Wednesday, September 10, 2014

HAMPARAN RAHMAT



HAMPARAN RAHMAT
By: MUTIARA SAKHA

Matahari baru saja menampakkan sinarnya yang keemasan, embun bergelayut mesra pada dedaunan enggan  beranjak kembali ke awan yang menanti dengan setia.
            “Nanit, ayo kita segera pergi ke kantor. Nanti terlambat bakal kena marah Pak Bos lagi.”
            “Iya,Ben. Tunggu sebentar tinggal pakai kerudung doang kok.”
            “Aduh buruan dong, ngeri nih.  Ngebayangin muka Big Bos kita. Hah... kaya lagi ngeliat film hantu aja.  Horor.”
            “Iya santai ajalah, nanti juga diem sendiri tuh. Sabar aja ya.”
            “Ya sayang. Apa sih yang nggak buat kamu?”
            “Ah gombal melulu deh. Udah ayo keburu siang nanti.”
Pagi yang cerah sudah ternodai dengan asap knalpot dan panasnya sinar matahari, memang  tak ada sesuatupun yang abadi di dunia ini. Hiruk pikuk jalanan  menaburkan gas beracun ke udara, hitam dan pekat. Efek rumah kaca memang telah membuat bumi ini semakin tidak ramah untuk dihuni.
            “Ciit... braak...brakk....!!!
            “Tolong.... tolong  ada tabrakan. Ayo tolong mereka.”
            “Aduh ngeri banget ya. Kasian tuh yang  cowok sepertinya terluka parah.”
Kerumunan orang-orang menjadikan jalanan semakin macet. Sebuah motor bertabrakan dengan sebuah mobil box pengangkut suatu produk susu. Penumpang motor itu terdiri dari dua orang yang berboncengan, Nanit dan Ben.  Posisi mereka sungguh mengenaskan terlempar beberapa meter  ke trotoar. Bau anyir darah membuat mual bagi siapapun yang melihatnya.  
                        Wangi bunga kamboja menguar terbawa angin sore.  Suara burung melengking jerit seakan ikut merasakan sedih dan aroma patah hati  seorang gadis berkerudung hitam yang sedang  menangis  memeluk nisan. Bunga mawar menyelimuti gundukan tanah merah. Semerah luka hati  sang gadis jelita.
            “Ben. Kenapa tega ninggalin aku? Kenapa?”
Wajah Nanit memucat bagaikan bulan kesiangan yang enggan menampakkan dirinya. Kesunyian mencekam dalam ayunan senja yang perlahan turun bersama malam. Air mata berderai menganak sungai. Serangga malam mulai berdenging  ramai, tak peduli.
            Sekian lama terpuruk dalam kenangan pahit, mau atau tidak roda kehidupan akan terus berjalan dan semua orang harus ‘move on’.  Alampun akan tetap bermain dalam  lakon yang sudah diberikan sang Pencipta, terus bergulir sampai saatnya nanti akan berhenti seperti kehendak-Nya.
            Bertahun waktu bergulir tanpa terasa, Nanit telah menjelma menjadi gadis santun yang bersahaja. Senyumnya kembali merekah menyambut datangnya hari. Pinangan telah tersepakati, mufakat keluarga besar erat terpatri dalam beberapa hari lagi gadis manis itu akan menjelang hari bahagia yang selalu dinanti.
            Seorang pria matang yang mapan telah menyediakan hatinya untuk saling berbagi dalam suka dan duka.  Berkayuh satu bahtera yang sama sampai maut memisahkan. Seorang teman telah mengenalkan Nanit dengan sahabatnya di kampung, pria sholeh yang berprofesi sebagai pedagang kelontong yang sukses.
            Hari penuh warna itu akan tiba esok pagi, semarak lambaian janur di sana sini telah menjadi saksi kebahagiaan yang akan menjelang. Senda gurau sanak saudara dan handai taulan menjadikan senyum selalu terkembang.
            “Bunda kenapa Mas Radit belum juga sampai kemari? Ada apa ya? Nanit jadi khawatir. Sudah aku telponin nggak ada jawaban. Mail Box melulu.”
            “Sabar sayang. Insyaalloh nggak apa-apa. Mungkin ada yang harus diselesaikan dahulu. Kamu tenang dulu. Banyak berdoa untuk calon suamimu biar selamat ya?”
