Wednesday, September 10, 2014

Cinta Murka



Cinta Murka
By: Mutiara Sakha

Pagi yang cerah, cericit burung dan hangat cahaya mentari mengiringi langkahku menuju tempat kerja. Ku telusuri jalan-jalan sepi  perlahan dengan Beat kesayangan yang belum lunas cicilannya, deuuuh...Pamer nih, ck,ck... Belum banyak rekan kerja yang datang baru ada  dua orang ibu yang memang terbiasa datang pagi-pagi. Bisa dimaklumi karena mereka sudah menjadi “Nely” atau nenek lincah sehingga tidak repot lagi dengan urusan antar jemput anak dan segala tetek bengeknya.
**********
“Pagi,Beib.”  Layar  handphone berkedip,sapaan yang kurindukan muncul. Sungguh kehadirannya selalu menjadikan dunia cerah memerah bagaikan semangka, huuua... Kalau lagi  Fall in  begini segalanya terasa indah. Makan berdua, kerja berdua tak mampu terpisah walau sedetikpun. Kantor mulai ramai dengan kehadiran rekan-rekan kerjaku. Celoteh dan tawa mereka memecah keheningan pagi. Riuh rendah kesibukan mulai menampakkan wujudnya. Kantor yang didominasi kaum hawa ini memang selalu ramai dan ceria.
**********
Akhirnya yang ditunggu datang juga, pangeran hatiku selama ini. Dia datang dengan ceria membawa  motor yang kukira belum lunas juga kreditnya, Haaa... Sedetail itukah? Tentu saja semua yang ada pada dirinya aku tahu dan paham. Yah walaupun mungkin juga apa yang kudengar tidak valid, ah... Aku tak peduli semuanya entah palsu atau semu itu sudah tak penting lagi. Karena  Edo adalah segalanya bagiku.
**********
Berjalan-jalan berdua mencicipi bermacam-macam jajanan di Kuliner Cia-Cia  adalah hal yang rutin kami lakukan. Setiap malam minggu selalu  kami jalani untuk mengobrol panjang lebar. “Kamu beneran mau nikah sama aku, Beib?” katanya suatu sore. “Iya, kenapa sih kamu selalu menanyakan hal yang sama setiap kita ketemu?” Heran aku dibuatnya, sudah puluhan kali dia menanyakan hal yang sama.
**********
Awal kami bertemu dalam sebuah kegiatan  kantor yang sama, dia satu tim denganku saat itu. Badannya yang tinggi dan kurus dipadukan dengan mata yang lebar sungguh suatu yang unik. Paling tidak bagiku. Belum lagi tingkahnya yang terkesan pemalu dan tertutup. Sekilas tampak seperti orang yang bahagia karena selorohnya yang lucu, akan tetapi lama kelamaan dari ceritanya kutahu duka yang selama ini mengendap dan disimpannya rapat-rapat. “Aku anak seorang janda yang mempunyai banyak saudara, mereka masih kecil-kecil dan belum bisa diharapkan untuk membantu mencari nafkah. Ibuku sendiri berjualan pecel keliling dari  rumah ke rumah, sedangkan aku hanya bisa bekerja serabutan sambil terus kuliah. “ Kisahnya suatu saat di sela-sela kegiatan kami.
**********
Entah mengapa tiba-tiba saja aku merasa simpati lalu  muncul rasa sayang yang berkembang menjadi rasa cinta. Mulailah aku berusaha mengujinya dan pura-pura tak peduli dalam urusan pribadinya. Sampai suatu saat di warung bakso langganan dia menembakku”Rika, maukah kamu mendampingi hidupku kelak?”  Tak tahu apa warna mukaku saat itu yang pasti memerah malu.  Bingung harus menjawab .“Aku pikir dulu ya?” jawabku retoris. Dalam usia kami yang sudah cukup matang ini memang bukan saatnya lagi bermain-main, perlu waktu cukup lama untuk menelisik hatiku  apakah ini hanya rasa sayang ataukah cinta. Hingga berbulan-bulan belum juga kutemukan jawaban pasti. Karena hatikku masih cukup terluka oleh kisah perih masa lalu . Ya, saat calon suamiku terkasih meninggal tepat seminggu sebelum kami melakukan  akad nikah. Gegara yang sesali adalah aku menyuruhnya untuk menukarkan cincin kawin yang ternyata tidak sesuai pesanan ke toko emas Pasar Gedhe. Karena dibalik cincin itu tertulis nama orang lain dan bukan nama kami berdua. Entah takdir ataukah cobaan Lelakiku tertabrak motor yang sedang dikendarai oleh preman mabuk.  Lemas rasanya seluruh persendianku saat itu. Tak terbayangkan hari-hari kelam yang akan kulalui tanpanya. Dia meninggal sehari setelah perawatan di UGD. Cedera kepala yang serius telah merenggut nyawanya. Alloh telah membawanya untuk menjadi pengantin di surga dengan bidadari-Nya. Sedangkan aku begitu terpuruk dalam tangis hingga berhari-hari mengurung di kamar nyaris tanpa gairah hidup. Aku terpuruk menyalahkan diri sendiri, seandainya saja cincin itu tak harus ditukar,seandainya saja aku tidak menyuruhnya pergi. Berandai-andai yang kutahu tidak diperbolehkan dalam agama. Dalam kondisi labil  Mamak  yang selalu setia menemani dan menghapuskan duka hatiku.
