Perorang satu (1) koment dua baris kalimat atau di pisah dengan tanda (/)
Tema: "Sepanjang Jalan Kenangan"
PUISI SATU
Judul:
Oleh: Richie Permana Ardiansyah, Raditya Nugraha, Dekik, Ika Setyaningsih II, Nawaites Pesa, Irma Kurniasari
Di tepi padang ilalang
Kenangan tentangmu selalu terbayang
Gontai langkah perlahan menapaki jejak memori
Hidup menyusuri orbit—rindu tanpa gerang
Selepas mata menengok kebelakang
Setangkup pilu tertangkap maya
Adamu, berjeda—
Ilalang kuterjang
Mengejar kenang berkunang-kunang, sayang
Sesalku lari menyusup kabut senja tenggelam
Seiring degup mengeja impian tak bertepi sunyi
Berbayang rona lalu
Telusuri patahan kisah kesah
Memori melayang
Bersama lepas genggammu, kembang
Sisa—sia tarian sepi di tepi jalan
Pengantar rasa agar tak henti melupa luka
Membiru, berambigu menguak;
—sepanjang jalan kenangan
edit by Dk, 240114
Friday, January 24, 2014
Wednesday, January 22, 2014
SINARAN
Serupa warna pelangi
Lantakkan nurani
Pergi meradang
Geram terhempas dalam penat
Silaumu terang
Dalam nyanyian hujan
Wahai sinaran,
Ku menatap mohon
Renta asaku
Kabut menderu
Dirimu dalam kalbu
Putih bercahaya bagaikan bintang
Menguak kesuraman
Galau memgayuh bahtera hitam
Sinaran,
Terangi hatiku
Lelap......
Nusakambangan, 22 januari 2014
Coretanpenabunda.blogspot.com
ke 11
MILAD MU
Alunan adzan mengalun
Haru
Debaran jantung berpacu
Air wudhu yang bisu
Temaram dalam buaian
Tanpa cahaya
Tanpa lilin
Tanpa suara
Di lirik senyum disana
Lugu sayu mengadu
Dalam diam kita bercumbu
Dalam hening kita merayu
Adakah esok masih ada hadirku
Inginku, inginmu selalu...
Nusakambangan , 22 jan 2014.
Coretanpenabunda.blogspot.com
Untuk guru terbaikku
happy birthday Mas Dekik.
LARASATI
Nduk, cah ayu
Permata hati
Dengar gending mendayu
Alunan seruling bambu
Elok di kalbu
Nduk, cah ayu
Impian waktuku
Lihat lambaian Serimpi
Gemulai membelai raga
Halus menukik dalam sukma
Nduk, cah ayu
Serpihan laraku
Simaklah dongeng cinta Sunan Kalijaga
Surga dalam dunia
Tak ingkar ekang oleh masa
Nduk, cah ayu
Pujaan jiwaku
Mawar yang lincah gemulai
Melati yang harum kesturi
Nduk Larasatiku,
Engkau lebih indah dari mereka
Nusakambangan. 22 januari 2014.
Coretanpenabunda.blogspot.com
Allahu akbar
ke 10
ASA PEKAT
Jemari menari bagaikan bidadari, menyetak pergi dalam kesunyian panjang
Rasa melanglang dalam jelaga hitam pekat terjerembab
Jiwaku merindu dalam tobat
Hariku teramat padat dalam maksiat
Topi yang biadap merontokan gigi malu
Terkapar dalam candu asmara pongah
Mabuk dalam angkara nafsu fitnah
Tak siapapun mau mendekat
Tak seorangpun hadir
Apatah lagi Malaikat hitam
Jiwa bermunajat
Dalam khianat sekarat
Kemana aku kan pergi........
Sendiri....
Merintih....
Perih....
Nusakambangan, 22 januari 2014
Coretanpenabunda.blogspot.com
puisi ke 9
SUJUD SEPI
Tunduk dalam keremangan malam
Tiada teman bergandengan
Hanya degup jantung yang tak beraturan
Irama pongah kehidupan
Sembahyang dalam kerinduan
Mengikuti sabda alam
Luruh diam dan lemah
Bagaikan badan berkalang
Tanah, debu........
