Wednesday, September 10, 2014

Mimpi Manis Bersamanya



Mimpi  Manis Bersamanya
By: Mutiara Sakha


Bulan kering menanti saatnya tersiram tetesan air hujan. Bersatu padu dalam kerindangan nan elok   di sebuah desa ujung selatan Yogyakarta. Desa yang asri penuh dengan suasana alami, sawah membentang sejauh mata memandang  berbatas pantai nan biru. Sore nampak indah berbalut keriangan kanak-kanak yang bersendau gurau di masjid tempat aku mengajarkan mereka huruf-huruf Hijaiyah sebagai ladang amalan sholeh sekaligus memenuhi program Kuliah Kerja Nyata kampus tercinta.
**********
“Hayoo...!! Jangan bergurau terus lho, nanti Kakak nggak jadi cerita tentang Salman Al Farisi,” tegurku lembut.
“Iya Kak, cepetan cerita. Sekarang  aja,” mereka ramai unjuk suara.
Dengan antusias dan wajah ekspresif  akhirnya kucoba untuk mengalirkan ruh semangat pantang menyerah dari sahabat Rasulullah yang luar biasa ini.
“Nah sekarang sudah tahu khan, cerita perjuangan Beliau? Siapa yang ingin menjadi pejuang islam yang mulia juga ?”
“Aku mau”.
“Saya juga ah, pengen jadi pahlawan yang gagah.”
“Aku pengen jadi pilot, Kak. Boleh  ya?!” Semua terkekeh mendengar seloroh lucu ini.
“Pasti semua pengen yaa...?” Kakak seneng loh, semoga dikabulkan Alloh. Amiinn.”
Kuakhiri pengajian sore itu dengan penuh rasa syukur dan hati yang suka cita melihat kepolosan  para pemilik wajah lucu itu. Anak-anak lincah itu telah menbuatku bahagia.
“Kita pulang, Tya. Jangan terlalu malam, ngeri juga jalan-jalan di desa tanpa listrik yang memadai seperti ini.” Indra menatapku dalam.
Tatapanya selalu membuatku jengah dan malu. Dialah Indra, mahasiswa satu kampus yang baru kukenal sejak tergabung dalam satu lokasi dalam pengabdian kepada masyarakat ini. Sifatnya yang lucu dan periang membuatku nyaman berada didekatnya. Salah satu yang membuatku lekat adalah adanya kesamaan tanggal lahir kami berdua.
Wahai!  Alangkah elok kenyataan itu, hal yang jarang terjadi walaupun sangat mungkin ada banyak orang yang lahir di hari yang sama.
**********
Pagi ceria merona seakan mengajak siapapun untuk  terenyum menikmati  udara  sejuk karunia Illahi.
“Tya, aku bantu kamu nimba air ya? Kasihan kelihatanya capai banget, kalau perlu biar ku cuci bajumu sekalian.” Indra menawarkan madu cintanya setiap kali ada waktu dan kesempatan yang datang. Apa yang aku suka selalu diberikan, coklat, buah dan oleh-oleh lainnya.
“Sudahlah, Dra. Aku bisa sendiri kok,  jangan bantu ah, nggak enak sama yang lain.”
“Ayolah, aku takut kamu sakit nanti.”
Ya Rabbi, betapa sulit untuk menepiskan rasa ini. Walau dalam hati berontak bagaikan air samudra akan tetapi perhatian yang tulus ini telah melenakan rasaku.
Aku terdiam, kelu. Suasana mendadak lengang, hanya terdengar cericit burung riang gembira menikmati hangatnya sinar matahari yang tersenyum malu-malu, sewarna dengan hatiku.
**********
Sejujurnya aku ingin istiqomah mencari jodoh tanpa proses pacaran yang jelas tidak dianjurkan oleh Alloh, akan tetapi bujukan  hawa nafsu  ternyata telah menguasai seluruh sendi dan hatiku saat itu.
Setelah usai program kuliah pengabdian  masyarakat dua bulan kemudian  kami kembali ke kampus. Sibuk dengan aktifitas menyusun skripsi.
Hubunganku dengan Indra masih berlanjut  apa adanya saja tanpa komitmen apapun. Biarlah waktu yang akan menjawabnya kelak. Ada rasa bersalah yang kian menyesakkan dada ini. Aku ingin terhindar dari segala fitnah dengan menikah  secepatny, akan tetapi dengan siapa? Kutumpahkan sejuta tanya dan harapku kepada Alloh   Tuhan  segala kuasa. Aku ingin menggenapkan agamaku dengan seseorang yang Dia kirimkan buatku dengan cara yang santun dan tanpa  murka-Nya.
“Ya  Rabbi, tujukanlah bahwa mawar yang merah itu akan tetap merekah dalam segala kuasa-Mu, hadirkanlah seorang imam yang akan membawa surga  bagi rumah bahagiaku dunia akhirat nanti,” isak tertahan terdengar bagaikan bisikan angin yang menyusup celah-celah jendela kamar beriring dengan   kabut dini hari.
**********
“ Tya, apakah kamu bersedia mengarungi perahu kehidupan bersamaku, saat ini dan selamanya?” Suara jernih Raditya bagaikan halilintar menghentak hati sanubari terdalam. Senyap.  Hanya degup jantung kami masing-masing yang terdengar bagaikan irama bedug kemenangan di malam yang fitri.
“ Moo, mooooo !!! Gubraaak !!!
Tiba-tiba aku tersentak dengan suara sapi yang berada di depan rumah kost yang kutempati. Kami tergelak. Wahai, keromantisan malam ini terburai karena suara sapi yang akan di sembelih sebagai kurban beberapa hari lagi.
“Maaf, Mas. Aku minta waktu untuk menata hati dan rasa selama dua minggu. Kita hanya berteman saja selama ini. Walaupun aku mengenalmu sebagai sosok aktivis masjid yang  sangat terjaga akhlaqnya, tapi itu belum cukup, bair kucari jawaban dari Sang Maha Pemilik Cinta di akhir malam.”
**********
Undangan  merah jambu ini menjadi saksi ketulusan dua insan yang mencoba saling memaknai arti kehidupan. Berjanji untuk saling mencintai, berbagi serta memahami sela-sela hati yang masih tersamarkan kabut. Seorang lelaki sempurna  pilihan Sang Maha Sempurna telah bersanding dalam sujud  hari-hariku. Segala puji bagi Alloh. Telah kudapatkan separuh nafasku bersamanya. Dia telah menjadi bintang dan rembulan miliku yang berharga.
Maafkan aku, Dra rupanya waktu tidak berpihak kepada biduk milikmu. Semoga kelak seorang wanita shalihah akan segera datang untuk mengayuh  bahtera kehidupan yang indah bersamamu.

Nusakambangan, 25 Mei 2014.
**********************************************************************

No comments:

Post a Comment