SINGKONG
BERKAH
By: MUTIARA SAKHA
Jeritan burung malam menandai akan datangnya jubah
kegelapan yang akan mulai turun menampakkan kekuasaannya. Gelap adalah
suatu kekuatan hitam yang penuh dengan
misteri serta ketakutan. Kesedihan dan
duka lara seringkali terwakili oleh
hitam kelam.
Ajar terduduk lemas dalam pangkuan bangku tua bertambal
sana sini. Penuh aroma kotoran tikus yang membuat mual. Sebuah meja kayu tua bertutup plastik butut tepat berada di depannya dengan sepiring plastik singkong
rebus tergeletak sendirian tanpa teman.
“Mbah, kenapa sih kita
cuma buka puasa dengan singkong ini? Apa ndak ada yang lain? Aku ndak doyan
lagi masa tiap hari makan singkong terus?” Mata kecilnya berkaca-kaca sambil
menggelembungkan pipi tirus pucat
sewarna dengan roti sumbu di hadapannya.
Roti sumbu? Ya. Apapaun
nama makanan umbi-umbina itu rasanya
tetap saja sama, hambar. Karena tak mampu lagi menambahkan cita rasa dengan
tempelan coklat apalagi keju sedangkan gula pasirpun tiada mampu terbeli.
“Yang sabar tho, Le. Sudah
bagus kita masih bisa makan. Di luar sana banyak anak-anak yang mati kelaparan
karena kekurangan air minum dan
makanan.” Simbah memandang sayu ke arah cucunya yang sejak kecil sudah
menderita lahir batin.
“Kata siapa, Mbah?
Bukankan hanya keluarga kita yang paling miskin di desa ini. Sudah miskin tak
punya Bapak lagi. Kemana sih dia,Mbah? Apa benar sudah mati? Mana kuburnya?”
“Ya. Kata televisi tho.
Mbah kemaren liat anak-anak yang kulitnya hitam kurus kering berperut buncit
pada mati kelaparan. Lagipula percuma mencari Bapak kandungmu itu. Dia tak
pernah ada buat kamu. Berarti memang sudah mati.”
Tatapan Simbah menerawang
jauh ke masa lalu yang telah menjadikan sesuatu yang tiada menjadi ada. Sebuah pernikahan secepat
kilat yang berakhir dengan derita.
“Marti, kemana suamimu
tadi? Kenapa lama tak juga kembali? Aku khawatir kalau ada apa-apa dengannya.
Pamitan ndak sama kamu?”
“Ndak tahu, Mak. Tadi sih
bilangnya cuma mau pergi sebentar katanya. Nanti juga kembali, ndak usah
bingung.”
“Walah, Mar. Aku punya
firasat jelek sama suamimu itu loh. Apalagi dia membawa sepeda adikmu Inah.
Jangan-jangan minggat dia itu.”
“Sudahlah. Jangan
berpikiran jelek seperti itu. Ndak baik nanti coba tak cari ke tetangga siapa
tahu ada yang melihat.” Marti mengelus perutnya yang kian membuncit dengan
rerasa yang sulit dilukiskan.
“Ndak usah, biarkan saja
nanti aku yang mencari. Kamu lagi hamil muda ndak boleh cape-cape. Takut
keguguran nantinya. Apalagi badanmu kelihatan lemes begitu. Sana tiduran saja.”
Marti bangkit dengan
langkah yang lunglai tiada berdaya, dalam kondisi seperti ini selayaknya
perempuan yang sedang hamil anak pertama sungguh serasa ingin selalu dibelai
manja oleh suami tercinta. Akan tetapi tenyata semuanya telah jauh panggang
daripada api. Bak bumi dan langit terlalu jauh dari kenyataan. Perih. Bahkan
sejak pertemuan pertama itu dia telah
menjadi korban dari nafsunya sendiri.
“Adis, kita harus
secepatnya menikah. Aku telah berbadan dua. Malu nanti dilihat oleh para
tetangga. Tak tahan aku mendengarnya. Sudahlah miskin hamil pula di luar nikah.
Apa kamu ndak kasihan sama Mamak di
rumah? Aku memang anak durhaka tak tahu diri, hanya mampu menorehkan aib.”
Marni menatap sedih ke arah Adis sang calon bapak dari bayi yang kini tengah
tumbuh subur dalam rahimnya. Semakin besar tanpa bisa dicegah apalagi di
sembunyikan lagi.
“Salah sendiri. Kenapa
kamu malah nekat ikut tinggal di sini. Ya. Aku seneng aja tinggal menikmati
tubuhmu.” Laki-laki dingin itu melengos
beranjak pergi.
“Adis. Jangan lari dari
tanggung jawab. Pengecut itu namanya, toh kita melakukannya karena saling
cinta. Awas saja kalau sampai kamu lari. Seluruh berandal kampung akan
memamahmu hingga lumat.”