Hilang akal memuja ciptaMu
Jatuh cinta pada KalamMU
Tuhan........
Aku pasti akan kembali....
Nusakambangan, 22 Januari 2014
Coretanpenabunda. blog spot.com
Puisi ke 5
SEGUMPAL TANYA
Matahariku pergi berlalu
Tinggalkan lara yang kian menepi
Ratapan tak lagi punya arti
Hidup jeri
Tanpa arti
Mati ..
Jemari lusuh dalam pinta
Belas kasihan dalam sesama
Memancing umpatan
Serapah
Lalat ... nanah
Wahai jiwa
Apa yang sedang ku cari
Semua terrrenggut dalam nyala api
Apa yang ku punya
Tuan pedulikan tangisku
Belailah harapku
Hapuskan luka menganga
Enyahkan hina wajahku...........
Nusakambangan 22 januari 2014.
Coretanpenabunda.blogspot.com
puisi ke 7
PATAH
Kurengkuh mata dalam hitungan hari
Meratap dalam auman mimpi
Dua bukit saling berpelukan
Hadir bagaikan roh alam raya
Hadir dalam bayang pesona
Terpatri dalam memburai pergi
Redup malam mulai membayang
Hilang dalam khayal
Malang dalam impian
Jenuh
Luluh
Kalah
Jengah
Patah........................
Nusakambangan, 22 januari 2014
Coretanpenabunda.blogspot.com
puisi ke 6
Tarian Hujan
Tarian Hujan
Mendung menari serupa rumput liar
Mengayun menghanyutkan
Menanti kesungguhan
Ku tarik nafas dalam
Sakit dalam perih kesunyian
Tatapan cinta tak lagi bermakna
Mendung menari serupa rumput liar
Mengayun menghanyutkan
Menanti kesungguhan
Ku tarik nafas dalam
Sakit dalam perih kesunyian
Tatapan cinta tak lagi bermakna
Dhuarrrr......
Sang kilat murka gila
Seringai amukan segala bagai Rahwana
Ciut Shinta dalam rengkuhan
Kanda....
Kemana akan ku labuhkan kata
Kesucian terhempas
Kandas oleh angkara
Maaf aku tak sengaja.....
Nusakambangan , 22 Januari 2014
coretanpenabunda.blogspot.com
ke 3
Sang kilat murka gila
Seringai amukan segala bagai Rahwana
Ciut Shinta dalam rengkuhan
Kanda....
Kemana akan ku labuhkan kata
Kesucian terhempas
Kandas oleh angkara
Maaf aku tak sengaja.....
Nusakambangan , 22 Januari 2014
coretanpenabunda.blogspot.com
ke 3
Marry Me
Marry Me
Marry Me,
Walaupun hanya niat yang menari
Suci serupa indah matahari
Hangat liar menetapi
Marry Me,
Walau hanya sebongkah kata
Dalam kubangan
Dalam hasutan
Cemburu
Marry Me,
Hadirmu akan abadi
Terpatri
Menari
Di sini menanti
Nusakambangan, 22 januari 2014.
Marry Me,
Walaupun hanya niat yang menari
Suci serupa indah matahari
Hangat liar menetapi
Marry Me,
Walau hanya sebongkah kata
Dalam kubangan
Dalam hasutan
Cemburu
Marry Me,
Hadirmu akan abadi
Terpatri
Menari
Di sini menanti
Nusakambangan, 22 januari 2014.
Hanya Cinta
Luka dalam
Hanya diam
Rindu dendam
Melanglang samudra hati
Perih tak berperi
Lama masa menanti
Impian tak lagi berarti
Dimana hari-hari
Dimana harga diri
Terburai terkapar
Jengah
Tak lagi indah......
Nusakambangan, 22 januari 2014.
Coretanpenabunda.