            “Tapi Bun, aku punya firasat yang kurang baik. Sepertinya ada yang tidak beres. Takut gagal lagi.”
            “Pasrahkan pada Alloh saja, percayalah akan kuasa-Nya,” Bunda memeluk putrinya yang mulai menangis sesenggukan. Hatinya ikut merasakan perih dan duka.
            “Assalamu’alaikum.  Maaf ini rumah Bapak Aris?”
            “Ya. Benar, Anda siapa?”
            “Perkenalkan saya Rokhim, Paman dari Raditya calon suami putri Pak Aris.”
            “Oh. Mari silakan duduk. Kami sudah lama menunggu. Bagaimana acara ijab kabulnya? Sudah siang begini kok belum datang calon mantu saya itu?”
            “Sebelumnya kami mohon maaf. Wah... saya nggak enak mau bicara.”
“Silakan bicara biar semuanya jelas. Ada apa sebenarnya. Apa yang terjadi?”
“Begini. Ada hal yang belum kami sampaikan kepada keluarga Pak Aris. Jeda sesaat membuat suasana semakin menegangkan. “Bahwa Keponakan saya pernah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Dan karena kuasa-Nya sekarang sudah sembuh total. Tapi.....”
“Apa  Pak Rohim? Katakan saja. Tolong biar kami tidak menunggu.”
“Eh. Mohon maaf. Keponakan saya divonis ...mandul oleh dokter.”
“Astaghfirullah. Ya Alloh. Kenapa begini? Nggak dari awal saja kami tahu hal itu?” Pak Aris menjadi sangat terpukul. “Saya harus menyerahkan keputusan kepada putri saya Nanit. Silakan tunggu sebentar.”
“Baiklah keluarga besar kami akan menerima dengan ikhlas apapun keputusan keluarga besar Bapak dan Nanit.”
Pak Aris bergegas masuk ke kamar calon pengantin yang sunyi. Hanya isak tertahan putri tunggalnya terdengar pilu. Direngkuhnya tubuh rapuh itu dalam tangis yang semakin menyesakkan dada.
“Sayang, Nanit sudah dengar khan. Apa yang kami bicarakan tadi. Sekarang sholatlah dulu agar bisa berfikir jernih. Mari kita sholat juga Bun.”
Mereka beranjak perlahan menuju mushola sebelah rumah. Menunaikan sholat dhuhur bersama seluruh keluarga besar. Memohon ridho dan petunjuk-Nya.
“Ya. Malik tunjukkanlah jalan terbaik bagi Nanit. Semoga semuanya adalah yang terbaik atas kuasa-Mu,” Nanit kembali terisak dalam doanya. Matahari siang mendadak redup seakan turut merasakan cobaan dari Sang Maha Agung.
“Ayah. Nanit tak mau kehilangan cinta  suci dari Mas Radit, rasanya tak perlu lagi banyak berpikir. Biarlah ridho Alloh  akan menolong kami berdua.”
“Alhamdulillahirabbila’alamin.”Serentak seluruh jama’ah dalam mushola kecil itu tersenyum lega. Walaupun masih ada kesedihan yang melingkupi akan tetapi mereka sangat menghormati apapun keputusan Nanit. Dengan haru satu persatu kerabat perempuan memeluknya untuk beragi kekuatan dan doa.
Akad nikah berjalan dengan khidmat dan mengharukan. Segala puji hanya bagi Alloh SWT. Mereka berdua menikah semata-mata hanya berharap akan belas kasihan dan ridho dari-Nya. Diiringi doa sanak saudara dan handai taulan mengharapkan kebahagiaan bagi pengantin baru ini. Malam ini adalah saat penuh kepahitan sekaligus sukacita. Di  atas awan  bulan tersenyum malu-malu.
“Dik Nanit. Mengapa sih tetap saja sudi menikah dengan seorang laki-laki yang... mandul seperti aku? Apa nggak nyesel nantinya? Aku merasa bersalah karena akan mengurungmu selamanya tanpa anak?”Raditya menunduk dengan sedih tak kuasa menatap mata jernih milik istrinya.
“Ya, Mas. Kenapa masih tanya lagi. Toh dokter bukan Tuhan khan, kita masih bisa berusaha atau mengasuh anak yatim. Sudahlah sabar ajalah separuh nyawaku telah kuserahkan padamu. Bukankah itu cukup?”
