Wednesday, September 10, 2014

Hidayah Terindah



Hidayah Terindah

By : Mutiara Sakha



Matahari masih malu-malu menampakkan wajahnya ketika aku dan kawa-kawan berjalan ke terminal  untuk mencari angkutan kota atau dokar ke sekolah yang terletak di ujung barat sekitar  tujuh  kilometer. Sudah menjadi kebiasaan setiap pagi kami berempat selalu pergi bersama. Sebenarnya naik sepedapun bisa dilakukan akan tetapi orang tuaku  tak mau membelikan sepeda entah mengapa. Walaupun bukan termasuk orang berada akan tetapi setidaknya keluargaku bisa makan tiga kali sehari dan menyekolahkan sampai Sekolah Menengah. Alhamdulillah aku bisa masuk ke sekolah negeri sehingga menghemat biaya pendidikan yang harus ditanggung keluarga.
Mata pencaharian keluargaku adalah berdagang kue di pasar, bisa di sebut sebagai home industri kecil-kecilan. Yah, kedua orangtuaku memang harus bekerja keras agar kami tetap bisa bertahan hidup. Dengan kondisi  serba terbatas dan penuh keprihatinan itulah kutanamkan semangat  belajar yang tinggi. Ya, aku harus bisa kuliah dan menjadi  sarjana agar bisa menyenangkan kedua orangtua.
Hiruk pikuk terminal pagi ini sudah mulai menggeliat, para calo angkutan kota sibuk berteriak mencari penumpang demikian pula dokar alias kereta kuda wara wiri menawarkan jasa. Kami memutuskan untuk naik angkot karena tentu saja lebih cepat sampai tujuan. Apalagi pengalaman yang lalu ketika naik dokar sepulang dari sekolah tiba-tiba saja  kudanya mengamuk. Panik dan bingung para penumpang dokar pada waktu itu. Alhamdulillah saja Pak Kusir pandai mengendalikan kuda agar baik- baik jalannya heew heww... Jadi ingat lagu waktu Taman Kanak-kanak dahulu.
Akhirnya kami sampai di sekolah tepat waktu, nggak kebayang khan kalau sampai telat bisa-bisa cukup berdiri di luar kelas.  Apalagi hari ini, aku hadir dengan penampilan baru yang apa adanya. Yah, hari ini  juga aku memutuskan untuk berhijab, tanpa bekal yang memadai maka  dengan baju serta rok lengan pendek berkaus kaki panjang. Kebayang gimana culunnya aku. Tapi keputusanku sudah bulat melebihi bulatnya bulan kala purnama penuh. Aku memang merasa seratus kali lebih cantik, tenang serta damai dengan baju takwa ini walaupun masih menggelikan.
“Ahlan wa sahlan ya ahlal kubur,” kata seorang teman yang tak kutahu namanya.  Tak apa semua pasti akan ada tantangannya. Kuterima dengan lapang dada seluas Istora Senayan, bagiku everything is ok!! Perasaan percaya diri ini semakin mendekatkanku kepada kebenaran hakiki yang hanya menjadi hak prerogatif Alloh SWT. Jika seseorang sudah berada di jalan-Nya apalagi yang harus ditakuti?
Seharian diiringi tatapan aneh dari para guru dan teman satu sekolah tidaklah membuatku berkecil hati. Rasa bangga tetap mengalir deras melebihi aliran sungai saat sedang banjir. Kutatap hari depan ceria bersama datangnya tantangan esok pagi.
Sampai di rumah, kulatakkan tas di meja bergegas berganti baju, sekali lagi aku juga bingung karena belum punya baju panjang. Akhirnya naluri bonek keluar lagi ku ambil sarung Bapak sebagai bawahan plus kaos lengan panjang. Jilbabnya? Tentu saja memakai jilbab yang tadi kukenakan di sekolah. Lucuuu ? Ya, pastinya. Toh aku tetap tak peduli.
Orangtuaku memang sama sekali tak setuju dengan keputusanku untuk berhijab, akan tetapi mereka hanya diam. “ Malu-maluin, pakai baju apa sih kamu ini, “ kata Mamak. Aku hanya bisa diam tanpa bisa berkata-kata, hanya sedih rasanya. Seandainyapun harus pergi dari rumah pasti kujalani. Semoga dikuatkan oleh-Nya.
Aku harus menjadi diriku sendiri saat ini, keinginan ini memang sudah lama terpendam, jauh  setelah lulus SMP sebenarnya pesantren adalah tujuanku tetapi lagi-lagi orangtua tidak mengijinkan.
“Pakai jilbab sih boleh saja tapi jangan terlalu lebar, yang biasa saja. Orangtuamu menyuruh Paklik datang untuk menasihati. Mereka keberatan. Tapi yah, itu sudah menjadi hak kamu untuk menjalani agama sesuai dengan syariat yang benar.” Panjang kali lebar sama dengan  sabar ketika Saudara berdatangan memberikan  wejangan.
Tantangan demi cemooh yang datang menghampiri membuatku kuat dan semakin yakin bahwa Alloh semakin sayang padaku. Bahkan ketika seorang anak kecil tetanggaku yang beragama lain mengatakan”Makanya jangan pakai pakaian seperti itu, jadinya diomongin orang,”celotehnya nyebelin. Huff..... Aku justru jatuh iba padanya, seorang anak yang cantik akhirnya jauh dari fitrohnya yang suci.
“Sesungguhnya setiap anak lahir dalam keadaan fitroh ( islam ) akan tetapi orangtuanyalah yang akan mengubahnya menjadi majusi atau nasrani,” suara seorang ustad di radio mengingatkanku  pada gadis kecil itu. Tapi hidayah itu ada ditangan-Nya entah apa yang akan terjadi tak seorangpun tahu.
“Mak, aku minta jilbab yang baru ya. Masa cuma punya dua jilbab, bahkan yang satupun pinjaman dari teman.”
“Sudah itu saja cukup,” kata Mamak singkat.
Sedih? Pilu? Tentu saja tapi  aku tak akan mundur. Never give up. Justru dengan kejadian ini semakin membuatku tertantang lagi. Dengan mengikuti pengajian putri setiap minggu telah membuatku mantap dalam kebenaran ini.
“Mba, foto dalam ijazah besok tidak boleh pakai jilbab loh,” kata Riana teman sekelas.
“Apa? Yang bener aja? Terus gimana dong? Kita kudu lepas jilbab?”
“Iya, begitulah. Yang penting kita lulus dulu aja. Gimana kita ga bisa melawan kebijakan pemerintah bukan?”
“Ya, Alloh. Ampuni segala ketidakberdayaan ini,” kataku lemah.
Pada akhirnya semaunya harus sesuai aturan negeri ini. Foto dalam ijazahku tidak berhijab.
Man  jadda wa jadda. Sesungguhnya setiap orang yang mengaku beriman akan mendapatkan ujian. Esok harus lebih baik daripada hari ini. Menjaga hidayah untuk tetap istiqomah adalah jalan yang lebih berat dan berliku, semoga Dia Sang Pemilik Matahari  selalu menjagaku dalam kasih sayang-Nya. Forever!!!

********************** *********The end********************************

No comments:

Post a Comment