RONA
CINTA SENJA
By: MUTIARA SAKHA
Cinta adalah suatu anugerah terindah dalam
kehidupan dunia ini banyak yang menemukan kebahagiaan dan ada pula yang menderita karenanya.
Sebagaimana sunatullah maka akan ada suka dan duka dalam lelakon kehidupan ini.
Malam mulai merambat
pelan suara binatang saling berlomba menampakkan keindahannya. Soerang nenek
sedang bersujud dalam keresahan menumpahkan segala beban yang kian menghimpit.
“Ya Malik,
teguhkanlah keimanan kami jangan biarkan kehidupan dunia dan akhirat kelak
kering tanpa kasing sayangmu.”
“Ya Rabbiku, hanya
kepada Engkaulah kami memohon segala pertolongan. Berilah kesehatan dan obat
bagi suami hamba karena hanya Engkaulah yang Maha menyembuhkan. Aamiin.”
“Nek, sini dulu
sebentar. Kakek mau sholat juga.”
“Iya sebentar.
Nanti nenek bantu tayamum. Sabar ya.”
“Cepetan. Lama amat
sih dasar pikun.” Kakek mulai bersungut-sungut seperti biasanya.
“Iya, Kek. Jangan
marah-marah terus nanti darah tingginya kambuh lagi loh. Udah tua harus lebih
banyak lagi sabarnya.” Nenek berkata pelan sambil tertatih menghampiri suaminya
yang sudah lebih puluhan tahun hidup bersama.
Kesabaran itu tidak
berbatas bagi nenek renta dan hidup
berdua saja dengan suami yang sangat temperamental, kolot dan kolokan. Begitulah
jodoh yang sudah diatur oleh Sang Khalik saling melengkapi dalam harmoni yang
indah.
“Nah sekarang ayo
nenek bantu bersiap untuk sholat. Pelan-pelan saja, Kek.”
“Udah cerewet amat
sih. Kakek bukan bocah ingusan lagi.”
“Iya. Kek, maaf ya
masih sakit kakinya?”
“Iya sakit
banget ini. Terus dilengan, perut juga.
Kapan aku sembuh ya, Nek? Aku sudah berdoa setiap hari tapi kenapa belum
dikabulkan juga. Apa Alloh sudah tidak sayang lagi sama kita?”
“Sabar, sabar ya,
Kek. Sabar selalu karena Alloh itu bersama orang-orang yang sabar. Apalagi kita
berdua sudah tua jadi wajarlah kalau sering sakit-sakitan.”
Dalam keheningan
dua makhluk Tuhan itu berserah dalam pasrah yang sedemikian utuh. Mencari-cari
kenikmatan yang tiada tara telah dikaruniakan kepada mereka selama puluhan
tahun hidup bersama dalam suka duka.
“Permisi. Permisi.
Selamat siang.” Seorang wanita muda berkerudung hitam mengetuk pintu rumah
sederhana pada hari yang terik.
“Ya sebentar. Siapa
ya?” Seorang ibu setengah baya tersenyum menyambut tamunya.”Silakan masuk,
Nak.”
“Iya, Bu
terimakasih. Maaf apakah ini rumah Pak
Joko?”
“Oh benar sekali.
Lalu ada apa ya?”
“Perkenalkan nama
saya Laila. Rumah saya di Solo dan nama ibu saya Rumi. Maksud kedatangan saya
kemari hanya ingin bersilaturahmi dengan Bapak. Ini foto beliau bukan?”
“Oh. Iya. Ini suami
saya? Lho dengan siapa dia? Pengantin siapa ?”
Hati wanita separuh baya itu menjadi gemetar,
matanya berkaca-kaca dalam diam. Benarkah suaminya ternyata telah beristri? Dan
apakah perempuan cantik dihadapannya ini adalah anak tirinya?
Matahari kian terik
seakan mengerti akan kegundahan hati dua wanita yang belum saling mengenal
sedang mencari, meraba hati masing-masing.
“Maaf siapa kamu
sebenarnya?”
