Wednesday, September 10, 2014

MEMORY KELABU



MEMORY  KELABU
By: Mutiara Sakha



Resiko menjadi wanita pekerja  adalah kurangnya waktu buat keluarga dan terbengkelainya  tugas-tugas yang telah di bebankan. Adakalanya timbul masalah  yang terjadi dengan teman sejawat, ada saja insiden yang terjadi hanya karena salah faham.            Sebuah  insiden saat acara lomba tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga  beberapa waktu yang lalu sempat menjadikan semangatku pupus seketika. Saat itu memang banyak sekali pekerjaan yang harus kujalani dengan rutinitas yang membosankan. Sebenarnya akupun merasa keberatan,akan tetapi  rasa tidak enak untuk menolak telah memaksaku untuk mengiyakan juga.
            Kuterima naskah acara dari seorang teman yang telah berkoodinasi dengan pelaksana lomba, setelah kubaca ternyata ada beberapa hal yang terlewatkan. Yah, pada akhirnya aku masih harus banyak merevisi dan berkoordinasi demi kelancaran acara.
            “Bu, maaf ya kok draft acaranya masih mentah banget seperti ini sih? Padahal lomba tinggal besok lusa lho. Gimana apa aku harus koordinasi lagi?” Aku mengeluh dengan konsep yang tidak jelas ini.
            “ Nggak tahu loh, ini juga sudah arahan dari pihak pelaksana kok. Aku sendiri juga tinggal nulis aja, semuanya sudah diatur?” Seorang rekan sejawat juga terlihat kebingungan.
            “Waduh gimana sih ini, aku khan bukan pengatur acara, tugasku hanya membacakan susunan acara yang sudah ada, lha kalau begini khan payah namanya. Repot banget judulnya. Mana kerjaan masih banyak lagi?” Omelan panjang pendek akhirnya meluncur pahit dari bibirku yang manyun. Sebal.
            “Ya, sudahlah mau apa lagi, besok aja koordinasi dengan pelaksana sebelum lomba dimulai,” Bu Nani menyarankan dengan pasrah.
            Saat lomba belum di mulai aku  kasak-kusuk bertanya dan koordinasi tentang  acara yang akan dilaksanakan pada hari ini. Alhamdulillah kelar juga.
Ketika membacakan acara memang ada beberapa kesalahan yang terucap yang berujung teguran pada akhir sesi lomba. Begitulah kalau pikiran terbagi pada akhirnya menjadi tidak bisa fokus.
            Pada keesokan harinya ternyata ada seorang teman yang mengkritik pedas level seratus tentang acara tersebut. Ada pernyataan  yang menyakitkan bahwa semua kesalahan yang terjadi adalah karena kesalahanku semata.
            “Mengapa pembawa acara tidak melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait? Seharusnya tidak perlu terjadi kesalahan itu, toh biasanya juga acaranya beres tanpa kesalahan?” Kata-kata pedas berapi-api itu sungguh menyakitkan.
Kuberlari menuju mushola kantor, menangis nelangsa sekaligus malu hati karena telah dipermalukan. Aku tak akan lagi sudi membantu acara yang memang bukan tugas pokokku lagi.
            Rasa marah dan sakit hati itu belum bisa terlepas hingga saat ini. Walaupun kucoba dengan sepenuh hati akan tetapi luka itu masih ada. Ya Rabbiku, begini rasanya menjadi pesakitan. Ampuni hamba yang belum mampu untuk memaafkan kesalahan orang lain. Berikanlah kekuatan-Mu untuk bertahan.

Nusakambangan, 01 Juni 2014.
**********************************************************************

No comments:

Post a Comment