SEDEKAH TERINDAH
By: Mutiara Sakha
Suatu
malam di bulan ramadhan, saat kaum
muslimin sedang khusyu’ sholat taraweh di masjid besar suasana desa menjadi
sepi dan khidmat. Rumah penduduk kosong ditinggalkan oleh penghuninya.
Sesosok bayangan mengendap-endap menuju jendela
samping sebuah rumah besar yang tidak tertutup. Mungkin karena lupa atau
terburu-buru untuk ikut jama’ah sholat taraweh
pemilik rumah membiarkan jendela
besar itu terbuka lebar-lebar.
“
Wah, mungkin ini memang sudah menjadi rejeki aku sehingga malam ini bisa mencuri tanpa kesulitan. Anak-anaku
bisa merayakan lebaran seperti hanya tetangga yang lain.”
Suara jangkrik memecah malam, selebihnya hanya
desau angin yang menggigilkan raga bagi sesiapa yang berada di luar rumah. Akan tetapi bagi sosok bayangan hitam
bersarung dengan penutup muka warna gelap itu tak akan pernah dirasakan. Yang
ada hanya rasa iba dan sedih di pelupuk mata mengingat anaknya yang sedang
sakit dan terus meminta baju baru untuk merayakan lebaran esok pagi.
“Aku
harus berani. Tak tega rasanya melihat Doni yang semakin kurus dan pucat. Aku
harus bisa mendapatkan sesuatu malam ini. Demi anaku.”
Sosok bayangan itu semakin merangkak naik ke
jendela lalu dengan bersusah payah berusaha mencari sesuatu untuk melompat ke
dalam kamar.
Gubrak......... gubrak....!! Seekor
kucing hitam besar berlari cepat keluar dari kamar. Meninggalakan suara yang
gaduh.
Meong... meong...!!
Dia terkejut ketika tanpa sengaja
menginjak ekor kucing yang tertidur di atas lantai beralaskan karpet tebal.
Gemetar gentar berpadu gigil ketakutan membuatnya hanya bisa terdiam terpaku
sambil memegang dadanya yang kurus kering.
Matanya terbelalak seperti hampir terlepas dari
kelopaknya. “ Aduh, tamatlah riwayatku sekarang. Pasti aku akan mati dikeroyok
pemilik rumah ini.” Perlahan airmatanya jatuh menganaksungai teringat nasib
anak-anak terkasih di rumah kardus miliknya. Mereka akan menjadi yatim piatu
jika sampai dirinya tiada.
Belum
sempat kaki-kakinya beranjak terdengar suara riang anak-anak yang baru pulang
dari masjid.
“Asalamu’alaikum.
Alhamdulillah udah sampai rumah lagi. Capek ya, Kak habis tadi imamnya cepet
banget sih sholatnya. Kaya lagi dikejar orang sekampung aja,” Anis gadis kecil
kelas lima Sekolah Dasar itu menggelembungkan pipinya yang putih.
“Wa’alaikum
salam sayang, eh anak Bunda sudah pada pulang ya? Lho kok malah manyun begitu
ada apa?” Bunda Naily perempuan berwajah teduh itu bergegas keluar dari kamar
mandi dan menghampiri kedua buah hatinya.
“Itu
Bunda, Adik marah-marah tadi imam sholatnya cepet banget,” Aida menjelaskan
sambil meletakkan mukena di atas meja.”Aku juga nggak suka sih jadi nggak
khusu’ gitu khan, Bun?”
“Ya
sudah nanti pahalanya ilang dong kalau nggak ikhlas gitu. Ayo semuanya segera
sikat gigi dan tidur biar sahurnya tepat
waktu.”
Kedua gadis kecil itu segera beranjak ke kamar
mandi untuk menggosok gigi.
Setelah itu
keduanya menuju ke kamar untuk beristirahat. Rasa kantuk telah lama menyerang
bahkan ketika masih berada di masjid.
“Waaa.....
Bunda tolong.... iituu... apa? Bunda takut
ada orang di kamar.”
“Bundaa.......
Ayah. Cepetan kesini. Aida juga takut. Ada orang mati.....?!
Ayah dan Bunda berlarian masuk ke kamar anak-anak di
sebelah kanan ruang tamu. “Astagfirullah.
Ya Alloh. Ada apa ini. Ayo keluar dulu semua. Biar Ayah yang memeriksanya.
