HAMPARAN RAHMAT
By: MUTIARA SAKHA
Matahari baru saja menampakkan
sinarnya yang keemasan, embun bergelayut mesra pada dedaunan enggan beranjak kembali ke awan yang menanti dengan setia.
“Nanit,
ayo kita segera pergi ke kantor. Nanti terlambat bakal kena marah Pak Bos
lagi.”
“Iya,Ben.
Tunggu sebentar tinggal pakai kerudung doang kok.”
“Aduh
buruan dong, ngeri nih. Ngebayangin muka
Big Bos kita. Hah... kaya lagi ngeliat film hantu aja. Horor.”
“Iya
santai ajalah, nanti juga diem sendiri tuh. Sabar aja ya.”
“Ya
sayang. Apa sih yang nggak buat kamu?”
“Ah
gombal melulu deh. Udah ayo keburu siang nanti.”
Pagi yang cerah sudah ternodai
dengan asap knalpot dan panasnya sinar matahari, memang tak ada sesuatupun yang abadi di dunia ini.
Hiruk pikuk jalanan menaburkan gas
beracun ke udara, hitam dan pekat. Efek rumah kaca memang telah membuat bumi
ini semakin tidak ramah untuk dihuni.
“Ciit...
braak...brakk....!!!
“Tolong....
tolong ada tabrakan. Ayo tolong mereka.”
“Aduh
ngeri banget ya. Kasian tuh yang cowok sepertinya
terluka parah.”
Kerumunan orang-orang menjadikan
jalanan semakin macet. Sebuah motor bertabrakan dengan sebuah mobil box
pengangkut suatu produk susu. Penumpang motor itu terdiri dari dua orang yang
berboncengan, Nanit dan Ben. Posisi mereka
sungguh mengenaskan terlempar beberapa meter
ke trotoar. Bau anyir darah membuat mual bagi siapapun yang melihatnya.
Wangi bunga kamboja menguar terbawa
angin sore. Suara burung melengking
jerit seakan ikut merasakan sedih dan aroma patah hati seorang gadis berkerudung hitam yang
sedang menangis memeluk nisan. Bunga mawar menyelimuti
gundukan tanah merah. Semerah luka hati
sang gadis jelita.
“Ben.
Kenapa tega ninggalin aku? Kenapa?”
Wajah Nanit memucat bagaikan bulan
kesiangan yang enggan menampakkan dirinya. Kesunyian mencekam dalam ayunan
senja yang perlahan turun bersama malam. Air mata berderai menganak sungai.
Serangga malam mulai berdenging ramai,
tak peduli.
Sekian
lama terpuruk dalam kenangan pahit, mau atau tidak roda kehidupan akan terus berjalan
dan semua orang harus ‘move on’. Alampun akan tetap bermain dalam lakon yang sudah diberikan sang Pencipta,
terus bergulir sampai saatnya nanti akan berhenti seperti kehendak-Nya.
Bertahun
waktu bergulir tanpa terasa, Nanit telah menjelma menjadi gadis santun yang
bersahaja. Senyumnya kembali merekah menyambut datangnya hari. Pinangan telah
tersepakati, mufakat keluarga besar erat terpatri dalam beberapa hari lagi
gadis manis itu akan menjelang hari bahagia yang selalu dinanti.
Seorang
pria matang yang mapan telah menyediakan hatinya untuk saling berbagi dalam
suka dan duka. Berkayuh satu bahtera
yang sama sampai maut memisahkan. Seorang teman telah mengenalkan Nanit dengan
sahabatnya di kampung, pria sholeh yang berprofesi sebagai pedagang kelontong
yang sukses.
Hari
penuh warna itu akan tiba esok pagi, semarak lambaian janur di sana sini telah
menjadi saksi kebahagiaan yang akan menjelang. Senda gurau sanak saudara dan
handai taulan menjadikan senyum selalu terkembang.
“Bunda
kenapa Mas Radit belum juga sampai kemari? Ada apa ya? Nanit jadi khawatir.
Sudah aku telponin nggak ada jawaban. Mail Box melulu.”
“Sabar
sayang. Insyaalloh nggak apa-apa. Mungkin ada yang harus diselesaikan dahulu.
Kamu tenang dulu. Banyak berdoa untuk calon suamimu biar selamat ya?”
“Tapi
Bun, aku punya firasat yang kurang baik. Sepertinya ada yang tidak beres. Takut
gagal lagi.”
