Wednesday, September 10, 2014

Judul: Cinta Terlarang



Judul: Cinta  Terlarang
Nama pena: Mutiara Sakha


 Minggu  pagi, aku  ke pasar Limbangan seperti biasanya  demi membantu Rama Biyungku  berbelanja untuk  warung bakso.
Setelah  berbelanja  bergegas  mencari sepeda yang ku titipkan   Kang Tono tukang parkir langganan.
“Mana sepedaku, Kang?” Aku bertanya.  
“Oh  sudah tak siapkan, sempat tak cuci lho,” katanya nyengir.
Aku  geleng-geleng  kepala  seraya berterimakasih karena telah menjaga sepedaku dan mencucinya dengan gratis setiap hari. 
Sampai di rumah  Murni adikku satu-satunya berteriak,” Mbakyu  sini cepetan tho, ada kiriman  lagi.”
Ya  Alloh, kenapa setiap pagi selalu saja ada kiriman pisang, nanas bahkan jengkol yang misterius.
Hari ini aku harus menjebak  pengirimnya, maka pagi-pagi buta aku beranikan  diri mengintip belakang rumah.
Sesosok bayangan bersarung dan bertutup muka  mulai terlihat  jelas, keberanian dan suaraku  raib, terpaku bisu.
Ketika hari sudah terang  kuperiksa  tas kresek hitam  yang kali ini berisi getuk lindri kesukaanku.

Otaku mulai berfikir mungkin saja  Kang Tono yang berulah selama ini, orang ini tahu benar kesukaan keluarga kami.
Was-was kudatangi rumahnya dan  terpana ketika melihatnya sedang duduk di depan rumah  sambil menyantap getuk lindri.
“Kang  selama ini  kamu yang mengirim makanan buatku?”
“Ehh, pangapura,Mbakyu  aku cuma disuruh  sama seseorang kok,” lirihnya tertunduk.
“Siapa  pengecut itu ?”  .  
“Aku yang nyuruh, Nduk,” tiba-tiba suara serak menyahut dari dalam rumah, Biyung  Kang Tono muncul.
“Biyung, kenapa begitu?”.
“Biyung   kepengen kamu jadi menantuku, Nduk, apa  salah?”
Kepalaku  pusing, teringat  pertengkaran  Rama dan Biyung  semalam  bahwa Kang Tono adalah anak  tidak sah dari  Ramaku sendiri.

No comments:

Post a Comment