Wednesday, September 10, 2014

RIRIN BERINGIN



RIRIN BERINGIN
By: Mutiara Sakha


Angin sepoi mengiringi langkah-langkah kecil anak-anak yang hilir mudik berlarian dengan ceria, sore keemasan berpayung cahaya matahari tersenyum malu-malu  mengintip ragu hendak berpamitan kembali ke peraduan.
Ririn menatap  keindahan alam  dengan senyum mengulum, betapa indah surga kecil yang dinikmatiya saat ini. Sementara burung pipit masih asyik bertengger tak jua beranjak pulang.
“Pipit, kamu nggak pulang? Kasian orangtuamu di rumah akan bingung mencarimu, “ sapa Ririn heran. Tak biasanya sahabat baiknya ini masih betah menemaninya sampai senja hampir gelap. Gerakan tubuhnya terlihat layu tak bergairah. Matanya sayu bagaikan kabut dini hari.
Angin masih membelainya  seirama daun-daun bergoyang menari gemulai seakan memberi kekuatan kepada dua mahluk yang saling menyayangi setulus hati. Pipit masih terdiam sendu, tak mampu bersuara.
“Aku tahu kamu berduka, terbaca dari raut wajah kecilmu? Apa yang bisa kubantu untuk meringankan  beban itu?”
Derai air mata menjadi jawaban yang cukup membuat suasana berubah menjadi sendu, ceria  ini telah sirna. Duhai, apa yang telah terjadi sebenarnya pada burung lincah yang manis itu? Pipit terbang menjauh, pergi. Sayapnya lunglai seakan tanpa daya lagi.
Malam menampakkan kekuatannya gelap merajai alam semesta, saatnya  penduduk bumi rehat sejenak menghilangkan penat seharian. Pohon beringin yang kokoh itu masih terdiam beku, larut dalam kesendirian berteman desau angin yang setia menemani.  Tak habis pikir dengan apa yang terjadi hari ini, cemas akan keadaan Pipit sahabat sejati. Persahabatan yang indah antara mereka berdua terjalin sejak  burung kecil itu tersesat ketika masih belajar terbang.  Hingga sekarang ini keduanya telah menjadi dua sahabat karib. Tiada pernah mencela apalagi membenci, mereka hidup dengan harmoni seumpama  bulan dan bintang-bintang. Indah saling mengisi.
“Apa salahku selama ini? Kenapa Pipit menjadi sangat murung hari ini? Siapakah yang telah melukai hati putihnya?” Air mata jatuh berderai membasahi bumi yang masih terlelap.
Hingga pagi menjelang tak kuasa terpejam, Ririn  mengawasi sekitarnya menunggu dengan susah hati kehadiran sahabat satu-satunya. Seandainya dia bersayap pastilah akan segera mengepak mencari kemana sahabatnya berada kini.
“Selamat pagi mentari, angin dan embun. Adakah kalian mengerti kenapa dia tak datang hari ini? Tak pantaskah lagi kami bergurau bersama? Apakah kalian juga suatu saat akan pergi?”  
Pipit mengepak tanpa suara,”Pagi, Rin. Maaf aku meninggalkanmu dalam sedih. Sungguh hatiku tengah berduka. Tak mampu mengucapkan kata.”
“Wahai sahabatku, dukamu menjadi milikku semata. Katakan walaupun pahit dan merana.”
Burung kecil itu merunduk lagi, tak kuasa berucap. Anginpun seakan berhenti mengalir. “ Maaf seandainya kita berpisah, aku mohon jangan lupakan kenangan manis kita ini. Aku tak ingin kehilanganmu sampai kapanpun. “
“Apa gerangan yang akan berlaku? Hendak kemana kau pergi? Apakah aku bersalah?”
“Bukan begitu. Aku mendengar bahwa esok hari orang-orang akan........”
“Siapa? Orang yang mana? Mengapa? Tolong jawab aku?”
Airmatanya menganak sungai, “Maaf. Maafkan aku tak bisa membelamu. Orang-orang itu akan menebangmu.......!!!”
