Wednesday, September 10, 2014

KUGENGGAM HIDAYAH-MU



KUGENGGAM HIDAYAH-MU
By: MUTIARA SAKHA

Dalam keheningan malam tanpa cahaya bulan menerangi, angin berlalu tanpa suara. Sepi. Mataku tak jua mampu terpejam walaupun  terasa lelah bergelayut. Fikiran melayang dalam  rerasa yang entah tak mampu lagi tereja.
“Ya Tuhanku. Apa yang harus aku lakukan demi hasrat mulia ini. Sekian lama menjadi muslimah akan tetapi tak  sanggup untuk memberanikan diri untuk berhijab.”  Sungguh reaksi kedua orangtuaku masih terngiang jelas.  
“Kamu kenapa sih pakai kerudung segala. Lihat  tuh anak pak Haji yang kaya raya saja nggak ada satupun berjilbab. Mereka hidup biasa saja seperti orang lain. Malu  Bapak melihatmu.”
“Maaf, Pak. Ini sudah menjadi keputusanku. Aturan yang benar dalam agama islam adalah  bahwa wanita muslimah itu memang harus menutup auratnya. Penampilan mereka harus berbeda dengan wanita jahiliyah yang justru berlomba-lomba menampakkan  anggota tubuhnya.”
“Tapi kamu  bisa beribadah dengan cara lain tho?  Nggak harus berpenampilan yang aneh-aneh seperti itu. Apa kamu nggak malu sama gunjingan tetangga? Lagian itu pakaian orang arab, kita orang indonesia nggak perlulah pakai yang begituan.”
“Iya, Nduk. Dengar apa kata Bapakmu itu. Bakalan susah cari kerja. Mamak pengen kamu kuliah agar bisa membeli semua apa yang nggak bisa orangtuamu berikan. Kami rela bekerja keras apapun itu asal kamu bisa menjadi orang yang mandiri.”
“Iya, Mak. Nduk ngerti banget tapi ini masalah keyakinan,  nggak bisa ditawar lagi. Kapan lagi aku bisa menjadi muslimah yang kaffah?”
Mereka terdiam dalam keresahan  dan kecemasan.  Memang pada waktu itu tahun 1991 belum banyak muslimah yang berhijab. Bahkan  ketika aku bertandang ke jakartapun ada  seorang anak  yang menyapaku  “Asalamu’ alaikum Bu haji.” Ataupun ketika seorang teman sekolah mengejek dengan kata-kata, “ Asalamu’ alaikum ya ahlal kubur.”
Waktu berlalu demikian cepat tanpa terasa, tidak atau dengan izin kedua orangtua aku tetap meneguhkan hati untuk berhijab. Walaupun dengan bekal satu jilbab putih dan satu jilbab  warna abu-abu pinjaman dari teman sekolah. Yah, akhirnya dia merelakan jilbab itu utukku. Sri Rahayu, aku akan mengingatnya sebagai salah seorang teman yang selalu mampu menguatkan dan mendukung keputusan berat ini walaupun semua orang menentangnya dengan segala cara.
Ya Rahman,  akan kugenggam hidayah terindah ini selama nafas masih ada, naungi selalu jalan hidup dalam riha-Mu.

                                    Nusakambangan, 29 Juni 2014
**********************************************************************

No comments:

Post a Comment