Aku Ingin Menjadi Princess, Ummi...
By
: Mutiara Sakha
“Praaang!!! Pagi itu aku terkejut dengan suara benda yang
terjatuh di lantai. Sepertinya suara itu berasal dari dapur. Bergegas kulemparkan
mukena ke lantai, berlari ke dapur yang
berada di samping ruang sholat ini. Sampai di sana kulihat Syilla sedang asyik
melihat serpihan piring yang pecah berserakan. Tanganya yang tiba-tiba terulur
hendak memegang pecahan itu secepat kilat kutahan dengan kuat. Anakku yang
berusia 12 tahun itu mempunyai tenaga yang
luar biasa, sehingga aku sering kewalahan menghadapinya. “Ummi, bagus?” katanya
sambil tersenyum polos. Segera kupeluk erat sambil membawanya menuju ruang
tengah.
**********
Kehamilan yang telah lama kami nantikan akhirnya datang
juga, tak terkirakan syukur terhadap karunia-Nya yang luar biasa ini. Kami
memang menikah dalam usia yang sudah cukup matang atau bisa dikatakan sedikit
terlambat. Suami berusia 40 tahun dan aku terpaut 5 tahun lebih muda. Hari-hari
panjang terlewati dalam harap dan doa agar segera dikaruniai anak mengingat
usia yang tidak muda lagi. Kesibukan
bekerja di sebuah kantor pemerintah membuat kami terlena dan tidak
segera melakukan usaha maksimal untuk mempunyai keturunan, barulah setelah 5
tahun berlalu tanpa tanda-tanda kehamilan mulai menuntutku untuk lebih serius
lagi berupaya. Tak terhitung berapa rumah sakit yang kudatangi. Akan tetapi
belum menampakkan hasil. Pada akhirnya kami berdua menempuh jalan dengan banyak
bershodaqoh dan banyak melakukan amalan wajib serta sunnah-Nya.
Alhamdulillah... Pada akhirnya Alloh memberikan amanah yang harus kujaga.
**********
Kehamilan yang kulalui sungguh
berat, pada minggu ketiga timbul flek yang mengharuskan tindakan Bedrest di rumah sakit selama hampir
satu bulan. Faktor usia rupanya telah menyebabkan kandunganku menjadi lemah.
Akhirnya aku harus mengajukan cuti sakit
dari kantor selama beberapa waktu hingga kondisi kehamilanku aman.
***********
Kelahiran yang kujalani juga
harus melalui operasi Caesar, rasa sakit dan lelah kuterima dengan pasrah diri. What ever will be, will be. Aku hanya
mengharapkan kasih sayang dan cinta-Nya dalam setiap detik menantikan
kesempurnaanku menjadi seorang ibu.
Setelah anaku lahir ternyata Alloh belum selesai memberika ujian bagi kami. Dia
memiliki wajah bulat bermata sipit dan
berkulit putih bersih menggemaskan. Moon
Face!!! Aku menangis dalam diam karena mengetahui bahwa buah cintaku ini
menderita kelainan mental.
**********
Hari-hari berlalu dengan jerit,
tangis serta celotehnya yang khas seperti balita. Satu yang kusyukuri bahwa
kami dan keluarga besar mampu menerimanya dengan lapang dada. Kerabat serta sanak
saudara bergantian berkunjung membawakan makanan dan mainan serta satu lagi
yaitu aksesoris yang berkilau. Entah
mengapa Syilla suka sekali dengan benda-benda yang berkilau. Termasuk
peralatan makan, baju, mainan sandal serta alat tulis menulis. Seperti pada
pagi hari itu, ketika sedang menjalankan sholat subuh rupanya dia sudah
terbangun ingin melihat benda berkilau. Akhinya piring dipecahkannya untuk
memuaskan keinginan.
**********
Keinginanya untuk memiliki dan
memakai benda berkilau ini membuatnya menjadi pusat perhatian karena semua baju
aksesoris termasuk tas dan alat tulisnya juga senada. Kemilau dan menyilaukan.
Ketika usianya cukup maka kumasukan dia ke SDLB Sayang Bunda yang berada di
dekat rumah. Walaupun badannya tumbuh normal akan tetapi usia kematangan
jiwanya hanya berkembang sampai 3 tahun saja. Perilakunya menjadi seperti anak
usia 3 tahun. Gegara hobynya memiliki benda berkilau itu pada suatu saat
sepulang sekolah dia berkata”Ummi, bagus ya?”
Dengan polosnya dia menunjukan gelang anak-anak yang berwarna ungu.
“Syilla sayang, itu punya siapa?” “Punya teman.” Pelan-pelan aku membimbingnya
untuk duduk. “Syilla besok-besok jangan suka mengambil punya orang lain ya,
Alloh tidak suka anak yang nakal.” Matanya tiba-tiba meredup.”Alloh marah, Ummi
marah.” Tangisnya meledak saat itu juga. “Iya, karena itu kalau mau mainan
boleh minta baik-baik sama teman atau sama Ummi saja ya, Nak?” Rupanya kebiasaan buruknya itu terus
berlangsung dan kami menerima banyak keberatan dari para orangtua murid serta
teguran dari wali kelasnya. Setelah upaya kesana kemari dan doa-doa yang tak
putus kami mohon, dengan kuasanya beberapa bulan kemudian kebiasaanya berhenti.
**********
“Ummi, mau tipi”. Dengan cepat
kutekan tombol On di remote control.
Acara yang disukainya adalah kartun lomba beraksi bagi anak-anak, seperti Princess. Dengan gaya lincah dan
berlenggang-lenggok ceria para arris cilik itu menari dan menyanyi. Tentu saja
dengan pakaian dan aksesoris yang berkilau indah. Syillaku ternganga
menatapnya. Dia menonton acara itu sampai selesai tanpa mau makan minum dan
sholat. Dengan keterbatasannya kuajari dia mengenal Penciptanya dengan berdoa
dan sholat. Karena menonton acara serupa setiap minggunya lama kelamaan Syilla
menjadi enggan makan, enggan sekolah dan enggan melakukan aktifitas lain.
Setiap hari hanya nonton dan berdandan meniru gaya artis cilik seperti di
televisi.
***********
Aku bingung dengan tingkah lakunya, segala
bujukan dan rayuan tak pernah berhasil a bahkan kesenanganya berbelanja
barang-barang berkilau semakin meningkat. Setiap hari dia mengajakku untuk
pergi ke toko dan memborong semua mainan yang disukai. “Ya, Rabbi kuatkanlah
hati serta raga ini.” Tangisku disepertiga malam. “ Wahai, Tuhanku hanya kepada-Mu
pemilik hati dan pemilik jiwa kamilah aku memohon.” Seandainya Syilla bisa
mengungkapkan isi hatinya tentu dia akan berkata “Ummi, mengapa aku begini,
tidak seperti mereka yang bisa tampil berkilau dan cantik ditelevisi.”
Seandainya Ummi bisa mewujudkan impianmu, Nak. Pasti akan kulakukan apa saja untukmu bahkan dengan
nyawaku sekalipun. Semua yang kupunya dan hati ini hanya untukmu, Sayang. Perih hatiku setiap saat melihatmu selalu berkhayal
menjadi seorang Princess. Dan pada
malam itu dia berbisik”Aku ingin menjadi bidadari surga, Ummi.” Ya, Tuhan,
peluklah anakku dalam cinta-Mu.
**************************
No comments:
Post a Comment