KUGENGGAM HIDAYAH-MU
By: MUTIARA SAKHA
Dalam
keheningan malam tanpa cahaya bulan menerangi, angin berlalu tanpa suara. Sepi.
Mataku tak jua mampu terpejam walaupun terasa lelah bergelayut. Fikiran melayang dalam rerasa yang entah tak mampu lagi tereja.
“Ya Tuhanku.
Apa yang harus aku lakukan demi hasrat mulia ini. Sekian lama menjadi muslimah
akan tetapi tak sanggup untuk
memberanikan diri untuk berhijab.”
Sungguh reaksi kedua orangtuaku masih terngiang jelas.
“Kamu kenapa
sih pakai kerudung segala. Lihat tuh
anak pak Haji yang kaya raya saja nggak ada satupun berjilbab. Mereka hidup
biasa saja seperti orang lain. Malu
Bapak melihatmu.”
“Maaf, Pak.
Ini sudah menjadi keputusanku. Aturan yang benar dalam agama islam adalah bahwa wanita muslimah itu memang harus
menutup auratnya. Penampilan mereka harus berbeda dengan wanita jahiliyah yang
justru berlomba-lomba menampakkan anggota tubuhnya.”
“Tapi
kamu bisa beribadah dengan cara lain
tho? Nggak harus berpenampilan yang
aneh-aneh seperti itu. Apa kamu nggak malu sama gunjingan tetangga? Lagian itu
pakaian orang arab, kita orang indonesia nggak perlulah pakai yang begituan.”
“Iya, Nduk.
Dengar apa kata Bapakmu itu. Bakalan susah cari kerja. Mamak pengen kamu kuliah
agar bisa membeli semua apa yang nggak bisa orangtuamu berikan. Kami rela
bekerja keras apapun itu asal kamu bisa menjadi orang yang mandiri.”
“Iya, Mak.
Nduk ngerti banget tapi ini masalah keyakinan,
nggak bisa ditawar lagi. Kapan lagi aku bisa menjadi muslimah yang
kaffah?”
Mereka
terdiam dalam keresahan dan kecemasan. Memang pada waktu itu tahun 1991 belum banyak
muslimah yang berhijab. Bahkan ketika
aku bertandang ke jakartapun ada seorang
anak yang menyapaku “Asalamu’ alaikum Bu haji.” Ataupun ketika
seorang teman sekolah mengejek dengan kata-kata, “ Asalamu’ alaikum ya ahlal
kubur.”
Waktu berlalu
demikian cepat tanpa terasa, tidak atau dengan izin kedua orangtua aku tetap
meneguhkan hati untuk berhijab. Walaupun dengan bekal satu jilbab putih dan
satu jilbab warna abu-abu pinjaman dari
teman sekolah. Yah, akhirnya dia merelakan jilbab itu utukku. Sri Rahayu, aku
akan mengingatnya sebagai salah seorang teman yang selalu mampu menguatkan dan
mendukung keputusan berat ini walaupun semua orang menentangnya dengan segala
cara.
Ya Rahman, akan kugenggam hidayah terindah ini selama
nafas masih ada, naungi selalu jalan hidup dalam riha-Mu.
Nusakambangan,
29 Juni 2014
**********************************************************************
No comments:
Post a Comment