Wednesday, September 10, 2014

Aku Ingin Menjadi Princess, Ummi...



Aku  Ingin Menjadi Princess, Ummi...
By :  Mutiara Sakha

“Praaang!!!  Pagi itu aku terkejut dengan suara benda yang terjatuh di lantai. Sepertinya suara itu berasal dari dapur. Bergegas kulemparkan mukena ke lantai, berlari ke  dapur yang berada di samping ruang sholat ini. Sampai di sana kulihat Syilla sedang asyik melihat serpihan piring yang pecah berserakan. Tanganya yang tiba-tiba terulur hendak memegang pecahan itu secepat kilat kutahan dengan kuat. Anakku yang berusia 12  tahun itu mempunyai tenaga yang luar biasa, sehingga aku sering kewalahan menghadapinya. “Ummi, bagus?” katanya sambil tersenyum polos. Segera kupeluk erat sambil membawanya menuju ruang tengah.
**********
Kehamilan yang  telah lama kami nantikan akhirnya datang juga, tak terkirakan syukur terhadap karunia-Nya yang luar biasa ini. Kami memang menikah dalam usia yang sudah cukup matang atau bisa dikatakan sedikit terlambat. Suami berusia 40 tahun dan aku terpaut 5 tahun lebih muda. Hari-hari panjang terlewati dalam harap dan doa agar segera dikaruniai anak mengingat usia yang tidak muda lagi. Kesibukan  bekerja di sebuah kantor pemerintah membuat kami terlena dan tidak segera melakukan usaha maksimal untuk mempunyai keturunan, barulah setelah 5 tahun berlalu tanpa tanda-tanda kehamilan mulai menuntutku untuk lebih serius lagi berupaya. Tak terhitung berapa rumah sakit yang kudatangi. Akan tetapi belum menampakkan hasil. Pada akhirnya kami berdua menempuh jalan dengan banyak bershodaqoh dan banyak melakukan amalan wajib serta sunnah-Nya. Alhamdulillah... Pada akhirnya Alloh memberikan amanah yang harus kujaga.
**********
Kehamilan yang kulalui sungguh berat, pada minggu ketiga timbul flek yang mengharuskan tindakan Bedrest di rumah sakit selama hampir satu bulan. Faktor usia rupanya telah menyebabkan kandunganku menjadi lemah. Akhirnya aku harus mengajukan cuti  sakit dari kantor selama beberapa waktu hingga kondisi kehamilanku aman.
***********
Kelahiran yang kujalani juga harus melalui operasi Caesar, rasa sakit dan lelah kuterima dengan pasrah diri. What ever will be, will be. Aku hanya mengharapkan kasih sayang dan cinta-Nya dalam setiap detik menantikan kesempurnaanku  menjadi seorang ibu. Setelah anaku lahir ternyata Alloh belum selesai memberika ujian bagi kami. Dia memiliki wajah bulat bermata sipit  dan berkulit putih bersih menggemaskan. Moon Face!!! Aku menangis dalam diam karena mengetahui bahwa buah cintaku ini menderita kelainan mental.
**********
Hari-hari berlalu dengan jerit, tangis serta celotehnya yang khas seperti balita. Satu yang kusyukuri bahwa kami dan keluarga besar mampu menerimanya dengan lapang dada. Kerabat serta sanak saudara bergantian berkunjung membawakan makanan dan mainan serta satu lagi yaitu aksesoris yang berkilau. Entah  mengapa Syilla suka sekali dengan benda-benda yang berkilau. Termasuk peralatan makan, baju, mainan sandal serta alat tulis menulis. Seperti pada pagi hari itu, ketika sedang menjalankan sholat subuh rupanya dia sudah terbangun ingin melihat benda berkilau. Akhinya piring dipecahkannya untuk memuaskan keinginan.
**********
Keinginanya untuk memiliki dan memakai benda berkilau ini membuatnya menjadi pusat perhatian karena semua baju aksesoris termasuk tas dan alat tulisnya juga senada. Kemilau dan menyilaukan. Ketika usianya cukup maka kumasukan dia ke SDLB Sayang Bunda yang berada di dekat rumah. Walaupun badannya tumbuh normal akan tetapi usia kematangan jiwanya hanya berkembang sampai 3 tahun saja. Perilakunya menjadi seperti anak usia 3 tahun. Gegara hobynya memiliki benda berkilau itu pada suatu saat sepulang sekolah dia berkata”Ummi, bagus ya?”  Dengan polosnya dia menunjukan gelang anak-anak yang berwarna ungu. “Syilla sayang, itu punya siapa?” “Punya teman.” Pelan-pelan aku membimbingnya untuk duduk. “Syilla besok-besok jangan suka mengambil punya orang lain ya, Alloh tidak suka anak yang nakal.” Matanya tiba-tiba meredup.”Alloh marah, Ummi marah.” Tangisnya meledak saat itu juga. “Iya, karena itu kalau mau mainan boleh minta baik-baik sama teman atau sama Ummi saja ya, Nak?”  Rupanya kebiasaan buruknya itu terus berlangsung dan kami menerima banyak keberatan dari para orangtua murid serta teguran dari wali kelasnya. Setelah upaya kesana kemari dan doa-doa yang tak putus kami mohon, dengan kuasanya beberapa bulan kemudian kebiasaanya berhenti.
**********
“Ummi, mau tipi”. Dengan cepat kutekan tombol On di remote control. Acara yang disukainya adalah kartun lomba beraksi bagi anak-anak, seperti Princess. Dengan gaya lincah dan berlenggang-lenggok ceria para arris cilik itu menari dan menyanyi. Tentu saja dengan pakaian dan aksesoris yang berkilau indah. Syillaku ternganga menatapnya. Dia menonton acara itu sampai selesai tanpa mau makan minum dan sholat. Dengan keterbatasannya kuajari dia mengenal Penciptanya dengan berdoa dan sholat. Karena menonton acara serupa setiap minggunya lama kelamaan Syilla menjadi enggan makan, enggan sekolah dan enggan melakukan aktifitas lain. Setiap hari hanya nonton dan berdandan meniru gaya artis cilik seperti di televisi.
***********
Aku  bingung dengan tingkah lakunya, segala bujukan dan rayuan tak pernah berhasil a bahkan kesenanganya berbelanja barang-barang berkilau semakin meningkat. Setiap hari dia mengajakku untuk pergi ke toko dan memborong semua mainan yang disukai. “Ya, Rabbi kuatkanlah hati serta raga ini.” Tangisku disepertiga malam. “ Wahai, Tuhanku hanya kepada-Mu pemilik hati dan pemilik jiwa kamilah aku memohon.” Seandainya Syilla bisa mengungkapkan isi hatinya tentu dia akan berkata “Ummi, mengapa aku begini, tidak seperti mereka yang bisa tampil berkilau dan cantik ditelevisi.” Seandainya Ummi bisa mewujudkan impianmu, Nak. Pasti akan  kulakukan apa saja untukmu bahkan dengan nyawaku sekalipun. Semua yang kupunya dan hati ini hanya untukmu, Sayang. Perih  hatiku setiap saat melihatmu selalu berkhayal menjadi seorang Princess. Dan pada malam itu dia berbisik”Aku ingin menjadi bidadari surga, Ummi.” Ya, Tuhan, peluklah  anakku dalam cinta-Mu.
**************************

No comments:

Post a Comment