Wednesday, September 10, 2014

RONA CINTA SENJA



RONA CINTA SENJA
By: MUTIARA SAKHA


     Cinta adalah suatu anugerah terindah dalam kehidupan dunia ini banyak yang menemukan kebahagiaan  dan ada pula yang menderita karenanya. Sebagaimana sunatullah maka akan ada suka dan duka dalam lelakon kehidupan ini.

Malam mulai merambat pelan suara binatang saling berlomba menampakkan keindahannya. Soerang nenek sedang bersujud dalam keresahan menumpahkan segala beban  yang kian menghimpit.

“Ya Malik, teguhkanlah keimanan kami jangan biarkan kehidupan dunia dan akhirat kelak kering tanpa kasing sayangmu.”

“Ya Rabbiku, hanya kepada Engkaulah kami memohon segala pertolongan. Berilah kesehatan dan obat bagi suami hamba karena hanya Engkaulah yang Maha menyembuhkan. Aamiin.”

“Nek, sini dulu sebentar. Kakek mau sholat juga.”
“Iya sebentar. Nanti nenek bantu tayamum. Sabar ya.”
“Cepetan. Lama amat sih dasar pikun.” Kakek mulai bersungut-sungut seperti biasanya.

“Iya, Kek. Jangan marah-marah terus nanti darah tingginya kambuh lagi loh. Udah tua harus lebih banyak lagi sabarnya.” Nenek berkata pelan sambil tertatih menghampiri suaminya yang sudah lebih puluhan tahun hidup bersama.

Kesabaran itu tidak berbatas bagi nenek  renta dan hidup berdua saja dengan suami yang sangat temperamental, kolot dan kolokan. Begitulah jodoh yang sudah diatur oleh Sang Khalik saling melengkapi dalam harmoni yang indah.

“Nah sekarang ayo nenek bantu bersiap untuk sholat. Pelan-pelan saja, Kek.”
“Udah cerewet amat sih. Kakek bukan bocah ingusan lagi.”
“Iya. Kek, maaf ya masih sakit kakinya?”
“Iya sakit banget  ini. Terus dilengan, perut juga. Kapan aku sembuh ya, Nek? Aku sudah berdoa setiap hari tapi kenapa belum dikabulkan juga. Apa Alloh sudah tidak sayang lagi sama kita?”

“Sabar, sabar ya, Kek. Sabar selalu karena Alloh itu bersama orang-orang yang sabar. Apalagi kita berdua sudah tua jadi wajarlah kalau sering sakit-sakitan.”

Dalam keheningan dua makhluk Tuhan itu berserah dalam pasrah yang sedemikian utuh. Mencari-cari kenikmatan yang tiada tara telah dikaruniakan kepada mereka selama puluhan tahun hidup bersama dalam suka duka.


“Permisi. Permisi. Selamat siang.” Seorang wanita muda berkerudung hitam mengetuk pintu rumah sederhana pada hari yang terik.

“Ya sebentar. Siapa ya?” Seorang ibu setengah baya tersenyum menyambut tamunya.”Silakan masuk, Nak.”

“Iya, Bu terimakasih. Maaf apakah ini rumah  Pak Joko?”
“Oh benar sekali. Lalu ada apa ya?”
“Perkenalkan nama saya Laila. Rumah saya di Solo dan nama ibu saya Rumi. Maksud kedatangan saya kemari hanya ingin bersilaturahmi dengan Bapak. Ini foto beliau bukan?”

“Oh. Iya. Ini suami saya? Lho dengan siapa dia? Pengantin siapa ?”
 Hati wanita separuh baya itu menjadi gemetar, matanya berkaca-kaca dalam diam. Benarkah suaminya ternyata telah beristri? Dan apakah  perempuan cantik  dihadapannya ini adalah anak tirinya?
Matahari kian terik seakan mengerti akan kegundahan hati dua wanita yang belum saling mengenal sedang mencari, meraba hati masing-masing.

