SELAKSA RINDU
By: Mutiara Sakha
Awan hitam menggantung menutupi cahaya
matahari yang bersikukuh untuk tetap menerangi indahnya mayapada. Saling berlomba untuk menunjukkan pengabdian
terbaik pada penciptanya. Sebagai tanda bersujud syukur atas semau karunia yang
terlimpah dalam setiap hembusan angin.
Anggo, kucing kesayanganku masih tertidur malas beralaskan karpet di
beranda. Tempat dimana aku selalu duduk bercengkrama bersamanya dan ketiga permata hati titipan Illahi. Hampir
setiap senja kunikmati keindahan warna langit saga dalam rasa syukur mendalam
atasa segala rahmat yang telah diberikan.
Semua terasa sempurna dalam buaian
angin semilir rumah sederhana dengan hamparan sawah membentang melenakan mata.
Masih kuingat ketika suatu sore wajah muram miliknya bergelayut dengan sejuta
bimbang penuh tanda tanya.
“Bunda, anak kita semakin besar, akan butuh biaya
yang tidak sedikit agar mereka bisa tetap sekolah tinggi seperti mimpi manis
kita.”
Kutatap wajah teduh kekasih hati belahan jiwa yang telah
mengarungi bahtera rumah tangga bersama selama 15 tahun, berjuang menjaga
agar tak pernah karam dalam badai lautan
kehidupan.
‘Maksudnya apa sih,Yah. Bunda jadi bingung loh?”
Tiada jawaban. Hanya matanya yang setajam elang
menatap sawah menghijau milik para petani yang tetap tekun berpeluh mengabdikan
dirinya kepada ibu pertiwi. Setia terpanggang matahari dan basah kuyup oleh
hujan. Tak jarang mereka terpanggang petir di tengah sawah membentang. Ironis,
tak sepadan dengan hasil tak memadai yang akan dituai. Kebijakan pemerintah
dengan mengimpor beras telah menjadikan petani di negeri ini bagaikan ayam yang
mati di lumbung padi.
“Jangan diam saja dong. Bikin senewen.
Katakan walaupun pahit, My Baby,” godaku sambil tersenyum menatapnya jenaka.
Rayuan maut. Kulihat senyum manisnya mengembang.
“Begini, Bun. Maaf kalau membuatmu marah nantinya.
Ayah pikir kalau hanya mengandalkan hasil sawah yang hanya sepetak ini, tak
mungkin rasanya bisa kuliahin anak-anak nantinya.”
“Teruss.....?! Aku menggelembungkan mulut tak
sabar.
“Kalau Bunda setuju sih. Biar kita bisa menabung. Rencananya Ayah mau ikutan
kerja proyek di luar negeri. Tadi ada rekan yang baru pulang dari Kuwait
mengajak untuk gabung. Ada pekerjaan dengan upah lumayan membutuhkan skill yang
kumiliki.”
Aku terpana dan mendadak sedih. Sungguh bukan
suatu yang mudah untuk menjatuhkan pilihan. Antara keinginan dan realita
kehidupan. Huff...
“Kalau Bunda nggak setuju ya sudah. Ayah ngerti
banget jika hal ini sangat berat untuk
ditempuh. Tapi Ayah mohon agar Bunda memohon petunjuk dari-Nya sebelum
memutuskan. Semoga Dia berikan jalan
yang terbaik.”
Aku hanya bisa diam tergugu. Ya Malik, kuatkanlah
hatik ini untuk melepas milik-Mu yang telah menjadi amanah bagiku selama ini. Tiada
daya upaya selain atas kehendak-Mu.
Seminggu
kemudian belum ada jawaban pasti. Namun kucoba menguatkan jiwa untuk
mengikhlaskan kepergiannya. Demi masa depan anak-anak kami berdua. Ya, aku
harus mampu mengalahkan rasa ego dan cemas serta ketakutan akan kehilangan.
Sebagai orangtua mengalah dan bersabar
demi buah hati adalah suatu keharusan, walaupun pahit bagai empedu.
“Beneran nih, Bunda melarang mending batalin aja.
Semuanya khan harus ada komitmen plus kerelaan. Tapi janji jangan sedih ya. Maaf
nanti Bunda jadi repot sendiri tanpa
Ayah yang siaga membantu apa saja.” Kerlingan manja itu tak mungkin terlupa.
Hiks... Jadi ingat lagu malam terakhir milik Bang Haji Rhoma Irama.
