Hidayah Terindah
By : Mutiara Sakha
Matahari masih malu-malu menampakkan
wajahnya ketika aku dan kawa-kawan berjalan ke terminal untuk mencari angkutan kota atau dokar ke
sekolah yang terletak di ujung barat sekitar tujuh kilometer. Sudah menjadi kebiasaan setiap pagi
kami berempat selalu pergi bersama. Sebenarnya naik sepedapun bisa dilakukan
akan tetapi orang tuaku tak mau
membelikan sepeda entah mengapa. Walaupun bukan termasuk orang berada akan
tetapi setidaknya keluargaku bisa makan tiga kali sehari dan menyekolahkan
sampai Sekolah Menengah. Alhamdulillah aku bisa masuk ke sekolah negeri
sehingga menghemat biaya pendidikan yang harus ditanggung keluarga.
Mata pencaharian keluargaku adalah
berdagang kue di pasar, bisa di sebut sebagai home industri kecil-kecilan. Yah,
kedua orangtuaku memang harus bekerja keras agar kami tetap bisa bertahan
hidup. Dengan kondisi serba terbatas dan
penuh keprihatinan itulah kutanamkan semangat
belajar yang tinggi. Ya, aku harus bisa kuliah dan menjadi sarjana agar bisa menyenangkan kedua
orangtua.
Hiruk pikuk terminal pagi ini sudah
mulai menggeliat, para calo angkutan kota sibuk berteriak mencari penumpang
demikian pula dokar alias kereta kuda wara wiri menawarkan jasa. Kami
memutuskan untuk naik angkot karena tentu saja lebih cepat sampai tujuan.
Apalagi pengalaman yang lalu ketika naik dokar sepulang dari sekolah tiba-tiba
saja kudanya mengamuk. Panik dan bingung
para penumpang dokar pada waktu itu. Alhamdulillah saja Pak Kusir pandai
mengendalikan kuda agar baik- baik jalannya heew heww... Jadi ingat lagu waktu
Taman Kanak-kanak dahulu.
Akhirnya kami sampai di sekolah tepat
waktu, nggak kebayang khan kalau sampai telat bisa-bisa cukup berdiri di luar
kelas. Apalagi hari ini, aku hadir
dengan penampilan baru yang apa adanya. Yah, hari ini juga aku memutuskan untuk berhijab, tanpa
bekal yang memadai maka dengan baju
serta rok lengan pendek berkaus kaki panjang. Kebayang gimana culunnya aku.
Tapi keputusanku sudah bulat melebihi bulatnya bulan kala purnama penuh. Aku
memang merasa seratus kali lebih cantik, tenang serta damai dengan baju takwa
ini walaupun masih menggelikan.
“Ahlan wa sahlan ya ahlal kubur,” kata
seorang teman yang tak kutahu namanya.
Tak apa semua pasti akan ada tantangannya. Kuterima dengan lapang dada
seluas Istora Senayan, bagiku everything
is ok!! Perasaan percaya diri ini semakin mendekatkanku kepada kebenaran
hakiki yang hanya menjadi hak prerogatif Alloh SWT. Jika seseorang sudah berada
di jalan-Nya apalagi yang harus ditakuti?
Seharian diiringi tatapan aneh dari
para guru dan teman satu sekolah tidaklah membuatku berkecil hati. Rasa bangga
tetap mengalir deras melebihi aliran sungai saat sedang banjir. Kutatap hari
depan ceria bersama datangnya tantangan esok pagi.
Sampai di rumah, kulatakkan tas di
meja bergegas berganti baju, sekali lagi aku juga bingung karena belum punya
baju panjang. Akhirnya naluri bonek keluar lagi ku ambil sarung Bapak sebagai
bawahan plus kaos lengan panjang. Jilbabnya? Tentu saja memakai jilbab yang
tadi kukenakan di sekolah. Lucuuu ? Ya, pastinya. Toh aku tetap tak peduli.
Orangtuaku memang sama sekali tak
setuju dengan keputusanku untuk berhijab, akan tetapi mereka hanya diam. “
Malu-maluin, pakai baju apa sih kamu ini, “ kata Mamak. Aku hanya bisa diam
tanpa bisa berkata-kata, hanya sedih rasanya. Seandainyapun harus pergi dari
rumah pasti kujalani. Semoga dikuatkan oleh-Nya.
Aku harus menjadi diriku sendiri saat
ini, keinginan ini memang sudah lama terpendam, jauh setelah lulus SMP sebenarnya pesantren adalah
tujuanku tetapi lagi-lagi orangtua tidak mengijinkan.
“Pakai jilbab sih boleh saja tapi
jangan terlalu lebar, yang biasa saja. Orangtuamu menyuruh Paklik datang untuk
menasihati. Mereka keberatan. Tapi yah, itu sudah menjadi hak kamu untuk
menjalani agama sesuai dengan syariat yang benar.” Panjang kali lebar sama
dengan sabar ketika Saudara berdatangan
memberikan wejangan.
Tantangan demi cemooh yang datang
menghampiri membuatku kuat dan semakin yakin bahwa Alloh semakin sayang padaku.
Bahkan ketika seorang anak kecil tetanggaku yang beragama lain
mengatakan”Makanya jangan pakai pakaian seperti itu, jadinya diomongin
orang,”celotehnya nyebelin. Huff..... Aku justru jatuh iba padanya, seorang
anak yang cantik akhirnya jauh dari fitrohnya yang suci.
“Sesungguhnya setiap anak lahir dalam
keadaan fitroh ( islam ) akan tetapi orangtuanyalah yang akan mengubahnya
menjadi majusi atau nasrani,” suara seorang ustad di radio mengingatkanku pada gadis kecil itu. Tapi hidayah itu ada
ditangan-Nya entah apa yang akan terjadi tak seorangpun tahu.
“Mak, aku minta jilbab yang baru ya.
Masa cuma punya dua jilbab, bahkan yang satupun pinjaman dari teman.”
“Sudah itu saja cukup,” kata Mamak
singkat.
Sedih? Pilu? Tentu saja tapi aku tak akan mundur. Never give up. Justru dengan kejadian ini semakin membuatku
tertantang lagi. Dengan mengikuti pengajian putri setiap minggu telah membuatku
mantap dalam kebenaran ini.
“Mba, foto dalam ijazah besok tidak
boleh pakai jilbab loh,” kata Riana teman sekelas.
“Apa? Yang bener aja? Terus gimana
dong? Kita kudu lepas jilbab?”
“Iya, begitulah. Yang penting kita
lulus dulu aja. Gimana kita ga bisa melawan kebijakan pemerintah bukan?”
“Ya, Alloh. Ampuni segala
ketidakberdayaan ini,” kataku lemah.
Pada akhirnya semaunya harus sesuai
aturan negeri ini. Foto dalam ijazahku tidak berhijab.
Man jadda wa jadda. Sesungguhnya setiap orang yang mengaku beriman
akan mendapatkan ujian. Esok harus lebih baik daripada hari ini. Menjaga
hidayah untuk tetap istiqomah adalah jalan yang lebih berat dan berliku, semoga
Dia Sang Pemilik Matahari selalu
menjagaku dalam kasih sayang-Nya. Forever!!!
********************** *********The
end********************************
No comments:
Post a Comment