Wednesday, September 10, 2014

Kidung Cinta Pak Tuo



Kidung Cinta Pak Tuo
By:  Mutiara Sakha

Malam baru saja menjelang ketika suara kidung jawa  terdengar syahdu membelah kesunyian.  Kami tinggal di desa yang terletak di pegunungan kidul  jauh dari keramaian kota, hanya berpenduduk sedikit saja apabila dibandingkan dengan luas wilayahnya.
“Kidung itu indah ya, Pak Tuo tapi sayang aku  nggak tahu artinya. Boleh lihat bukunya? Siapa tahu aku nanti bisa jadi Sinden betulan,” rayuku sambil tersenyum. Sudah menjadi rahasia umum bahwa lembaran kertas yang sudah mulai menguning itu merupakan warisan turun temurun yang tidak boleh rusak. Tak sembarang orang diperbolehkan untuk menyentuhnya.
“Yo wis. Tapi hati-hati jangan sampai sobek soale lembaran-lembaran kidung itu sudah mulai rapuh seperti halnya gending jawa yang sudah mulai disingkirkan oleh Wong Jowo itu sendiri. Kalau mau belajar nembang ya nanti tak ajari.”
“Njih, maturnuwun. Sebenarnya kita nggak lupa kok cuma saja sepertinya pemerintah memang sangat kurang dalam memelihara warisan adiluhung  seperti ini. Beda sekali sama orang luar negeri sana yang sangat peduli terhadap karya besar bangsanya.”
“Pak Tuo ora mudheng kuwi. Sing jelas kalau rakyatnya masih pada kelaparan maka maka mereka tidak akan peduli dengan hal lain selain urusan perut. Lha wong kalau orang lapar itu biarpun dihibur dengan tembang ya ndak akan kenyang kok.” Pak Tuo tergelak  dengan gigi palsunya yang terlihat rapi.
Malam itu aku  belajar nembang dalam bahasa jawa. Sangat  indah sekaligus menyentuh kalbu terdalam. Isi kidung itu adalah  nasihat kehidupan bagi manusia   agar welas asih dan mawas diri menghadapi zaman yang terus berubah. Sungguh kenangan yang sangat indah, tak lekang dalam ingatan.
Hari ini sudah genap satu tahun Pak Tuo terkena serangan stroke, setelah beberapa kali menjalani rawat di rumah sakit yang berbeda-beda, kondisinya tetap saja tidak berubah. Selain sulit untuk berbicara juga  secara perlahan-lahan tidak lagi memiliki kemampuan untuk berjalan.
Pada suatu pagi saat matahari beranjak tinggi tiba-tiba “Gesit, sini dulu tak kasih sangu.” Kami terkejut menyadari bahwa Pak Tuo telah berada di depan pintu kamar tengah dengan menggenggam uang seribuan ditangannya. Ya, hanya dengan merangkak seorang kakek yang sudah renta dan lemah masih berusaha untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada cicitnya dengan memberikan uang jajan. Subhanallah. Maha Suci Alloh yang telah menciptakan orangtua dengan kasih tiada berbatas kepada anak keturunannya.
Beberapa bulan sebelumnya Beliau menjalani perawatan  di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta selama dua minggu. Dalam kondisi yang lemah tak bernafsu makan dan tidak bisa tidur maka siapapun pasti akan trenyuh melihatnya. Hanya tinggal tulang berbalut kulit yang keriput. Ya Rabbi, inikah seorang kakek perkasa yang dulu selalu menggendongku kemanapun aku mau? Tergolek lemah dengan berbagai macam alat menempel di tubuh kurusnya?  Seseorang yang telah berjuang menghidupiku dengan berjualan kambing di pekan? Apa yang  bisa kuperbuat? Seandainya aku bisa menggantikannya. Tentu akan meringankan deritanya. Biar kutebus rasa cinta dan keringat yang telah tercurah sejak bayi merah. Apalagi ketika mendengar   bibirnya  selalu berbisik lemah” Tolong... Tolong... Aduh, sakit semua badanku. Aku ora betah di sini. Aku pengen pulang. Kenapa,Kalian tega  membiarkanku disiksa dengan jarum-jarum tajam ini?”
Melihat perjuangan perjuangan yang luar biasa dan penuh kesakitan selama berbulan-bulan akhirnya aku menyadari bahwa tak ada yang bisa dilakukan lagi karena Pak Tuo memang telah uzur  dan tak bisa disembuhkan. Setiap saat aku selalu bertanya kenapa harus ada sakit, mengapa manusia harus mati. Sementara  di sini aku hanya bisa tediam pilu  tanpa mampu berbuat sesuatu. Hanya airmata dan doa pengharapan yang bisa kupanjatkan dalam setiap waktu.
“Wahai Tuhan. Maha Pemilik Ampunan. Curahkanlah berjutaa  kasih sayang kepada orang yang  sangat kucintai. Tiada daya upaya selain karena kehendakmu karena akupun tak pernah bisa membalas tetesan darah dan airmata yang telah mengalir. Kurelakan dia bersamamu. Peluklah dengan segenap kerahiman yang Kau miliki.”
Pak Tuo  cucumu sangat kangen dengan kidungmu. Semoga Alloh mempertimukan kita kelak di Jannah-Nya. Amiinn.
“ Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya), dan hanya kepada Kami lah kamu akan dikembalikan. ” QS. Al-Anbiya` (21), Ayat 35
Nusakambangan, 29 Mei 2014.

No comments:

Post a Comment