Wednesday, September 10, 2014

Wanita Rembulan



Wanita Rembulan
By: Mutiara Sakha

Kulihat foto buram pernikahan Bapak dan Mamak puluhan tahun silam. Sebuah gambaran  redup  kegagalan perjalanan biduk rumah tangga yang dirundung miskin papa.
“Pak, kita nggak punya uang lagi untuk belanja hari ini. Piye sih? Masa dari dulu nasib kita miskin terus seperti ini. Kerja yang bener kenapa, tho?”
“Sabar, Mak. Mungkin memang selama ini  rejeki kita masih belum tercukupi tapi ini semua ujian supaya kita bersyukur.”
“Kurang bersyukur apanya? Miskin dari dulu kok suruh  sabar terus memangnya kita kenyang makan angin.” Muka cemberut itu semakin keruh saja, lupa dengan segala nikmat yang selama ini telah diberikan oleh  Sang Maha Pemberi.
“Astaghfirullah. Mamak, kalau kita bersabar insha allah nikmat akan ditambah oleh-Nya. Percaya akan kehendak Allah.”
“Iya. Iya. Tapi sampai kapan mau hidup melarat terus, Pak? Sampai kapan?” Mamak segera pergi keluar rumah dengan kemarahan yang sangat terbaca dalam tirus pipinya.
Bapak hanya bisa menunduk sedih dan mengelus dadanya yang ringkih dan sesak. Usaha yang telah dilakukanya memang tak pernah cukup. Sepetak sawah yang tak pernah bisa mencukupi kebutuhan dasar keluarga. Apalagi untuk memperbaiki rumah yang telah lapuk dimakan usia. Sunguh mustahil.

