangan, 22 januari 2014
Coretanpenabunda.blogspot.com

puisi ke 9

SUJUD SEPI




Tunduk dalam keremangan malam
Tiada teman bergandengan
Hanya degup jantung yang tak beraturan
Irama  pongah kehidupan

Sembahyang dalam kerinduan
Mengikuti sabda alam
Luruh diam dan lemah
Bagaikan badan berkalang
Tanah, debu........

Hilang  akal memuja ciptaMu
Jatuh cinta pada KalamMU

Tuhan........
Aku pasti akan kembali....

Nusakambangan, 22 Januari 2014
Coretanpenabunda. blog spot.com

Puisi ke 5

SEGUMPAL TANYA





Matahariku pergi berlalu
Tinggalkan lara  yang kian menepi
Ratapan tak lagi punya arti
Hidup jeri
Tanpa arti
Mati ..

Jemari lusuh dalam pinta
Belas kasihan dalam sesama
Memancing umpatan
Serapah
Lalat ... nanah

Wahai jiwa
Apa yang sedang ku cari
Semua  terrrenggut dalam nyala api
Apa yang ku punya

Tuan  pedulikan tangisku
Belailah harapku

Hapuskan luka menganga
Enyahkan hina  wajahku...........

Nusakambangan 22 januari 2014.
Coretanpenabunda.blogspot.com

puisi ke 7

PATAH




Kurengkuh mata dalam hitungan hari
Meratap dalam auman mimpi

Dua bukit saling berpelukan
Hadir bagaikan roh alam raya

Hadir dalam bayang pesona
Terpatri dalam memburai pergi

Redup malam mulai membayang
Hilang dalam khayal
Malang dalam  impian

Jenuh
Luluh
Kalah
Jengah
Patah........................

Nusakambangan, 22 januari 2014
Coretanpenabunda.blogspot.com

puisi ke 6

Tarian Hujan

Tarian Hujan

Mendung menari serupa rumput liar
Mengayun menghanyutkan
Menanti kesungguhan

Ku tarik nafas dalam
Sakit dalam perih kesunyian
Tatapan cinta tak lagi bermakna


Dhuarrrr......
Sang kilat murka gila
Seringai amukan segala bagai Rahwana
Ciut Shinta dalam rengkuhan
Kanda....
Kemana akan ku labuhkan kata
Kesucian terhempas
Kandas oleh angkara

Maaf aku tak sengaja.....


Nusakambangan , 22 Januari 2014
coretanpenabunda.blogspot.com
ke 3

Marry Me

Marry  Me

Marry Me,
Walaupun hanya niat yang menari
Suci serupa indah matahari
Hangat liar menetapi


Marry   Me,
Walau hanya sebongkah kata
Dalam kubangan
Dalam hasutan
Cemburu 

Marry  Me,
Hadirmu akan abadi
Terpatri
Menari
Di sini menanti

Nusakambangan,  22 januari 2014.

Hanya Cinta



Luka  dalam
Hanya diam
Rindu dendam

Melanglang samudra hati
Perih  tak berperi
Lama masa menanti
Impian tak lagi berarti

Dimana hari-hari
Dimana harga diri
Terburai terkapar
Jengah
Tak lagi indah......

Nusakambangan,  22 januari 2014.
Coretanpenabunda.

Monday, January 20, 2014

MIMPI YANG TERTUNDA




Setiap detik lama keriuhan

Menapaki indahnya pelajaran hati
Susuri jalanan dalam kerinduan
Menjadi absurd,
Kelam

Jiwa merapatkan mimpi
Dalam lelap mengalir
Cinta
Harapan
Angan
Sukacita dalam bahtera

Kugapai rindu pagi
Hampa
Menjelma  bara dendam
Entah kapan




Nusakambangan, 22 januari 2014.


