Wednesday, September 10, 2014

SINGKONG BERKAH



SINGKONG BERKAH
By:  MUTIARA SAKHA

Jeritan burung malam menandai akan datangnya jubah kegelapan yang akan mulai turun menampakkan kekuasaannya. Gelap adalah suatu  kekuatan hitam yang penuh dengan misteri serta ketakutan. Kesedihan  dan duka lara  seringkali terwakili oleh hitam kelam.
            Ajar terduduk  lemas dalam pangkuan bangku tua bertambal sana sini. Penuh aroma kotoran tikus yang membuat mual. Sebuah meja kayu  tua bertutup plastik butut tepat berada di  depannya dengan sepiring plastik singkong rebus  tergeletak sendirian tanpa teman.
            “Mbah, kenapa sih kita cuma buka puasa dengan singkong ini? Apa ndak ada yang lain? Aku ndak doyan lagi masa tiap hari makan singkong terus?” Mata kecilnya berkaca-kaca sambil menggelembungkan  pipi tirus pucat sewarna dengan  roti sumbu di hadapannya.
            Roti sumbu? Ya. Apapaun nama makanan umbi-umbina  itu rasanya tetap saja sama, hambar. Karena tak mampu lagi menambahkan cita rasa dengan tempelan coklat apalagi keju sedangkan gula pasirpun tiada mampu terbeli.
            “Yang sabar tho, Le. Sudah bagus kita masih bisa makan. Di luar sana banyak anak-anak yang mati kelaparan karena  kekurangan air minum dan makanan.” Simbah memandang sayu ke arah cucunya yang sejak kecil sudah menderita lahir batin.
            “Kata siapa, Mbah? Bukankan hanya keluarga kita yang paling miskin di desa ini. Sudah miskin tak punya Bapak lagi. Kemana sih dia,Mbah? Apa benar sudah mati? Mana kuburnya?”
            “Ya. Kata televisi tho. Mbah kemaren liat anak-anak yang kulitnya hitam kurus kering berperut buncit pada mati kelaparan. Lagipula percuma mencari Bapak kandungmu itu. Dia tak pernah ada buat kamu. Berarti memang sudah mati.”
            Tatapan Simbah menerawang jauh ke masa lalu yang telah menjadikan sesuatu yang  tiada menjadi ada. Sebuah pernikahan secepat kilat yang berakhir dengan derita.
            “Marti, kemana suamimu tadi? Kenapa lama tak juga kembali? Aku khawatir kalau ada apa-apa dengannya. Pamitan ndak sama kamu?”
            “Ndak tahu, Mak. Tadi sih bilangnya cuma mau pergi sebentar katanya. Nanti juga kembali, ndak usah bingung.”
            “Walah, Mar. Aku punya firasat jelek sama suamimu itu loh. Apalagi dia membawa sepeda adikmu Inah. Jangan-jangan minggat dia itu.”
            “Sudahlah. Jangan berpikiran jelek seperti itu. Ndak baik nanti coba tak cari ke tetangga siapa tahu ada yang melihat.” Marti mengelus perutnya yang kian membuncit dengan rerasa yang sulit dilukiskan.
            “Ndak usah, biarkan saja nanti aku yang mencari. Kamu lagi hamil muda ndak boleh cape-cape. Takut keguguran nantinya. Apalagi badanmu kelihatan lemes begitu. Sana tiduran saja.”
            Marti bangkit dengan langkah yang lunglai tiada berdaya, dalam kondisi seperti ini selayaknya perempuan yang sedang hamil anak pertama sungguh serasa ingin selalu dibelai manja oleh suami tercinta. Akan tetapi tenyata semuanya telah jauh panggang daripada api. Bak bumi dan langit terlalu jauh dari kenyataan. Perih. Bahkan sejak pertemuan pertama itu  dia telah menjadi korban dari nafsunya sendiri.
            “Adis, kita harus secepatnya menikah. Aku telah berbadan dua. Malu nanti dilihat oleh para tetangga. Tak tahan aku mendengarnya. Sudahlah miskin hamil pula di luar nikah. Apa kamu ndak kasihan sama Mamak  di rumah? Aku memang anak durhaka tak tahu diri, hanya mampu menorehkan aib.” Marni menatap sedih ke arah Adis sang calon bapak dari bayi yang kini tengah tumbuh subur dalam rahimnya. Semakin besar tanpa bisa dicegah apalagi di sembunyikan lagi.
            “Salah sendiri. Kenapa kamu malah nekat ikut tinggal di sini. Ya. Aku seneng aja tinggal menikmati tubuhmu.” Laki-laki dingin itu melengos  beranjak pergi.
            “Adis. Jangan lari dari tanggung jawab. Pengecut itu namanya, toh kita melakukannya karena saling cinta. Awas saja kalau sampai kamu lari. Seluruh berandal kampung akan memamahmu hingga lumat.”