“Pasrahkan
pada Alloh saja, percayalah akan kuasa-Nya,” Bunda memeluk putrinya yang mulai
menangis sesenggukan. Hatinya ikut merasakan perih dan duka.
“Assalamu’alaikum. Maaf ini rumah Bapak Aris?”
“Ya.
Benar, Anda siapa?”
“Perkenalkan
saya Rokhim, Paman dari Raditya calon suami putri Pak Aris.”
“Oh.
Mari silakan duduk. Kami sudah lama menunggu. Bagaimana acara ijab kabulnya? Sudah
siang begini kok belum datang calon mantu saya itu?”
“Sebelumnya
kami mohon maaf. Wah... saya nggak enak mau bicara.”
“Silakan bicara biar semuanya jelas.
Ada apa sebenarnya. Apa yang terjadi?”
“Begini. Ada hal yang belum kami
sampaikan kepada keluarga Pak Aris. Jeda sesaat membuat suasana semakin
menegangkan. “Bahwa Keponakan saya pernah mengalami kecelakaan yang hampir
merenggut nyawanya. Dan karena kuasa-Nya sekarang sudah sembuh total.
Tapi.....”
“Apa
Pak Rohim? Katakan saja. Tolong biar kami tidak menunggu.”
“Eh. Mohon maaf. Keponakan saya
divonis ...mandul oleh dokter.”
“Astaghfirullah. Ya Alloh. Kenapa
begini? Nggak dari awal saja kami tahu hal itu?” Pak Aris menjadi sangat
terpukul. “Saya harus menyerahkan keputusan kepada putri saya Nanit. Silakan
tunggu sebentar.”
“Baiklah keluarga besar kami akan
menerima dengan ikhlas apapun keputusan keluarga besar Bapak dan Nanit.”
Pak Aris bergegas masuk ke kamar
calon pengantin yang sunyi. Hanya isak tertahan putri tunggalnya terdengar
pilu. Direngkuhnya tubuh rapuh itu dalam tangis yang semakin menyesakkan dada.
“Sayang, Nanit sudah dengar khan.
Apa yang kami bicarakan tadi. Sekarang sholatlah dulu agar bisa berfikir
jernih. Mari kita sholat juga Bun.”
Mereka beranjak perlahan menuju
mushola sebelah rumah. Menunaikan sholat dhuhur bersama seluruh keluarga besar.
Memohon ridho dan petunjuk-Nya.
“Ya. Malik tunjukkanlah jalan
terbaik bagi Nanit. Semoga semuanya adalah yang terbaik atas kuasa-Mu,” Nanit
kembali terisak dalam doanya. Matahari siang mendadak redup seakan turut
merasakan cobaan dari Sang Maha Agung.
“Ayah. Nanit tak mau kehilangan
cinta suci dari Mas Radit, rasanya tak
perlu lagi banyak berpikir. Biarlah ridho Alloh
akan menolong kami berdua.”
“Alhamdulillahirabbila’alamin.”Serentak
seluruh jama’ah dalam mushola kecil itu tersenyum lega. Walaupun masih ada
kesedihan yang melingkupi akan tetapi mereka sangat menghormati apapun
keputusan Nanit. Dengan haru satu persatu kerabat perempuan memeluknya untuk beragi
kekuatan dan doa.
Akad nikah berjalan dengan khidmat
dan mengharukan. Segala puji hanya bagi Alloh SWT. Mereka berdua menikah
semata-mata hanya berharap akan belas kasihan dan ridho dari-Nya. Diiringi doa
sanak saudara dan handai taulan mengharapkan kebahagiaan bagi pengantin baru
ini. Malam ini adalah saat penuh kepahitan sekaligus sukacita. Di atas awan
bulan tersenyum malu-malu.
“Dik Nanit. Mengapa sih tetap saja
sudi menikah dengan seorang laki-laki yang... mandul seperti aku? Apa nggak
nyesel nantinya? Aku merasa bersalah karena akan mengurungmu selamanya tanpa
anak?”Raditya menunduk dengan sedih tak kuasa menatap mata jernih milik
istrinya.
“Ya, Mas. Kenapa masih tanya lagi.
Toh dokter bukan Tuhan khan, kita masih bisa berusaha atau mengasuh anak yatim.
Sudahlah sabar ajalah separuh nyawaku telah kuserahkan padamu. Bukankah itu
cukup?”
“Alhamdulillah, makasih banyak
sayangku. Betapa bahagia karena telah mendapatkan belahan jiwa semanis kamu.”