Monday, January 20, 2014
MIMPI YANG TERTUNDA
Setiap detik lama keriuhan
Menapaki indahnya pelajaran hati
Susuri jalanan dalam kerinduan
Menjadi absurd,
Kelam
Jiwa merapatkan mimpi
Dalam lelap mengalir
Cinta
Harapan
Angan
Sukacita dalam bahtera
Kugapai rindu pagi
Hampa
Menjelma bara dendam
Entah kapan
Nusakambangan, 22 januari 2014.
Sunday, January 19, 2014
Falling
Aku terpana melihat tanganmu,
Mesra terulur menularkan kasih,
Indah terlihat senyum bibirmu,
Memukau polos bagaikan tatapan bayi,
Mengenalmu adalah haruku,
Membekas bagaikan parut waktu,
Menancapkan paku dinding nurani,
Bergetar syahdu merindu,
Mendekapmu dalam mimpiku,
Terukir malu-malu nan ragu,
Mata ayu yang selalu hidup dalam benaku,
Wajah santun bagaikan bidadari pelindung,
Bagiku, bagimu anak-anak takberibu,
Aku memilihmu karena surga,
Dalam rahim yang penuh doa,
Wahai sang pendamba,
Renggutlah asaku dalam takdirmu,
Nusakambangan, 19 Januari 2014.
Tuesday, January 14, 2014
HADIRMU
Malam kian lelap,
Menyisakan dingin dan gundah,
Terlihat bayangan hitam yang kian meraja,
Sepekat hatiku yang gulana,
Jengkerik menyanyi memecah kesunyian,
Desah nafasku terdengar membuncah,
Mata tak terpicing walau sekejap,
Angan jauh mengembara,
Kehidupan bersahaja yang ku punya,
Sekejap terenggut oleh hadirmu,
Episode rindu masa lalu yang muncul tiba-tiba,
Seperti musafir yang mendapatkan oase di padang pasir,
Terlena dalam bayangan indahnya kenangan,
Wahai hidup, apakah yang ingin ku gapai,
Apakah yang ingin ku rengkuh,
Memburu bayangan indah fatamorgana,
Indah hadirmu bagaikan siluet masa lalu,
Penuh dalam impian semu memabukkan,
Senyum tawa pengharapan menyatu dalam khayalan,
Selintas diamku menatap wajah polos permata hati,
Damai dalam buaian , lelap dalam ayunan waktu,
Senyumnya menyadarkan hati,
Aku harus pulang pada dermaga nyata yang sudah kupunya,
Nusakambangan, 15 januari 2014.
Sunday, January 12, 2014
My Beautiful Morning
Aku selalu suka wajah pagi,
Disaat alam tersenyum dalam syukur yang indah,
Kutatap daun - daun berkilau cemerlang bagaikan senyum bidadari,
Ayunan embun bermain di pucuk dedaunan lembut menari,
Aku selau suka sinar pagi,
Ketika matahari tersenyum malu-malu,
Mengintip sayu bagaikan wajah perawan berseri,
Rona pelangi di matanya berharap masih ada pagi yang menati,
Aku selalu rindu suara pagi,
Ketika celoteh riang kanak-kanak, tangisan memecah keheningan,
Berteriak memanggil Bundanya berharap susu hangat penuh cinta,
Wahai penuh dengan nuansa riuh rendah yang berpacu dengan waktu.
Aku selalu suka gairah pagi,
Ketika seluruh alam tersenyum penuh pengharapan,
Mencari rahmat yang sudah di janjikan,
Bertebaran bagaikan bunga kecil di padang rumput,
Basah cerah menjanjikan semangat penuh pengharapan,
Aku selalu ingin menjadi pagi,
Yang menebarkan aura indah yang menegarkan,
Memberikan semua yang didingikan mahluq Tuhan,
Duhai mungkinkah mimpiku semulia pagi,
Nusakambangan, 13 Januari 2014.
