Wanita Rembulan
By: Mutiara Sakha
Kulihat foto buram pernikahan Bapak
dan Mamak puluhan tahun silam. Sebuah gambaran
redup kegagalan perjalanan biduk
rumah tangga yang dirundung miskin papa.
“Pak, kita nggak punya uang lagi untuk
belanja hari ini. Piye sih? Masa dari dulu nasib kita miskin terus seperti ini.
Kerja yang bener kenapa, tho?”
“Sabar, Mak. Mungkin memang selama
ini rejeki kita masih belum tercukupi
tapi ini semua ujian supaya kita bersyukur.”
“Kurang bersyukur apanya? Miskin dari
dulu kok suruh sabar terus memangnya
kita kenyang makan angin.” Muka cemberut itu semakin keruh saja, lupa dengan
segala nikmat yang selama ini telah diberikan oleh Sang Maha Pemberi.
“Astaghfirullah. Mamak, kalau kita
bersabar insha allah nikmat akan ditambah oleh-Nya. Percaya akan kehendak Allah.”
“Iya. Iya. Tapi sampai kapan mau hidup
melarat terus, Pak? Sampai kapan?” Mamak segera pergi keluar rumah dengan
kemarahan yang sangat terbaca dalam tirus pipinya.
Bapak hanya bisa menunduk sedih dan
mengelus dadanya yang ringkih dan sesak. Usaha yang telah dilakukanya memang
tak pernah cukup. Sepetak sawah yang tak pernah bisa mencukupi kebutuhan dasar
keluarga. Apalagi untuk memperbaiki rumah yang telah lapuk dimakan usia. Sunguh
mustahil.
****************
“Pak. Bapak. Mamak pergi kemana sih?
Kok nggak balik-balik?” Niah menatap manik mata tua itu. Basah.
“Mamak lagi cari uang, Nduk. Kamu yang
sabar ya. Doakan agar Mamakmu segera pulang berkumpul lagi.” Nanar gelisah
dalam ayunan lara yang kian mengental. Hatinya kelam setelah menyadari bahwa
istri tercinta telah pergi begitu saja dengan laki-laki lain dan meninggalkan
tiga buah hati mereka yang masih kanak-kanak.
Rasa putus asa sekaligus rendah diri
karena tak mampu mencukupi hajat keluarga telah sedemikian panjang menoreh luka
sampai waktu yang tak terbatas. Hanya tersisa dirinya seorang harus tanah mendampingi permata hatinya yang selalu
merengek mencari kasih sayang mamaknya.
“Nuri, bawa adikmu bermain ya. Bapak
mau pergi ke sawah dulu. Tembakau kita sudah saatnya dipanen.”
“Injih, Pak. Tapi nanti belikan sepatu ya? Malu. Kemarin teman-teman
mengejek sepatuku yang sudah jebol.”
“Insha allah, Nduk. Doakan saja harga
tembakau kali ini tidak jatuh lagi.”
“Nuri nggak ngerti pokoknya kalau
sepatunya masih bolong sekolahnya libur dulu aja. Isin. Malu”
“Ya sudahlah semoga saja ada rejeki
buatmu ya. Jaga adik-adikmu. Jangan biarkan mereka mendekati sungai besar itu.”
“Iya, Pak. Ayo Niah, Mahen. Kita main
masak-masakan aja di dalam rumah. Nggak boleh keluar ya!”
“Mahen pengen main layangan, Mbak?
Masa laki main masakan. Ogah.”
“Mahen di rumah aja ya? Nanti Mbak
bikinin perahu-perahuan lagi.”
“Yaaa.....” Pipi montok itu
menggelembung sambil meletakkan kembali layangan kesayangannya di atas meja.
“Pinter deh. Sekarang kita mau masak
apa nih?”
“Mbak, Kapan kita punya Mamak lagi
ya?”
“Kenapa, Niah? Masih ada Mbak di sini
yang bisa temanin kalian?”
“Beda aja dong. Kalau Mamak khan
pinter masak. Juga suka gendong aku.”
“Ya sudah doakan aja banyak-banyak
biar Mamak pulang segera.”
“Kalau Mamak nggak mau pulang gimana?
Apa Bapak mau kawin lagi? Aku
nggak mau loh. Kata orang ibu tiri itu
galak.”
“Kata siapa? Nggak semua ibu begitu kok. Masih banyak juga yang
baik.”