Sunday, January 19, 2014

Falling




Aku terpana melihat tanganmu,
Mesra terulur menularkan kasih,
Indah terlihat senyum bibirmu,
Memukau polos bagaikan tatapan bayi,

Mengenalmu adalah  haruku,
Membekas bagaikan parut waktu,
Menancapkan paku  dinding nurani,
Bergetar syahdu merindu,

Mendekapmu  dalam mimpiku,
Terukir malu-malu nan ragu,
Mata ayu yang selalu hidup dalam benaku,
Wajah santun bagaikan bidadari pelindung,
Bagiku, bagimu anak-anak takberibu,

Aku memilihmu karena surga,
Dalam rahim yang penuh doa,
Wahai  sang pendamba,
Renggutlah asaku dalam takdirmu,




Nusakambangan, 19  Januari 2014.



Tuesday, January 14, 2014

HADIRMU




Malam kian lelap,
Menyisakan dingin dan gundah,
Terlihat  bayangan hitam  yang kian meraja,
Sepekat hatiku yang gulana,
Jengkerik menyanyi memecah kesunyian,

Desah nafasku terdengar membuncah,
Mata tak terpicing  walau sekejap,
Angan  jauh mengembara,
Kehidupan bersahaja yang ku punya,
Sekejap terenggut oleh hadirmu,

Episode rindu masa lalu yang muncul tiba-tiba,
Seperti musafir yang mendapatkan oase di padang pasir,
Terlena dalam bayangan indahnya kenangan,
Wahai hidup, apakah yang ingin ku gapai,
Apakah yang ingin ku rengkuh,
Memburu bayangan indah fatamorgana,

Indah hadirmu bagaikan siluet masa lalu,
Penuh dalam impian semu memabukkan,
Senyum tawa pengharapan  menyatu dalam khayalan,
Selintas  diamku menatap wajah polos permata hati,
Damai dalam buaian , lelap dalam ayunan waktu,
Senyumnya menyadarkan hati,
Aku harus pulang pada dermaga nyata yang sudah kupunya,


 


Nusakambangan, 15 januari 2014.

Sunday, January 12, 2014

My Beautiful Morning




Aku selalu suka wajah pagi,
Disaat alam tersenyum dalam syukur yang indah,
Kutatap daun - daun berkilau cemerlang bagaikan senyum bidadari,
Ayunan embun bermain di pucuk dedaunan lembut menari,

Aku selau suka sinar pagi,
Ketika matahari tersenyum malu-malu,
Mengintip  sayu bagaikan wajah perawan berseri,
Rona pelangi di matanya berharap masih ada pagi yang menati,

Aku selalu rindu suara pagi,
Ketika celoteh riang kanak-kanak, tangisan memecah keheningan,
Berteriak memanggil Bundanya berharap susu hangat penuh cinta,
Wahai penuh dengan nuansa riuh rendah yang berpacu dengan waktu.

Aku selalu suka gairah pagi,
Ketika seluruh alam tersenyum penuh pengharapan,
Mencari rahmat yang sudah di janjikan,
Bertebaran bagaikan bunga kecil di padang rumput,
Basah cerah menjanjikan semangat penuh pengharapan,

Aku selalu ingin menjadi pagi,
Yang menebarkan  aura indah yang menegarkan,
Memberikan semua yang  didingikan mahluq Tuhan,
Duhai mungkinkah mimpiku semulia pagi,




Nusakambangan, 13 Januari 2014.



Saturday, January 11, 2014

You Raise Me Up




Dalam kebekuan hidup yang harus kujalani,
Banyak sisi lain yang selalu datang menemani,
Hitam, putih, merah  dan selaksa warna pelangi,
Datang silih berganti tanpa jeda,
Senyum, canda, sedih, dukalara tiada henti
Drama kehidupan dalam rotasinya bergulir,

Ketika pagi datang menjelang,
Bayangan sorepun telah menghampiri,
Kulihat pohon pisang saling berhimpitan sayang,
Rumput ilalang saling berdesakan,
Harmoni indah yang sempurna dalam dekapan,

