Wednesday, September 10, 2014

Menggapai Surya



 
Menggapai  Surya
By. Mutiara Sakha


Namaku Zain, lahir di sebuah kota kecil yang terkenal dengan tembakaunya serta dekat dengan kota santri, Kendal. Sebuah  tempat yang berudara panas sehingga mampu mengalirkan keringat  yang berguguran di sela-sela baju. Musim panen kami adalah musim tembakau di mana uang berlimpah atau utang berlimpah bisa saja terjadi. Yah, manajemen keuangan  yang sangat tidak memadai telah membuat kehidupan para petani begitu sulit untuk beranjak untuk menjadi lebih baik.
*****
Sinar pagi belum lagi sempurna, embunpun masih enggan beranjak tapi seorang Zain tengah asyik berkayuh menuju sekolah yang jaraknya puluhan kilometer. Kemampuan orang tuaku hanya mampu membelikan sepeda tua tanpa ongkos yang memadai untuk bisa  duduk santai dalam angkot.
*****
“Hampir saja terlambat,” gumamku. Jam pertama adalah pelajaran  PKN yang digawangi oleh guru yang sadis bin ajaib. Tampan tapi mahal senyum doyan sadis. Kalau sampai terlambat bisa habis gelap terbitlah terang...
*****
Akhirnya  bel  istirahat  menjerit lantang, serentak pasukan  lapar  keluar kelas menuju kantin idaman yang hanya ada dua biji saja di sekolah. So pasti panjang antriannnya begitu mempesona mirip ular besi stasiun. Aku tak tertarik untuk ikut mengular karena uang jajan harus dihemat untuk keperluan sekolah. Jangan ditanya berapa jumlahnya, hanya cukup untuk membeli satu porsi bakwan pecel saja.
*****
“ Ning, kok nggak jajan?” Aku menyapa sahabat dekat sejak setahun terakhir. Tentu saja kami tidak berpacaran karena memang hanya sebatas teman saja.
“Males, kamu juga. Kenapa malah ngumpet di kelas. Biasanya  nggak sarapan di rumah, tho ?”
Perhatian yang tulus itu sangat kusuka, sosoknya mengingatkan pada almarhumah mamak yang sudah lama meninggal. Dengan wajah polos dan rambut panjang ekor kudanya yang selalu di ikat dengan pita-pita  berbeda warna setiap hari, gadis ini selalu menggemaskan. Jujur aku memendam rasa yang tak terungkap. Sedangkan Ning, sepertinya tidak pernah mengisyaratkan hal yang bebeda.
*****
Lepas SMA, mencari kerja sambil kuliah  adalah tekadku. Ibu kota yang kejam mulai menelanku mentah–mentah, terlunta-lunta berjalan kaki ke sana kemari mencari pekerjaan.  Pada bulan  oktober tahun 2004  aku bekerja di International Bar and Karaoke Japannese di Blok M sebagai  Waitter. Eh, sebelumnya aku sempat berkelana keliling jakarta dari hotel hingga restoran. Semua itu ditempuh hanya berbekal tahu terminal blok M saja dan jalan kaki.  Sebagai waitter aku harus kerja malam dari jam  lima sore  sampai setengah dua pagi. Dengan tips yang lumayan aku bisa membiayai hidup dan menabung untuk kuliah. Aku harus bisa !!

*****
Setelah dua tahun bekerja  di Bar akhirnya kutempuh  kuliah pagi hingga D3 di managemen perbankkan. Alhamdulillah. Tak kuasa airmata semangat menitik.  ‘Wahai, beginikah rasanya duduk di bangku kuliah itu ?” Seperti mimpi yang melenakan. Pada saat  sedang menempuh kuliah  di tempat yang sama ada lowongan sebagai chef. Dengan penghasilan yang bertambah melanjutkan ke jenjang S1. Hingga suatu saat restoran itu bangkrut dan kami di PHK. Ya  Rabbi, cobaan lagi tersaji di depan mata. Berdoa adalah senjata yang paling ampuh, sedikit lagi kuliah Strata satu selesai  aku bingung karena tak ada biaya sepeserpun. Alloh  Maha Pemurah, seorang teman mengajakku bekerja di restoran Yakiniku Japanese yang butuh bartender.  Bekerja sebagai bartender yang penuh hura-hura berbau maksiat memang sangat meresahkanku.  Dan alhamdulilah, selama kerja belum pernah mencicipi wine ataupun apalah namanya karena aku menjaga kehormatanku sebagai muslim. Bekerja selama dua tahun membuatku kewalahan untuk mengikuti kuliah. Maka dengan berat hati aku putuskan untuk berhenti bekerja dan  fokus untuk kuliah. Niatku tidak boleh pupus sampai  di sini. Selagi menyusun  skripsi aku diterima untuk membantu mengajar komputer di SD Budi Luhur. Alhamdulillah aku bisa dan prestasi kerjaan cukup baik. Aku merombak system komputer di sana memasang jaringan hingga mencetuskan sekolah IT untuk TK.  Setelah  15 tahun mengabdi akhirnya aku diangkat menjadi kepal sekolah. Sujud syukurku tiada habisnya.
*****
Wisuda sarjanaku berlangsung haru karena orangtua di kampung tak pernah tahu kalau aku  bisa menjadi sarjana. “Kamu hebat, Le. Bapak bangga dengan tekadmu yang luar biasa ini. Maafkan Bapak, yang miskin ini tak bisa nyenengin hidupmu.” Tangisan dan tawa bersatu dalam suasana  sendu.
*****
“ Ning, kamu di mana, lelah hati mencari wajah  Venusmu?”
 Bertahun terpisah jarak dan waktui sampai akhirnya datanglah  undangan pernikahan dari gadis yang sangat ku sayangi. Dunia serasa runtuh dan menimpaku.
“Aku menyerahkan hidup dan matiku pad-Mu. Wahai pemilik hati berilah ketegaran dalam hidupku.”
Aku harus bertahan walaupun perih dan pedih menyiksaku sepanjang hidup. Ku cari wajah Venus setiap  fajar, karena engkaulah bintang abadi bagiku.


***********************************

No comments:

Post a Comment