Wednesday, September 10, 2014

JANJI HATI



JANJI HATI
By. Mutiara Sakha

Kabut dini hari menyelimuti lereng gunung Slamet. Keindahan alam paripurna ini masih terasa indah dimataku walaupun  beberapa minggu terakhir masih berstatus awas alias labil. Ciee... berasa jadi pujangga deh. Bisa habis aku jadi bahan tertawaan anak-anak sekampus  kalau mereka tahu  diriku yang cuek ini tiba-tiba menjadi sastrawan.
“Dhona, sini dong ikutan jalan-jalan, ngapain berkemul melulu. Percuma dong kita nginep di sini kalau cuma buat tidur doang.” Santy cewek Betawi itu mulai berkicau panjang pendek habis pendek terus panjang lagi. Dengan memakai setelan sport wear yang pas, seperti biasanya dia selalu tampil menawan  Begitulah kami berdua memang sudah sangat kompak seperti golok dan martilnya, he heww... Gak nyambung banget ya?
“Udah kamu duluan aja deh, lagi males nih.”
“Yah, curang ah. Bukanya elu yang ngebet banget pengen nginep dimari? Udah gue belain gitu loh kagak mudik ke kota halaman gara-gara pengen nemenin ngadem !?”
“Halah ribet banget sih, udah mirip kaya nenek-nenek kehilangan konde tahu ga,” mulutku mulai menggembung sebal.
“Ya, mana berani  keluyuran  sendirian, ini khan wilayah  jajahan elu keles!!” Matanya melotot bak kacang sukro.
Gawat kalau sudah begini biasanya  duapuluhrius  nih. Dengan rasa males yang masih menumpuk diseluruh persendian, aku hampiri juga cewek rese satu ini. Lumayanlah daripada lu manyun. Berasa banget pengen tidur lagi. Huahhh ....ngantuk berat mana lapar lagi.
Dengan setengah hati yang masih tertinggal di balik selimut ku seret kaki kanan dan kiri bergantian menyusuri jalan setapak yang masih berkabut. Ya, iyalah kalau diseret bareng-bareng berasa jadi suster ngesot deh.
“Emangnya pengen jalan kemana sih, San ?”
“Kemana, kemana, kemana,” sambil berjoget gaya ulet Santy melenggang nyebelin sambil matanya  beraksi lihat sana sini.
Pemandangan  Baturaden memang sejuk segar bagaikan es badeg yang sering di jajakan oleh para penggiat ekonomi kecil alias PKL Purwokerto dan sekitarnya.
Yang belum pernah coba es badeg silakan hunting and get lost  di wilayah sejuk ini. Woaaa... gayanya cinta produk dalam negeri nih.
Melewati sebuah villa megah yang nampak ramai dengan aktivitas penduduknya.  Wah keren-keren juga ya. Rupanya mereka rombongan mahasiswa dari Surabaya terdengar dari logat Jawa Timur  yang dipakai.
Salah satu dari cowok kece itu tiba-tiba saja mendekati kami berdua dengan berlari kecil agak setengah besar.
“Hai, selamat pagi. Lagi pada olahraga nih. Kok cuma berdua aja sih?”
“Kenalkan namaku, Reza. Kami dari  Surabaya.” Astaga ini cowok udah  mirip banget sama Santy, rese  plus cerewet pula.
“Hai juga !! Aku Santy cewek  paling imut di sini. Dan ini temanku Dhona. Kami berdua nginep di Villa  sebelah timur sana.”
Waduh !!  Waduh !!  Mulai deh. Si Biang Alay ngoceh sok kepedean asli bikin maluku dan malumu. Segera kutarik jenggotnya eh.. tangan Santy yang masih tersenyum-senyum genit.  Ih.. jadi  ingat  gaya Si Tesi pelawak Srimulat  yang doyan pakai cincin batu akik, lebay.
“Aduh, Elu apa-apaan sih. Kagak sopran tahu. Pamali kata orang sunda kalau ada barang bagus gini di anggurin.”
“Udah, biarin aja. Mau di kemanain cowok kamu  yang jumlahnya udah segambreng itu?”
“Yeee... tinggal dikarungin beres deh,” katanya sambil tetap sibuk tebar pesona sama  cowok itu.
“Maaf  ya.  Dia emang rada-rada gitu. Kami permisi dulu ya,” tergesa-gesa ku seret langkah kaki  yang tambah kaku-kaku gegara  anak  Betawi itu.
“Oke, lain kali boleh dong main ke Villa kalian. Aku masih dua hari lagi di sini.”
Aku pura-pura mengangguk sambil melemparkan senyuman paling kecut melebihi bau badan  orang yang belum mandi selama sebulan. Aseeem...!!!
Santy yang melihatku terus menyeretnya  seperti penjaga Lapas kepada para pesakitan hanya mendengus sebal.
“Dhona, sayang tahu ninggalin cowok sesempurna  itu. Sampai kapan lu bakalan menutup hati sama semua  makhluk yang berjudul lelaki.”
“Yang udah pergi ga bakalan kembali khan?  Terus sampai kapan lu mau bertahan jadi anggota  IJO LUMUT ?”
“Apaan sih. Siapa juga yang mau lumutan. Mana pakai istilah asing lagi.”
“Artinya Ikatan Jomblo Lucu dan Imut. Hee heee...”