            “Huh.. !! Dasar perempuan pancen nyusahin aja kerjanya. Salah sendiri sampai hamil. Harusnya jaga dong gimana caranya biar ndak kebobolan gitu. Udah tahu pengahasilanku dari jualan kerupuk tak cukup untuk makan kita sehari-hari apalagi sekarang ditambah biaya persalinan segala. Jaman sekarang punya anak itu mahal tahu.”  Suaranya kasar menyentakkan telinga, sakit.
            “Aku ndak mau tahu pokoknya. Toh orang-orang juga sudah tahu bahwa aku ndak pernah punya pacar selain kamu sampai detik ini. Dan sekarang aku hamil anak kamu sendiri. Mau lari kemana kamu?”
            “Hah.. susah amat tinggal digugurkan aja beres tho? Masalah nikah nanti saja sambil menunggu `waktu yang tepat.” Mulutnya sibuk mengisap rokok murahan dengan santai, asapnya mengepul penuhi langit-langit kamar yang penuh sarang laba-laba. Pekat.
            “Ndak mau. Itu hanya akan menambah panjang daftar dosa kita, Adis teganya kamu mengatakan itu. Dasar pembunuh tak tahu malu.”
            Dengan proses yang penuh ketidaknyamanan pada akhirnya mereka berdua menikah dan tinggal serumah dengan Simbah serta dua adik Marti yang menderita disable dan kelainan jiwa.
            Adis yang  melihat keadaan mertuanya sebagai janda miskin beranak banyak itu telah menjadi semakin kecewa. Dia memutuskan pergi meninggalkan rumah penuh derita itu dengan membawa lari sepeda mini milik Inah, sebagai harta berharga satu-satunya yang mereka punyai. Dan tak pernah lagi kembali. Menurut kabar yang tersiar bahwa laki-laki busuk itu telah menikah lagi dengan perempuan lain dan mempunyai anak.
            “Sudahlah. Mar. Biarkan saja dia pergi. Laki-laki itu bukan orang baik. Sepeda milik Inah itu mungkin telah dijualnya. Sabar ya. Gusti Alloh ndak akan pernah tidur dan membiarkanmu sendirian.”
            “Tapi. Mbah. Gara-gara dia mencuri sepeda kesayangan Inah akhirnya membuatnya menjadi semakin sakit jiwa. Lihat saja sekarang dia senang berteriak-teriak sendiri meracau tak karuan. Malu. Maafkan aku yang ndak perrnah mau dengar nasihatmu, Mak. Bodoh gampang ditipu laki-laki brengsek.”
            “Ya memang garis hidupmu seperti ini. Yang penting sekarang jaga baik-baik bayi itu ya. Amanah berat telah menunggumu.” Mata tua itu semakin layu tergerus nasib tanpa mampu berbuat apapun.
            “Simbah malah ngelamun sih.” Ajar berkata keras menggetkan.
 Kesadaran Simbah terusik untuk   kembali menghadapi kenyataan hidup sepahit apapun itu. Kini anak itu besar tanpa Bapak menjadi anak yang merana dan nakal tanpa arahan dari orangtuanya sendiri. Anak laki-laki sepuluh tahun itu menjadi liar dan enggan bersekolah. Entah berapa kali dia  bolos pergi keluyuran tak mau belajar . Bosan sudah para guru untuk memberi peringatan.
“ Aku besok ndak mau puasa lagi. Buat apa puasa toh orang lain juga pada ndak puasa. Tadi aja kulihat Bapakanya Ruwe lagi merokok dan makan siang di depan rumahnya. Padahal dia sudah tua, tapi boleh ndak puasa.” Ajar semakin marah denga mata nyalang.
            Perlahan air mata menganak sungai dari pipi kurus keriput milik Simbah. Tak mampu bersuara. Tak berdaya. Ajar yang keras kepala ini sangat sulit untuk dinasihati bila sudah mempunyai keinginan. Bengal.  Ibunya sebagai satu-satunya orang yang masih mampu untuk mengendalikannya telah lama pergi ke luar negeri bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dan hingga saat ini belum juga mengirimkan uang untuk makan sehari-hari.
            “Gusti Alloh. Mohon ampun atas kebodohan hamba-Mu ini. Jangan biarkan cucuku terbiar menjadi anak nakal yang tidak mau mengenalmu dalam hidupnya. Cukuplah aku dan anak-anakku yang menderita. Jangan biarkan dia tersesat jauh. Sayangilah, rengkuhlah dengan segenap rahmat hidayah-Mu senantiasa.” Bibir tuanya memohon lirih dalam sholatnya selalu. Penuh harapan. Miris.

Nusakambangan,   29  Juni 2014.
**********************************************************************

No comments:

Post a Comment