Siang menjelang kemilau sinarnya menantang,
Siapapun yang berani datang dan pergi menghilang,
Apakah dan siapakah yang akan menjadi pemenang atau pecundang?
Semua terserah kepada siapapun yang akan menjadi  pahlawan hari,

Merah  awan barat tertiup angin sepi,
Burung kecil berhamburan mencari kehangatan,
Kulihat di kejauhan induk ayam yang mencari cicit kecil buah hatinya,
Wahai, ketika usia beranjak sore ,
Apakah yang sudah aku punya,
Apakah yang sudah aku berikan pada alam keabadian?

Berlayar menuju malam impian,
Berlalu sudah satu halaman kehidupan,
Saatnya mengadu dari peraduan, sujud tersungkur, dalam penyesalan serta pengharapan,
Ku tahu kepada siapa kuberharap,



Nusakambangan,  12 Januari 214 ,








Friday, January 10, 2014


MORNING SICKNESS


Anaku,
Mari  kuceritakan tentang perjuangan seorang ibu,
Ketika Dia masih kanak-kanak begitu asyik bercengkrama dengan boneka,
Diayun, dicium, dibelai dan dikenakan baju yang indah,
Begitu  meresapi dan menghayati peran itu melebihi laku seorang  pemain film ternama,

Anaku,
Ketika  Dia jelang dewasa sudah pandai bersolek, bangga dengan rambut panjangnya,
Bangga dengan manis senyumnya, terpikat dengan kemolekan tubuhnya,
Dirawat setiap hari dengan suka cita dan cinta,
Datang masanya bersua dengan Rajawali yang begitu menggetarkan sukma,
Mabuk oleh manisnya madu kehidupan,
Menunggu dengan sabar apa yang  selama ini di nantikan,
Dengan sambutan suka cita, hadinya seorang bayi dalam dekapan,

Anaku,
Episode penantian yang panjang tak mebuatnya jenuh untuk menantikan hadirmu,
Sabar dan iktiar selalu di jalani dengan  bangga,
Saat kabar yang di nantikan tiba,
Bagaikan ikan yang menari dalam alam liar dan menenangkan,
Hidup bagaikan secangkir susu panas yang menghangatkan,
Menikmati gerak dan rasa asing tiap pagi tiba,  tanpa batasan waktu ,

Anaku,
Ketika tiba masanya hadimu yang penuh dengan kesakitan dan ketakutan,
Hanya Tuhan Maha Rahim yang terlintas dalam ingatan,
Dalam keperihan tak dirasakan  terhapus oleh suara merdu lengkingan kecil,
Wahai lengkap sudah surga kecil dengan tangismu,

Anaku,
Hadirmu sangat berati baginya, tawamu bagaikan obat penawar rindu,
Senyummu bagaikan air surgawi Al kautsar,
Dia berikan hatinya,  kakinya, tanganya dan seluruh panca indera yang dipunyai,
Hanya   demi apa  yang  Dia pinta,
Doamu, doamu, baktimu, cintamu selama hidup di dunia dan di akhirat nanti,
Semoga dapat berkumpul di Jannah nya kelak,


