Wednesday, September 10, 2014

SEDEKAH TERINDAH



SEDEKAH TERINDAH

By: Mutiara Sakha



            Suatu malam di bulan ramadhan, saat  kaum muslimin sedang khusyu’ sholat taraweh di masjid besar suasana desa menjadi sepi dan khidmat. Rumah penduduk kosong ditinggalkan oleh penghuninya.
Sesosok bayangan mengendap-endap menuju jendela samping sebuah rumah besar yang tidak tertutup. Mungkin karena lupa atau terburu-buru untuk ikut jama’ah sholat taraweh  pemilik rumah membiarkan  jendela besar itu terbuka lebar-lebar.
            “ Wah, mungkin ini memang sudah menjadi rejeki aku sehingga  malam ini bisa mencuri tanpa kesulitan. Anak-anaku bisa merayakan lebaran seperti hanya tetangga yang lain.”
Suara jangkrik memecah malam, selebihnya hanya desau angin yang menggigilkan raga bagi sesiapa yang berada di luar rumah.  Akan tetapi bagi sosok bayangan hitam bersarung dengan penutup muka warna gelap itu tak akan pernah dirasakan. Yang ada hanya rasa iba dan sedih di pelupuk mata mengingat anaknya yang sedang sakit dan terus meminta baju baru untuk merayakan lebaran esok pagi.
            “Aku harus berani. Tak tega rasanya melihat Doni yang semakin kurus dan pucat. Aku harus bisa mendapatkan sesuatu malam ini. Demi anaku.”
            Sosok  bayangan itu semakin merangkak naik ke jendela lalu dengan bersusah payah berusaha mencari sesuatu untuk melompat ke dalam kamar.
Gubrak......... gubrak....!! Seekor kucing hitam besar berlari cepat keluar dari kamar. Meninggalakan suara yang gaduh.
Meong... meong...!!   
Dia terkejut ketika tanpa sengaja menginjak ekor kucing yang tertidur di atas lantai beralaskan karpet tebal. Gemetar gentar berpadu gigil ketakutan membuatnya hanya bisa terdiam terpaku sambil memegang dadanya yang kurus kering.
Matanya terbelalak seperti hampir terlepas dari kelopaknya. “ Aduh, tamatlah riwayatku sekarang. Pasti aku akan mati dikeroyok pemilik rumah ini.” Perlahan airmatanya jatuh menganaksungai teringat nasib anak-anak terkasih di rumah kardus miliknya. Mereka akan menjadi yatim piatu jika sampai dirinya tiada.
            Belum sempat kaki-kakinya beranjak terdengar suara riang anak-anak yang baru pulang dari masjid.
            “Asalamu’alaikum. Alhamdulillah udah sampai rumah lagi. Capek ya, Kak habis tadi imamnya cepet banget sih sholatnya. Kaya lagi dikejar orang sekampung aja,” Anis gadis kecil kelas lima Sekolah Dasar itu menggelembungkan pipinya yang putih.
            “Wa’alaikum salam sayang, eh anak Bunda sudah pada pulang ya? Lho kok malah manyun begitu ada apa?” Bunda Naily perempuan berwajah teduh itu bergegas keluar dari kamar mandi dan menghampiri kedua buah hatinya.
            “Itu Bunda, Adik marah-marah tadi imam sholatnya cepet banget,” Aida menjelaskan sambil meletakkan mukena di atas meja.”Aku juga nggak suka sih jadi nggak khusu’ gitu khan, Bun?”
            “Ya sudah nanti pahalanya ilang dong kalau nggak ikhlas gitu. Ayo semuanya segera sikat gigi dan tidur biar sahurnya  tepat waktu.”
Kedua gadis kecil itu segera beranjak ke kamar mandi untuk menggosok gigi.
Setelah  itu keduanya menuju ke kamar untuk beristirahat. Rasa kantuk telah lama menyerang bahkan ketika masih berada di masjid.
            “Waaa..... Bunda tolong.... iituu... apa?  Bunda takut ada orang di kamar.”
            “Bundaa....... Ayah. Cepetan kesini. Aida juga takut. Ada orang mati.....?!
