MEMORY KELABU
By: Mutiara Sakha
Resiko menjadi wanita pekerja adalah kurangnya waktu buat keluarga dan
terbengkelainya tugas-tugas yang telah
di bebankan. Adakalanya timbul masalah
yang terjadi dengan teman sejawat, ada saja insiden yang terjadi hanya
karena salah faham. Sebuah insiden saat acara lomba tentang Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga beberapa
waktu yang lalu sempat menjadikan semangatku pupus seketika. Saat itu memang
banyak sekali pekerjaan yang harus kujalani dengan rutinitas yang membosankan.
Sebenarnya akupun merasa keberatan,akan tetapi
rasa tidak enak untuk menolak telah memaksaku untuk mengiyakan juga.
Kuterima
naskah acara dari seorang teman yang telah berkoodinasi dengan pelaksana lomba,
setelah kubaca ternyata ada beberapa hal yang terlewatkan. Yah, pada akhirnya
aku masih harus banyak merevisi dan berkoordinasi demi kelancaran acara.
“Bu,
maaf ya kok draft acaranya masih mentah banget seperti ini sih? Padahal lomba
tinggal besok lusa lho. Gimana apa aku harus koordinasi lagi?” Aku mengeluh
dengan konsep yang tidak jelas ini.
“
Nggak tahu loh, ini juga sudah arahan dari pihak pelaksana kok. Aku sendiri
juga tinggal nulis aja, semuanya sudah diatur?” Seorang rekan sejawat juga
terlihat kebingungan.
“Waduh
gimana sih ini, aku khan bukan pengatur acara, tugasku hanya membacakan susunan
acara yang sudah ada, lha kalau begini khan payah namanya. Repot banget
judulnya. Mana kerjaan masih banyak lagi?” Omelan panjang pendek akhirnya
meluncur pahit dari bibirku yang manyun. Sebal.
“Ya,
sudahlah mau apa lagi, besok aja koordinasi dengan pelaksana sebelum lomba
dimulai,” Bu Nani menyarankan dengan pasrah.
Saat
lomba belum di mulai aku kasak-kusuk
bertanya dan koordinasi tentang acara
yang akan dilaksanakan pada hari ini. Alhamdulillah kelar juga.
Ketika membacakan acara memang ada beberapa
kesalahan yang terucap yang berujung teguran pada akhir sesi lomba. Begitulah
kalau pikiran terbagi pada akhirnya menjadi tidak bisa fokus.
Pada
keesokan harinya ternyata ada seorang teman yang mengkritik pedas level seratus
tentang acara tersebut. Ada pernyataan yang menyakitkan bahwa semua kesalahan yang
terjadi adalah karena kesalahanku semata.
“Mengapa
pembawa acara tidak melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait? Seharusnya
tidak perlu terjadi kesalahan itu, toh biasanya juga acaranya beres tanpa
kesalahan?” Kata-kata pedas berapi-api itu sungguh menyakitkan.
Kuberlari menuju mushola kantor, menangis nelangsa
sekaligus malu hati karena telah dipermalukan. Aku tak akan lagi sudi membantu
acara yang memang bukan tugas pokokku lagi.
Rasa
marah dan sakit hati itu belum bisa terlepas hingga saat ini. Walaupun kucoba
dengan sepenuh hati akan tetapi luka itu masih ada. Ya Rabbiku, begini rasanya
menjadi pesakitan. Ampuni hamba yang belum mampu untuk memaafkan kesalahan
orang lain. Berikanlah kekuatan-Mu untuk bertahan.
Nusakambangan, 01 Juni 2014.
**********************************************************************
No comments:
Post a Comment