Mimpi Manis
Bersamanya
By: Mutiara Sakha
Bulan kering menanti saatnya tersiram tetesan air
hujan. Bersatu padu dalam kerindangan nan elok
di sebuah desa ujung selatan
Yogyakarta. Desa yang asri penuh dengan suasana alami, sawah membentang sejauh
mata memandang berbatas pantai nan biru.
Sore nampak indah berbalut keriangan kanak-kanak yang bersendau gurau di masjid
tempat aku mengajarkan mereka huruf-huruf Hijaiyah sebagai ladang amalan sholeh
sekaligus memenuhi program Kuliah Kerja Nyata kampus tercinta.
**********
“Hayoo...!! Jangan bergurau terus lho, nanti Kakak
nggak jadi cerita tentang Salman Al Farisi,” tegurku lembut.
“Iya Kak, cepetan cerita. Sekarang aja,” mereka ramai unjuk suara.
Dengan antusias dan wajah ekspresif akhirnya kucoba untuk mengalirkan ruh
semangat pantang menyerah dari sahabat Rasulullah yang luar biasa ini.
“Nah sekarang sudah tahu khan, cerita perjuangan
Beliau? Siapa yang ingin menjadi pejuang islam yang mulia juga ?”
“Aku mau”.
“Saya juga ah, pengen jadi pahlawan yang gagah.”
“Aku pengen jadi pilot, Kak. Boleh ya?!” Semua terkekeh mendengar seloroh lucu
ini.
“Pasti semua pengen yaa...?” Kakak seneng loh,
semoga dikabulkan Alloh. Amiinn.”
Kuakhiri pengajian sore itu dengan penuh rasa
syukur dan hati yang suka cita melihat kepolosan para pemilik wajah lucu itu. Anak-anak lincah
itu telah menbuatku bahagia.
“Kita pulang, Tya. Jangan terlalu malam, ngeri
juga jalan-jalan di desa tanpa listrik yang memadai seperti ini.” Indra
menatapku dalam.
Tatapanya selalu membuatku jengah dan malu. Dialah
Indra, mahasiswa satu kampus yang baru kukenal sejak tergabung dalam satu
lokasi dalam pengabdian kepada masyarakat ini. Sifatnya yang lucu dan periang
membuatku nyaman berada didekatnya. Salah satu yang membuatku lekat adalah
adanya kesamaan tanggal lahir kami berdua.
Wahai! Alangkah
elok kenyataan itu, hal yang jarang terjadi walaupun sangat mungkin ada banyak
orang yang lahir di hari yang sama.
**********
Pagi ceria merona seakan mengajak siapapun untuk terenyum menikmati udara
sejuk karunia Illahi.
“Tya, aku bantu kamu nimba air ya? Kasihan
kelihatanya capai banget, kalau perlu biar ku cuci bajumu sekalian.” Indra
menawarkan madu cintanya setiap kali ada waktu dan kesempatan yang datang. Apa
yang aku suka selalu diberikan, coklat, buah dan oleh-oleh lainnya.
“Sudahlah, Dra. Aku bisa sendiri kok, jangan bantu ah, nggak enak sama yang lain.”
“Ayolah, aku takut kamu sakit nanti.”
Ya Rabbi, betapa sulit untuk menepiskan rasa ini.
Walau dalam hati berontak bagaikan air samudra akan tetapi perhatian yang tulus
ini telah melenakan rasaku.
Aku terdiam, kelu. Suasana mendadak lengang, hanya
terdengar cericit burung riang gembira menikmati hangatnya sinar matahari yang
tersenyum malu-malu, sewarna dengan hatiku.
**********
Sejujurnya aku ingin istiqomah mencari jodoh tanpa
proses pacaran yang jelas tidak dianjurkan oleh Alloh, akan tetapi bujukan hawa nafsu
ternyata telah menguasai seluruh sendi dan hatiku saat itu.
Setelah usai program kuliah pengabdian masyarakat dua bulan kemudian kami kembali ke kampus. Sibuk dengan
aktifitas menyusun skripsi.
Hubunganku dengan Indra masih berlanjut apa adanya saja tanpa komitmen apapun.
Biarlah waktu yang akan menjawabnya kelak. Ada rasa bersalah yang kian
menyesakkan dada ini. Aku ingin terhindar dari segala fitnah dengan
menikah secepatny, akan tetapi dengan
siapa? Kutumpahkan sejuta tanya dan harapku kepada Alloh Tuhan
segala kuasa. Aku ingin menggenapkan agamaku dengan seseorang yang Dia
kirimkan buatku dengan cara yang santun dan tanpa murka-Nya.
“Ya Rabbi,
tujukanlah bahwa mawar yang merah itu akan tetap merekah dalam segala kuasa-Mu,
hadirkanlah seorang imam yang akan membawa surga bagi rumah bahagiaku dunia akhirat nanti,”
isak tertahan terdengar bagaikan bisikan angin yang menyusup celah-celah
jendela kamar beriring dengan kabut
dini hari.
**********
“ Tya, apakah kamu bersedia mengarungi perahu
kehidupan bersamaku, saat ini dan selamanya?” Suara jernih Raditya bagaikan
halilintar menghentak hati sanubari terdalam. Senyap. Hanya degup jantung kami masing-masing yang
terdengar bagaikan irama bedug kemenangan di malam yang fitri.
“ Moo, mooooo !!! Gubraaak !!!
Tiba-tiba aku tersentak dengan suara sapi yang
berada di depan rumah kost yang kutempati. Kami tergelak. Wahai, keromantisan
malam ini terburai karena suara sapi yang akan di sembelih sebagai kurban
beberapa hari lagi.
“Maaf, Mas. Aku minta waktu untuk menata hati dan
rasa selama dua minggu. Kita hanya berteman saja selama ini. Walaupun aku
mengenalmu sebagai sosok aktivis masjid yang
sangat terjaga akhlaqnya, tapi itu belum cukup, bair kucari jawaban dari
Sang Maha Pemilik Cinta di akhir malam.”
**********
Undangan
merah jambu ini menjadi saksi ketulusan dua insan yang mencoba saling
memaknai arti kehidupan. Berjanji untuk saling mencintai, berbagi serta
memahami sela-sela hati yang masih tersamarkan kabut. Seorang lelaki
sempurna pilihan Sang Maha Sempurna
telah bersanding dalam sujud
hari-hariku. Segala puji bagi Alloh. Telah kudapatkan separuh nafasku
bersamanya. Dia telah menjadi bintang dan rembulan miliku yang berharga.
Maafkan aku, Dra rupanya waktu tidak berpihak
kepada biduk milikmu. Semoga kelak seorang wanita shalihah akan segera datang
untuk mengayuh bahtera kehidupan yang
indah bersamamu.
Nusakambangan, 25 Mei 2014.
**********************************************************************
No comments:
Post a Comment