RIRIN BERINGIN
By: Mutiara Sakha
Angin sepoi
mengiringi langkah-langkah kecil anak-anak yang hilir mudik berlarian dengan
ceria, sore keemasan berpayung cahaya matahari tersenyum malu-malu mengintip ragu hendak berpamitan kembali ke
peraduan.
Ririn
menatap keindahan alam dengan senyum mengulum, betapa indah surga
kecil yang dinikmatiya saat ini. Sementara burung pipit masih asyik bertengger
tak jua beranjak pulang.
“Pipit, kamu
nggak pulang? Kasian orangtuamu di rumah akan bingung mencarimu, “ sapa Ririn
heran. Tak biasanya sahabat baiknya ini masih betah menemaninya sampai senja
hampir gelap. Gerakan tubuhnya terlihat layu tak bergairah. Matanya sayu
bagaikan kabut dini hari.
Angin masih
membelainya seirama daun-daun bergoyang
menari gemulai seakan memberi kekuatan kepada dua mahluk yang saling menyayangi
setulus hati. Pipit masih terdiam sendu, tak mampu bersuara.
“Aku tahu
kamu berduka, terbaca dari raut wajah kecilmu? Apa yang bisa kubantu untuk
meringankan beban itu?”
Derai air
mata menjadi jawaban yang cukup membuat suasana berubah menjadi sendu,
ceria ini telah sirna. Duhai, apa yang
telah terjadi sebenarnya pada burung lincah yang manis itu? Pipit terbang
menjauh, pergi. Sayapnya lunglai seakan tanpa daya lagi.
Malam
menampakkan kekuatannya gelap merajai alam semesta, saatnya penduduk bumi rehat sejenak menghilangkan
penat seharian. Pohon beringin yang kokoh itu masih terdiam beku, larut dalam
kesendirian berteman desau angin yang setia menemani. Tak habis pikir dengan apa yang terjadi hari
ini, cemas akan keadaan Pipit sahabat sejati. Persahabatan yang indah antara
mereka berdua terjalin sejak burung
kecil itu tersesat ketika masih belajar terbang. Hingga sekarang ini keduanya telah menjadi
dua sahabat karib. Tiada pernah mencela apalagi membenci, mereka hidup dengan
harmoni seumpama bulan dan
bintang-bintang. Indah saling mengisi.
“Apa salahku
selama ini? Kenapa Pipit menjadi sangat murung hari ini? Siapakah yang telah
melukai hati putihnya?” Air mata jatuh berderai membasahi bumi yang masih
terlelap.
Hingga pagi
menjelang tak kuasa terpejam, Ririn
mengawasi sekitarnya menunggu dengan susah hati kehadiran sahabat
satu-satunya. Seandainya dia bersayap pastilah akan segera mengepak mencari
kemana sahabatnya berada kini.
“Selamat pagi
mentari, angin dan embun. Adakah kalian mengerti kenapa dia tak datang hari
ini? Tak pantaskah lagi kami bergurau bersama? Apakah kalian juga suatu saat
akan pergi?”
Pipit
mengepak tanpa suara,”Pagi, Rin. Maaf aku meninggalkanmu dalam sedih. Sungguh
hatiku tengah berduka. Tak mampu mengucapkan kata.”
“Wahai
sahabatku, dukamu menjadi milikku semata. Katakan walaupun pahit dan merana.”
Burung kecil
itu merunduk lagi, tak kuasa berucap. Anginpun seakan berhenti mengalir. “ Maaf
seandainya kita berpisah, aku mohon jangan lupakan kenangan manis kita ini. Aku
tak ingin kehilanganmu sampai kapanpun. “
“Apa gerangan
yang akan berlaku? Hendak kemana kau pergi? Apakah aku bersalah?”
“Bukan
begitu. Aku mendengar bahwa esok hari orang-orang akan........”
“Siapa? Orang
yang mana? Mengapa? Tolong jawab aku?”
Airmatanya
menganak sungai, “Maaf. Maafkan aku tak bisa membelamu. Orang-orang itu akan
menebangmu.......!!!”