“Rese banget sih. Udahlah nggak usah pusingin hidup aku. Cinta ini sudah mati terkubur bersama Dio  setahun yang lalu. Aku ga  bakalan  sanggup pindah ke lain hati.”
“Ya, elah. Dio udah meninggal gitu. Emangnya lu pikir  bakalan ngapelin lu lagi ?  Mau pacaran   sama arwah.”
Kutatap hamparan bunga-bunga beraneka warna di bawah sana. Indah dan membuatku merasa nyaman. Liburan yang kunantikan ini menjadi  hancur karena nunculnya cowok ga penting tadi. Garing. Ingatan akan Dio telah mencuri suasana ceriaku. Entah kapan kudapat melepaskan bayangan perih masa lalu itu.
*********************
Setelah liburan berakhir kami berdua kembali  ke kampus dengan seabreg kegiatan maklumlah sebagai  mahasiswa  yang gila organisasi berasa kurang waktu untuk menjalani semua ini. Dari kegiatan Rohis samapai Mapala semua  telah kami rasakan.
Semua bermanfaat tergantung bagimana kita berpikir positiv dan menempatkan diri agar tidak terjerumus ke dalam hal yang  sama sekali tidak elit. Maksudku hal-hal  yang merusak jiwa dan raga gitu.
Santy juga kembali sibuk  dengan  pacar-pacarnya yang jumlahnya, ratusan..... Bukan maksudnya lebih dari lima biji ketimun. Sebagai cewek kampus yang  multitalenta tak heran jika banyak kumbang yang datang bertandang. Terkadang akupun kagum padanya. Di balik sifatnya yang semau gue sejujurnya dia adalah sahabat yang baik lagi pula  penuh pengertian.
**********
Pagi agak siang yang gerah ini sesuatu yang mengejutkan terjadi. Santy masuk kelas dengan jilbab rapi di kepalanya. Dengan langkah yang anggun, dia melangkah penuh wibawa diiringi tatapan kagum dan heran dari teman satu angkatan.
Mr.Johan  dosen bahasa inggris yang telah berdiri di depan kelas tertawa. “What a beautiful lady, Santy !!!” Kapan kamu menyusul Dhona?”
“Thankyou, Sir.” Insha Alloh sebentar lagi sahabat saya ini akan menjadi lebih keren dengan wajah berbalut kerudung,” senyum Santy sambil mengedipkan matanya ke arahku.
“Dhon, habis ini nanti kita ketemuan di kantin ya. Ada yang mau gue omongin,” bisiknya setelah meletakkan bukunya di  kursi sebelahku.
Aku hanya mendengus sebal sekaligus malu karena tatapan teman-teman  kini tertuju padaku. Jujur selama ini belum ada pikiran untuk memakai hijab walaupun Ustadah Rina pembimbing Rohis  sering memberi petuah panjang kali lebar sama dengan bosan kepada kami semua.
“Ada apa sih. Kayanya serius banget. By The Way selamat ya. Kamu udah berani berubah.” Aku langsung menodongnya tak sabar ketika sampai di kantin.
Dia hanya tersenyum misterius sambil menunjukkan  sebuah kartu  cantik berwarna ungu.
“Gue mau menikah satu minggu lagi, Dhona. Kamu kudu datang, awas kalau sampai nggak. Acaranya sederhana saja kok. Cukup akad nikah di rumahku dengan mengundang beberapa kerabat dekat saja termasuk kamu.”
“Apa?! Yang bener. Kamu serius. Nikah sama siapa? Anak mana? Rumahnya di mana?” Dengan panik aku meluncurkan  tembakan bertubi-tubi.
Terus terang sangat mengejutkan ketika mendengar Dhona, artis kampus yang populer tiba-tiba berhijab dan akan menyempurnakan agamanya tanpa sepengetahuanku. Dan dalam tempo  yang sesingkat-singkatnya. Cewek rese asli Betawi ini telah  menohok jantungku dengan telak hari ini.
“Maaf ya. Gue ga ngsih tahu sebelumnya sama elu, mendadak soalnya. Setelah bertemu dengan Ustadah Rina belum lama ini akhirnya Beliau bersedia untuk mencarikan calon suami yang shaleh. Gue bosan dengan kelakuan cowo-cowo rese pacarku itu. Mereka hanya kagum pada fisik semata. Tak  jarang mereka melecehkan  serta memperlakukanku seperti barang mainan yang tidak berharga. Memuakkan !!”
Entah perasaan apa yang kupunya saat ini. Its so amazing! Wonderfull ! Aku merasakan airmata yang memanas dan meleleh begitu saja di pipi. Kami berpelukan larut dalam tangis bahagia.
Aku pasti akan datang Santy. Dengan tulus kuucapkan doa semoga  kalian menjadi pasangan kekasih dunia  akhirat. Mulai hari ini   juga kuputuskan untuk menghijabkan hati dan raga menyongsong  kedamaian hati.
Dan setelah akad nikah nanti Santy sahabatku akan menjadi kakak ipar tercinta karena telah resmi menikah dengan abang sulungku.  Kak Rony yang  telah mengabdikan dirinya menjadi Dokter di daerah terpencil. Ya Rabbi, cintailah mereka dengan cinta-Mu yang sempurna.
**********************************************************************

No comments:

Post a Comment