KETUPAT PETAKA
By: MUTIARA SAKHA
“Tolong...!!
Tolong..!!” Suara perempuan terdengar nyaring bercampur kepanikan.
“Ada
orang terjatuh, tolong...!!” Suara itu
kembali menggema pada dinding dinding rumah yang beratap ijuk.
“Mana?
Mana? Siapa yang celaka? Dimana?” Semakin riuh suara yang cemas dalam
kebingungan.
“Ayo.
Cepetan sini. Kita lihat.”
“Ya
Allah. Ini Salim. Cepat bawa ke rumah
sakit?!” Kang Darmo, lelaki tua yang menjadi tetua kampung Cilawi ini segera
memerintahkan anak-anak yang lebih muda bergerak cepat mencari bantuan. Kondisi
Salim yang tidak bergerak dengan wajah
pias membiru itu telah cukup menunjukkan bukti kondisi yang sangat darurat.
Pagi
yang masih berselimut embun mendadak gempar dengan riuhnya suara lolongan minta
tolong, orang-orang yang hendak berangkat ke sawah segera menghampiri arah
suara. Dengan cekatan mereka segera membawa korban dengan tandu seadanya.
Jalan besar memanglah berjarak sekitar
satu kilometer saja akan tetapi dengan kondisi tanah yang becek dan licin tetap
saja menghambat perjalanan rombongan kecil itu.
***********************
“Bapak,
jadi khan bikinin ketupat buat Gilar? Jangan lupa ambil janurnya hari ini ya.
Pak?” Seorang anak berumur tujuh tahun berkepala plontos itu memandang bapaknya
yang tengah bersiap menuju ke sawah.
“Insha
Allah ya. Mudah-mudahan kita bisa bikin ketupat seperti tahun lalu.”
“Memangnya
Bapak bisa ya? Bukanya Mamak yang pintar menganyam ketupat Jago kesukaanku?”
“Ya
nanti Bapak belajar. Pasti bisa.”
“Pak.
Mamak kapan pulang? Katanya lebaran tahun ini mau pulang kampung? Puasanya
hampir selesai, Pak?”
“Belum
ada kabar dari Mamakmu, Gilar. Doakan saja semoga selamat sampai rumah ya? Nah
Bapak mau ke sawah dulu. Menyiangi rumput yang tumbuh mengganggu padi kita.
Gilar mau ikut?”
“Nggak.
Aku mau main kelereng di rumah Mandar. Cepat pulang ya, Pak. Tak sabar pengen
belajar menganyam ketupat juga.”
“Ya.
Doakan Bapak selamat ya.”
“Kok
Bapak bilang begitu? Memangnya mau pergi
ke mana?”
“Berdoa
itu perlu, Nak. Doa anak yang shaleh itu didengar oleh Allah.”
“Memangnya
aku anak shaleh? Kenapa?”
“Insha
Allah. Karena kamu sudah pintar sholat dan mengaji. Bapak harap Gilar menjadi
anak yang shaleh sehingga membanggakan orangtua.” Salim mengelus kepala tanpa
rambut itu dengan hati sedih. Entah kenapa hari ini ada perasaan aneh yang
mengatakan bahwa dirinya akan meninggalkan bocah polos ini selamanya.
“Astaghfirullah.
Pertanda apa ini?” Bisiknya lirih.
“Iya.
Aku doakan supaya Bapak selamat dan segera pulang untuk bikin ketupat
bareng-bareng. Aamiin.”
“Aamiin.
Terimakasih, Gilar. Kamu memang anak yang baik. Jangan main jauh-jauh dan ingat
pesan Bapak selalu. Apa ya ?”
“Ingat
dong. Jangan lupa sholat.” Mata jernihnya tersenyum girang.
“Pinter.
Bapak pergi dulu. Asalamu’alaikum.”
“Wa ‘alaikum
salam. Hati-hati ya, Pak.”