“Yah. Hidup ini singkat bukan. Kita
nikmati semua ini dengan penuh syukur sebagai wujud rasa terimakasih pada risqi
karuani-Nya.”
“Memang Alloh tak pernah salah. Dik
Nanit adalah pasangan terbaik dunia dan akhirat. Semoga.” Tatapan mesra
sepasang kekasih membingkai peraduan menjadi
romantis mengharukan dan bulanpun kembali mengintip malu-malu.
Beberapa tahun telah berlalu,
matahari masih setia bersinar seperti hari-hari berlalu. Menetapi kuasa Ilahi.
Tampak Nanit tengah berjalan-jalan di taman kota bersama suami tercinta.
“Mas. Aku mau ngomong sesuatu.”
“Apa itu sayang. Coba bilang aja.
Bikin penasaran loh.”
“Eh, begini. Bukan maksudku untuk
menyinggung siapapun. Tapi aku punya keinginan untuk mengasuh anak yatim yang
dhuafa. Maaf kira-kira, Mas setuju nggak?”
“Wah. Sebenarnya Mas juga pernah
terlintas ide itu tapi rasanya semua
akan tergantung pada Dik Nanit saja.”
Wajah Radit tiba-tiba tertunduk
sedih, ada luka dan rasa bersalah yang telah memeluk hatinya erat tak mampu
terlepaskan.
“Ya Rahman. Bukan maksud hatiku
menggugat takdri-Mu. Tapi rasa ini sedemikian pedih karena hamba tak mampu memberikan
anak untuk membahagiakan Dik Nanit.” Hatinya berbisik lirih. Kelu.
“Mas Radit kalau memang nggak setuju
bagiku tak jadi soal kok. Jangan sedih ya. Aku akan tetap mendampingimu sampai
kapanpun. Hingga maut memisahkan kita.”
“Aku percaya kok, Dik. Aku setuju
saja asalkan istriku yang cantik ini bisa happy. Bahagiamu adalah miliku juga,
honey.”
“Alhamdulillah segala puji hanya
untuk-Nya semata. Terimakasih, Mas. Semoga kita tidak salah mengambil keputusan ini.
Aamiinn.” Matahari selalu menjadi saksi bagi mereka, hangat penuh semangat
kehidupan.
Setelah sekian lama mencari akan tetapi belum bisa bertemu dengan
bayi atau balita yang layak untuk diasuh. Mungkin memang belum berjodoh saja.
Upaya medis maupun non medis tetap dilakukan oleh mereka berdua. Selalu
berusaha untuk menjumpai Tuhan-Nya setiap sepertiga malam. Bersimpuh menangis
memohon yang terbaik untuk dunia dan akhirat kelak.
Gubrak....
“Kenapa sayang? Ya Alloh kenapa bisa
jatuh begini sih. Kamu pusing, Dik?”
“Aku nggak tahu. Tiba-tiba saja pusing
banget. Lemes rasanya. Kita ke dokter aja ya, Mas?”
“Oh ya. Kita berangkat sekarang.
Hati-hati biar kugendong aja pelan-pelan, takut jatuh lagi.”
Sesampai di rumah sakit Kasih Bunda hari
masih gelap. Segera mereka menuju UGD dengan was-was. Nanit merasa pusing dan
mual, sudah dua minggu lamanya dia terlambat haid. Dalam hatinya sangat
berharap bahwa keinginan memiliki momongan akan terwujud.
“Silakan duduk,Pak.” Dokter muda itu
menyilakan Raditya untuk masuk ke
ruangannya.
“Sebelumnya saya mengucapkan selamat
karena Ibu Nanit tengah mengandung .”
“Subhanalloh. Apa dokter? Yang benar
saja? Serius? Bagaiamana mungkin, saya khan mandul?”
“Mohon Bapak jangan berprasangka
buruk. Anak itu karunia sang Maha Rahim.’ Kun fayakun’ maka jadilah. Sekali
lagi selamat tolong, jaga emosi Ibu jangan sampai terganggu.” Uluran tangan
dokter disambutnya dengan penuh rasa gembira. Dia segera bersujud syukur.
Allohu akbar.
Sepasang kekasih itu berpelukan
erat, rasa haru bercampur airmata bahagia. Ya. Sang Pemilik Cinta telah
mengabulkan rerintih mereka selama ini
setelah bertahun-tahun menunggu.
Nusakambangan.
22 Juni 2014.
**********************************************************************
No comments:
Post a Comment