Wednesday, September 10, 2014

CINTA BIRU PESANTREN



CINTA BIRU PESANTREN
By: Mutiara Sakha

            Jam sekolah baru saja usai.  Aku dan teman-teman segera berhamburan seperti laron-laron yang mencari sumber cahaya. Ya. pasukan lapar seperti kami memang hanya mempunyai satu tujuan. Pulang ke sakan pondok. Menjumpai nasi yang telah menunggu dengan manis tak sabar  untuk segera  disantap.  Aku tahu betul bahwa porsi yang  tersedia lebih dari cukup untuk memenuhi perut  para ABG di pesantren ini. Dengan langkah perlahan kususuri jalanan berbatu yang menanjak  sedikit terjal.  Tak perlu takut kehabisan jatah makanan.
            Yah, disinilah aku saat ini, menimba ilmu di sebuah pesantren yang terintegrasi dengan MTs An Nur serta Madrasah Aliyah An Nur. Seandainya sudah ada Perguruan Tingginya tentu aku akan melanjutkan kuliah di sini pula. Sebuah pesantren sederhana yang terletak di kaki gunung Muria, Jawa Tengah.  Sebelah utara Kabupaten Kudus yang menjadi tujuan orang untuk berziarah Wali Songo.
            Kehidupan di alam pedesaan seperti ini memang cocok untuk kaum pelajar, dekat dengan sawah, kebun tebu dan sungai jernih. Tepatnya di Kota Pati yang bersemboyan ‘Mina Tani’ sebagai bumi yang menghasilkan ikan air tawar dan hasil bumi beragam. Mulai dari padi, kapas, kacang tanah dan  buah-buahan yang beragam.  Pabrik kacang Dua Kelinci juga ada di kota ini lho. Hebat khan? Alhamdulillah aku betah tinggal di sini. Its so wonderfull!!!
            So, cukup aku memperkenalkan tempat ini. Kamu tentu ingin berkenalan denganku juga khan? Oke! Namaku Rais, Muhammad Rais. Rumahku ada di dekat pulau Nusakambangan yang angker itu. He he..... pasti kamu takut ya mendengar pulau bui ini. Yup.  Memang banyak Lapas di sana. Dan diperuntukan bagi penjahat kelas kakap pokoknya.
            Sebenarnya pulau itu indah kok, ada pantai pasir putihnya lho, namanya Pantai Permisan. Aku belum pernah ke sana sih. Hanya cerita dari orangtuaku saja. Untuk masuk ke sana harus ada ijin dan melewati pos pemeriksaan yang dijaga oleh  petugas keamanan. Kemudian harus menyeberang naik kapal yang hanya ada pada jam-jam tertentu saja. Asyik pokoknya. Katanya....
            Ups. Sory. Cukup ya cerita tentang pulau terapung itu. Aku sudah ditunggu oleh Amir sahabat karib selama ini, My lovely soulmate.
            “Ayo dong. Lambat banget sih. Keburu laper  nih.”
            “Iya. Sabar napa? Ingat Alloh suka dengan orang yang sabar.” Aku tersenyum geli melihat Amir yang gelisah kelaparan. Si Gendut  ini memang tak tahan lapar dan gampang marah kalau lagi kelaparan begini. Tapi di balik itu semua dia sahabat yang baik banget dan setia.
            “Ya. Elah. Kamu sih nyantai melulu kasian nih cacing-cacing perutku sudah pada joget Gambus dari tadi. Bentar lagi pasti mereka bakalan demo.”
            “Mana ada joget Gambus. Yang ada juga joget Caesar kali...”
            “Lagian tuh para cacing kamu kudu diajarin sabar kok. Cacing pesantren kudu tampil beda sama cacing jalanan. Lebih cool gitu...”
            “Weleh ada aja kamu ini. Daripada kamu tuh cuma tinggi doang kaya tiang listrik. Gedean tuh badan, jangan kepala mulu digedein. Ntar dikira ulet jeruk loh.”
            Percuma ngeladenin anak satu ini bakalan tambah monyong dia. Kupercepat langkah kaki  yang tambah kaku aja gegara ceramah  bermutu rendah Amir.
            “Pstt... tuh cewe kamu nungguin, Is.”
            “Assalamu alaikum, Siti. Nungguin aku ya? Oh pasti lagi nungguin Mas Rais ya? Ciee.... ciee....!!
            “Diam ah.” Kusikut lengan  Amir. Sebal.
            “Eh....Aku mau ngembalikan buku aja kok. Udah ya, makasih banyak, Rais.”
            “Oh. Iya Siti.  Sama-sama.”
            Siti melangkah pergi. Gadis teman sekelasku ini memang manis. Lumayan lah. Cakep standar dan sederhana lagi. Baru beberapa bulan kami jadian.  Tentu kamu heran khan? Kok bisa? Ya. Back Streetlah. Kalau ketahuan Ustad pasti akan digundulin kepalaku dan Siti bakalan kena guyuran air kolam. Tengsin dong!!
            Mulanya biasa saja sih. Hanya tak tahu gimana tiba-tiba saja kami merasa nyambung aja. Cuma ada rasa tak tenang takut ketahuan saja orangtua dan Ustad.
Mungkin karena jalan yang kami ambil memang salah pada akhirnya ketahuan juga oleh Abi dan Ummi di rumah.
Terbongkarlah semuanya. Mulai deh ceramah panjang kali lebar sama dengan bosan mampir ditelingaku. Sebal. Mana pakai acara marah-marah lagi.
“Pokoknya Ummi nggak mau tahu. Anak Ummi nggak ada yang boleh pacaran. Atau sekolahnya cukup sampai di sini saja. Kalau perlu Ummi bilang ke Ustadah Eti saja biar dihukum sekalian. Mas Rais khan tahu harapan kami ke kamu itu besar. Sok sana belajar yang bener biar jadi orang besar. Bisa ke luar negeri.”
“Jangan kaya kami yang susah begini.” Ummi melotot sambil melihatku gemas.
Hufff ..... Astagfirullah panjang bener ya ceramahnya kali ini kaya gerbong kereta api Logawa aja.
            “Udah. Koar-koar terus saja Ummi.” Dengan merengut kutinggalkan Ummi.
Aku marah juga dengan cara seperti ini. Tapi kutahu memang aku salah. Ya Rabbi, harus bagaimana aku sekarang? Serba salah.
            “Rais, cepetan jalannya. Malah melamun. Awas tuh ada kebo di depanmu...!!!”
Amir tertawa sambil memegangi perutnya yang tambah keroncongan saja.

***************************The End*************************************

No comments:

Post a Comment