Kidung Cinta Pak Tuo
By: Mutiara Sakha
Malam
baru saja menjelang ketika suara kidung jawa terdengar syahdu membelah kesunyian. Kami tinggal di desa yang terletak di
pegunungan kidul jauh dari keramaian
kota, hanya berpenduduk sedikit saja apabila dibandingkan dengan luas
wilayahnya.
“Kidung itu indah
ya, Pak Tuo tapi sayang aku nggak tahu
artinya. Boleh lihat bukunya? Siapa tahu aku nanti bisa jadi Sinden betulan,”
rayuku sambil tersenyum. Sudah menjadi rahasia umum bahwa lembaran kertas yang
sudah mulai menguning itu merupakan warisan turun temurun yang tidak boleh
rusak. Tak sembarang orang diperbolehkan untuk menyentuhnya.
“Yo
wis. Tapi hati-hati jangan sampai sobek soale lembaran-lembaran kidung itu
sudah mulai rapuh seperti halnya gending jawa yang sudah mulai disingkirkan
oleh Wong Jowo itu sendiri. Kalau mau belajar nembang ya nanti tak ajari.”
“Njih,
maturnuwun. Sebenarnya kita nggak lupa kok cuma saja sepertinya pemerintah
memang sangat kurang dalam memelihara warisan adiluhung seperti ini. Beda sekali sama orang luar
negeri sana yang sangat peduli terhadap karya besar bangsanya.”
“Pak
Tuo ora mudheng kuwi. Sing jelas kalau rakyatnya masih pada kelaparan maka maka
mereka tidak akan peduli dengan hal lain selain urusan perut. Lha wong kalau
orang lapar itu biarpun dihibur dengan tembang ya ndak akan kenyang kok.” Pak
Tuo tergelak dengan gigi palsunya yang
terlihat rapi.
Malam
itu aku belajar nembang dalam bahasa jawa. Sangat
indah sekaligus menyentuh kalbu terdalam. Isi kidung itu adalah nasihat kehidupan bagi manusia agar welas asih dan mawas diri menghadapi
zaman yang terus berubah. Sungguh kenangan yang sangat indah, tak lekang dalam
ingatan.
Hari
ini sudah genap satu tahun Pak Tuo terkena serangan stroke, setelah beberapa
kali menjalani rawat di rumah sakit yang berbeda-beda, kondisinya tetap saja
tidak berubah. Selain sulit untuk berbicara juga secara perlahan-lahan tidak lagi memiliki
kemampuan untuk berjalan.
Pada
suatu pagi saat matahari beranjak tinggi tiba-tiba “Gesit, sini dulu tak kasih
sangu.” Kami terkejut menyadari bahwa Pak Tuo telah berada di depan pintu kamar
tengah dengan menggenggam uang seribuan ditangannya. Ya, hanya dengan merangkak
seorang kakek yang sudah renta dan lemah masih berusaha untuk menunjukkan kasih
sayangnya kepada cicitnya dengan memberikan uang jajan. Subhanallah. Maha Suci
Alloh yang telah menciptakan orangtua dengan kasih tiada berbatas kepada anak
keturunannya.
Beberapa
bulan sebelumnya Beliau menjalani perawatan
di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta selama dua minggu. Dalam
kondisi yang lemah tak bernafsu makan dan tidak bisa tidur maka siapapun pasti
akan trenyuh melihatnya. Hanya tinggal tulang berbalut kulit yang keriput. Ya
Rabbi, inikah seorang kakek perkasa yang dulu selalu menggendongku kemanapun
aku mau? Tergolek lemah dengan berbagai macam alat menempel di tubuh
kurusnya? Seseorang yang telah berjuang
menghidupiku dengan berjualan kambing di pekan? Apa yang bisa kuperbuat? Seandainya aku bisa
menggantikannya. Tentu akan meringankan deritanya. Biar kutebus rasa cinta dan
keringat yang telah tercurah sejak bayi merah. Apalagi ketika mendengar bibirnya
selalu berbisik lemah” Tolong... Tolong... Aduh, sakit semua badanku. Aku
ora betah di sini. Aku pengen pulang. Kenapa,Kalian tega membiarkanku disiksa dengan jarum-jarum tajam
ini?”
Melihat
perjuangan perjuangan yang luar biasa dan penuh kesakitan selama berbulan-bulan
akhirnya aku menyadari bahwa tak ada yang bisa dilakukan lagi karena Pak Tuo
memang telah uzur dan tak bisa
disembuhkan. Setiap saat aku selalu bertanya kenapa harus ada sakit, mengapa
manusia harus mati. Sementara di sini
aku hanya bisa tediam pilu tanpa mampu
berbuat sesuatu. Hanya airmata dan doa pengharapan yang bisa kupanjatkan dalam
setiap waktu.
“Wahai
Tuhan. Maha Pemilik Ampunan. Curahkanlah berjutaa kasih sayang kepada orang yang sangat kucintai. Tiada daya upaya selain
karena kehendakmu karena akupun tak pernah bisa membalas tetesan darah dan
airmata yang telah mengalir. Kurelakan dia bersamamu. Peluklah dengan segenap
kerahiman yang Kau miliki.”
Pak Tuo cucumu sangat kangen dengan kidungmu. Semoga
Alloh mempertimukan kita kelak di Jannah-Nya. Amiinn.
“ Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan
menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami lah kamu akan dikembalikan. ” QS.
Al-Anbiya` (21), Ayat 35
Nusakambangan, 29
Mei 2014.
No comments:
Post a Comment