Surat Untuk
Sahabat Sehati
Nusakambangan, 05
Juli 2014.
Teruntuk Randy di
Istana Cinta
Dear Randy,
Ketika pertama kali kita berjumpa pada masa
sekolah menengah yang penuh warna, saat itu pula aku merasakan hidup yang
berbeda. Semangat hidupmu luar biasa walaupun harus mengayuh puluhan kilometer
untuk sampai di sekolah tapi senyum selalu menghiasi wajahmu.
“Selepas lulus nanti kamu mau kemana,
Ran?” pertanyaanku hanya kamu sambut dengan senyum.
“Insha Allah aku mau kuliah sambil
bekerja di Jakarta. Nggak mungkin aku merepotkan bapak dan mak’e kasihan?”
“Ingat suatu saat nanti aku akan
mencarimu, Kirana. Dimanapun.”
Kumerinding, melihat asamu yang
sedemikian kuat.
Banyak
hal bodoh pernah kita lakukan bersama, satu diantaranya ketika kita
mengikuti perpisahan kelas di pantai Si
Kucing.
“Kira, kamu tahu nggak kisah seseorang
yang melempar botol pesan ke laut lalu menemukannya kembali suatu saat nanti?”
“Itu cuma cerita bohong.”
“Kita coba yuk. Apa salahnya ?”
“Iya deh, emang kamu mau nulis apa?”
“Rahasia dong, pokoknya sesuatu yang
menjadi cita-cita dan impianku kelak.”
“Oke deh aku mau coba juga. Eh
botolnya barengan aja ya?”
“Boleh, siapa tahu mimpi kita sama?”
“Mungkin saja.”
Peristiwa lain yang membuatku tersenyum ketika mengingatnya adalah saat kamu menyuruhku
membaca Basmallah seratus kali agar Pak Guru Killer kita menjadi jinak.
“Kira,
aku pernah dengar di pengajian bahwa ayat-ayat Al Qur’an bisa menaklukan hati
seseorang loh.”
“Yang
bener? Gimana dong caranya. Saolnya aku ngeri banget sana guru PMP ini.
Sepanjang pelajaran hanya tegang melulu.”
“Begini
kita baca aja Basmalah seratus kali, siapa tahu hatinya lumer seperti es krim.
Mau coba nggak?”
“Ya
mau dong. Eh... pak guru datang tuh.”
“Bismillahirrahmanirrahim,”
aku dan Randy komat kamit berdoa.
“Sttt...
Kira liat tuh dia tersenyum loh. Mungkin aja doa kita terkabul ya,” kamu
menutupmu mulut sambil berbisik.
“Ngemeng
apa sih? Nggak kedengeran tahu.”
“Itu
loh Pak Guru senyum-senyum sendiri, geli kali ya melihat wajah-wajah ketakutan
muridnya?”
“Iya
nih. Apapun itu anggap saja semuanya benar, doa kita terkabul plus kasian
ngelihat wajah lucu pias kita.”
Sobat hati,
Setelah menamatkan pendidikan di kota kecil itu
akhirnya kita jauh terpisah jarak dan waktu. Akan tetapi kini kita kembali bersua lewa
media sosial. Aku terharu ketika membaca statusmu waktu itu.
“Aku bahagia telah menemukan dia kembali setelah
sekian lama mencarinya, dalam sujud panjangku tangisan sukacita itu aku
haturkan kepada Allah. Betapa indah karunia-Nya. Terima kasih ya Allah.”
Hari itu
aku anggap botol pesan kita telah kembali.
Kita telah memiliki dunia yang
berbeda, masing-masing telah membangun sebuah ‘Istana Cinta’ bersama seseorang
yang telah Dia pilihkan untuk menjadi teman hidup dunia dan akhirat. Keinginan
yang kuat untuk kuliah tanpa bantuan orangtua adalah sesuatu yang mulia. Berbagai
pekerjaan dari tukang pel,
bartender, dan pekerjaan kasar yang lain
kau jalani.
“Asal kamu tahu, Kira bahwa aku tak
pernah sedikitpun mencicipi Wine atau minuman keras lainya. Aku hanya bekerja
untuk makan dan kuliah.”
My Big Boss,
Saat ini kamu sudah menjadi seorang Kepala Sekolah yang berwibawa dan bijaksana. Maafkan segala
khilaf dan salahku dan terima kasih karena warna-warni yang telah kau
tinggalkan dalam satu waktu yang
terlewati. Kenangan itu masih ada dan akan
selalu ada. Give my best regard to your family.
Sincerelly yours,
Kirana
**********************************************************************
No comments:
Post a Comment