Wednesday, September 10, 2014

Kembara Kasih



Kembara Kasih
By: Mutiara Sakha


            Malam baru menampakkan wujudnya ketika Simbok menyuruhku untuk segera belajar. “Nduk Ning, cepetan  sinau keburu ngantuk lho. Ada  tugas dari sekolah nggak ? Katanya sudah mau tes kenaikan kelas ?”
“ Njih, Mbok. Sebentar lagi ini ada film kartun lucu banget lho.” Aku masih saja tak bergeming menatap layar televisi 14 inchi hitam putih yang usianya sudah seumuran denganku. Tak lama kemudian tiba-tiba layar televisi itu mengecil. “Yaaa...., habis  deh akinya. Simbok, sih pakai nyuruh-nyuruh belajar segala jadinya begini.” Aku mengomel  sambil bersungut-sungut mengambil alat belajarku di kamar. Pada waktu itu memang belum ada aliran listrik ke kampung sehingga harus menggunakan aki untuk menyalakan televisi.

*****
“ Waaa.....!!!
“Ono opo, Nduk ?”  Simbok tergopoh-gopoh  menyusul ke kamar.
“Itu, anu, itu lho ?” Tersengal-sengal aku hanya menunjuk ke arah dinding kayu.
“ Owalah, Pakne....Pakne, sini sebentar tho. Ada laba-laba gedhe banget ini lho. Tolong  ambilkan sapu di belakang.”
“Mana, mana biar kupukul pakai gagang sapu ini, awas...., pada minggir sana.”
Mbah Kakung sudah masuk dengan gaya rusuh bercampur cemas.
“Laba-laba ini tidak berbahaya asal jangan di ganggu saja,” katanya pelan.
“Husss..., sana pergi jauh-jauh jangan ganggu cucuku yang mau belajar.”
PTAK.
PTAK.
Gagang sapu bersuara keras beradu dengan dinding kayu jati. Kayu jati ini memang sangat mudah di dapatkan di daerah Gunungkidul. Penduduk biasa menanam pohon jati untuk di jadikan perabot rumah tangga ataupun rumah. Dengan konstruksi tanah kering pegunungan yang banyak mengandung kapur maka pohon ini bisa tumbuh dengan baik dan subur.
Kebanyakan  rumah warga terbangun dari  kayu yang sangat mahal dan kuat. Bahkan banyak yang sengaja menanam untuk investasi agar  kelak bisa dijual untuk biaya sekolah anak-anak.
Inilah salah satu hal yang ku syukuri dari kondisi lingkungan kami yang serba kekurangan.
*****

Kami tinggal di  perbukitan yang miskin air dan sumber daya alam. Hanya batu dan batu kapur yang melimpah ruah.
Karena itulah sebagian besar anak-anak muda pergi merantau untuk mencari penghidupan yang lebih baik.
Tidak terkecuali Mamak yang pergi merantau sejak aku masih bayi merah. Kondisi kehidupan yang serba kekurangan telah memisahkan  aku dengannya sejak dulu.

*****

Sejak kecil  sudah menjadi anak yatim yang akhirnya membuatku harus di asuh oleh  Mbah Kakung dan Putri. Mereka biasa kusapa dengan Simbok dan  Pak Tuo.
Mamak merantau demi biaya sekolah sehingga  Simbok menjagaku. Walaupun buta huruf tetapi tetap memperhatikan apapun yang ku perlukan. Setiap pagi sarapan dengan nasi hangat dan telor ceplok dan segelas susu.  Apapun Simbok lakukan agar aku bisa minum susu dan tetap hidup sehat walaupun  dalam kondisi kekurangan.
Semua makanan dan apapun yang Simbok punya hanya untukku tak boleh  di makan oleh orang lain, biarpun  oleh Pak Tuo sekalipun.
Kadang-kadang makanan  itu  di simpannya sampai busuk hanya untuk aku dan itu tetap dilakukannya hingga sekarang.
****
Setiap berangkat sekolah tak lupa  sangu yang berupa uang Rp.50,- yang pada waktu itu sangat banyak karena nilai uang kita masih tinggi, selalu beliau berikan.
Di kala malam Beliau menunggui belajar dengan terkantuk-kantuk di temani lampu miyak tanah yang jelaganya membuat hitam lubang hidung.