“Huh.. !! Dasar perempuan pancen nyusahin aja kerjanya. Salah
sendiri sampai hamil. Harusnya jaga dong gimana caranya biar ndak kebobolan
gitu. Udah tahu pengahasilanku dari jualan kerupuk tak cukup untuk makan kita
sehari-hari apalagi sekarang ditambah biaya persalinan segala. Jaman sekarang
punya anak itu mahal tahu.” Suaranya
kasar menyentakkan telinga, sakit.
“Aku ndak mau tahu
pokoknya. Toh orang-orang juga sudah tahu bahwa aku ndak pernah punya pacar
selain kamu sampai detik ini. Dan sekarang aku hamil anak kamu sendiri. Mau
lari kemana kamu?”
“Hah.. susah amat tinggal
digugurkan aja beres tho? Masalah nikah nanti saja sambil menunggu `waktu yang
tepat.” Mulutnya sibuk mengisap rokok murahan dengan santai, asapnya mengepul
penuhi langit-langit kamar yang penuh sarang laba-laba. Pekat.
“Ndak mau. Itu hanya akan
menambah panjang daftar dosa kita, Adis teganya kamu mengatakan itu. Dasar
pembunuh tak tahu malu.”
Dengan proses yang penuh
ketidaknyamanan pada akhirnya mereka berdua menikah dan tinggal serumah dengan
Simbah serta dua adik Marti yang menderita disable dan kelainan jiwa.
Adis yang melihat keadaan mertuanya sebagai janda miskin
beranak banyak itu telah menjadi semakin kecewa. Dia memutuskan pergi
meninggalkan rumah penuh derita itu dengan membawa lari sepeda mini milik Inah,
sebagai harta berharga satu-satunya yang mereka punyai. Dan tak pernah lagi
kembali. Menurut kabar yang tersiar bahwa laki-laki busuk itu telah menikah
lagi dengan perempuan lain dan mempunyai anak.
“Sudahlah. Mar. Biarkan
saja dia pergi. Laki-laki itu bukan orang baik. Sepeda milik Inah itu mungkin
telah dijualnya. Sabar ya. Gusti Alloh ndak akan pernah tidur dan membiarkanmu
sendirian.”
“Tapi. Mbah. Gara-gara dia
mencuri sepeda kesayangan Inah akhirnya membuatnya menjadi semakin sakit jiwa.
Lihat saja sekarang dia senang berteriak-teriak sendiri meracau tak karuan. Malu.
Maafkan aku yang ndak perrnah mau dengar nasihatmu, Mak. Bodoh gampang ditipu
laki-laki brengsek.”
“Ya memang garis hidupmu
seperti ini. Yang penting sekarang jaga baik-baik bayi itu ya. Amanah berat
telah menunggumu.” Mata tua itu semakin layu tergerus nasib tanpa mampu berbuat
apapun.
“Simbah malah ngelamun
sih.” Ajar berkata keras menggetkan.
Kesadaran
Simbah terusik untuk kembali menghadapi
kenyataan hidup sepahit apapun itu. Kini anak itu besar tanpa Bapak menjadi
anak yang merana dan nakal tanpa arahan dari orangtuanya sendiri. Anak
laki-laki sepuluh tahun itu menjadi liar dan enggan bersekolah. Entah berapa
kali dia bolos pergi keluyuran tak mau
belajar . Bosan sudah para guru untuk memberi peringatan.
“ Aku besok ndak mau puasa lagi. Buat apa puasa
toh orang lain juga pada ndak puasa. Tadi aja kulihat Bapakanya Ruwe lagi
merokok dan makan siang di depan rumahnya. Padahal dia sudah tua, tapi boleh
ndak puasa.” Ajar semakin marah denga mata nyalang.
Perlahan air mata menganak
sungai dari pipi kurus keriput milik Simbah. Tak mampu bersuara. Tak berdaya.
Ajar yang keras kepala ini sangat sulit untuk dinasihati bila sudah mempunyai
keinginan. Bengal. Ibunya sebagai
satu-satunya orang yang masih mampu untuk mengendalikannya telah lama pergi ke
luar negeri bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dan hingga saat ini belum
juga mengirimkan uang untuk makan sehari-hari.
“Gusti Alloh. Mohon ampun
atas kebodohan hamba-Mu ini. Jangan biarkan cucuku terbiar menjadi anak nakal
yang tidak mau mengenalmu dalam hidupnya. Cukuplah aku dan anak-anakku yang
menderita. Jangan biarkan dia tersesat jauh. Sayangilah, rengkuhlah dengan
segenap rahmat hidayah-Mu senantiasa.” Bibir tuanya memohon lirih dalam
sholatnya selalu. Penuh harapan. Miris.
Nusakambangan, 29 Juni 2014.
**********************************************************************
No comments:
Post a Comment