****************

“Pak. Bapak. Mamak pergi kemana sih? Kok nggak balik-balik?” Niah menatap manik mata tua itu. Basah.
“Mamak lagi cari uang, Nduk. Kamu yang sabar ya. Doakan agar Mamakmu segera pulang berkumpul lagi.” Nanar gelisah dalam ayunan lara yang kian mengental. Hatinya kelam setelah menyadari bahwa istri tercinta telah pergi begitu saja dengan laki-laki lain dan meninggalkan tiga buah hati mereka yang masih kanak-kanak.
Rasa putus asa sekaligus rendah diri karena tak mampu mencukupi hajat keluarga telah sedemikian panjang menoreh luka sampai waktu yang tak terbatas. Hanya tersisa dirinya seorang harus  tanah mendampingi permata hatinya yang selalu merengek mencari kasih sayang  mamaknya.
“Nuri, bawa adikmu bermain ya. Bapak mau pergi ke sawah dulu. Tembakau kita sudah saatnya dipanen.”
“Injih, Pak. Tapi nanti  belikan sepatu ya? Malu. Kemarin teman-teman mengejek sepatuku yang sudah jebol.”
“Insha allah, Nduk. Doakan saja harga tembakau kali ini tidak jatuh lagi.”
“Nuri nggak ngerti pokoknya kalau sepatunya masih bolong sekolahnya libur dulu aja. Isin. Malu”
“Ya sudahlah semoga saja ada rejeki buatmu ya. Jaga adik-adikmu. Jangan biarkan mereka mendekati sungai besar itu.”
“Iya, Pak. Ayo Niah, Mahen. Kita main masak-masakan aja di dalam rumah. Nggak boleh keluar ya!”
“Mahen pengen main layangan, Mbak? Masa laki main masakan. Ogah.”
“Mahen di rumah aja ya? Nanti Mbak bikinin perahu-perahuan lagi.”
“Yaaa.....” Pipi montok itu menggelembung sambil meletakkan kembali layangan kesayangannya di atas meja.
“Pinter deh. Sekarang kita mau masak apa nih?”
“Mbak, Kapan kita punya Mamak lagi ya?”
“Kenapa, Niah? Masih ada Mbak di sini yang bisa temanin kalian?”
“Beda aja dong. Kalau Mamak khan pinter masak. Juga suka gendong aku.”
“Ya sudah doakan aja banyak-banyak biar Mamak pulang segera.”
“Kalau Mamak nggak mau pulang gimana? Apa Bapak mau kawin lagi? Aku
nggak mau loh. Kata orang ibu tiri itu galak.”
“Kata siapa? Nggak  semua ibu begitu kok. Masih banyak juga yang baik.”
*********************
“Makan dulu sayang. Nanti sakit perut lho.” Wanita setengah baya itu tersenyum. Keramahan dan ketulusan terpancar dari matanya yang bercahaya. Iman. Cahaya iman yang teguh telah menghapus lara ketiga bocah kecil itu. Kami.
Pada akhirnya bapak menikah lagi dengan seorang wanita yang keibuan dan tanpa memakan waktu lama sudah merebut hati kami sekeluarga dalam genggaman telapak tangannya. Mungkin.
“Nduk kamu jangan pernah meragukan cinta Ibu. Kalian semua adalah anak yang lahir dari hati ini.”
“Ya tapi tetap saja bukan Mamak. Beda dong.” Celoteh Nian telah membuat ibu menangis tanpa suara.  Aku bingung mau berbuat apa lagi.
“Aku nggak suka sama ibu tiriii.............” Raungan Mahen telah membuat hatiku semakin retak. Sungguh ujian apa lagi yang harus tersaji dalam kehidupan ini.
“Nggak boleh gitu dong, katanya kalian ingin punya Mamak ya sudahlah sekarang Allah kirimkan ibu baru buat kita. Harusnya kita terima dengan lapang dada.”
Ibu semakin terpuruk dalam diam. Cinta yang baru bersemi telah goyah terkena badai. Ujian ini tidaklah mudah untuk dilalui.  Ya allah semoga semuanya akan segera berlalu.
*****************
Hari-hari penuh kebahagiaan terasa mewarnai keluarga kecil kami. Setiap pagi buta bau masakan sederhana ibu telah membangunkan kami. Tak sekejap juga kasih sayangnya hilang dari hatiku walaupun  rasanya masih ada sesuatu yang janggal. Akan tetapi adakah ketulusan itu harus terkubur?
“Nur. Kamu sudah sarapan?” Budi menyodorkan tahu goreng ke arahku.  Kelas masih sepi ketika kuhempaskan tas butut ke atas meja.
“Ya. Sudah. Ibuku sangat baik dan telaten mengurus kami semua. Aku bersyukur dengan segala kasih sayang dan cinta seorang wanita yang shalehah.”
“Aku senang mendengarnya. Kamu berutung banget ya.”
“Iya. Bud. Terimakasih atas doanya ya?” Sahabat setia yang kocak itu selalu membuatku tersenyum simpul. Gayanya yang sok nyastra dan eksentrik itu telah menjadikannya orang paling aneh di kelas.
“Betewe, liatin puisiku dong di mading. Seru nggak?”
“Alah aku nggak ngerti yang gituan. Tanya saja sama Nining. Dia khan jago nulis puisi.”
“Males. Kemaren puisiku abis dibantainya. Bete ah.” Monyong  benar mulut tebal itu.
“Ha ha ha....” Lebay kali isinya?”
“Huh enak aja.” Sambil ngeloyor dia membawa serta bekal gorengan yang  di tawarkan  kepadaku pergi. Sotoy banget khan?
*****************
“Nur. Ibu agak pusing,  kamu masak buat bapak. Tolong ya?”
“Iya. Bu tenang aja. Istirahat ya”
“Maaf ya, Nur. Ngerepotin kamu.”
Aku hanya tertegun malu. Selama ini kami bertiga jarang membantu pekerjaan ibu yang sangat banyak. Ampuni aku ya allah. Ibu jatuh sakit!!
Semakin lama kondisi beliau ternyata tidak  juga membaik. Penyakit darah tinggi yang semakin parah telah melemahkan tubuh kurusnya. Pucat pasi wanita rembulan itu telah melenyapkan cahaya indah dari rumah reot kami. Penyakit stroke adalah ancaman yang telah menjadi mimpi buruk.
“Ibu cepat sembuh ya. Niah sama Mahen minta maaf soalnya sering nakalin dan mukulin. Mahen bukan anak yang baik.” Tangisan lirih itu telah meruntuhkan hatiku.
“Kita doakan aja sama-sama. Ya, Mahen, Niah. Kasih sayang kita aka menjadi obat yang terbaik.” Bapak tersenyum dalam kepedihan.
“Iya, Pak. Mahen janji nggak bakalan nakal lagi!”
Kubelai kepalanya yang plontos dengan perasaan iba. Rasa takut kehilangan yang kian menguat ini adalah milik kami semua.  Jangan renggut nyawa ibuku, Tuhan. Biarkan dia tetap membawa kehangatan bagi hidup ini.
“Mbak Nuurr.....! Ibu jatuh di kamar mand!!.”
***************
Gundukan tanah merah  masih basah oleh untaian doa dan airmata. Cahaya itu telah pergi. Kembali menjumpai Sang  Maha Abadi.  Keremangan senja tak akan mungkin mengembalikan semangat bagi kami semua. Semua telah usai. Selamat jalan ibuku, bawalah cinta kami semua bersamamu. 


                                                            Nusakambangan, 24 Juli 2014

**********************************************************************

No comments:

Post a Comment