JANJI HATI
By. Mutiara Sakha
Kabut dini hari menyelimuti
lereng gunung Slamet. Keindahan alam paripurna ini masih terasa indah dimataku
walaupun beberapa minggu terakhir masih
berstatus awas alias labil. Ciee... berasa jadi pujangga deh. Bisa habis aku jadi
bahan tertawaan anak-anak sekampus kalau
mereka tahu diriku yang cuek ini
tiba-tiba menjadi sastrawan.
“Dhona, sini dong ikutan
jalan-jalan, ngapain berkemul melulu. Percuma dong kita nginep di sini kalau cuma
buat tidur doang.” Santy cewek Betawi itu mulai berkicau panjang pendek habis
pendek terus panjang lagi. Dengan memakai setelan sport wear yang pas, seperti
biasanya dia selalu tampil menawan Begitulah kami berdua memang sudah sangat
kompak seperti golok dan martilnya, he heww... Gak nyambung banget ya?
“Udah kamu duluan aja deh, lagi
males nih.”
“Yah, curang ah. Bukanya elu
yang ngebet banget pengen nginep dimari? Udah gue belain gitu loh kagak mudik
ke kota halaman gara-gara pengen nemenin ngadem !?”
“Halah ribet banget sih, udah
mirip kaya nenek-nenek kehilangan konde tahu ga,” mulutku mulai menggembung
sebal.
“Ya, mana berani keluyuran
sendirian, ini khan wilayah jajahan elu keles!!” Matanya melotot bak
kacang sukro.
Gawat kalau sudah begini
biasanya duapuluhrius nih. Dengan rasa males yang masih menumpuk
diseluruh persendian, aku hampiri juga cewek rese satu ini. Lumayanlah daripada
lu manyun. Berasa banget pengen tidur lagi. Huahhh ....ngantuk berat mana lapar
lagi.
Dengan setengah hati yang masih
tertinggal di balik selimut ku seret kaki kanan dan kiri bergantian menyusuri
jalan setapak yang masih berkabut. Ya, iyalah kalau diseret bareng-bareng
berasa jadi suster ngesot deh.
“Emangnya pengen jalan kemana
sih, San ?”
“Kemana, kemana, kemana,” sambil
berjoget gaya ulet Santy melenggang nyebelin sambil matanya beraksi lihat sana sini.
Pemandangan Baturaden memang sejuk segar bagaikan es badeg
yang sering di jajakan oleh para penggiat ekonomi kecil alias PKL Purwokerto
dan sekitarnya.
Yang belum pernah coba es badeg
silakan hunting and get lost di wilayah sejuk ini. Woaaa... gayanya
cinta produk dalam negeri nih.
Melewati sebuah villa megah yang
nampak ramai dengan aktivitas penduduknya.
Wah keren-keren juga ya. Rupanya mereka rombongan mahasiswa dari
Surabaya terdengar dari logat Jawa Timur yang dipakai.
Salah satu dari cowok kece itu
tiba-tiba saja mendekati kami berdua dengan berlari kecil agak setengah besar.
“Hai, selamat pagi. Lagi pada
olahraga nih. Kok cuma berdua aja sih?”
“Kenalkan namaku, Reza. Kami
dari Surabaya.” Astaga ini cowok
udah mirip banget sama Santy, rese plus cerewet pula.
“Hai juga !! Aku Santy cewek paling imut di sini. Dan ini temanku Dhona.
Kami berdua nginep di Villa sebelah
timur sana.”
Waduh !! Waduh !! Mulai deh. Si Biang Alay ngoceh sok kepedean asli
bikin maluku dan malumu. Segera kutarik jenggotnya eh.. tangan Santy yang masih
tersenyum-senyum genit. Ih.. jadi ingat
gaya Si Tesi pelawak Srimulat
yang doyan pakai cincin batu akik, lebay.
“Aduh, Elu apa-apaan sih. Kagak
sopran tahu. Pamali kata orang sunda kalau ada barang bagus gini di anggurin.”
“Udah, biarin aja. Mau di
kemanain cowok kamu yang jumlahnya udah
segambreng itu?”
“Yeee... tinggal dikarungin
beres deh,” katanya sambil tetap sibuk tebar pesona sama cowok itu.
“Maaf ya.
Dia emang rada-rada gitu. Kami permisi dulu ya,” tergesa-gesa ku seret
langkah kaki yang tambah kaku-kaku
gegara anak Betawi itu.
“Oke, lain kali boleh dong main
ke Villa kalian. Aku masih dua hari lagi di sini.”
Aku pura-pura mengangguk sambil
melemparkan senyuman paling kecut melebihi bau badan orang yang belum mandi selama sebulan.
Aseeem...!!!
Santy yang melihatku terus
menyeretnya seperti penjaga Lapas kepada
para pesakitan hanya mendengus sebal.
“Dhona, sayang tahu ninggalin
cowok sesempurna itu. Sampai kapan lu
bakalan menutup hati sama semua makhluk
yang berjudul lelaki.”
“Yang udah pergi ga bakalan
kembali khan? Terus sampai kapan lu mau
bertahan jadi anggota IJO LUMUT ?”
“Apaan sih. Siapa juga yang mau
lumutan. Mana pakai istilah asing lagi.”
“Artinya Ikatan Jomblo Lucu dan
Imut. Hee heee...”
