Kembara Kasih
By: Mutiara Sakha
Malam baru menampakkan wujudnya
ketika Simbok menyuruhku untuk segera belajar. “Nduk Ning, cepetan sinau keburu ngantuk lho. Ada tugas dari sekolah nggak ? Katanya sudah mau
tes kenaikan kelas ?”
“ Njih, Mbok.
Sebentar lagi ini ada film kartun lucu banget lho.” Aku masih saja tak
bergeming menatap layar televisi 14 inchi hitam putih yang usianya sudah
seumuran denganku. Tak lama kemudian tiba-tiba layar televisi itu mengecil.
“Yaaa...., habis deh akinya. Simbok, sih
pakai nyuruh-nyuruh belajar segala jadinya begini.” Aku mengomel sambil bersungut-sungut mengambil alat
belajarku di kamar. Pada waktu itu memang belum ada aliran listrik ke kampung
sehingga harus menggunakan aki untuk menyalakan televisi.
*****
“ Waaa.....!!!
“Ono opo, Nduk
?” Simbok tergopoh-gopoh menyusul ke kamar.
“Itu, anu, itu lho
?” Tersengal-sengal aku hanya menunjuk ke arah dinding kayu.
“ Owalah,
Pakne....Pakne, sini sebentar tho. Ada laba-laba gedhe banget ini lho.
Tolong ambilkan sapu di belakang.”
“Mana, mana biar
kupukul pakai gagang sapu ini, awas...., pada minggir sana.”
Mbah Kakung sudah
masuk dengan gaya rusuh bercampur cemas.
“Laba-laba ini tidak
berbahaya asal jangan di ganggu saja,” katanya pelan.
“Husss..., sana
pergi jauh-jauh jangan ganggu cucuku yang mau belajar.”
PTAK.
PTAK.
Gagang sapu bersuara
keras beradu dengan dinding kayu jati. Kayu jati ini memang sangat mudah di
dapatkan di daerah Gunungkidul. Penduduk biasa menanam pohon jati untuk di
jadikan perabot rumah tangga ataupun rumah. Dengan konstruksi tanah kering
pegunungan yang banyak mengandung kapur maka pohon ini bisa tumbuh dengan baik
dan subur.
Kebanyakan rumah warga terbangun dari kayu yang sangat mahal dan kuat. Bahkan
banyak yang sengaja menanam untuk investasi agar kelak bisa dijual untuk biaya sekolah
anak-anak.
Inilah salah satu
hal yang ku syukuri dari kondisi lingkungan kami yang serba kekurangan.
*****
Kami tinggal di perbukitan yang miskin air dan sumber daya
alam. Hanya batu dan batu kapur yang melimpah ruah.
Karena itulah
sebagian besar anak-anak muda pergi merantau untuk mencari penghidupan yang
lebih baik.
Tidak terkecuali
Mamak yang pergi merantau sejak aku masih bayi merah. Kondisi kehidupan yang
serba kekurangan telah memisahkan aku
dengannya sejak dulu.
*****
Sejak kecil sudah menjadi anak yatim yang akhirnya
membuatku harus di asuh oleh Mbah Kakung
dan Putri. Mereka biasa kusapa dengan Simbok dan Pak Tuo.
Mamak merantau demi
biaya sekolah sehingga Simbok menjagaku.
Walaupun buta huruf tetapi tetap memperhatikan apapun yang ku perlukan. Setiap
pagi sarapan dengan nasi hangat dan telor ceplok dan segelas susu. Apapun Simbok lakukan agar aku bisa minum
susu dan tetap hidup sehat walaupun
dalam kondisi kekurangan.
Semua makanan dan
apapun yang Simbok punya hanya untukku tak boleh di makan oleh orang lain, biarpun oleh Pak Tuo sekalipun.
Kadang-kadang
makanan itu di simpannya sampai busuk hanya untuk aku dan
itu tetap dilakukannya hingga sekarang.
