Wednesday, September 10, 2014

SELAKSA PENGORBANAN



SELAKSA PENGORBANAN

 By: Mutiara Sakha



Gema takbir bertalu-talu  membuat suasana hati menjadi cerah ceria sekaligus haru. Kukenakan kerudung  kerudung putih terbaik  sebagai tanda bersyukur atas hari kemenangan seluruh umat islam di dunai.
“Bunda, cepetan dong keburu mulai tuh sholatnya. Ihh apalagi tuh mbak  lama banget sih kalau dadan, udah tinggalin aja deh.” Ribut nian suara Imel anak bungsuku mengajak semua orang bergegas.
“Tuh, udah pada berangkat semua khan! Yaa... pada lelet semua sih. Mendingan aku jalan kaki aja deh,” sambil cemberut Imel mulai melangkah sendirian.
“Biarin aja kalau Imel mau berangkat sendiri. Tuh barengan tetangga yang lain. Lagipula khan masjinya nggak jauh.” Ayah berusaha menengahi.
“Eh, jangan dong,Yah. Bunda nggak mau sholat ke masjid dekat jalan itu. Lebih nyaman kalau kita ke lapangan Krida saja. Lebih enak tempatnya.”
“Iya tuh bener kata Bunda, sempit sih kalau di masjid. Mana dekat banget sama jalan besar lagi,” Ois anak sulungku menyahut.
“Ya sudah jangan ribut, mari kita berangkat. Bunda boncengin Imel. Yang lain biar sama Ayah.”
“Weeekk.... asyik aku sama Bunda,” leletan lidah si Bungsu membuat kakaknya mendengus sebal.
“Halah, Imel kaya anak TK aja. Apa-apa maunya sama Bunda, malu tahu?!  Balqis anak keduaku meledek.

Seperti biasanya kejadian rebutan Bunda masih menjadi santapan sehari-hari. Hanya si Sulung yang  menjelang remaja kelihatan tidak begitu peduli.
Tiba di lapangan kami mencari tempat yang masih kosong, rupanya shaf yang ada tidak teratur. Jadi bingung mau memilih yang mana. Akhirnya  kuputuskan untuk mangambil shaf depan yang hampir penuh.
Sholat kali ini cukup khidmat. Bacaan imam yang syahdu membuat para jama’ah larut dalam khusyu’. Saat ceramah tiba matahari sudah tinggi akan tetapi banyak jama’ah yang tetap tinggal karena isi ceramah yang begitu  menarik.
Penceramah  itu berkata “Ada beberapa hikmah yang dapat dipetik dari Idul Adha ini antara lain adalah:  mengenang ujian kecintaaan dari Allah kepada Nabi Ibrahim. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [Qur’an Surat Ash Shaffat : 102 - 107]
Demikian panjang lebar  uraian tentang pengorbanan dari dua orang Nabiyullah di masa lalu yang menjadi tonggak ibadah haji dan kurban hingga sekarang. Begitu menggagumkan.  Subhanalloh. Sebuah pengorbanan yang luar biasa. Aku  menjadi teringat akan pengorbanan yang belum seberapa ini. Dengan susah payah  aku dan suami mencari cara agar setiap tahun bisa berkurban satu ekor kambing. Alhamdulillah, selalu ada jalan yang bisa kami tempuh.  Entah bagaimana. Dengan penghasilan yang tidak seberapa aku tetap berusaha untuk menyisihkan  rupiah demi rupiah untuk bisa berkurban.
            Keyakinan itu selalu datang padaku  bahwa setiap niat yang baik maka Alloh  akan selalu memberikan jalan. Bahwa sesungguhnya  segala sesuatu itu tergantung kepada niat, jika  seseorang mempunyai niat yang baik maka akan baik pula  hasilnya. Siapa menanam maka akan menuai.
            Pengorbanan yang berupa materi ini tidaklah sebanding dengan pengorbanan nabi Ibrahim yang ikhlas hati mengorbankan anaknya yang shaleh. Semangat itulah yang selalu aku ingat dan sekaligus menjadi penyelamat.
            “Eh, kata ustad kemaren kalau suami istri bekerja maka paling tidak setiap tahunnya kurban dua ekor kambing  lho.” Seorang teman sejawat mengatakan suatu hal yang membuatku tercenung dan sedih. Bagaimanapula aku bisa berkurban dua ekor kambing sedangkan untuk satu ekor kambing saja kesulitan. Ah, tetapi aku yakin kalau Alloh itu Maha Kaya. Adalah mudah bagi-Nya untuk mengabulkan doaku untuk bisa selalu berkurban walaupun dengan satu ekor kambing saja. Lebih bersyukur lagi kalau bisa dua ekor sekaligus.
            “Bunda nanti aku nggak mau makan daging kurban ah, kasihan loh ngelihatnya. Apalagi kalau lihat darahnya hiii... takut,” anaku yang paling bungsu memang paling tidak suka daging merah. Wajahnya menyiratkan kecemasan dan iba. Dia hanya menyukai ikan dan ayam. Apalagi untuk makan buah, sama sekali tidak mau kecuali di sekolah karena masih segan dengan ustadahnya.
            “Ya. Sudah nanti kita bagikan untuk tetangga aja ya dagingnya. Karena dengan berkurban kita dapat membuat orang lain bahagia.” Aku tersenyum sambil menatapnya jenaka.
            Ya Alloh, mampukanlah kami untuk selalu berkurban dengan hanya memohon ridho-Mu semata. Serta jadikanlah anak-anaku anak yang shaleh shalehah. Jauhkanlah aku dan keluargaku dari api neraka. Amiinn.
********************** *********The end********************************

No comments:

Post a Comment