Daun-daun beringin  berguguran laksana salju di musim dingin. Luruh. Beku. Seakan terhenti waktu di bumi. Duka itu menganga lelehkan  derai menganak sungai. Wahai betapa cepat kehidupan ini berlalu. Yang tua akan mati tergantikan tunas-tunas baru ceria. Tak dapat terlawan lagi roda-roda Illahi.
Terukir jelas dalam  kenangan, bayangan Ririn muda yang  tumbuh kokoh setiap hari dan menjadikan Alun-alun kota ini menjadi segar dan hijau. Tua muda dan kanak-kanak akan gembira menikmati  keteduhan daunnya.
Suka duka menjadi santapan setiap hari, bertemu dengan anak pengemis dan gelandangan yang tertidur di sisinya. Pencopet yang tergeletak penuh luka suatu malam. Pengamen remaja yang terhuyung lemah karena minuman keras yang telah meracuninya.
Ada juga seorang nenek renta yang menangis kehilangan cucunya semata wayang.  Keesokan hari  cucunya ditemukan sudah tidak bernyawa menjadi korban tabrak lari. Yah, begitulah hidup ini selalu berputar sesuai dengan kehendak-Nya. Tak ada yang mampu untuk mencegahnya.
Dua sahabat karib itu tenggelam dalam duka nestapa, bayangan perpisahan seakan muncul dipelupuk mata. Kisah persahabatan yang indah akan segera pupus menjadi kenangan yang tak mungkin terulang kembali. Putaran waktu tak akan melaju ke masa  lalu. Takdir harus terjadi.
“Aku nggak mau kehilangan Ririn. Akan kulakukan apapun. Harus.” Pipit  sibuk berkata-kata dalam hatinya. Kegundahan hatinya telah membawanya terbang perlahan melintasi areal persawahan di pinggir kota.
“Akan kubawa semua keluargaku untuk membela Ririn besok pagi. Biarkan kami akan tunjukan bahwa dia adalah simbol kehidupan bagi kaum burung seperti kami.”
Wajah Pipit menjadi ceria dengan apa yang telah terlitas dalam kepalanya. Sekarang semua harus diperjuangkan. Biarlah nyawanya akan menjadi taruhan  esok pagi. Demi sahabat sehati.
Riuh suara alat penebang kayu mulai mengaum garang, membuat semau yang mendengarnya menjadi ciut tak bernyali. Tapi tidak bagi serombongan  burung-burung pipit yang telah siap sedia dengan batu kerikil kakinya. Ratusan burung itu telah siaga menyerang siapapun yang akan datang mendekat.
“Kawan-kawan hati-hati jangan tampakkan badan kalian kecuali terpaksa, serang mereka dengan batu yang telah disiapkan semalam. Janganlah takut.” Pipit berbisik  memberikan semangat bagi rekan-rekannya.
Ngeeengg... ngeeeng......rrrr...... rrrrr.....
“Ayo alatnya bawa segera ke bawah pohon beringin ini. Cepaattt...!!!” Seorang  pria gendut berbaju hitam segera memberikan aba-aba.
“Siaaapp... Bos. Oke !!”
Alat pemotong itu semakin mendekat dan mendekat membuat hati para burung dan Ririn  gemetar. Mereka hanya bisa berdoa menunggu aba-aba Pipit.
Satu detik lagi Ririn akan terluka. Tiba-tiba,” Serang.....!!!”
Puluhan batu kecil jatuh menghajar orang-orang itu tanpa ampun. Dan lagi semakin banyak batu.
“ Ha.... han ..hantu......!!!”
“Lari... Ayo....Pohon ini berhantu. Lari....”
“Tolong... penunggu pohon ini marah... !!”
Mereka segera berlari lintangpukang bagaikan anak panah melesat tak tentu arah. Ketakutan. Berlari sejauh- jauhnya.
“Semoga mereka tak kembali Rin. Perjuangan kita belum selesai.” Pipit menatap sahabatnya lega.
IQLIMA HAFSAH SHODIK
**********************************************************************

No comments:

Post a Comment