KERINDUAN TIADA
AKHIR
By: Mutiara Sakha
Matahari siang membakar wajah kotaku yang terletak di
ujung selatan propinsi Jawa Tengah, Cilacap sebauh kota industri
yang sangat dekat dengan pulau Nusakambangan. Sebuah pulau terapung yang terdengar
menyeramkan karena banyaknya Lembaga Pemasyarakatan berdiri angkuh di dalamnya. Dibalik
kegarangan pulau bui itu sebenarnya
memendam pesona pantai pasir putih yang indah nan mempesona, pantai
Permisan. Hanya saja jalanan yang jauh dari mulus telah menjadikannya enggan
terjamah. Heem.... pulau misteri dengan hutan dan hewan setengah perawan turut
menjadikannya penuh rahasia hingga sekarang.
“Warti, ayuh cepetan sih. Keburu telat maning
kita nanti. Kamu sih mandinya kelamaan melulu, bete tahu nungguin terus.
Huh...” Suti, sahabat setiaku ini ngomel panjang pendek sambil melirik dengan
gemas.
“Ya. Pangapura lah, Yu...Aja ngomel
baen. Mengko ayune ilang lho. Kepriben
jajal?” Aku menatap matanya yang lebar bak jengkol mentah itu.
“Wis
ra usah ngerayu maning. Coba aja kalau kita telat lagi bakal babak belur
kena hukuman sama Miss. Anna. Pelajaran bahasa inggris itu menyenangkan, sayang
gegara dosen killer jadi nyebelin.”
“Ya udah sabar ajalah. Orang sabar itu
disayang pacar, eh... salah dicintai
sama Alloh. Betewe udah selesai belum tuh PR yang kemaren? Loh kok motornya
goyang gini ya? Gimana ini? Turun dulu, stop.”
“Waduh kempes nih, War. Mana tambal
ban nggak ada lagi. Habis deh kita dibantai sama dosen. Huff.... matahari kian garang aja nih rasanya membakar
ubun-ubun. Derita kita berlipat.”
“Udah
jangan ngomel lagi. Kita dorong
aja ke tambal ban terdekat di depan sana.”
“Ayo yang kuat dorongnya. Berat banget
loh. Kaya lagi nyeret kebo aja.”
“Iya ini juga lagi usaha, secara gitu
loh mahasiswi secantik aku kok dorong motor. Lemes pastinya.” Kuharap ada Pangeran
penolong datang hari ini. Ngayal super tinggi.
Malam telah menjelang, hewan-hewan
bergegas mencari kehangatan di
sarangnya, demikian pula hatiku yang senantiasa hangat terisi dengan selaksa
cinta nan bergelora melebihi dahsyatnya ombak pantai selatan.
“Minum dulu, Kang Darwis. Mumpung
masih hangat kopinya. Ada pegangannya juga loh. Pisang goreng kepok dari kebun
depan rumah kita.”
“Makasih, Warti sayang. Pasti manis,
bikinan istri tercinta.” Senyum teduh itu kini mengisi hari-hariku sejak tiga
bulan yang lalu. Ya, dialah pangeran yang telah datang menolong untuk menambal
ban motorku beberapa waktu yang lalu. Pangeran itu adalah pemilik bengkel motor
yang lumayan ramai di kotaku.
Kami menikah segera setelah beberapa
saat ta’aruf singkat, Kang Darwis melamarku. Terkadang sulit dipercaya bahwa
aku sudah menyempurnakan separuh agama ini. Dalam tempo yang sesingkat-
singkatnya dan dengan cara yang diridhoi-Nya.
“Kang, Kang Darwis. Aduh celaka. Gimana ini?” Tiba-tiba
saja Parmin pegawai di bengkel suamiku datang dengan wajah bingung pucat pasi.
“Ehh.. ada apa Parmin. Ada apa ini? Duduk dulu jangan panik tho.
Warti tolong ambilkan air putih.”
Setelah meneguk habis minumannya lelaki kurus berambut keriting itu
menghela nafas pelan. “Anu... itu, Kang. Anu bengkel kita terbakar. Ayo kita
kesana sekarang?!”
“Astagfirullah. Ya Rabbi. Kenapa bisa
begitu.” Bergegas Kang Darwis berlari
mencari kunci mobil dan pergi.
Aku hanya bisa cemas memandangi mereka
berdua. “Ya Malik. Tuhan yang Maha kaya
selamatkanlah apa yang telah Kau titpkan kepada kami sebagaimana kehendak-Mu,”
air mataku menetes perlahan. Kulangkahkan kaki untuk menunaikan
panggilan-Nya. Pedih.
Tengah malam terdengar suara mobil
memasuki garasi, letakkan Al Qur’an di atas meja, bergegas membuka pintu.
“Asalamu’alaikum. Belum tidur, Warti ?
Jangan takut sesungguhnya Alloh bersama kita. Ingat calon anak kita, kasihan dia kalau kamu
kurang tidur.”
“Wa alaikum salam, Kang. Kepriwe?
Nggak apa-apa tho? Bengkelnya selamat?”
“Kamu yang sabar ya. Insha Alloh ini
cobaan, bengkel kita habis tapi rahmat-Nya nggak akan pernah habis.”
“Iya, Kang. Asal bersamamu tak ada
artinya semua cobaan ini.”
Sebulan berlalu tanpa ada yang bisa
dikerjakan, modal kami habis untuk
makan. Mobilpun sudah terjual. Dalam kebingungan ada seorang tetangga yang mengajak Kang
Darwis untuk bekerja di Papua. Perusahaan asing itu membutuhkan tenaga sopir
sekaligus mekanik, kemampuan yang pas buat suamiku.
“Piye. Boleh nggak aku pergi.” Airmataku
berlinang tanpa bisa menjawab pertanyaan berat dari imam sekaligus tonggak
rumah tanggaku. Tapi aku tak punya pilihan lain.
Dengan rasa berat hati kulepas dia
mencari nafkah demi keutuhan keluarga. Komunikasi berjalan lancar, telepon
seminggu sekali membantu jarak terbentang untuk sedikit terlipat. Cukup sebagai
hiburan dan memupuk harapan. Rindu? Tentu saja tak mampu terkatakan, hanya doa
yang terucapkan senantiasa.
Satu tahun berlalu, buah hatiku sudah
mampu berjalan hilir mudik untuk membuat ulah yang aneh sekaligus menyengkan.
Bahagia sangat.
“Warni ini ada telpon. Cepat
diangkat.” Mamak membawa handphone yang terus berdering. “Halo...
asalamu’alaikum. Siapa ini ya, maaf?”
“Wa alaikum salam. Maaf apakah ini Ibu
Warni? Saya Iwan, teman kerja Kang Darwis di Papua.”
“Iya. Ada apa ya?”
“Maaf, Bu. Saya mau mengabarkan
bahwa.” Jeda itu membuatku menjadi tak enak hati rasanya. Firasatku buruk.
“Begini. Saat ini Kang Darwis sudah
meninggal. Terkena tembakan oleh orang yang tidak dikenal semalam di tempat
kerjanya. Jenazahnya akan segera diterbangkan esok hari.”
Bumiku bergoncang hebat. Tak mampu
lagi berdiri semuanya hanya gelap. Selamanya rinduku tak akan pernah bertepi.
Tiada lagi pengisi lara hati ini. Separuh nyawaku telah pergi bersamanya.
Nusakambangan,
28 Juni 2014.
**********************************************************************
No comments:
Post a Comment