Wednesday, September 10, 2014

Surat Untuk Sahabat Sehati



Surat Untuk Sahabat Sehati

Nusakambangan, 05 Juli 2014.
Teruntuk Randy di Istana Cinta

Dear Randy,
Ketika pertama kali kita berjumpa pada masa sekolah menengah yang penuh warna, saat itu pula aku merasakan hidup yang berbeda. Semangat hidupmu luar biasa walaupun harus mengayuh puluhan kilometer untuk sampai di sekolah tapi senyum selalu menghiasi wajahmu.
“Selepas lulus nanti kamu mau kemana, Ran?” pertanyaanku hanya kamu sambut dengan senyum.
“Insha Allah aku mau kuliah sambil bekerja di Jakarta. Nggak mungkin aku merepotkan  bapak dan mak’e kasihan?”
“Ingat suatu saat nanti aku akan mencarimu, Kirana. Dimanapun.”
Kumerinding, melihat asamu yang sedemikian kuat.
            Banyak hal bodoh pernah kita lakukan bersama, satu diantaranya ketika kita mengikuti  perpisahan kelas di pantai Si Kucing.
“Kira, kamu tahu nggak kisah seseorang yang melempar botol pesan ke laut lalu menemukannya kembali suatu saat nanti?”
“Itu cuma cerita bohong.”
 “Kita coba yuk. Apa salahnya ?”
“Iya deh, emang kamu mau nulis apa?”
“Rahasia dong, pokoknya sesuatu yang menjadi cita-cita dan impianku kelak.”
“Oke deh aku mau coba juga. Eh botolnya barengan aja ya?”
“Boleh, siapa tahu mimpi kita sama?”
“Mungkin saja.”
Peristiwa lain  yang membuatku tersenyum  ketika mengingatnya adalah saat kamu menyuruhku membaca Basmallah seratus kali agar Pak Guru Killer kita menjadi jinak.
            “Kira, aku pernah dengar di pengajian bahwa ayat-ayat Al Qur’an bisa menaklukan hati seseorang loh.”
            “Yang bener? Gimana dong caranya. Saolnya aku ngeri banget sana guru PMP ini. Sepanjang pelajaran hanya tegang melulu.”
            “Begini kita baca aja Basmalah seratus kali, siapa tahu hatinya lumer seperti es krim. Mau coba nggak?”
            “Ya mau dong. Eh... pak guru datang tuh.”
            “Bismillahirrahmanirrahim,” aku dan Randy komat kamit berdoa.
            “Sttt... Kira liat tuh dia tersenyum loh. Mungkin aja doa kita terkabul ya,” kamu menutupmu mulut sambil berbisik.
            “Ngemeng apa sih? Nggak kedengeran tahu.”
            “Itu loh Pak Guru senyum-senyum sendiri, geli kali ya melihat wajah-wajah ketakutan muridnya?”
            “Iya nih. Apapun itu anggap saja semuanya benar, doa kita terkabul plus kasian ngelihat wajah lucu pias kita.”

Sobat hati,
Setelah menamatkan pendidikan di kota kecil itu akhirnya kita jauh terpisah jarak dan waktu.  Akan tetapi kini kita kembali bersua lewa media sosial. Aku terharu ketika membaca statusmu waktu itu.
“Aku bahagia telah menemukan dia kembali setelah sekian lama mencarinya, dalam sujud panjangku tangisan sukacita itu aku haturkan kepada Allah. Betapa indah karunia-Nya. Terima kasih ya Allah.”
Hari itu  aku anggap botol pesan kita telah kembali.
Kita telah memiliki dunia yang berbeda, masing-masing telah membangun sebuah ‘Istana Cinta’ bersama seseorang yang telah  Dia pilihkan untuk  menjadi teman hidup dunia dan akhirat. Keinginan yang kuat untuk kuliah tanpa bantuan orangtua adalah sesuatu yang mulia. Berbagai pekerjaan  dari tukang pel, bartender,  dan pekerjaan kasar yang lain kau jalani.
“Asal kamu tahu, Kira bahwa aku tak pernah sedikitpun mencicipi Wine atau minuman keras lainya. Aku hanya bekerja untuk makan dan kuliah.”



My Big Boss,
Saat ini kamu sudah menjadi  seorang Kepala Sekolah  yang berwibawa dan bijaksana. Maafkan segala khilaf dan salahku dan terima kasih karena warna-warni yang telah kau tinggalkan dalam  satu waktu yang terlewati. Kenangan itu masih ada dan akan  selalu ada. Give  my best regard to your  family.

 Sincerelly yours,
      
  Kirana

**********************************************************************

No comments:

Post a Comment