Daun-daun
beringin berguguran laksana salju di
musim dingin. Luruh. Beku. Seakan terhenti waktu di bumi. Duka itu menganga
lelehkan derai menganak sungai. Wahai
betapa cepat kehidupan ini berlalu. Yang tua akan mati tergantikan tunas-tunas
baru ceria. Tak dapat terlawan lagi roda-roda Illahi.
Terukir jelas
dalam kenangan, bayangan Ririn muda
yang tumbuh kokoh setiap hari dan menjadikan
Alun-alun kota ini menjadi segar dan hijau. Tua muda dan kanak-kanak akan
gembira menikmati keteduhan daunnya.
Suka duka
menjadi santapan setiap hari, bertemu dengan anak pengemis dan gelandangan yang
tertidur di sisinya. Pencopet yang tergeletak penuh luka suatu malam. Pengamen
remaja yang terhuyung lemah karena minuman keras yang telah meracuninya.
Ada juga
seorang nenek renta yang menangis kehilangan cucunya semata wayang. Keesokan hari
cucunya ditemukan sudah tidak bernyawa menjadi korban tabrak lari. Yah,
begitulah hidup ini selalu berputar sesuai dengan kehendak-Nya. Tak ada yang
mampu untuk mencegahnya.
Dua sahabat
karib itu tenggelam dalam duka nestapa, bayangan perpisahan seakan muncul
dipelupuk mata. Kisah persahabatan yang indah akan segera pupus menjadi
kenangan yang tak mungkin terulang kembali. Putaran waktu tak akan melaju ke
masa lalu. Takdir harus terjadi.
“Aku nggak
mau kehilangan Ririn. Akan kulakukan apapun. Harus.” Pipit sibuk berkata-kata dalam hatinya. Kegundahan
hatinya telah membawanya terbang perlahan melintasi areal persawahan di pinggir
kota.
“Akan kubawa
semua keluargaku untuk membela Ririn besok pagi. Biarkan kami akan tunjukan
bahwa dia adalah simbol kehidupan bagi kaum burung seperti kami.”
Wajah Pipit
menjadi ceria dengan apa yang telah terlitas dalam kepalanya. Sekarang semua
harus diperjuangkan. Biarlah nyawanya akan menjadi taruhan esok pagi. Demi sahabat sehati.
Riuh suara
alat penebang kayu mulai mengaum garang, membuat semau yang mendengarnya
menjadi ciut tak bernyali. Tapi tidak bagi serombongan burung-burung pipit yang telah siap sedia
dengan batu kerikil kakinya. Ratusan burung itu telah siaga menyerang siapapun
yang akan datang mendekat.
“Kawan-kawan
hati-hati jangan tampakkan badan kalian kecuali terpaksa, serang mereka dengan
batu yang telah disiapkan semalam. Janganlah takut.” Pipit berbisik memberikan semangat bagi rekan-rekannya.
Ngeeengg...
ngeeeng......rrrr...... rrrrr.....
“Ayo alatnya
bawa segera ke bawah pohon beringin ini. Cepaattt...!!!” Seorang pria gendut berbaju hitam segera memberikan
aba-aba.
“Siaaapp...
Bos. Oke !!”
Alat pemotong
itu semakin mendekat dan mendekat membuat hati para burung dan Ririn gemetar. Mereka hanya bisa berdoa menunggu
aba-aba Pipit.
Satu detik
lagi Ririn akan terluka. Tiba-tiba,” Serang.....!!!”
Puluhan batu
kecil jatuh menghajar orang-orang itu tanpa ampun. Dan lagi semakin banyak
batu.
“ Ha.... han
..hantu......!!!”
“Lari...
Ayo....Pohon ini berhantu. Lari....”
“Tolong...
penunggu pohon ini marah... !!”
Mereka segera
berlari lintangpukang bagaikan anak panah melesat tak tentu arah. Ketakutan.
Berlari sejauh- jauhnya.
“Semoga
mereka tak kembali Rin. Perjuangan kita belum selesai.” Pipit menatap
sahabatnya lega.
IQLIMA
HAFSAH SHODIK
**********************************************************************
No comments:
Post a Comment