CINTA BIRU PESANTREN
By: Mutiara Sakha
Jam
sekolah baru saja usai. Aku dan
teman-teman segera berhamburan seperti laron-laron yang mencari sumber cahaya.
Ya. pasukan lapar seperti kami memang hanya mempunyai satu tujuan. Pulang ke sakan pondok. Menjumpai nasi yang telah
menunggu dengan manis tak sabar untuk
segera disantap. Aku tahu betul bahwa porsi yang tersedia lebih dari cukup untuk memenuhi perut para ABG di pesantren ini. Dengan langkah
perlahan kususuri jalanan berbatu yang menanjak
sedikit terjal. Tak perlu takut
kehabisan jatah makanan.
Yah,
disinilah aku saat ini, menimba ilmu di sebuah pesantren yang terintegrasi
dengan MTs An Nur serta Madrasah Aliyah An Nur. Seandainya sudah ada Perguruan
Tingginya tentu aku akan melanjutkan kuliah di sini pula. Sebuah pesantren
sederhana yang terletak di kaki gunung Muria, Jawa Tengah. Sebelah utara Kabupaten Kudus yang menjadi
tujuan orang untuk berziarah Wali Songo.
Kehidupan
di alam pedesaan seperti ini memang cocok untuk kaum pelajar, dekat dengan
sawah, kebun tebu dan sungai jernih. Tepatnya di Kota Pati yang bersemboyan
‘Mina Tani’ sebagai bumi yang menghasilkan ikan air tawar dan hasil bumi
beragam. Mulai dari padi, kapas, kacang tanah dan buah-buahan yang beragam. Pabrik kacang Dua Kelinci juga ada di kota ini
lho. Hebat khan? Alhamdulillah aku betah tinggal di sini. Its so wonderfull!!!
So,
cukup aku memperkenalkan tempat ini. Kamu tentu ingin berkenalan denganku juga
khan? Oke! Namaku Rais, Muhammad Rais. Rumahku ada di dekat pulau Nusakambangan
yang angker itu. He he..... pasti kamu takut ya mendengar pulau bui ini.
Yup. Memang banyak Lapas di sana. Dan
diperuntukan bagi penjahat kelas kakap pokoknya.
Sebenarnya
pulau itu indah kok, ada pantai pasir putihnya lho, namanya Pantai Permisan.
Aku belum pernah ke sana sih. Hanya cerita dari orangtuaku saja. Untuk masuk ke
sana harus ada ijin dan melewati pos pemeriksaan yang dijaga oleh petugas keamanan. Kemudian harus menyeberang
naik kapal yang hanya ada pada jam-jam tertentu saja. Asyik pokoknya.
Katanya....
Ups.
Sory. Cukup ya cerita tentang pulau terapung itu. Aku sudah ditunggu oleh Amir
sahabat karib selama ini, My lovely
soulmate.
“Ayo
dong. Lambat banget sih. Keburu laper
nih.”
“Iya.
Sabar napa? Ingat Alloh suka dengan orang yang sabar.” Aku tersenyum geli
melihat Amir yang gelisah kelaparan. Si Gendut
ini memang tak tahan lapar dan gampang marah kalau lagi kelaparan
begini. Tapi di balik itu semua dia sahabat yang baik banget dan setia.
“Ya.
Elah. Kamu sih nyantai melulu kasian nih cacing-cacing perutku sudah pada joget
Gambus dari tadi. Bentar lagi pasti mereka bakalan demo.”
“Mana
ada joget Gambus. Yang ada juga joget Caesar kali...”
“Lagian
tuh para cacing kamu kudu diajarin sabar kok. Cacing pesantren kudu tampil beda
sama cacing jalanan. Lebih cool gitu...”
“Weleh
ada aja kamu ini. Daripada kamu tuh cuma tinggi doang kaya tiang listrik.
Gedean tuh badan, jangan kepala mulu digedein. Ntar dikira ulet jeruk loh.”
Percuma
ngeladenin anak satu ini bakalan tambah monyong dia. Kupercepat langkah
kaki yang tambah kaku aja gegara
ceramah bermutu rendah Amir.
“Pstt...
tuh cewe kamu nungguin, Is.”
“Assalamu
alaikum, Siti. Nungguin aku ya? Oh pasti lagi nungguin Mas Rais ya? Ciee....
ciee....!!
“Diam
ah.” Kusikut lengan Amir. Sebal.
“Eh....Aku
mau ngembalikan buku aja kok. Udah ya, makasih banyak, Rais.”
“Oh.
Iya Siti. Sama-sama.”
Siti
melangkah pergi. Gadis teman sekelasku ini memang manis. Lumayan lah. Cakep
standar dan sederhana lagi. Baru beberapa bulan kami jadian. Tentu kamu heran khan? Kok bisa? Ya. Back
Streetlah. Kalau ketahuan Ustad pasti akan digundulin kepalaku dan Siti bakalan
kena guyuran air kolam. Tengsin dong!!
Mulanya
biasa saja sih. Hanya tak tahu gimana tiba-tiba saja kami merasa nyambung aja. Cuma
ada rasa tak tenang takut ketahuan saja orangtua dan Ustad.
Mungkin karena jalan yang kami ambil memang salah
pada akhirnya ketahuan juga oleh Abi dan Ummi di rumah.
Terbongkarlah semuanya. Mulai deh ceramah panjang
kali lebar sama dengan bosan mampir ditelingaku. Sebal. Mana pakai acara
marah-marah lagi.
“Pokoknya Ummi nggak mau tahu. Anak Ummi nggak ada
yang boleh pacaran. Atau sekolahnya cukup sampai di sini saja. Kalau perlu Ummi
bilang ke Ustadah Eti saja biar dihukum sekalian. Mas Rais khan tahu harapan kami
ke kamu itu besar. Sok sana belajar yang bener biar jadi orang besar. Bisa ke
luar negeri.”
“Jangan kaya kami yang susah begini.” Ummi melotot
sambil melihatku gemas.
Hufff ..... Astagfirullah panjang bener ya
ceramahnya kali ini kaya gerbong kereta api Logawa aja.
“Udah.
Koar-koar terus saja Ummi.” Dengan merengut kutinggalkan Ummi.
Aku marah juga dengan cara seperti ini. Tapi
kutahu memang aku salah. Ya Rabbi, harus bagaimana aku sekarang? Serba salah.
“Rais,
cepetan jalannya. Malah melamun. Awas tuh ada kebo di depanmu...!!!”
Amir tertawa sambil memegangi perutnya yang tambah
keroncongan saja.
***************************The
End*************************************
No comments:
Post a Comment