Malam ini malam terakhir
bagi kita
Untuk mencurahkan rasa
rindu di dada
Esok aku akan pergi lama
kembali
Kuharapkan agar engkau
sabar menanti
Kepergianku hanya untuk
kembali
Kita berpisah untuk
berjumpa lagi
Kecuali bila Tuhan
menghendaki
Tentu saja kita harus rela
hati
Karena kehendak-Nya itu
yang terjadi
Potongan syair lagu itu
terasa sekali mewakili gundahnya hatiku. Apa daya memang harus demikian yang
terjadi. Semoga saja semuanya akan lebih baik .
Kutitipkan kekasih hati dan
belahan jiwa kepada pemiliknya. Dimanapun berada Alloh akan tetap bersamanya.
Insha Alloh.
Hari ini genap satu
tahun kepergiannya. Pada enam bulan
pertama, sekali dalam seminggu komunikasi tetap terjalin lewat telepon selular. Banyak cerita menarik yang kudengar. Tentu saja adat budaya
yang berbeda akan menyebabkan shock
culture baginya.
“Kuwait
adalah negara monarki yang kaya akan minyak terletak di
pesisir Teluk Persia, Timur Tengah. Ia berbatasan dengan Arab Saudi di sebelah selatan dan Irak di utara. Nama
'Kuwait' berasal dari kata Arab yang
bermakna ‘benteng
yang dibangun dekat air’. Banyak juga Nakerwan di
sini, Bun.” Dia menjelaskan layaknya
seorang guru kepada muridnya.
“Kapan aku bisa jalan-jalan ke sana ya,Yah. Waduh, jadi iri banget. Pengen...”
“Ya. Sabar aja dulu. Ayah tahu cita-cita Bunda
yang kepingin berkelana ke seluruh dunia itu masih menjadi impian khan?”
“Banyak-banyak berdoa aja. Entah bagaimana
caranya Dia pasti akan memberikan jalan.”
Setelah itu seperti biasa perbincangan bergeser kepada masalah
anak-anak. Tentang si Sulung yang tahun ini akan masuk Aliyah dan adiknya yang
akan masuk Tsanawiyah. Sementara si Bungsu akan naik kelas lima Sekolah Dasar.
Tahun ini kami harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi untuk biaya mereka
berdua.
Sudah enam bulan Ayah tak bisa dihubungi. Walaupun
nafkah mengalir lancar dan tiada kekurangan akan tetapi rasa hampa dan rindu
kami rasakan menjadi kian menyesakkan dada.
Terlampau sering aku menangis dalam sujud panjang
di malam hening. Mengadukan kegundahan
hati kepada Sang Khalik. Hanya
kepada-Nya aku merintih dan memohon
keselamatan dan keteguhan hati untuk keluarga ini. Mohon keselamatan dan keteguhan.Tak tega
rasanya untuk berburuk sangka pada Ayah dari anak-anaku itu. Apalagi pada
Tuhanku. Aku tetap memelihara pikiran positif apapun yang terjadi. Untuk
mengadu kepada orangtua yang telah renta tentu saja tak mungkin kulakukan.
Mereka sering menderita sakit mengingat
usia yang sudah uzur. Aku harus tegar dan selalu mengatakan bahwa semuanya
lancar, sehat baik yang ditinggalkan ataupun yang sedang berjuang di negara
manca.
Selalu kukatakan kepada anak-anak agar tidak
memberitahu hal-hal yang tidak menyenangkan tentang Ayah mereka kepada Eyang.
Suatu
malam yang dingin seorang tamu datang
bertandang ke rumah dengan mengendarai sepeda motor. Mendengar suara motor
dengan serempak anak-anak berebut membukakan pintu. Mereka berharap
ayahnya pulang ke rumah. Tak terkecuali
aku, bahkan dengan kerudung seadanya yang kusambar dari gantungan baju di balik
pintu.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa alaikum salam.” Silakan masuk. Maaf, Bapak
siapa ya?”
“Yaaa... Kok bukan
Ayah sih. Kenapa nggak pulang-pulang juga. Khan udah janji mau beliin
sepeda baru.” Aisyah menangis dan berlari masuk kamar.
Aku dan tamuku tertegun di ruang tamu. Anak
bungsuku itu memang paling dekat dengan ayahnya. Agak kolokan dan manja.
“Rio, tolong susul adikmu. Usakan supaya diam ya.
Malu dilihat tamu.”
Kedua anakku hanya menggangguk lemah dan
pelan-pelan berbalik menghampiri pintu kamar adiknya yang sedang menangis
keras. Si Bungsu ini memang unik kalau
sedang kesal durasi menangisnya bisa berjam-jam mirip sinetron saja. Bahkan
setelah tertidurpun bila terbangun bisa berlanjut lagi meweknya. Biasanya hanya
Rio anak sulungku yang sanggup membuatnya tenang.