****
Setiap berangkat
sekolah tak lupa sangu yang berupa uang
Rp.50,- yang pada waktu itu sangat banyak karena nilai uang kita masih tinggi,
selalu beliau berikan.
Di kala malam Beliau
menunggui belajar dengan terkantuk-kantuk di temani lampu miyak tanah yang
jelaganya membuat hitam lubang hidung.
*****
Suatu hari uang
jajanku tertinggal dan Simbok menitipkan uang itu kepada temanku yang melintasi
jalan depan rumah kami.
Begitu sayangnya
Simbok hingga selalu bilang “Nduk ojo
kuatir kamu masih punya orang tua, kamu
itu anakku”.
Rupanya Beliau tahu
kalau aku sering merindukan sosok Ayah yang telah meninggal ketika aku baru
berusia delapan bulan.
*****
Dalam situasi apapun
Simbok tampil sebagai pembela karena merasa bahwa aku adalah anak kandungnya.
Betapa miris hatiku mengingat itu semua, karena kini aku tinggal jauh darinya,
serta jarang sekali mengunjungi Beliau yang
tinggal sendiri di desa.
Ada suatu kejadian
yang masih kuingat hingga kini. Aku
adalah cucu kesayangannya sehingga tumbuh menjadi agak nakal dan manja.
“Simbok, minta duit
buat beli gelang karet. Cepetan keburu siang nanti nggak jadi main.”
“Buat apa tho.
Bukannya kemarin sudah beli banyak sekali. Apa sudah habis?”
“Cepetan. Cepetan,
keburu pada pergi konco-koncoku, Mbok?!” Aku mulai merajuk dan menarik kain yang di kenakan Beliau.
“Nduk, sabar yo.
Simbok lagi ga punya uang. Nanti kalau Mbah Kakung pulang baru minta ya.”
“Nggak mau. Pokoknya
sekarang juga harus beli. Kalau tidak aku nggak mau makan, nggak mau sekolah sekalian. Simbok pelit....!”
Aku mulai menangis
dengan suara yang melengking. Sebenarnya aku tahu kalau Pak Tuo akan pulang
tapi pasar agak jauh dan harus naik angkutan desa kalau mau ke sana. Pastinya
akan sangat lama kalau harus menunggu. Kami punya tradisi menggelar pasar
sekali dalam sepekan yang terkenal dengan Pasar Kliwon karena memang jatuh pada
setiap hari pasaran jawa yaitu kliwon.
“Yo wis, yo wis. Ojo
nangis dulu nanti tak carikan pinjaman ke tetangga sebelah.”
“Mbok Inah, tulung
aku pinjam duit seket rupiah ya, buat beli karet.”
“Owalah.... Nakal
sekali kamu, Nduk, kasihan Simbokmu yang
sudah tua, jangan rewel-rewel ga baik itu.” Suara Wo Inah tetangga sebelah
terdengar marah.
“Biarin, yo ben.
Yang penting aku bisa beli karet soalnya biar menang lagi kaya tadi. Karetnya
biar tambah buanyak....!?”
Akhirnya dengan uang
pinjaman itu aku lari ke warung dekat jalan besar dengan riang gembira.
“Ayoo..., pada main
lagi di halaman rumahku saja ya?”
Semua temanku
mengangguk patuh. “Iyalah gimana nggak patuh mereka masih kecil-kecil. Pastinya
takut dong sama aku yang jagoan, “ pikirku jumawa.
*****
Sewaktu aku kelas
satu SMP tiba-tiba Mamak yang sudah menikah lagi dengan seorang laki-laki yang
belum ku kenal datang menjenguk. Mereka memintaku untuk tinggal bersama di kota
lain. Entah bagaimana aku jadi sangat ingin tinggal dengan mereka. Sungguh tak
masuk akal. Tapi semua keinginan aneh
itu tak mampu tercegah oleh apapun termasuk tangisannya yang begitu menyayat hati.
“Nduk, kenapa tega
sama Simbok ?”