*****
Suatu hari uang jajanku tertinggal dan Simbok menitipkan uang itu kepada temanku yang melintasi jalan depan rumah kami.
Begitu sayangnya Simbok hingga selalu bilang “Nduk  ojo kuatir  kamu masih punya orang tua, kamu itu anakku”.
Rupanya Beliau tahu kalau aku sering merindukan sosok Ayah yang telah meninggal ketika aku baru berusia   delapan bulan.
*****

Dalam situasi apapun Simbok tampil sebagai pembela karena merasa bahwa aku adalah anak kandungnya. Betapa miris hatiku mengingat itu semua, karena kini aku tinggal jauh darinya, serta jarang sekali mengunjungi Beliau yang  tinggal sendiri di desa.
Ada suatu kejadian yang masih kuingat hingga kini. Aku  adalah cucu kesayangannya sehingga tumbuh menjadi agak nakal dan manja.
“Simbok, minta duit buat beli gelang karet. Cepetan keburu siang nanti nggak jadi  main.”
“Buat apa tho. Bukannya kemarin sudah beli banyak sekali. Apa sudah habis?”
“Cepetan. Cepetan, keburu pada pergi konco-koncoku, Mbok?!” Aku mulai merajuk dan menarik  kain yang di kenakan Beliau.
“Nduk, sabar yo. Simbok lagi ga punya uang. Nanti kalau Mbah Kakung pulang baru minta ya.”
“Nggak mau. Pokoknya sekarang juga harus beli. Kalau tidak aku nggak mau makan, nggak  mau sekolah sekalian. Simbok pelit....!”
Aku mulai menangis dengan suara yang melengking. Sebenarnya aku tahu kalau Pak Tuo akan pulang tapi pasar agak jauh dan harus  naik  angkutan desa kalau mau ke sana. Pastinya akan sangat lama kalau harus menunggu. Kami punya tradisi menggelar pasar sekali dalam sepekan yang terkenal dengan Pasar Kliwon karena memang jatuh pada setiap hari pasaran jawa yaitu kliwon.
“Yo wis, yo wis. Ojo nangis dulu nanti tak carikan pinjaman ke tetangga sebelah.”
“Mbok Inah, tulung aku pinjam duit seket rupiah ya, buat beli karet.”
“Owalah.... Nakal sekali  kamu, Nduk, kasihan Simbokmu yang sudah tua, jangan rewel-rewel ga baik itu.” Suara Wo Inah tetangga sebelah terdengar marah.
“Biarin, yo ben. Yang penting aku bisa beli karet soalnya biar menang lagi kaya tadi. Karetnya biar tambah buanyak....!?”
Akhirnya dengan uang pinjaman itu aku lari ke warung dekat jalan besar dengan riang gembira.
“Ayoo..., pada main lagi di halaman rumahku saja ya?”
Semua temanku mengangguk patuh. “Iyalah gimana nggak patuh mereka masih kecil-kecil. Pastinya takut dong sama aku yang jagoan, “ pikirku jumawa.

