SELAKSA
PENGORBANAN
By:
Mutiara Sakha
Gema takbir bertalu-talu membuat suasana hati menjadi cerah ceria
sekaligus haru. Kukenakan kerudung
kerudung putih terbaik sebagai
tanda bersyukur atas hari kemenangan seluruh umat islam di dunai.
“Bunda, cepetan dong
keburu mulai tuh sholatnya. Ihh apalagi tuh mbak lama banget sih kalau dadan, udah tinggalin
aja deh.” Ribut nian suara Imel anak bungsuku mengajak semua orang bergegas.
“Tuh, udah pada berangkat
semua khan! Yaa... pada lelet semua sih. Mendingan aku jalan kaki aja deh,”
sambil cemberut Imel mulai melangkah sendirian.
“Biarin aja kalau Imel mau
berangkat sendiri. Tuh barengan tetangga yang lain. Lagipula khan masjinya
nggak jauh.” Ayah berusaha menengahi.
“Eh, jangan dong,Yah.
Bunda nggak mau sholat ke masjid dekat jalan itu. Lebih nyaman kalau kita ke
lapangan Krida saja. Lebih enak tempatnya.”
“Iya tuh bener kata Bunda,
sempit sih kalau di masjid. Mana dekat banget sama jalan besar lagi,” Ois anak
sulungku menyahut.
“Ya sudah jangan ribut,
mari kita berangkat. Bunda boncengin Imel. Yang lain biar sama Ayah.”
“Weeekk.... asyik aku sama
Bunda,” leletan lidah si Bungsu membuat kakaknya mendengus sebal.
“Halah, Imel kaya anak TK
aja. Apa-apa maunya sama Bunda, malu tahu?!
Balqis anak keduaku meledek.
Seperti biasanya kejadian
rebutan Bunda masih menjadi santapan sehari-hari. Hanya si Sulung yang menjelang remaja kelihatan tidak begitu peduli.
Tiba di lapangan kami
mencari tempat yang masih kosong, rupanya shaf yang ada tidak teratur. Jadi
bingung mau memilih yang mana. Akhirnya
kuputuskan untuk mangambil shaf depan yang hampir penuh.
Sholat kali ini cukup
khidmat. Bacaan imam yang syahdu membuat para jama’ah larut dalam khusyu’. Saat
ceramah tiba matahari sudah tinggi akan tetapi banyak jama’ah yang tetap
tinggal karena isi ceramah yang begitu
menarik.
Penceramah itu berkata “Ada beberapa hikmah yang dapat
dipetik dari Idul Adha ini antara lain adalah:
mengenang ujian kecintaaan dari Allah kepada Nabi Ibrahim. Maka
tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku,
kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku
termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan
Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan
mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami
tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” [Qur’an Surat Ash Shaffat
: 102 - 107]
Demikian
panjang lebar uraian tentang pengorbanan
dari dua orang Nabiyullah di masa lalu yang menjadi tonggak ibadah haji dan
kurban hingga sekarang. Begitu menggagumkan. Subhanalloh. Sebuah
pengorbanan yang luar biasa. Aku menjadi
teringat akan pengorbanan yang belum seberapa ini. Dengan susah payah aku dan suami mencari cara agar setiap tahun
bisa berkurban satu ekor kambing. Alhamdulillah, selalu ada jalan yang bisa
kami tempuh. Entah bagaimana. Dengan penghasilan
yang tidak seberapa aku tetap berusaha untuk menyisihkan rupiah demi rupiah untuk bisa berkurban.
Keyakinan
itu selalu datang padaku bahwa setiap
niat yang baik maka Alloh akan selalu
memberikan jalan. Bahwa sesungguhnya
segala sesuatu itu tergantung kepada niat, jika seseorang mempunyai niat yang baik maka akan
baik pula hasilnya. Siapa menanam maka
akan menuai.
Pengorbanan
yang berupa materi ini tidaklah sebanding dengan pengorbanan nabi Ibrahim yang
ikhlas hati mengorbankan anaknya yang shaleh. Semangat itulah yang selalu aku
ingat dan sekaligus menjadi penyelamat.
“Eh,
kata ustad kemaren kalau suami istri bekerja maka paling tidak setiap tahunnya
kurban dua ekor kambing lho.” Seorang
teman sejawat mengatakan suatu hal yang membuatku tercenung dan sedih.
Bagaimanapula aku bisa berkurban dua ekor kambing sedangkan untuk satu ekor
kambing saja kesulitan. Ah, tetapi aku yakin kalau Alloh itu Maha Kaya. Adalah
mudah bagi-Nya untuk mengabulkan doaku untuk bisa selalu berkurban walaupun
dengan satu ekor kambing saja. Lebih bersyukur lagi kalau bisa dua ekor sekaligus.
“Bunda
nanti aku nggak mau makan daging kurban ah, kasihan loh ngelihatnya. Apalagi
kalau lihat darahnya hiii... takut,” anaku yang paling bungsu memang paling
tidak suka daging merah. Wajahnya menyiratkan kecemasan dan iba. Dia hanya menyukai
ikan dan ayam. Apalagi untuk makan buah, sama sekali tidak mau kecuali di
sekolah karena masih segan dengan ustadahnya.
“Ya.
Sudah nanti kita bagikan untuk tetangga aja ya dagingnya. Karena dengan
berkurban kita dapat membuat orang lain bahagia.” Aku tersenyum sambil
menatapnya jenaka.
Ya
Alloh, mampukanlah kami untuk selalu berkurban dengan hanya memohon ridho-Mu
semata. Serta jadikanlah anak-anaku anak yang shaleh shalehah. Jauhkanlah aku
dan keluargaku dari api neraka. Amiinn.
********************** *********The
end********************************
No comments:
Post a Comment