“Maaf,
Pak jadi terganggu ya. Silakan duduk. Oya, Anda siapa dan ada keperluan apa kemari?”
Tak sabar kutanyakan semuannya. Kontrak kerja Ayah hanya setahun jadi pantaslah
semua keluarga berharap-harap cemas.
“Nggak apa, Bu. Saya Hidayat, teman kerja Mas Ridho di Kuwait.
Datang ke sini mau menyampaikan surat saja. Maaf baru hari ini bisa mengantarkan.”
Kuterima
surat beramplop putih itu dengan tangan
gemetar. Seketika muncul rasa cemas dan suatu
firasat tidak baik dalam dada. Kubuka surat itu dan kubaca
perlahan-lahan agar tidak ada satu katapun terlewatkan.
Teruntuk
Bunda tersayang,
Assalamu’alaikum,
Bunda cantik.
Sebelumnya
Ayah kabarkan bahwa disini baik dan sehat. Terlebih dahulu Ayah mohon maaf yang
sebesar-besarnya karena sudah enam bulan tiada sanggup bersilaturrahim
denganamu dan anak-anak kita. Sungguh rasa rindu ini tak tertahankan merobek
hatiku tapi apa daya ada sesuatu yang menahanku untuk pulang menjumpai kalian.
Bunda,
ampuni Ayah yang pengecut dan tak setia ini. Ayah akui sebagai istri Bunda
adalah wanita sempurna yang selalu menjadi bidadari dihati ini. Akan tetapi Ayah
juga mempunyai kekurangan dan kelemahan. Rasa rindu kepada Bunda yang setiap
saat menyiksa ini pada akhirnya dengan terpaksa sekali...
Ayah
telah menikah lagi. Karena takut berzina. Tolong maafkan.
Ayah
menikah dengan wanita asal Indonesia yang terlantar di Kuwait karena disiksa
oleh majikannya. Niat semula ingin menolongnya tapi ternyata semuanya menjadi
seperti ini... Maaf sekali lagi. Satu bulan yang lalu Nafisha telah meninggal
dunia dalam keadaan hamil karena sakit yang tak kuketahui penyebabnya sampai
saat ini.
Bunda
sayangku,
Ayah tak
punya muka lagi untuk menjumpai Bunda dan keluarga besar kita. Apalagi menatap
bening mata polos anak-anak yang selalu membuatku merasa berdosa. Aku mohon
tolong rahasiakan semua ini kepada mereka. Dan jika Bunda tak menghendaki
kepulanganku, maka nafkah kalian tetap akan kupenuhi. Aku malu telah berkhianat
padamu. Rasanya tak lagi pantas anak-anak memanggilku Ayah, dan tanganmu tak
pantas lagi memeluk hatiku yang telah mendua.
Ayah,
selalu sayang dan kangen kalian. Cinta ini kudekap erat.Bukalah hatimu untukku
kembali. Dekap erat untuk anak-anak. Ayah kangen kalian.
Assalamulaikum
wr wb.
Yang
mencintaimu sepenuh hati.
Ridho
Mataku mengabur dalam keperihan yang sangat dalam.
Ayah telah berubah. Tak kukenali lagi hatinya. Tak sanggup lagi kuterima
cintaku yang telah dibaginya kepada wanita lain.
“Bu, mohon maaf bila saya lancang bicara. Sekedar informasi bahwa
sayapun pernah menikah dengan wanita Indonesia di sana. Akan tetapi kami
berpisah baik-baik karena saya lebih mencintai keluarga. Mereka segalanya bagi
saya. Alhamdulillah pada akhirnya keluarga saya menerima kekhilafan itu.
Semaunya terjadi begitu saja.”
“Sekarang semua terserah kebijakan Ibu,
akhir-akhir ini Mas Ridho sering sakit dan muram seakan tak punya gairah hidup.
Surat itupun saya yang menyarankan untuk segera ditulisnya. Dia benar-benar
menyesal dan putus asa.”
Saat ini aku tak mampu berkata-kata apalagi
berfikir jernih. Setelah tamuku berpamitan segera kuseret kakiku menuju kamar
mandi, menangis nelangsa. Aku tak mau
buah hatiku cemas dan tahu kondisi Ayah terkasih.
Berhari-hari
kuadukan airmata duka ini hanya kepada Illahi Robbi, Pemilik nyawa kami. Hati
ini telah terluka pedih berdarah. Mampukah aku menerimanya kembali? Aku tak
tahu, biarlah waktu yang akan menjawabnya, akan kusongsong takdir hidup ini
apapun itu.
Nusakambangan, 31 Mei 2014.
**********************************************************************