Judul: Cinta Terlarang
Nama pena:
Mutiara Sakha
Minggu pagi, aku
ke pasar Limbangan seperti biasanya demi membantu Rama Biyungku berbelanja untuk warung bakso.
Setelah berbelanja bergegas mencari sepeda yang ku titipkan Kang Tono tukang parkir langganan.
“Mana sepedaku, Kang?” Aku
bertanya.
“Oh sudah tak siapkan, sempat tak cuci lho,”
katanya nyengir.
Aku geleng-geleng
kepala seraya berterimakasih
karena telah menjaga sepedaku dan mencucinya dengan gratis setiap hari.
Sampai di rumah Murni adikku satu-satunya berteriak,”
Mbakyu sini cepetan tho, ada
kiriman lagi.”
Ya Alloh, kenapa setiap pagi selalu saja ada
kiriman pisang, nanas bahkan jengkol yang misterius.
Hari ini aku harus menjebak pengirimnya, maka pagi-pagi buta aku beranikan
diri mengintip belakang rumah.
Sesosok bayangan bersarung dan
bertutup muka mulai terlihat jelas, keberanian dan suaraku raib, terpaku bisu.
Ketika hari sudah terang kuperiksa
tas kresek hitam yang kali ini
berisi getuk lindri kesukaanku.
Otaku mulai berfikir mungkin
saja Kang Tono yang berulah selama ini,
orang ini tahu benar kesukaan keluarga kami.
Was-was kudatangi rumahnya dan terpana ketika melihatnya sedang duduk di depan
rumah sambil menyantap getuk lindri.
“Kang selama ini
kamu yang mengirim makanan buatku?”
“Ehh, pangapura,Mbakyu aku cuma disuruh sama seseorang kok,” lirihnya tertunduk.
“Siapa pengecut itu ?” .
“Aku yang nyuruh, Nduk,”
tiba-tiba suara serak menyahut dari dalam rumah, Biyung Kang Tono muncul.
“Biyung, kenapa begitu?”.
“Biyung kepengen kamu jadi menantuku, Nduk, apa salah?”
Kepalaku pusing, teringat pertengkaran
Rama dan Biyung semalam bahwa Kang Tono adalah anak tidak sah dari
Ramaku sendiri.
No comments:
Post a Comment