“Alhamdulillah, makasih banyak sayangku. Betapa bahagia  karena  telah mendapatkan  belahan jiwa semanis kamu.”
“Yah. Hidup ini singkat bukan. Kita nikmati semua ini dengan penuh syukur sebagai wujud rasa terimakasih pada risqi karuani-Nya.”
“Memang Alloh tak pernah salah. Dik Nanit adalah pasangan terbaik dunia dan akhirat. Semoga.” Tatapan mesra sepasang kekasih membingkai peraduan menjadi  romantis mengharukan dan bulanpun kembali  mengintip malu-malu.
Beberapa tahun telah berlalu, matahari masih setia bersinar seperti hari-hari berlalu. Menetapi kuasa Ilahi. Tampak Nanit tengah berjalan-jalan di taman kota bersama suami tercinta.
“Mas. Aku mau ngomong  sesuatu.”
“Apa itu sayang. Coba bilang aja. Bikin penasaran loh.”
“Eh, begini. Bukan maksudku untuk menyinggung siapapun. Tapi aku punya keinginan untuk mengasuh anak yatim yang dhuafa. Maaf kira-kira, Mas setuju nggak?”
“Wah. Sebenarnya Mas juga pernah terlintas ide itu tapi  rasanya semua akan tergantung pada Dik Nanit saja.”
Wajah Radit tiba-tiba tertunduk sedih, ada luka dan rasa bersalah yang telah memeluk hatinya erat tak mampu terlepaskan.
“Ya Rahman. Bukan maksud hatiku menggugat takdri-Mu. Tapi rasa ini sedemikian pedih karena hamba tak mampu memberikan anak untuk membahagiakan Dik Nanit.” Hatinya berbisik lirih. Kelu.
“Mas Radit kalau memang nggak setuju bagiku tak jadi soal kok. Jangan sedih ya. Aku akan tetap mendampingimu sampai kapanpun. Hingga maut memisahkan kita.”
“Aku percaya kok, Dik. Aku setuju saja asalkan istriku yang cantik ini bisa happy. Bahagiamu adalah miliku juga, honey.”
“Alhamdulillah segala puji hanya untuk-Nya semata.  Terimakasih, Mas. Semoga  kita tidak salah mengambil keputusan ini. Aamiinn.” Matahari selalu menjadi saksi bagi mereka, hangat penuh semangat kehidupan.
Setelah sekian lama  mencari akan tetapi belum bisa bertemu dengan bayi atau balita yang layak untuk diasuh. Mungkin memang belum berjodoh saja. Upaya medis maupun non medis tetap dilakukan oleh mereka berdua. Selalu berusaha untuk menjumpai Tuhan-Nya setiap sepertiga malam. Bersimpuh menangis memohon yang terbaik untuk dunia dan akhirat kelak.
Gubrak....
“Kenapa sayang? Ya Alloh kenapa bisa jatuh begini sih. Kamu pusing, Dik?”
“Aku nggak tahu. Tiba-tiba saja pusing banget. Lemes rasanya. Kita ke dokter aja ya, Mas?”
“Oh ya. Kita berangkat sekarang. Hati-hati biar kugendong aja pelan-pelan, takut jatuh lagi.”
Sesampai di rumah sakit Kasih Bunda hari masih gelap. Segera mereka menuju UGD dengan was-was. Nanit merasa pusing dan mual, sudah dua minggu lamanya dia terlambat haid. Dalam hatinya sangat berharap bahwa keinginan memiliki momongan akan terwujud.
“Silakan duduk,Pak.” Dokter muda itu menyilakan Raditya untuk  masuk ke ruangannya.
“Sebelumnya saya mengucapkan selamat karena  Ibu Nanit tengah mengandung .”
“Subhanalloh. Apa dokter? Yang benar saja? Serius? Bagaiamana mungkin, saya khan mandul?”
“Mohon Bapak jangan berprasangka buruk. Anak itu karunia sang Maha Rahim.’ Kun fayakun’ maka jadilah. Sekali lagi selamat tolong, jaga emosi Ibu jangan sampai terganggu.” Uluran tangan dokter disambutnya dengan penuh rasa gembira. Dia segera bersujud syukur. Allohu  akbar.
Sepasang kekasih itu berpelukan erat, rasa haru bercampur airmata bahagia. Ya. Sang Pemilik Cinta telah mengabulkan  rerintih mereka selama ini setelah bertahun-tahun menunggu.

                                                                                    Nusakambangan. 22 Juni 2014.

**********************************************************************

No comments:

Post a Comment