**********
Butuh waktu bertahun-tahun untuk terbebas dari  mimpi buruk masa lalu. Dan selama itu pula tak pernah seorangpun yang berhasil  mengisi  ruang kosong hati ini. Hingga Edo datang untuk mengetuknya dengan malu-malu dan lugu. Oh... Ternyata dia telah merebut simpatiku. Kebersamaan kami berbulan-bulan telah membuatku mengerti rahasia terbesar dalam hidupnnya. “Rika, boleh aku jujur padamu?” Suatu sore kami duduk-duduk di pinggir Alun-alun. “Kenapa sih, tolong jangan paksa untuk menjawab pertanyaanmu yang dulu, aku belum siap?” Tanpa melihat wajahnya  aku tahu dia sedang bersedih sekaligus berharap. Laki-laki ini memang sabar luar biasa selalu mengalah kepadaku yang egois dan pemarah. Sekian bulan diabaikan ternyata justru membuatnya semakin menggebu untuk mendapatkan cintaku. Tak terhitung coklat dan pesan yang dikirimnya selama ini. Dan itu membuatku bergeming pada bulan ke lima.
**********
”Rika, waktuku tak banyak, jangan biarkan aku mati sebelum sempat memilikimu?” katanya tenang. “Apa maksudmu, jangan biarkan aku penasaran?” Dengan tatapan dalam tepat kejantungku “Aku sakit jantung parah, Dokter mengatakan bahwa hidupku tidak akan lama lagi?” Seketika tangisku pecah antara ketakutan dan kecewa yang sangat. Aku takut bila suatu  saat dia akan pergi seperti kekasihku yang dulu. Tak kuhiraukan tatapan orang-orang yang terkejut melihat reaksiku. “Sudahlah, Rika jangan menangis, hatiku ikhlas menerimanya asalkan bersamamu, aku akan kuat.” Aku masih menangis dalam pelukannya dan menggeleng kuat-kuat. Tidak, aku tak akan membiarkanmu pergi jerit batinku. Saat sedih itu selalu membayangi perjalanan kami berdua sampai akhirnya Edo menjadi belahan jiwaku.
**********
Cobaan tak berhenti begitu saja, ketika kami memohon ijin untuk menikah secepatnya tanpa disangka Bapakku menolak dengan halus. Beliau mengatakan  belum saatnya atau terlalu cepatlah dan seabreg alasan lain yang akhirnya kutahu bahwa itu adalah isyarat penolakan. Ya Rabbi... Beban ini terlampau berat untuk kutanggung karena sejak saat itu kami harus Back Street. Tanpa restu dari mereka tentu saja kami tak akan  berani melangkah. Dalam pengalaman hidup yang kujalani tiada bahagia tanpa restu orangtua. Hanya selalu berharap dan berdoa agar Tuhan menyatukan kami semua. Menjadi satu keluarga besar yang utuh dan bahagia. Aku percaya bahwa Alloh mempunyai rencana yang paling baik untuk  setiap umatnya.
**********
Sampai bertahun-tahun kami menjalani hubungan yang tanpa arah, bagaikan perahu yang berlayar terombang-ambing di tengah lautan tanpa tujuan yang pasti. Kepasrahan yang tinggi membuat kami tak pernah menyerah, di saat sikap Bapak yang tak juga melunak perahu kami tetap berlayar pelan-pelan mencari-cari pelabuhan tujuan.   Akan tetapi kesabaran manusia ternyata masih berbatas, walaupaun kesabaran sendiri adalah tidak berbatas. Karena beban pikiran yang berat akhirnya aku jatuh sakit dan  harus dirawat.  Penyakit Typus merongrong  jiwa dan ragaku menjadi layu bagaikan daun akasia yang menguning  hendak jatuh luruh ke bumi. Kekasihku tetap  berjuang untuk menjaga daun itu agar tetap segar walaupun dia sendiri ibarat seutas tali yang ringkih dan rapuh. 
**********
Ketika kondisiku sudah stabil pada akhirnya  aku diizinkan untuk menjalani pulang rawat jalan. Bapak menghampiriku yang sedang terbaring di kamar, memapahku ke ruang tamu dan mempertemukan aku dengan Edo. Selama ini Bapak tetap membiarkan kami bertemu walau diam-diam. Dalam hatinya menangis melihat anak semata wayangnya tidak bahagia. Dan hari ini rupanya saat penentuan yang kami tunggu-tunggu selam bertahun-tahun untuk menuntaskan kisah kami. Entah  akhir yang bahagia ataupun duka kami pasrahkan pada-Nya. Bapak menghela nafas pelan dan terlihat sangat berduka. “Nduk Rika cah ayu, dan Edo, maaf bapak terpaksa mengatakan kebenaran ini walaupun sangat pahit.” Kata-katanya tercekat  sejenak, kulihat Mamak menyeka airmatanya diam-diam. “ Kalian berdua tidak boleh menikah karena .... Kalian  masih suadara sedarah, Edo adalah anak  dari kekasih Bapak  masa lalu.” Tidaaak....” Tangisku meledak serta merta gelap gulita yang terasa. Ya Rabbi,  ternyata selama ini aku berpacaran dengan Kangmasku sendiri.  Hancur duniaku, serasa nyawa telah terlepas dari raga. Sedangkan Mas Edo sendiri  pingsan, jantungnya tidak kuat menerima kenyataan ini. Perahu kami berdua telah hancur  berkeping-keping menabrak batu karang.
********************************************

No comments:

Post a Comment