“Ibu. Saya anak Pak
Joko. Beliau menikah dengan ibu saya duapuluh tahun yang lalu kemudian
ditinggal pergi begitu saja sejak dalam kandungan. Jadi saya hanya ingin
meminta restu dari Bapak karena sebentar lagi akan menikah. Jadi sudah
sewajarnya Beliau menjadi wali nikah saya.”
“Ya Alloh.
Astaghfirullah !!! Maaf tunggu sebentar saya panggilkan dulu Pak Jokonya.” Wanita itu segera berlalu sambil
menyembunyikan airmatanya.
Berjalan perlahan menuju kamar tidurnya.
Hatinya runtuh setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata sudah berkeluarga.
Cicak berkejaran berlomba mencari mangsa merangkak pada dinding kamar yang
sudah memudar warnanya. Salah satu cicak itu telah memenjarakan kemerdekaan
seekor nyamuk dalam mulutnya. Seperti halnya cinta seorang wanita yang telah
terperangkap dalam cinta segitiga.
“Kenapa? Kenapa
bisa tertipu sekian lama? Apakah aku wanita bodoh? Menjadi perusak rumah tangga
orang?” Airmatanya tumpah bagaikan curah hujan, deras, perih. Apa yang harus
aku lakukan kini? Cintaku telah ternodai. Kepercayaan ini telah musnah.
Benarkah kenyataan ini?
Dia segera
menyadari ada tamu yang menunggunya dalam cemas dan harap. Dan dia adalah anak tirinya. Datang berharap
ridho dan doa restu dari seorang Bapak yang telah ingkar dari tanggung jawab
sekian tahun lamanya secara lahir batin.
Dia beranjak
menyeret kakinya ke tempat wudhu dan membasuh tuntas airmatanya. Cukup sampai
disini melankolis dan haru biru luka hati. Hari baru telah menunggu.
“Nak. Ibu sholat
dulu ya.”
“Silakan. Bu
kebetulan saya sedang berhalangan hari ini.”
Mukena putih itu
basah oleh airmata duka kembali, sungguh sulit rasanya melupakan kepedihan ini.
Ya Alloh kuserahkan diriku pada-Mu. Sesungguhnya semua takdir itu akan berlaku
sesuai kehendak kuasa-Mu.
Saat ini adalah
kenyataan yang harus dihadapi. Semua bukan lagi mimpi semata. Bagian kelam dari
pelangi bahtera rumah tangga yang selama ini tenang tanpa gempuran ombak
berarti. Saatnya untuk berbagi kebahagiaan dan kasih sayang, keegoisan itu
harus terkikis perlahan walaupun tetap menyisakan duka.
“Aku ibu tirimu,
Nak. Maaf atas kelancanganku sampai saat ini tetap berprasangka bahwa Bapak
belum punya keluarga.”
“Iya, Bu. Mohon
maaf juga bila kedatangan saya kemari mengganggu, hanya saja hak perwalian harus dipenuhi selama Bapak masih hidup.”
“Iya. Ibu
ngerti maksudmu. Tapi Bapak sedang berada
di sawah nanti sore baru pulang. Kebetulan jaraknya lumayan jauh jadi apakah
mau ditunggu?”
“Tidak. Bu. Tolong
sampaikan saja keperluan saya. Takutnya
malah mengganggu keluarga Ibu.”
“Tidak juga kok.”
“Saya permisi.
Assalamu’alaikum.”
“Wa alaikum salam
warahmatullah.”
Keduanya saling
memandang, tersenyum dan berpelukan lama, dalam isak tangis bahagia.
“Terimaksih Ibu
berkenan menerimaku.”
“Tentu saja sudah
menjadi kewajibanku bahkan sejak lama seharusnya.”
Teringat kembali
akan kejadian masa silam membuatnya tersenyum samar. Keputusannya waktu itu
terbukti benar. Anak perempuan shalihah itu telah menjadi tumpuan harapan
mereka dikala senja. Sedangkan anak kandungnya yang hanya semata wayang itu
telah pergi entah kemana lari dari kemelaratan hidup orangtuanya. Tak tentu
rimbanya. Lindungilah kedua anakku Tuhanku selamatkanlah dari keburuka dunai
dan akhirat. Aamiin.
*******************************************************************
No comments:
Post a Comment