Menggapai Surya
By. Mutiara Sakha
Namaku Zain, lahir di sebuah
kota kecil yang terkenal dengan tembakaunya serta dekat dengan kota santri,
Kendal. Sebuah tempat yang berudara
panas sehingga mampu mengalirkan keringat
yang berguguran di sela-sela baju. Musim panen kami adalah musim
tembakau di mana uang berlimpah atau utang berlimpah bisa saja terjadi. Yah,
manajemen keuangan yang sangat tidak
memadai telah membuat kehidupan para petani begitu sulit untuk beranjak untuk
menjadi lebih baik.
*****
Sinar pagi belum lagi sempurna,
embunpun masih enggan beranjak tapi seorang Zain tengah asyik berkayuh menuju
sekolah yang jaraknya puluhan kilometer. Kemampuan orang tuaku hanya mampu
membelikan sepeda tua tanpa ongkos yang memadai untuk bisa duduk santai dalam angkot.
*****
“Hampir saja terlambat,”
gumamku. Jam pertama adalah pelajaran
PKN yang digawangi oleh guru yang sadis bin ajaib. Tampan tapi mahal
senyum doyan sadis. Kalau sampai terlambat bisa habis gelap terbitlah terang...
*****
Akhirnya bel istirahat
menjerit lantang, serentak pasukan
lapar keluar kelas menuju kantin
idaman yang hanya ada dua biji saja di sekolah. So pasti panjang antriannnya begitu
mempesona mirip ular besi stasiun. Aku tak tertarik untuk ikut mengular karena
uang jajan harus dihemat untuk keperluan sekolah. Jangan ditanya berapa
jumlahnya, hanya cukup untuk membeli satu porsi bakwan pecel saja.
*****
“ Ning, kok nggak jajan?” Aku
menyapa sahabat dekat sejak setahun terakhir. Tentu saja kami tidak berpacaran
karena memang hanya sebatas teman saja.
“Males, kamu juga. Kenapa malah
ngumpet di kelas. Biasanya nggak sarapan
di rumah, tho ?”
Perhatian yang tulus itu sangat
kusuka, sosoknya mengingatkan pada almarhumah mamak yang sudah lama meninggal.
Dengan wajah polos dan rambut panjang ekor kudanya yang selalu di ikat dengan
pita-pita berbeda warna setiap hari,
gadis ini selalu menggemaskan. Jujur aku memendam rasa yang tak terungkap.
Sedangkan Ning, sepertinya tidak pernah mengisyaratkan hal yang bebeda.
*****
Lepas SMA, mencari kerja sambil kuliah adalah tekadku. Ibu kota yang kejam mulai menelanku mentah–mentah, terlunta-lunta
berjalan kaki ke sana kemari mencari pekerjaan. Pada bulan oktober tahun 2004 aku bekerja di International
Bar and Karaoke Japannese di Blok M sebagai Waitter. Eh,
sebelumnya aku sempat berkelana keliling jakarta dari hotel hingga
restoran. Semua
itu ditempuh hanya berbekal tahu terminal
blok M saja dan jalan kaki. Sebagai waitter aku harus kerja malam dari jam lima sore sampai setengah dua pagi. Dengan tips yang lumayan aku
bisa membiayai hidup dan menabung untuk kuliah. Aku harus bisa !!
*****
Setelah dua tahun bekerja di Bar akhirnya kutempuh kuliah pagi hingga D3
di managemen perbankkan. Alhamdulillah. Tak kuasa airmata semangat menitik. ‘Wahai, beginikah rasanya duduk di bangku kuliah
itu ?” Seperti mimpi yang melenakan. Pada saat
sedang menempuh kuliah di tempat
yang sama ada lowongan sebagai chef. Dengan penghasilan yang
bertambah melanjutkan ke jenjang S1. Hingga suatu saat restoran itu bangkrut dan kami di PHK. Ya Rabbi,
cobaan lagi tersaji di depan mata. Berdoa adalah senjata yang paling ampuh, sedikit
lagi kuliah Strata satu selesai aku bingung karena tak ada biaya sepeserpun. Alloh
Maha Pemurah, seorang teman mengajakku bekerja
di restoran Yakiniku Japanese yang butuh bartender. Bekerja sebagai bartender
yang penuh hura-hura berbau maksiat memang sangat meresahkanku. Dan alhamdulilah, selama
kerja belum pernah mencicipi wine ataupun apalah namanya karena
aku menjaga kehormatanku sebagai muslim. Bekerja selama dua tahun membuatku kewalahan untuk mengikuti kuliah. Maka dengan berat hati aku
putuskan untuk berhenti bekerja dan fokus untuk
kuliah. Niatku tidak boleh pupus sampai
di sini. Selagi menyusun skripsi aku diterima untuk membantu mengajar
komputer di SD Budi Luhur. Alhamdulillah aku bisa
dan prestasi
kerjaan cukup baik. Aku merombak system
komputer di sana memasang jaringan hingga
mencetuskan sekolah IT untuk TK.
Setelah 15 tahun mengabdi
akhirnya aku diangkat menjadi kepal sekolah. Sujud syukurku tiada habisnya.
*****
Wisuda sarjanaku berlangsung haru
karena orangtua di kampung tak pernah tahu kalau aku bisa menjadi sarjana. “Kamu hebat, Le. Bapak
bangga dengan tekadmu yang luar biasa ini. Maafkan Bapak, yang miskin ini tak
bisa nyenengin hidupmu.” Tangisan dan tawa bersatu dalam suasana sendu.
*****
“ Ning, kamu di mana, lelah hati
mencari wajah Venusmu?”
Bertahun terpisah jarak dan waktui sampai akhirnya
datanglah undangan pernikahan dari gadis yang sangat ku sayangi.
Dunia serasa runtuh dan menimpaku.
“Aku menyerahkan hidup dan matiku
pad-Mu. Wahai pemilik hati berilah ketegaran dalam hidupku.”
Aku harus bertahan walaupun perih
dan pedih menyiksaku sepanjang hidup. Ku cari wajah Venus setiap fajar, karena engkaulah bintang abadi bagiku.
***********************************
No comments:
Post a Comment