Saturday, January 11, 2014
You Raise Me Up
Dalam kebekuan hidup yang harus kujalani,
Banyak sisi lain yang selalu datang menemani,
Hitam, putih, merah dan selaksa warna pelangi,
Datang silih berganti tanpa jeda,
Senyum, canda, sedih, dukalara tiada henti
Drama kehidupan dalam rotasinya bergulir,
Ketika pagi datang menjelang,
Bayangan sorepun telah menghampiri,
Kulihat pohon pisang saling berhimpitan sayang,
Rumput ilalang saling berdesakan,
Harmoni indah yang sempurna dalam dekapan,
Siang menjelang kemilau sinarnya menantang,
Siapapun yang berani datang dan pergi menghilang,
Apakah dan siapakah yang akan menjadi pemenang atau pecundang?
Semua terserah kepada siapapun yang akan menjadi pahlawan hari,
Merah awan barat tertiup angin sepi,
Burung kecil berhamburan mencari kehangatan,
Kulihat di kejauhan induk ayam yang mencari cicit kecil buah hatinya,
Wahai, ketika usia beranjak sore ,
Apakah yang sudah aku punya,
Apakah yang sudah aku berikan pada alam keabadian?
Berlayar menuju malam impian,
Berlalu sudah satu halaman kehidupan,
Saatnya mengadu dari peraduan, sujud tersungkur, dalam penyesalan serta pengharapan,
Ku tahu kepada siapa kuberharap,
Nusakambangan, 12 Januari 214 ,
Friday, January 10, 2014
MORNING SICKNESS
Anaku,
Mari kuceritakan tentang perjuangan seorang ibu,
Ketika Dia masih kanak-kanak begitu asyik bercengkrama dengan boneka,
Diayun, dicium, dibelai dan dikenakan baju yang indah,
Begitu meresapi dan menghayati peran itu melebihi laku seorang pemain film ternama,
Anaku,
Ketika Dia jelang dewasa sudah pandai bersolek, bangga dengan rambut panjangnya,
Bangga dengan manis senyumnya, terpikat dengan kemolekan tubuhnya,
Dirawat setiap hari dengan suka cita dan cinta,
Datang masanya bersua dengan Rajawali yang begitu menggetarkan sukma,
Mabuk oleh manisnya madu kehidupan,
Menunggu dengan sabar apa yang selama ini di nantikan,
Dengan sambutan suka cita, hadinya seorang bayi dalam dekapan,
Anaku,
Episode penantian yang panjang tak mebuatnya jenuh untuk menantikan hadirmu,
Sabar dan iktiar selalu di jalani dengan bangga,
Saat kabar yang di nantikan tiba,
Bagaikan ikan yang menari dalam alam liar dan menenangkan,
Hidup bagaikan secangkir susu panas yang menghangatkan,
Menikmati gerak dan rasa asing tiap pagi tiba, tanpa batasan waktu ,
Anaku,
Ketika tiba masanya hadimu yang penuh dengan kesakitan dan ketakutan,
Hanya Tuhan Maha Rahim yang terlintas dalam ingatan,
Dalam keperihan tak dirasakan terhapus oleh suara merdu lengkingan kecil,
Wahai lengkap sudah surga kecil dengan tangismu,
Anaku,
Hadirmu sangat berati baginya, tawamu bagaikan obat penawar rindu,
Senyummu bagaikan air surgawi Al kautsar,
Dia berikan hatinya, kakinya, tanganya dan seluruh panca indera yang dipunyai,
Hanya demi apa yang Dia pinta,
Doamu, doamu, baktimu, cintamu selama hidup di dunia dan di akhirat nanti,
Semoga dapat berkumpul di Jannah nya kelak,
Pulau Napi, 11 januari 2014,
Your Sincerelly,
Bundamu
LOMBA MENCARI JATI DIRI