“Maaf siapa kamu sebenarnya?”
“Ibu. Saya anak Pak Joko. Beliau menikah dengan ibu saya duapuluh tahun yang lalu kemudian ditinggal pergi begitu saja sejak dalam kandungan. Jadi saya hanya ingin meminta restu dari Bapak karena sebentar lagi akan menikah. Jadi sudah sewajarnya Beliau menjadi wali nikah saya.”

“Ya Alloh. Astaghfirullah !!! Maaf tunggu sebentar saya panggilkan dulu Pak Jokonya.”  Wanita itu segera berlalu sambil menyembunyikan airmatanya.

 Berjalan perlahan menuju kamar tidurnya. Hatinya runtuh setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata sudah berkeluarga. Cicak berkejaran berlomba mencari mangsa merangkak pada dinding kamar yang sudah memudar warnanya. Salah satu cicak itu telah memenjarakan kemerdekaan seekor nyamuk dalam mulutnya. Seperti halnya cinta seorang wanita yang telah terperangkap dalam cinta segitiga.

“Kenapa? Kenapa bisa tertipu sekian lama? Apakah aku wanita bodoh? Menjadi perusak rumah tangga orang?” Airmatanya tumpah bagaikan curah hujan, deras, perih. Apa yang harus aku lakukan kini? Cintaku telah ternodai. Kepercayaan ini telah musnah. Benarkah kenyataan ini?

Dia segera menyadari ada tamu yang menunggunya dalam cemas dan harap.  Dan dia adalah anak tirinya. Datang berharap ridho dan doa restu dari seorang Bapak yang telah ingkar dari tanggung jawab sekian tahun lamanya secara lahir batin.

Dia beranjak menyeret kakinya ke tempat wudhu dan membasuh tuntas airmatanya. Cukup sampai disini melankolis dan haru biru luka hati. Hari baru telah menunggu.

“Nak. Ibu sholat dulu ya.”
“Silakan. Bu kebetulan saya sedang berhalangan hari ini.”
Mukena putih itu basah oleh airmata duka kembali, sungguh sulit rasanya melupakan kepedihan ini. Ya Alloh kuserahkan diriku pada-Mu. Sesungguhnya semua takdir itu akan berlaku sesuai kehendak kuasa-Mu.

Saat ini adalah kenyataan yang harus dihadapi. Semua bukan lagi mimpi semata. Bagian kelam dari pelangi bahtera rumah tangga yang selama ini tenang tanpa gempuran ombak berarti. Saatnya untuk berbagi kebahagiaan dan kasih sayang, keegoisan itu harus terkikis perlahan walaupun tetap menyisakan duka.

“Aku ibu tirimu, Nak. Maaf atas kelancanganku sampai saat ini tetap berprasangka bahwa Bapak belum punya keluarga.”

“Iya, Bu. Mohon maaf juga bila kedatangan saya kemari mengganggu, hanya saja hak perwalian  harus dipenuhi selama Bapak masih hidup.”

“Iya. Ibu ngerti  maksudmu. Tapi Bapak sedang berada di sawah nanti sore baru pulang. Kebetulan jaraknya lumayan jauh jadi apakah mau ditunggu?”

“Tidak. Bu. Tolong sampaikan saja  keperluan saya. Takutnya malah mengganggu keluarga Ibu.”
“Tidak juga kok.”
“Saya permisi. Assalamu’alaikum.”
“Wa alaikum salam warahmatullah.”
Keduanya saling memandang, tersenyum dan berpelukan lama, dalam isak tangis bahagia.

“Terimaksih Ibu berkenan menerimaku.”
“Tentu saja sudah menjadi kewajibanku bahkan sejak lama seharusnya.”

Teringat kembali akan kejadian masa silam membuatnya tersenyum samar. Keputusannya waktu itu terbukti benar. Anak perempuan shalihah itu telah menjadi tumpuan harapan mereka dikala senja. Sedangkan anak kandungnya yang hanya semata wayang itu telah pergi entah kemana lari dari kemelaratan hidup orangtuanya. Tak tentu rimbanya. Lindungilah kedua anakku Tuhanku selamatkanlah dari keburuka dunai dan akhirat. Aamiin.
                
*******************************************************************

No comments:

Post a Comment