Pulau Napi, 11 januari 2014,

Your   Sincerelly,

 Bundamu



LOMBA MENCARI JATI DIRI

Anakku kuceritakan sebuah kisah dimana Bunda tidak ingin engkau melihat orang lain dalam pencarian Jati Dirimu maka lihatlah diri dan sekitarmu...Alkisah ada dua orang sahabat yang bersahabat dengan amat sangat. Sebutlah Bimba dan Tabah. Mereka tiap hari bekerja mencari batu gunung untuk dipecahkan dan dijual. Setelah sekian lama mereka bekerja salah seorang dari mereka Bimba berbicara kepada Tabah. "Hai Tabah ! tidakkah engkau ingin menjadi seperti Matahari yang setiap hari menyinari kita, yang selalu menang dengan sinarnya." Jawab Tabah sambil bekerja "Tidak! aku ingin mencari batu yang banyak saja untuk dijual agar aku bisa mendapatkan upah banyak." Kata Bimba "oke ! kalo begitu lanjutkan kerjamu aku ingin menjadi Matahari." Tiba-tiba dengan kekuasaan Allah Bimba berubah menjadi Matahari. Dia tertawa senang dan gembira. "akulah matahari terkuat dan terhebat tidak ada yang mampu menghalangiku..ha ha ha..". Namun kemudian datanglah sekelompok awan menghalangi sinarnya. Kata Bimba " Wah..apa ini ternyata awan mampu mengalahkanku. Berarti awan lebih hebat dari Matahari kalo begitu aku ingin menjadi Awan!". Maka jadilah Bimba awan sesuai do'a yang dipanjatkan. Bimba terlihat senang dan bergerak ke sana kemari dengan tertawa senang. "ha ha ha..akulah awan yang tanpa lawan...hahaha". Namun tiba-tiba datanglah angin yang kencang dan membuat Bimba jauh dan hampir hilang. Katanya " hah ! ternyata angin lebih hebat dan kuat dari awan kalo begitu aku ingin jadi angin saja !." Maka dalam sekejap Bimba pun menjadi angin dan dengan bangganya pula Bimba menghembus ke sana kemari merusak dimana saja dia lewat hingga suatu saat Bimba ketemu dengan sebuat gunung batu dan ternyata gunung batu itu tidak dapat digerakkan dan dihancurkan oleh Bimba. Diapun berkata " wah ini gunung kuat juga ya..aku sudah sekuat tenaga tapi tidak bergerak juga kalo gitu aku ingin jadi gunung saja dan dia pun berdo'a..ya Allah jadikan aku gunung karena ternyata gunung itu yang terhebat dan terkuat." Maka dengan izin Allah jadilah Bimba gunung. Dia sangat gembira dengan bangga dan sombongnya dia berkata " akulah gunung yang hebat dan terkuat tidak ada hal apapun yang mampu memecahkan dan merusakku..hahahaha. Namun pada suatu hari dilihatnya seorang Tukang batu yang sedang memecahkan gunung batu dengan palu besarnya. Lama kelamaan gunung batu itupun habis dipecahkannya. Dalam hati Bimba mulai bimbang akan kekuatan gunung dan diapun berdo'a..ya Allah ternyata Tukang batu adalah yang terhebat. Coba bayangkan gunung batu bisa habis oleh badan dan palu yang dibawanya. Maka atas karunia Allah juga Bimba berubah menjadi Tukang Batu. Setiap hari Bimba datang ke gunung dan dipecahkannya gundukan demi gundukan untuk dimasukkan ke keranjang dan dijual. Namun dia merasa aneh dan sepi dalam hatinya berkata "dimanakah Tabah ya..."." teman seperjuangan dulu yang sama membawa palu utnuk memecah batu." Pada suatu hari ada seorang pemuda yang tampan dan gagah dengan baju bersih dan topi koboi lengkap dengan sepatu boot. Pemuda tersebut menyapa Bimba. "hai sobat...masih ingat aku?". Bimba terlihat kaget, dahinya mengkerut dan dengan suara pelan Bimba berkata "kaukah Tabah temanku dulu yang sama memecah batu?." " ya ya..kamu betul!, aku sekarang tidak lagi memecah batu. uang hasil batu yang ku jual dulu uangnya ku tabung dan ku belikan truk. sekarang aku juragan truk dan orang-orang ini semua bekerja padaku unuk mengumpulkan batu.".Bimba tampak malu dengan apa yang diperbuat selama ini. Dia ingat bagaimana sibuknya dia melihat orang lain dan ingin menjadi orang lain. (Diceritakan kembali oelh penulis dari seorang bijak yang dengan ihlas menuturkan cerita bijak. Terima Kasih).