Anakku kuceritakan sebuah kisah dimana Bunda tidak ingin engkau melihat orang lain dalam pencarian Jati Dirimu maka lihatlah diri dan sekitarmu...Alkisah ada dua orang sahabat yang bersahabat dengan amat sangat. Sebutlah Bimba dan Tabah. Mereka tiap hari bekerja mencari batu gunung untuk dipecahkan dan dijual. Setelah sekian lama mereka bekerja salah seorang dari mereka Bimba berbicara kepada Tabah. "Hai Tabah ! tidakkah engkau ingin menjadi seperti Matahari yang setiap hari menyinari kita, yang selalu menang dengan sinarnya." Jawab Tabah sambil bekerja "Tidak! aku ingin mencari batu yang banyak saja untuk dijual agar aku bisa mendapatkan upah banyak." Kata Bimba "oke ! kalo begitu lanjutkan kerjamu aku ingin menjadi Matahari." Tiba-tiba dengan kekuasaan Allah Bimba berubah menjadi Matahari. Dia tertawa senang dan gembira. "akulah matahari terkuat dan terhebat tidak ada yang mampu menghalangiku..ha ha ha..". Namun kemudian datanglah sekelompok awan menghalangi sinarnya. Kata Bimba " Wah..apa ini ternyata awan mampu mengalahkanku. Berarti awan lebih hebat dari Matahari kalo begitu aku ingin menjadi Awan!". Maka jadilah Bimba awan sesuai do'a yang dipanjatkan. Bimba terlihat senang dan bergerak ke sana kemari dengan tertawa senang. "ha ha ha..akulah awan yang tanpa lawan...hahaha". Namun tiba-tiba datanglah angin yang kencang dan membuat Bimba jauh dan hampir hilang. Katanya " hah ! ternyata angin lebih hebat dan kuat dari awan kalo begitu aku ingin jadi angin saja !." Maka dalam sekejap Bimba pun menjadi angin dan dengan bangganya pula Bimba menghembus ke sana kemari merusak dimana saja dia lewat hingga suatu saat Bimba ketemu dengan sebuat gunung batu dan ternyata gunung batu itu tidak dapat digerakkan dan dihancurkan oleh Bimba. Diapun berkata " wah ini gunung kuat juga ya..aku sudah sekuat tenaga tapi tidak bergerak juga kalo gitu aku ingin jadi gunung saja dan dia pun berdo'a..ya Allah jadikan aku gunung karena ternyata gunung itu yang terhebat dan terkuat." Maka dengan izin Allah jadilah Bimba gunung. Dia sangat gembira dengan bangga dan sombongnya dia berkata " akulah gunung yang hebat dan terkuat tidak ada hal apapun yang mampu memecahkan dan merusakku..hahahaha. Namun pada suatu hari dilihatnya seorang Tukang batu yang sedang memecahkan gunung batu dengan palu besarnya. Lama kelamaan gunung batu itupun habis dipecahkannya. Dalam hati Bimba mulai bimbang akan kekuatan gunung dan diapun berdo'a..ya Allah ternyata Tukang batu adalah yang terhebat. Coba bayangkan gunung batu bisa habis oleh badan dan palu yang dibawanya. Maka atas karunia Allah juga Bimba berubah menjadi Tukang Batu. Setiap hari Bimba datang ke gunung dan dipecahkannya gundukan demi gundukan untuk dimasukkan ke keranjang dan dijual. Namun dia merasa aneh dan sepi dalam hatinya berkata "dimanakah Tabah ya..."." teman seperjuangan dulu yang sama membawa palu utnuk memecah batu." Pada suatu hari ada seorang pemuda yang tampan dan gagah dengan baju bersih dan topi koboi lengkap dengan sepatu boot. Pemuda tersebut menyapa Bimba. "hai sobat...masih ingat aku?". Bimba terlihat kaget, dahinya mengkerut dan dengan suara pelan Bimba berkata "kaukah Tabah temanku dulu yang sama memecah batu?." " ya ya..kamu betul!, aku sekarang tidak lagi memecah batu. uang hasil batu yang ku jual dulu uangnya ku tabung dan ku belikan truk. sekarang aku juragan truk dan orang-orang ini semua bekerja padaku unuk mengumpulkan batu.".Bimba tampak malu dengan apa yang diperbuat selama ini. Dia ingat bagaimana sibuknya dia melihat orang lain dan ingin menjadi orang lain. (Diceritakan kembali oelh penulis dari seorang bijak yang dengan ihlas menuturkan cerita bijak. Terima Kasih).
Subscribe to:
Posts (Atom)