Kabut
pagi hari itu mengiringi langkah Salim menuju sawah yang selama ini menjadi
harapan hidup bagi mereka berdua. Istrinya Suminah telah beberapa tahun pergi
mencari harapan yang lebih baik ke Malaysia mencari uang untuk membeli sepetak
sawah yang kini menjadi sumber nafkah mereka.
Upah
bekerja sebagai pembantu rumah tangga yang tidak seberapa itu telah disimpan
dengan sebaik-baiknya oleh Salim. Tak sepeserpun uang hasil jerih payah
istrinya digunakan untuk keperluan sehari-hari. Rasa iba dan sayang kepada
istri tercinta telah memaksanya untuk menahan kerinduan selama bertahun-tahun
dan dia tetap setia.
Tak rela
hatinya melepas sang istri untuk pergi jauh mengadu nasib dan nyawa. Akan
tetapi keinginan Sumirah begitu kuat tanpa bisa dicegah lagi.
***********************
“Aku
harus pergi, Kang. Demi masa depan anak kita satu-satunya. Gilar harus
mendapatkan pendidikan yang pantas dan memadai. Apalah artinya lulusan Madrasah
Tsanawiyah seperti aku ini. Tak ada harganya. Anak kita harus menjadi sarjana
kelak. Tolong jangan halangi aku ya. Percayalah semuanya akan baik.”
“Tapi,
Sum. Kasihan anak kita yang masih terlalu kecil untuk ditinggalkan. Dia butuh
kasih sayang kamu. Apa jadinya aku ini nanti tanpamu?” Mata lelaki itu mulai
mengembun basah namun perih.
“Insha
Allah semua akan selalu dalam lindungannya, Kang. Kalau niat kita baik maka
semua akan berakhir baik juga. Tolong jaga anak kita jadikan dia anak shaleh
yang akan menjadi cahaya mata bagi orangtuanya.”
“Ya,
Sum. Aku coba menjaganya sepenuh hatiku. Ingatlah bahwa Allah adalah
sebaik-baik penjaga.”
Semilir
angin siang itu telah menjadi saksi perpisahan penuh
kepedihan bagi mereka berdua. Hubungan mereka berdua hanya bisa dilakukan dengan surat-surat yang
terkadang terhambat sampai ke tujuan, bahkan hilang karena daerah mereka yang
sungguh terpencil.
*************************
Matahari
senja telah tergelincir menuju
peraduannya, suara binatang malam mulai bersahutan. Burung hantu membelalakan
matanya yang bulat bagaikan rembulan hitam. Seram, sunyi mencekam.
Gundukan
tanah merah itu masih basah, seorang
perempuan kurus berkerudung hitam masih terpekur menumpahkan sesal dan rindu
yang tak akan pernah lagi bermuara.
Sosok kekasih tercinta hanyalah tinggal bayangan kenangan manis. Memori
tentang kesetiaan tiada terbatas dan tulusnya sebuah pengorbanan demi tegaknya
mahligai rumah tangga.
“Aku
sudah pulang, Kang. Sumirah pulang membawa uang untuk biaya anak kita kuliah
kelak. Aku mengerti bahwa keinginanmu memiliki motor sangat kuat. Sayang mimpi
itu tak pernah akan tersampaikan. Uang ini masih cukup untuk biaya pedidikan
Gilar dan membelikan motor bekas untukmu. Tuhan telah memanggilmu lebih dahulu.
Dan aku tak boleh menangis lagi seperti pesanmu bahwa Kakang telah bahagia
bertemu Kekasih abadi.”
“Ayo.
Mak. Kita pulang, biarkan bapak tidur tenang. Aku akan mendoakannya setiap hari
agar kita bertemu di surga kelak.” Mata bening itu menatap Sumirah lekat.”Mak,
Gilar tak mau makan ketupat lebaran lagi.”
Dan
bulan pun menangis.
Nusakambangan,
12 Juli 2014
****************************************************************
No comments:
Post a Comment