“Rese banget sih. Udahlah nggak
usah pusingin hidup aku. Cinta ini sudah mati terkubur bersama Dio setahun yang lalu. Aku ga bakalan sanggup pindah ke lain hati.”
“Ya, elah. Dio udah meninggal
gitu. Emangnya lu pikir bakalan ngapelin
lu lagi ? Mau pacaran sama arwah.”
Kutatap hamparan bunga-bunga
beraneka warna di bawah sana. Indah dan membuatku merasa nyaman. Liburan yang
kunantikan ini menjadi hancur karena
nunculnya cowok ga penting tadi. Garing. Ingatan akan Dio telah mencuri suasana
ceriaku. Entah kapan kudapat melepaskan bayangan perih masa lalu itu.
*********************
Setelah liburan berakhir kami
berdua kembali ke kampus dengan seabreg
kegiatan maklumlah sebagai mahasiswa yang gila organisasi berasa kurang waktu untuk
menjalani semua ini. Dari kegiatan Rohis samapai Mapala semua telah kami rasakan.
Semua bermanfaat tergantung
bagimana kita berpikir positiv dan menempatkan diri agar tidak terjerumus ke
dalam hal yang sama sekali tidak elit.
Maksudku hal-hal yang merusak jiwa dan
raga gitu.
Santy juga kembali sibuk dengan
pacar-pacarnya yang jumlahnya, ratusan..... Bukan maksudnya lebih dari
lima biji ketimun. Sebagai cewek kampus yang
multitalenta tak heran jika banyak kumbang yang datang bertandang.
Terkadang akupun kagum padanya. Di balik sifatnya yang semau gue sejujurnya dia
adalah sahabat yang baik lagi pula penuh
pengertian.
**********
Pagi agak siang yang gerah ini
sesuatu yang mengejutkan terjadi. Santy masuk kelas dengan jilbab rapi di
kepalanya. Dengan langkah yang anggun, dia melangkah penuh wibawa diiringi
tatapan kagum dan heran dari teman satu angkatan.
Mr.Johan dosen bahasa inggris yang telah berdiri di
depan kelas tertawa. “What a beautiful lady, Santy !!!” Kapan kamu menyusul
Dhona?”
“Thankyou, Sir.” Insha Alloh
sebentar lagi sahabat saya ini akan menjadi lebih keren dengan wajah berbalut
kerudung,” senyum Santy sambil mengedipkan matanya ke arahku.
“Dhon, habis ini nanti kita
ketemuan di kantin ya. Ada yang mau gue omongin,” bisiknya setelah meletakkan
bukunya di kursi sebelahku.
Aku hanya mendengus sebal
sekaligus malu karena tatapan teman-teman
kini tertuju padaku. Jujur selama ini belum ada pikiran untuk memakai
hijab walaupun Ustadah Rina pembimbing Rohis
sering memberi petuah panjang kali lebar sama dengan bosan kepada kami
semua.
“Ada apa sih. Kayanya serius
banget. By The Way selamat ya. Kamu udah
berani berubah.” Aku langsung menodongnya tak sabar ketika sampai di kantin.
Dia hanya tersenyum misterius
sambil menunjukkan sebuah kartu cantik berwarna ungu.
“Gue mau menikah satu minggu
lagi, Dhona. Kamu kudu datang, awas kalau sampai nggak. Acaranya sederhana saja
kok. Cukup akad nikah di rumahku dengan mengundang beberapa kerabat dekat saja
termasuk kamu.”
“Apa?! Yang bener. Kamu serius.
Nikah sama siapa? Anak mana? Rumahnya di mana?” Dengan panik aku
meluncurkan tembakan bertubi-tubi.
Terus terang sangat mengejutkan
ketika mendengar Dhona, artis kampus yang populer tiba-tiba berhijab dan akan
menyempurnakan agamanya tanpa sepengetahuanku. Dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Cewek rese asli
Betawi ini telah menohok jantungku
dengan telak hari ini.
“Maaf ya. Gue ga ngsih tahu
sebelumnya sama elu, mendadak soalnya. Setelah bertemu dengan Ustadah Rina belum
lama ini akhirnya Beliau bersedia untuk mencarikan calon suami yang shaleh. Gue
bosan dengan kelakuan cowo-cowo rese pacarku itu. Mereka hanya kagum pada fisik
semata. Tak jarang mereka
melecehkan serta memperlakukanku seperti
barang mainan yang tidak berharga. Memuakkan !!”
Entah perasaan apa yang kupunya
saat ini. Its so amazing! Wonderfull ! Aku
merasakan airmata yang memanas dan meleleh begitu saja di pipi. Kami berpelukan
larut dalam tangis bahagia.
Aku pasti akan datang Santy.
Dengan tulus kuucapkan doa semoga kalian
menjadi pasangan kekasih dunia akhirat.
Mulai hari ini juga kuputuskan untuk menghijabkan hati dan
raga menyongsong kedamaian hati.
Dan setelah akad nikah nanti
Santy sahabatku akan menjadi kakak ipar tercinta karena telah resmi menikah
dengan abang sulungku. Kak Rony
yang telah mengabdikan dirinya menjadi
Dokter di daerah terpencil. Ya Rabbi, cintailah mereka dengan cinta-Mu yang
sempurna.
**********************************************************************
No comments:
Post a Comment