Wednesday, September 10, 2014

KETUPAT PETAKA



KETUPAT PETAKA
                                                                               By: MUTIARA SAKHA

“Tolong...!! Tolong..!!” Suara perempuan terdengar nyaring bercampur kepanikan.
“Ada orang  terjatuh, tolong...!!” Suara itu kembali menggema pada dinding dinding rumah yang beratap ijuk.
“Mana? Mana? Siapa yang celaka? Dimana?” Semakin riuh suara yang cemas dalam kebingungan.
“Ayo. Cepetan sini. Kita lihat.”
“Ya Allah. Ini  Salim. Cepat bawa ke rumah sakit?!” Kang Darmo, lelaki tua yang menjadi tetua kampung Cilawi ini segera memerintahkan anak-anak yang lebih muda bergerak cepat mencari bantuan. Kondisi Salim yang tidak bergerak  dengan wajah pias membiru itu telah cukup menunjukkan bukti kondisi yang  sangat darurat.
Pagi yang masih berselimut embun mendadak gempar dengan riuhnya suara lolongan minta tolong, orang-orang yang hendak berangkat ke sawah segera menghampiri arah suara. Dengan cekatan mereka segera membawa korban dengan tandu seadanya. Jalan  besar memanglah berjarak sekitar satu kilometer saja akan tetapi dengan kondisi tanah yang becek dan licin tetap saja menghambat perjalanan rombongan kecil itu.

***********************

“Bapak, jadi khan bikinin ketupat buat Gilar? Jangan lupa ambil janurnya hari ini ya. Pak?” Seorang anak berumur tujuh tahun berkepala plontos itu memandang bapaknya yang tengah bersiap menuju ke sawah.
“Insha Allah ya. Mudah-mudahan kita bisa bikin ketupat seperti tahun lalu.”
“Memangnya Bapak bisa ya? Bukanya Mamak yang pintar menganyam ketupat Jago  kesukaanku?”
“Ya nanti Bapak belajar. Pasti bisa.”
“Pak. Mamak kapan pulang? Katanya lebaran tahun ini mau pulang kampung? Puasanya hampir selesai, Pak?”

“Belum ada kabar dari Mamakmu, Gilar. Doakan saja semoga selamat sampai rumah ya? Nah Bapak mau ke sawah dulu. Menyiangi rumput yang tumbuh mengganggu padi kita. Gilar mau ikut?”
“Nggak. Aku mau main kelereng di rumah Mandar. Cepat pulang ya, Pak. Tak sabar pengen belajar menganyam ketupat juga.”
“Ya. Doakan Bapak selamat ya.”
“Kok Bapak bilang begitu? Memangnya mau pergi  ke mana?”
“Berdoa itu perlu, Nak. Doa anak yang shaleh itu didengar oleh Allah.”
“Memangnya aku anak shaleh? Kenapa?”
“Insha Allah. Karena kamu sudah pintar sholat dan mengaji. Bapak harap Gilar menjadi anak yang shaleh sehingga membanggakan orangtua.” Salim mengelus kepala tanpa rambut itu dengan hati sedih. Entah kenapa hari ini ada perasaan aneh yang mengatakan bahwa dirinya akan meninggalkan bocah polos ini selamanya.
“Astaghfirullah. Pertanda apa ini?” Bisiknya lirih.
“Iya. Aku doakan supaya Bapak selamat dan segera pulang untuk bikin ketupat bareng-bareng. Aamiin.”
“Aamiin. Terimakasih, Gilar. Kamu memang anak yang baik. Jangan main jauh-jauh dan ingat pesan Bapak selalu. Apa ya ?”
“Ingat dong. Jangan lupa sholat.” Mata jernihnya tersenyum girang.
“Pinter. Bapak pergi dulu. Asalamu’alaikum.”
“Wa ‘alaikum salam. Hati-hati ya, Pak.”
Kabut pagi hari itu mengiringi langkah Salim menuju sawah yang selama ini menjadi harapan hidup bagi mereka berdua. Istrinya Suminah telah beberapa tahun pergi mencari harapan yang lebih baik ke Malaysia mencari uang untuk membeli sepetak sawah yang kini menjadi sumber nafkah mereka.
Upah bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang tidak seberapa itu telah disimpan dengan sebaik-baiknya oleh Salim. Tak sepeserpun uang hasil jerih payah istrinya digunakan untuk keperluan sehari-hari. Rasa iba dan sayang kepada istri tercinta telah memaksanya untuk menahan kerinduan selama bertahun-tahun dan dia tetap setia.
Tak rela hatinya melepas sang istri untuk pergi jauh mengadu nasib dan nyawa. Akan tetapi keinginan Sumirah begitu kuat tanpa bisa dicegah lagi.

***********************

“Aku harus pergi, Kang. Demi masa depan anak kita satu-satunya. Gilar harus mendapatkan pendidikan yang pantas dan memadai. Apalah artinya lulusan Madrasah Tsanawiyah seperti aku ini. Tak ada harganya. Anak kita harus menjadi sarjana kelak. Tolong jangan halangi aku ya. Percayalah semuanya akan baik.”
“Tapi, Sum. Kasihan anak kita yang masih terlalu kecil untuk ditinggalkan. Dia butuh kasih sayang kamu. Apa jadinya aku ini nanti tanpamu?” Mata lelaki itu mulai mengembun basah namun perih.
“Insha Allah semua akan selalu dalam lindungannya, Kang. Kalau niat kita baik maka semua akan berakhir baik juga. Tolong jaga anak kita jadikan dia anak shaleh yang akan menjadi cahaya mata bagi orangtuanya.”
“Ya, Sum. Aku coba menjaganya sepenuh hatiku. Ingatlah bahwa Allah adalah sebaik-baik penjaga.”
Semilir angin  siang  itu telah menjadi saksi perpisahan penuh kepedihan bagi mereka berdua. Hubungan mereka berdua hanya  bisa dilakukan dengan surat-surat yang terkadang terhambat sampai ke tujuan, bahkan hilang karena daerah mereka yang sungguh terpencil.

*************************

Matahari senja telah  tergelincir menuju peraduannya, suara binatang malam mulai bersahutan. Burung hantu membelalakan matanya yang bulat bagaikan rembulan hitam. Seram, sunyi mencekam.
Gundukan tanah merah  itu masih basah, seorang perempuan kurus berkerudung hitam masih terpekur menumpahkan sesal dan rindu yang tak akan pernah lagi bermuara.  Sosok kekasih tercinta hanyalah tinggal bayangan kenangan manis. Memori tentang kesetiaan tiada terbatas dan tulusnya sebuah pengorbanan demi tegaknya mahligai rumah tangga.
“Aku sudah pulang, Kang. Sumirah pulang membawa uang untuk biaya anak kita kuliah kelak. Aku mengerti bahwa keinginanmu memiliki motor sangat kuat. Sayang mimpi itu tak pernah akan tersampaikan. Uang ini masih cukup untuk biaya pedidikan Gilar dan membelikan motor bekas untukmu. Tuhan telah memanggilmu lebih dahulu. Dan aku tak boleh menangis lagi seperti pesanmu bahwa Kakang telah bahagia bertemu Kekasih abadi.”
“Ayo. Mak. Kita pulang, biarkan bapak tidur tenang. Aku akan mendoakannya setiap hari agar kita bertemu di surga kelak.” Mata bening itu menatap Sumirah lekat.”Mak, Gilar tak mau makan ketupat lebaran lagi.”
Dan bulan pun menangis.

                                                           
                                                                                          Nusakambangan, 12 Juli 2014
****************************************************************

No comments:

Post a Comment