Cinta Murka
By: Mutiara Sakha
Pagi yang cerah, cericit burung
dan hangat cahaya mentari mengiringi langkahku menuju tempat kerja. Ku telusuri
jalan-jalan sepi perlahan dengan Beat
kesayangan yang belum lunas cicilannya, deuuuh...Pamer nih, ck,ck... Belum
banyak rekan kerja yang datang baru ada
dua orang ibu yang memang terbiasa datang pagi-pagi. Bisa dimaklumi
karena mereka sudah menjadi “Nely” atau nenek lincah sehingga tidak repot lagi
dengan urusan antar jemput anak dan segala tetek bengeknya.
**********
“Pagi,Beib.” Layar
handphone berkedip,sapaan yang kurindukan muncul. Sungguh kehadirannya
selalu menjadikan dunia cerah memerah bagaikan semangka, huuua... Kalau
lagi Fall
in begini segalanya terasa indah.
Makan berdua, kerja berdua tak mampu terpisah walau sedetikpun. Kantor mulai
ramai dengan kehadiran rekan-rekan kerjaku. Celoteh dan tawa mereka memecah
keheningan pagi. Riuh rendah kesibukan mulai menampakkan wujudnya. Kantor yang
didominasi kaum hawa ini memang selalu ramai dan ceria.
**********
Akhirnya yang ditunggu datang
juga, pangeran hatiku selama ini. Dia datang dengan ceria membawa motor yang kukira belum lunas juga kreditnya,
Haaa... Sedetail itukah? Tentu saja semua yang ada pada dirinya aku tahu dan
paham. Yah walaupun mungkin juga apa yang kudengar tidak valid, ah... Aku tak
peduli semuanya entah palsu atau semu itu sudah tak penting lagi. Karena Edo adalah segalanya bagiku.
**********
Berjalan-jalan berdua mencicipi
bermacam-macam jajanan di Kuliner Cia-Cia
adalah hal yang rutin kami lakukan. Setiap malam minggu selalu kami jalani untuk mengobrol panjang lebar.
“Kamu beneran mau nikah sama aku, Beib?” katanya suatu sore. “Iya, kenapa sih
kamu selalu menanyakan hal yang sama setiap kita ketemu?” Heran aku dibuatnya,
sudah puluhan kali dia menanyakan hal yang sama.
**********
Awal kami bertemu dalam sebuah
kegiatan kantor yang sama, dia satu tim
denganku saat itu. Badannya yang tinggi dan kurus dipadukan dengan mata yang
lebar sungguh suatu yang unik. Paling tidak bagiku. Belum lagi tingkahnya yang
terkesan pemalu dan tertutup. Sekilas tampak seperti orang yang bahagia karena
selorohnya yang lucu, akan tetapi lama kelamaan dari ceritanya kutahu duka yang
selama ini mengendap dan disimpannya rapat-rapat. “Aku anak seorang janda yang
mempunyai banyak saudara, mereka masih kecil-kecil dan belum bisa diharapkan
untuk membantu mencari nafkah. Ibuku sendiri berjualan pecel keliling dari rumah ke rumah, sedangkan aku hanya bisa
bekerja serabutan sambil terus kuliah. “ Kisahnya suatu saat di sela-sela
kegiatan kami.
**********
Entah mengapa tiba-tiba saja aku
merasa simpati lalu muncul rasa sayang yang
berkembang menjadi rasa cinta. Mulailah aku berusaha mengujinya dan pura-pura
tak peduli dalam urusan pribadinya. Sampai suatu saat di warung bakso langganan
dia menembakku”Rika, maukah kamu mendampingi hidupku kelak?” Tak tahu apa warna mukaku saat itu yang pasti
memerah malu. Bingung harus menjawab .“Aku
pikir dulu ya?” jawabku retoris. Dalam usia kami yang sudah cukup matang ini
memang bukan saatnya lagi bermain-main, perlu waktu cukup lama untuk menelisik
hatiku apakah ini hanya rasa sayang ataukah
cinta. Hingga berbulan-bulan belum juga kutemukan jawaban pasti. Karena hatikku
masih cukup terluka oleh kisah perih masa lalu . Ya, saat calon suamiku terkasih
meninggal tepat seminggu sebelum kami melakukan
akad nikah. Gegara yang sesali adalah aku menyuruhnya untuk menukarkan
cincin kawin yang ternyata tidak sesuai pesanan ke toko emas Pasar Gedhe.
Karena dibalik cincin itu tertulis nama orang lain dan bukan nama kami berdua.
Entah takdir ataukah cobaan Lelakiku tertabrak motor yang sedang dikendarai
oleh preman mabuk. Lemas rasanya seluruh
persendianku saat itu. Tak terbayangkan hari-hari kelam yang akan kulalui
tanpanya. Dia meninggal sehari setelah perawatan di UGD. Cedera kepala yang
serius telah merenggut nyawanya. Alloh telah membawanya untuk menjadi pengantin
di surga dengan bidadari-Nya. Sedangkan aku begitu terpuruk dalam tangis hingga
berhari-hari mengurung di kamar nyaris tanpa gairah hidup. Aku terpuruk
menyalahkan diri sendiri, seandainya saja cincin itu tak harus ditukar,seandainya
saja aku tidak menyuruhnya pergi. Berandai-andai yang kutahu tidak
diperbolehkan dalam agama. Dalam kondisi labil
Mamak yang selalu setia menemani dan
menghapuskan duka hatiku.