“Apa sudah nggak
sayang lagi sama kami ?” Raut mukanya sangat sedih dan membuatku nelangsa.
Wajah itu tak akan pernah kulupakan selama hidup. Semburat kedukaan yang begitu
menyayat hati. Dalam situasi yang membingungkan ini aku marah dan sebal bahkan
mengganggapnya terlalu berlebihan.
Sungguh di luar
logikaku sebagai seorang anak kecil yang tiba-tiba saja merasa benci dengan
Simbok yang telah mengasuhnya sejak bayi
dan justru memilih tinggal dengan Mamak yang semula terasa asing di
mataku.
Selama beberapa hari
kudengar Beliau tidak mau makan dan minum hanya menangis sambil mendekap erat
bajuku.
“Maaf, Mbok aku
nggak tahu harus bagaimana lagi,” isakku lirih.
*****
Enam tahun berlalu
akhirnya aku kuliah di kota pelajar yang
indah. Banyak kenangan terukir di sana karena di situlah aku mengenal
Pangeranku.
Kami berkenalan
lewat salah satu organisasi, ya aku mejadi aktivis kampus dengan seabreg
kegiatan. Bahkan ketika liburan tiba aku tetap aktif di masjid dan kampus.
Mengajar di TPA
adalah salah satu agenda rutinku setiap sore.
Setelah menikah
aku mengikuti Suami dinas di kota Cilacap yang sangat
terkenal angker dan menyeramkan karena dekat dengan pulau Nusakambangan. Ya,
pulau Lembaga Pemasyarakatan dengan Narapidana kelas kakap ada di sana. Serem
juga membayangkan kondisi pulau itu sampai suatu saat suamiku mengajak untuk melihat pesona
pantainya.
“Aduh, ngeri amat !!
Memangnya boleh ya orang umum main ke sana ?”
“Boleh, dong. Tenang
saja,” Suamiku tersenyum meyakinkan.
Rupanya kami harus
melewati pos pemeriksaan terlebih dulu sebelum diizinkan untuk menyeberang.
Setelah itu baru boleh menumpang kapal kehakiman yang tersedia. Sensasional !!! Begitulah kira-kira
rasanya ketika aku sampai di pulau itu dan melihat beberapa bangunan penjara
dengan nama-nama yang aneh.
Di luar dugaan
pantainya sangat mempesona, dengan pasir putihnya yang menghampar dan bersih.
“ Dik, orang-orang yang sedang berjualan itu
semuanya Napi lho,” bisik Suamiku. Bulu kudukku merinding seketika. Wah!!!
Cukup rumit juga perasaanku waktu itu antara takut kagum dan terpesona.
*****
Tahun-tahun berlalu
tanpa terasa aku tenggelam dalam kesibukan mengasuh anak-anak yang di amanahkan
Alloh secara manis dan tanpa kesulitan yang berarti. Kami belajar menjadi
orangtua yang baik. Secara otomatis pula jarang sekali ada kesempatan untuk
menjenguk Simbok di kampung. Sedih sebenarnya akan tetapi keadaan telah
menjeratku tak bisa bergerak bebas dengan anak-anak yang masih balita.
Sampai suatu hari
beliau telpon sambil menangis “ Nduk opo wis lali karo Simbok, kok ra tahu telpon opo meneh tilik
deso?”
Kemarahannya memang
sangat wajar dan akupun mengerti itu.
Maaf, Mbok aku sudah
durhaka. Doakan agar cucumu bisa sering-sering menengokmu, sampai sekarangpun
aku belum pernah membuatmu bahagia.
Simbok sangat istimewa, sabar dengan kenakanlanku,
rela berkorban tulus banget dan tak mengharapkan imbalan apapun, selalu
mengharapkan yang terbaik bagi anak dan cucunya. Tak mau merepotkan siapapun.
Karena jasa Simboklah aku menjadi mandiri seperti sekarang ini, I love You,
Mbok, semoga Alloh selalu mencintaimu.
****************************************
No comments:
Post a Comment