Jangan panik, tenang ya.”Ayah segera menarik tangan kedua anaknya dan menyuruh
Bunda untuk menyingkir ke ruang
tamu menjaga Aida dan Anis yang menggigil pucat pasi.
Ada seseorang yang tergeletak di lantai kamar
tidur. Ayah mendekatinya perlahan-lahan dan membuka penutup mukanya dengan
hati-hati.
“Inalillahi, astaghfirullah,”Ayah terkejut setelah melihat
muka sosok misterius itu. “Kasihan sekali orang ini, Bun. Dia seorang wanita
tua. Sedang pingsan rupanya. Ayo mari kita baringkan ke atas tempat tidur.”
“Tunggu.
Apakah dia tidak berbahaya? Bagaimana kalau tiba-tiba saja terbangun dan
menyerang kita?” Bunda menjawab dengan mimik khawatir.
“Inshaallah
tidak kok. Dia sedang tidak sadar. Cepat tolong Ayah untuk menyadarkan dia.
Firasatku mengatakan bahwa orang ini tidak berbahaya. Terlepas dari dugaan
untuk apa dia masuk ke rumah ini. Kita harus berprasangka baik.”
Mereka segera membawanya naik ke tempat tidur dan
segera membalurkan minyak kayu putih ke seluruh tubuhnya. Sangat mengharukan, perempuan
tua ini sangat kurus tinggal tulang
berbalut kulit yang hitam terbakar matahari. Sekilas nampak seperti seorang
pengemis yang menderita kelaparan setiap harinya.
“Dia
mulai sadar, Bun. Anis takut.”
“Nggak
apa-apa, Nis. Tenang ya. Biar Bunda tanya baik-baik nanti. Jangan takut.”
Perempuan
itu membuka matanya dengan muka pias
seputih kapas. Tubuhnya terasa hangat dengan baluran minyak kayu putih.
Kesadarannya mulai pulih. Dilihatnya beberapa orang asing yang telah menatapnya
dengan rasa yang was-was. Tiba-tiba dia merasa harus segera berlari sejauh
mungkin, ketakutan itu telah mencekiknya. Akan tetapi tubuhnya terlalu lemah
untuk bergerak dan hanya air mata yang menjadi upaya terakhirnya saat ini. Ya,
semoga mereka orang-orang baik yang tidak akan menyakitinya.
“Ibu
tenang saja, tidak usah takut. Ini minumlah teh hangat agar segera pulih. Kami
tidak akan menyakiti. Saya Bunda. Ini Ayah dan anak-anak. Ibu akan aman di
sini.”
Dengan ragu-ragu perempuan itu meminumnya. Hatinya
sedikit lega melihat wajah-wajah teduh di sekelilingnya. Bahkan mereka
tersenyum lega.
“Saya
mohon maaf karena telah lancang masuk kemari.” Bibirnya tergetar dalam
keharuan. Alangkah mulia keluarga ini. “ Nama saya Sumi. Perempuan tua yang
mengemis untuk memberi makan anak-anak di rumah kardus dekat rel kereta api.
Sudikah Tuan dan Nyonya memaafkan saya? Dan saya kemari memang untuk mencuri
demi sesuap nasi serta obat bagi anaku yang sedang sakit. Ampuni saya.”
Dadanya terasa sesak dan menyesal. Alhamdulillah.
Alloh telah menghalanginya untuk mencuri. Selama hidupnya pantang sekali dia
melakukan perbuatan tercela.
“Baiklah
Bu Sumi, kami hargai kejujuranmu. Sekarang mari menjenguk anak-anak. Kasian
mereka. Bunda tolong siapkan makanan, pakaian dan apapun yang akan mereka butuhkan
nantinya. Anak-anak berikan makanan dan mainan serta buku, baju kalian ya.
Bukankan kalian sudah mengepaknya kemaren malam untuk di sumbangkan ke panti
asuhan.”
“Oke,
Bos Besar. Dengan senang hati. Alloh pasti
memberi pahala yang besar karena kita suka bersedekah bukan.” Anis
dan Aida saling berpandangan. Mereka yakin saat ini Tuhan Yang Maha Pengasih
tengah tersenyum bangga..
Nusakambangan, 21 Juni 2014.
**********************************************************************
No comments:
Post a Comment