Wednesday, September 10, 2014

KERINDUAN TIADA AKHIR



KERINDUAN TIADA AKHIR
By: Mutiara   Sakha


Matahari  siang membakar wajah kotaku yang terletak di ujung  selatan propinsi  Jawa Tengah, Cilacap sebauh kota industri yang sangat dekat dengan pulau Nusakambangan. Sebuah pulau terapung yang terdengar menyeramkan karena banyaknya Lembaga Pemasyarakatan  berdiri angkuh di dalamnya. Dibalik kegarangan pulau bui itu sebenarnya  memendam pesona pantai pasir putih yang indah nan mempesona, pantai Permisan. Hanya saja jalanan yang jauh dari mulus telah menjadikannya enggan terjamah. Heem.... pulau misteri dengan hutan dan hewan setengah perawan turut menjadikannya penuh rahasia hingga sekarang.
“Warti, ayuh cepetan sih. Keburu  telat maning kita nanti. Kamu sih mandinya kelamaan melulu, bete tahu nungguin terus. Huh...” Suti, sahabat setiaku ini ngomel panjang pendek sambil melirik dengan gemas.
“Ya. Pangapura lah, Yu...Aja ngomel baen. Mengko ayune ilang lho. Kepriben jajal?” Aku menatap matanya yang lebar bak jengkol mentah itu.
Wis ra usah ngerayu maning. Coba aja kalau kita telat lagi bakal babak belur kena hukuman sama Miss. Anna. Pelajaran bahasa inggris itu menyenangkan, sayang gegara dosen killer  jadi nyebelin.”
“Ya udah sabar ajalah. Orang sabar itu disayang pacar, eh... salah  dicintai sama Alloh. Betewe udah selesai belum tuh PR yang kemaren? Loh kok motornya goyang gini ya? Gimana ini? Turun dulu, stop.”
“Waduh kempes nih, War. Mana tambal ban nggak ada lagi. Habis deh kita dibantai sama dosen. Huff.... matahari  kian garang aja nih rasanya membakar ubun-ubun. Derita kita berlipat.”
“Udah   jangan ngomel lagi. Kita dorong aja ke tambal ban terdekat di depan sana.”
“Ayo yang kuat dorongnya. Berat banget loh. Kaya lagi nyeret kebo aja.”
“Iya ini juga lagi usaha, secara gitu loh mahasiswi secantik aku kok dorong motor. Lemes pastinya.” Kuharap ada Pangeran penolong datang hari ini. Ngayal super tinggi.
Malam telah menjelang, hewan-hewan bergegas mencari kehangatan  di sarangnya, demikian pula hatiku yang senantiasa hangat terisi dengan selaksa cinta nan bergelora melebihi dahsyatnya ombak pantai selatan.
“Minum dulu, Kang Darwis. Mumpung masih hangat kopinya. Ada pegangannya juga loh. Pisang goreng kepok dari kebun depan rumah kita.”
“Makasih, Warti sayang. Pasti manis, bikinan istri tercinta.” Senyum teduh itu kini mengisi hari-hariku sejak tiga bulan yang lalu. Ya, dialah pangeran yang telah datang menolong untuk menambal ban motorku beberapa waktu yang lalu. Pangeran itu adalah pemilik bengkel motor yang lumayan ramai di kotaku.
Kami menikah segera setelah beberapa saat ta’aruf singkat, Kang Darwis melamarku. Terkadang sulit dipercaya bahwa aku sudah menyempurnakan separuh agama ini. Dalam tempo yang sesingkat- singkatnya dan dengan cara yang diridhoi-Nya.
“Kang, Kang  Darwis. Aduh celaka. Gimana ini?” Tiba-tiba saja Parmin pegawai di bengkel suamiku datang dengan wajah bingung pucat pasi.
“Ehh.. ada apa Parmin.  Ada apa ini? Duduk dulu jangan panik tho. Warti tolong ambilkan air putih.”
Setelah meneguk habis  minumannya lelaki kurus berambut keriting itu menghela nafas pelan. “Anu... itu, Kang. Anu bengkel kita terbakar. Ayo kita kesana sekarang?!”
“Astagfirullah. Ya Rabbi. Kenapa bisa begitu.” Bergegas Kang Darwis  berlari mencari kunci mobil dan pergi.
Aku hanya bisa cemas memandangi mereka berdua. “Ya Malik. Tuhan  yang Maha kaya selamatkanlah apa yang telah Kau titpkan kepada kami sebagaimana kehendak-Mu,” air mataku menetes perlahan. Kulangkahkan kaki untuk menunaikan panggilan-Nya.  Pedih.
Tengah malam terdengar suara mobil memasuki garasi, letakkan Al Qur’an di atas meja, bergegas membuka pintu.
“Asalamu’alaikum. Belum tidur, Warti ? Jangan takut sesungguhnya Alloh bersama kita. Ingat  calon anak kita, kasihan dia kalau kamu kurang tidur.”
“Wa alaikum salam,  Kang. Kepriwe? Nggak apa-apa tho? Bengkelnya selamat?”
“Kamu yang sabar ya. Insha Alloh ini cobaan, bengkel kita habis tapi rahmat-Nya nggak akan pernah  habis.”
“Iya, Kang. Asal bersamamu tak ada artinya semua cobaan ini.”
Sebulan berlalu tanpa ada yang bisa dikerjakan, modal  kami habis untuk makan. Mobilpun sudah terjual. Dalam kebingungan  ada seorang tetangga yang mengajak Kang Darwis untuk bekerja di Papua. Perusahaan asing itu membutuhkan tenaga sopir sekaligus mekanik, kemampuan yang pas buat suamiku.
“Piye. Boleh nggak aku pergi.” Airmataku berlinang tanpa bisa menjawab pertanyaan berat dari imam sekaligus tonggak rumah tanggaku. Tapi aku tak punya pilihan lain.
Dengan rasa berat hati kulepas dia mencari nafkah demi keutuhan keluarga. Komunikasi berjalan lancar, telepon seminggu sekali membantu jarak terbentang untuk sedikit terlipat. Cukup sebagai hiburan dan memupuk harapan. Rindu? Tentu saja tak mampu terkatakan, hanya doa yang terucapkan senantiasa.
Satu tahun berlalu, buah hatiku sudah mampu berjalan hilir mudik untuk membuat ulah yang aneh sekaligus menyengkan. Bahagia sangat.
“Warni ini ada telpon. Cepat diangkat.” Mamak membawa handphone yang terus berdering. “Halo... asalamu’alaikum. Siapa ini ya, maaf?”
“Wa alaikum salam. Maaf apakah ini Ibu Warni? Saya Iwan, teman kerja Kang Darwis di Papua.”
“Iya. Ada apa ya?”
“Maaf, Bu. Saya mau mengabarkan bahwa.” Jeda itu membuatku menjadi tak enak hati rasanya. Firasatku buruk.
“Begini. Saat ini Kang Darwis sudah meninggal. Terkena tembakan oleh orang yang tidak dikenal semalam di tempat kerjanya. Jenazahnya akan segera diterbangkan esok hari.”
Bumiku bergoncang hebat. Tak mampu lagi berdiri semuanya hanya gelap. Selamanya rinduku tak akan pernah bertepi. Tiada lagi pengisi lara hati ini. Separuh nyawaku telah pergi bersamanya.

Nusakambangan,   28  Juni 2014.
**********************************************************************

No comments:

Post a Comment