*****
Sewaktu aku kelas satu SMP tiba-tiba Mamak yang sudah menikah lagi dengan seorang laki-laki yang belum ku kenal datang menjenguk. Mereka memintaku untuk tinggal bersama di kota lain. Entah bagaimana aku jadi sangat ingin tinggal dengan mereka. Sungguh tak masuk akal. Tapi semua keinginan  aneh itu tak mampu tercegah oleh apapun termasuk tangisannya  yang begitu menyayat hati.
“Nduk, kenapa tega sama Simbok ?”
“Apa sudah nggak sayang lagi sama kami ?” Raut mukanya sangat sedih dan membuatku nelangsa. Wajah itu tak akan pernah kulupakan selama hidup. Semburat kedukaan yang begitu menyayat hati. Dalam situasi yang membingungkan ini aku marah dan sebal bahkan mengganggapnya terlalu berlebihan.
Sungguh di luar logikaku sebagai seorang anak kecil yang tiba-tiba saja merasa benci dengan Simbok yang telah mengasuhnya sejak bayi  dan justru memilih tinggal dengan Mamak yang semula terasa asing di mataku.
Selama beberapa hari kudengar Beliau tidak mau makan dan minum hanya menangis sambil mendekap erat bajuku.
“Maaf, Mbok aku nggak tahu harus bagaimana lagi,” isakku lirih.

*****
Enam tahun berlalu akhirnya aku kuliah  di kota pelajar yang indah. Banyak kenangan terukir di sana karena di situlah aku mengenal Pangeranku.
Kami berkenalan lewat salah satu organisasi, ya aku mejadi aktivis kampus dengan seabreg kegiatan. Bahkan ketika liburan tiba aku tetap aktif di masjid dan kampus.
Mengajar di TPA adalah salah satu agenda rutinku setiap sore.
Setelah menikah aku  mengikuti  Suami dinas di kota Cilacap yang sangat terkenal angker dan menyeramkan karena dekat dengan pulau Nusakambangan. Ya, pulau Lembaga Pemasyarakatan dengan Narapidana kelas kakap ada di sana. Serem juga membayangkan kondisi pulau itu sampai suatu saat  suamiku mengajak untuk melihat pesona pantainya.
“Aduh, ngeri amat !! Memangnya boleh ya orang umum main ke sana ?”
“Boleh, dong. Tenang saja,” Suamiku tersenyum meyakinkan.
Rupanya kami harus melewati pos pemeriksaan terlebih dulu sebelum diizinkan untuk menyeberang. Setelah itu baru boleh menumpang kapal kehakiman yang  tersedia. Sensasional !!! Begitulah kira-kira rasanya ketika aku sampai di pulau itu dan melihat beberapa bangunan penjara dengan nama-nama yang aneh.
Di luar dugaan pantainya sangat mempesona, dengan pasir putihnya yang menghampar dan bersih.
 “ Dik, orang-orang yang sedang berjualan itu semuanya Napi lho,” bisik Suamiku. Bulu kudukku merinding seketika. Wah!!! Cukup rumit juga perasaanku waktu itu antara takut kagum dan terpesona.
*****
Tahun-tahun berlalu tanpa terasa aku tenggelam dalam kesibukan mengasuh anak-anak yang di amanahkan Alloh secara manis dan tanpa kesulitan yang berarti. Kami belajar menjadi orangtua yang baik. Secara otomatis pula jarang sekali ada kesempatan untuk menjenguk Simbok di kampung. Sedih sebenarnya akan tetapi keadaan telah menjeratku tak bisa bergerak bebas dengan anak-anak yang masih balita.
Sampai suatu hari beliau  telpon  sambil menangis “ Nduk opo wis lali karo  Simbok, kok ra tahu telpon opo meneh tilik deso?”
Kemarahannya memang sangat wajar dan akupun mengerti itu.
Maaf, Mbok aku sudah durhaka. Doakan agar cucumu bisa sering-sering menengokmu, sampai sekarangpun aku belum pernah membuatmu bahagia.
Simbok  sangat istimewa, sabar dengan kenakanlanku, rela berkorban tulus banget dan tak mengharapkan imbalan apapun, selalu mengharapkan yang terbaik bagi anak dan cucunya. Tak mau merepotkan siapapun. Karena jasa Simboklah aku menjadi mandiri seperti sekarang ini, I love You, Mbok, semoga Alloh selalu mencintaimu.

            ****************************************

No comments:

Post a Comment