Ayah dan Bunda berlarian masuk ke kamar anak-anak di sebelah kanan ruang tamu.            “Astagfirullah. Ya Alloh. Ada apa ini. Ayo keluar dulu semua. Biar Ayah yang memeriksanya. Jangan panik, tenang ya.”Ayah segera menarik tangan kedua anaknya dan menyuruh Bunda        untuk menyingkir ke ruang tamu menjaga Aida dan Anis yang menggigil pucat pasi.
Ada seseorang yang tergeletak di lantai kamar tidur. Ayah mendekatinya perlahan-lahan dan membuka penutup mukanya dengan hati-hati.
            “Inalillahi,  astaghfirullah,”Ayah terkejut setelah melihat muka sosok misterius itu. “Kasihan sekali orang ini, Bun. Dia seorang wanita tua. Sedang pingsan rupanya. Ayo mari kita baringkan ke atas tempat tidur.”
            “Tunggu. Apakah dia tidak berbahaya? Bagaimana kalau tiba-tiba saja terbangun dan menyerang kita?” Bunda menjawab dengan mimik khawatir.
            “Inshaallah tidak kok. Dia sedang tidak sadar. Cepat tolong Ayah untuk menyadarkan dia. Firasatku mengatakan bahwa orang ini tidak berbahaya. Terlepas dari dugaan untuk apa dia masuk ke rumah ini. Kita harus berprasangka baik.”
Mereka segera membawanya naik ke tempat tidur dan segera membalurkan minyak kayu putih ke seluruh tubuhnya. Sangat mengharukan, perempuan tua ini  sangat kurus tinggal tulang berbalut kulit yang hitam terbakar matahari. Sekilas nampak seperti seorang pengemis yang menderita kelaparan setiap harinya.
            “Dia mulai sadar, Bun. Anis takut.”
            “Nggak apa-apa, Nis. Tenang ya. Biar Bunda tanya baik-baik nanti. Jangan takut.”
            Perempuan itu membuka matanya  dengan muka pias seputih kapas. Tubuhnya terasa hangat dengan baluran minyak kayu putih. Kesadarannya mulai pulih. Dilihatnya beberapa orang asing yang telah menatapnya dengan rasa yang was-was. Tiba-tiba dia merasa harus segera berlari sejauh mungkin, ketakutan itu telah mencekiknya. Akan tetapi tubuhnya terlalu lemah untuk bergerak dan hanya air mata yang menjadi upaya terakhirnya saat ini. Ya, semoga mereka orang-orang baik yang tidak akan menyakitinya.
            “Ibu tenang saja, tidak usah takut. Ini minumlah teh hangat agar segera pulih. Kami tidak akan menyakiti. Saya Bunda. Ini Ayah dan anak-anak. Ibu akan aman di sini.”
Dengan ragu-ragu perempuan itu meminumnya. Hatinya sedikit lega melihat wajah-wajah teduh di sekelilingnya. Bahkan mereka tersenyum lega.
            “Saya mohon maaf karena telah lancang masuk kemari.” Bibirnya tergetar dalam keharuan. Alangkah mulia keluarga ini. “ Nama saya Sumi. Perempuan tua yang mengemis untuk memberi makan anak-anak di rumah kardus dekat rel kereta api. Sudikah Tuan dan Nyonya memaafkan saya? Dan saya kemari memang untuk mencuri demi sesuap nasi serta obat bagi anaku yang sedang sakit. Ampuni saya.”
Dadanya terasa sesak dan menyesal. Alhamdulillah. Alloh telah menghalanginya untuk mencuri. Selama hidupnya pantang sekali dia melakukan perbuatan tercela.
            “Baiklah Bu Sumi, kami hargai kejujuranmu. Sekarang mari menjenguk anak-anak. Kasian mereka. Bunda tolong siapkan makanan, pakaian dan apapun yang akan mereka butuhkan nantinya. Anak-anak berikan makanan dan mainan serta buku, baju kalian ya. Bukankan kalian sudah mengepaknya kemaren malam untuk di sumbangkan ke panti asuhan.”
            “Oke, Bos Besar. Dengan senang hati. Alloh pasti  memberi pahala yang besar karena kita suka bersedekah bukan.” Anis dan  Aida saling berpandangan.  Mereka yakin saat ini Tuhan Yang Maha Pengasih tengah tersenyum bangga..



Nusakambangan, 21 Juni 2014.        
**********************************************************************

No comments:

Post a Comment