**********
Butuh waktu bertahun-tahun untuk
terbebas dari mimpi buruk masa lalu. Dan
selama itu pula tak pernah seorangpun yang berhasil mengisi ruang kosong hati ini. Hingga Edo datang untuk
mengetuknya dengan malu-malu dan lugu. Oh... Ternyata dia telah merebut
simpatiku. Kebersamaan kami berbulan-bulan telah membuatku mengerti rahasia
terbesar dalam hidupnnya. “Rika, boleh aku jujur padamu?” Suatu sore kami duduk-duduk
di pinggir Alun-alun. “Kenapa sih, tolong jangan paksa untuk menjawab
pertanyaanmu yang dulu, aku belum siap?” Tanpa melihat wajahnya aku tahu dia sedang bersedih sekaligus
berharap. Laki-laki ini memang sabar luar biasa selalu mengalah kepadaku yang
egois dan pemarah. Sekian bulan diabaikan ternyata justru membuatnya semakin
menggebu untuk mendapatkan cintaku. Tak terhitung coklat dan pesan yang
dikirimnya selama ini. Dan itu membuatku bergeming pada bulan ke lima.
**********
”Rika, waktuku tak banyak,
jangan biarkan aku mati sebelum sempat memilikimu?” katanya tenang. “Apa
maksudmu, jangan biarkan aku penasaran?” Dengan tatapan dalam tepat kejantungku
“Aku sakit jantung parah, Dokter mengatakan bahwa hidupku tidak akan lama
lagi?” Seketika tangisku pecah antara ketakutan dan kecewa yang sangat. Aku
takut bila suatu saat dia akan pergi
seperti kekasihku yang dulu. Tak kuhiraukan tatapan orang-orang yang terkejut
melihat reaksiku. “Sudahlah, Rika jangan menangis, hatiku ikhlas menerimanya
asalkan bersamamu, aku akan kuat.” Aku masih menangis dalam pelukannya dan
menggeleng kuat-kuat. Tidak, aku tak akan membiarkanmu pergi jerit batinku.
Saat sedih itu selalu membayangi perjalanan kami berdua sampai akhirnya Edo
menjadi belahan jiwaku.
**********
Cobaan tak berhenti begitu saja,
ketika kami memohon ijin untuk menikah secepatnya tanpa disangka Bapakku
menolak dengan halus. Beliau mengatakan belum saatnya atau terlalu cepatlah dan
seabreg alasan lain yang akhirnya kutahu bahwa itu adalah isyarat penolakan. Ya
Rabbi... Beban ini terlampau berat untuk kutanggung karena sejak saat itu kami
harus Back Street. Tanpa restu dari
mereka tentu saja kami tak akan berani
melangkah. Dalam pengalaman hidup yang kujalani tiada bahagia tanpa restu
orangtua. Hanya selalu berharap dan berdoa agar Tuhan menyatukan kami semua. Menjadi
satu keluarga besar yang utuh dan bahagia. Aku percaya bahwa Alloh mempunyai
rencana yang paling baik untuk setiap umatnya.
**********
Sampai bertahun-tahun kami
menjalani hubungan yang tanpa arah, bagaikan perahu yang berlayar
terombang-ambing di tengah lautan tanpa tujuan yang pasti. Kepasrahan yang
tinggi membuat kami tak pernah menyerah, di saat sikap Bapak yang tak juga
melunak perahu kami tetap berlayar pelan-pelan mencari-cari pelabuhan
tujuan. Akan tetapi kesabaran manusia
ternyata masih berbatas, walaupaun kesabaran sendiri adalah tidak berbatas. Karena
beban pikiran yang berat akhirnya aku jatuh sakit dan harus dirawat. Penyakit Typus merongrong jiwa dan ragaku menjadi layu bagaikan daun
akasia yang menguning hendak jatuh luruh
ke bumi. Kekasihku tetap berjuang untuk
menjaga daun itu agar tetap segar walaupun dia sendiri ibarat seutas tali yang
ringkih dan rapuh.
**********
Ketika kondisiku sudah stabil
pada akhirnya aku diizinkan untuk
menjalani pulang rawat jalan. Bapak menghampiriku yang sedang terbaring di
kamar, memapahku ke ruang tamu dan mempertemukan aku dengan Edo. Selama ini
Bapak tetap membiarkan kami bertemu walau diam-diam. Dalam hatinya menangis
melihat anak semata wayangnya tidak bahagia. Dan hari ini rupanya saat penentuan
yang kami tunggu-tunggu selam bertahun-tahun untuk menuntaskan kisah kami.
Entah akhir yang bahagia ataupun duka
kami pasrahkan pada-Nya. Bapak menghela nafas pelan dan terlihat sangat
berduka. “Nduk Rika cah ayu, dan Edo, maaf bapak terpaksa mengatakan kebenaran
ini walaupun sangat pahit.” Kata-katanya tercekat sejenak, kulihat Mamak menyeka airmatanya
diam-diam. “ Kalian berdua tidak boleh menikah karena .... Kalian masih suadara sedarah, Edo adalah anak dari kekasih Bapak masa lalu.” Tidaaak....” Tangisku meledak serta
merta gelap gulita yang terasa. Ya Rabbi, ternyata selama ini aku berpacaran dengan
Kangmasku sendiri. Hancur duniaku,
serasa nyawa telah terlepas dari raga. Sedangkan Mas Edo sendiri pingsan, jantungnya tidak kuat menerima kenyataan
ini. Perahu kami berdua telah hancur berkeping-keping menabrak batu karang.
********************************************
No comments:
Post a Comment