*********************
“Makan dulu sayang. Nanti sakit perut
lho.” Wanita setengah baya itu tersenyum. Keramahan dan ketulusan terpancar
dari matanya yang bercahaya. Iman. Cahaya iman yang teguh telah menghapus lara
ketiga bocah kecil itu. Kami.
Pada akhirnya bapak menikah lagi
dengan seorang wanita yang keibuan dan tanpa memakan waktu lama sudah merebut
hati kami sekeluarga dalam genggaman telapak tangannya. Mungkin.
“Nduk kamu jangan pernah meragukan
cinta Ibu. Kalian semua adalah anak yang lahir dari hati ini.”
“Ya tapi tetap saja bukan Mamak. Beda
dong.” Celoteh Nian telah membuat ibu menangis tanpa suara. Aku bingung mau berbuat apa lagi.
“Aku nggak suka sama ibu
tiriii.............” Raungan Mahen telah membuat hatiku semakin retak. Sungguh
ujian apa lagi yang harus tersaji dalam kehidupan ini.
“Nggak boleh gitu dong, katanya kalian
ingin punya Mamak ya sudahlah sekarang Allah kirimkan ibu baru buat kita.
Harusnya kita terima dengan lapang dada.”
Ibu semakin terpuruk dalam diam. Cinta
yang baru bersemi telah goyah terkena badai. Ujian ini tidaklah mudah untuk
dilalui. Ya allah semoga semuanya akan
segera berlalu.
*****************
Hari-hari penuh kebahagiaan terasa
mewarnai keluarga kecil kami. Setiap pagi buta bau masakan sederhana ibu telah
membangunkan kami. Tak sekejap juga kasih sayangnya hilang dari hatiku walaupun rasanya masih ada sesuatu yang janggal. Akan
tetapi adakah ketulusan itu harus terkubur?
“Nur. Kamu sudah sarapan?” Budi
menyodorkan tahu goreng ke arahku. Kelas
masih sepi ketika kuhempaskan tas butut ke atas meja.
“Ya. Sudah. Ibuku sangat baik dan telaten
mengurus kami semua. Aku bersyukur dengan segala kasih sayang dan cinta seorang
wanita yang shalehah.”
“Aku senang mendengarnya. Kamu
berutung banget ya.”
“Iya. Bud. Terimakasih atas doanya
ya?” Sahabat setia yang kocak itu selalu membuatku tersenyum simpul. Gayanya
yang sok nyastra dan eksentrik itu telah menjadikannya orang paling aneh di
kelas.
“Betewe, liatin puisiku dong di
mading. Seru nggak?”
“Alah aku nggak ngerti yang gituan.
Tanya saja sama Nining. Dia khan jago nulis puisi.”
“Males. Kemaren puisiku abis
dibantainya. Bete ah.” Monyong benar
mulut tebal itu.
“Ha ha ha....” Lebay kali isinya?”
“Huh enak aja.” Sambil ngeloyor dia
membawa serta bekal gorengan yang di
tawarkan kepadaku pergi. Sotoy banget
khan?
*****************
“Nur. Ibu agak pusing, kamu masak buat bapak. Tolong ya?”
“Iya. Bu tenang aja. Istirahat ya”
“Maaf ya, Nur. Ngerepotin kamu.”
Aku hanya tertegun malu. Selama ini
kami bertiga jarang membantu pekerjaan ibu yang sangat banyak. Ampuni aku ya
allah. Ibu jatuh sakit!!
Semakin lama kondisi beliau ternyata
tidak juga membaik. Penyakit darah
tinggi yang semakin parah telah melemahkan tubuh kurusnya. Pucat pasi wanita
rembulan itu telah melenyapkan cahaya indah dari rumah reot kami. Penyakit
stroke adalah ancaman yang telah menjadi mimpi buruk.
“Ibu cepat sembuh ya. Niah sama Mahen
minta maaf soalnya sering nakalin dan mukulin. Mahen bukan anak yang baik.”
Tangisan lirih itu telah meruntuhkan hatiku.
“Kita doakan aja sama-sama. Ya, Mahen,
Niah. Kasih sayang kita aka menjadi obat yang terbaik.” Bapak tersenyum dalam
kepedihan.
“Iya, Pak. Mahen janji nggak bakalan
nakal lagi!”
Kubelai kepalanya yang plontos dengan
perasaan iba. Rasa takut kehilangan yang kian menguat ini adalah milik kami
semua. Jangan renggut nyawa ibuku,
Tuhan. Biarkan dia tetap membawa kehangatan bagi hidup ini.
“Mbak Nuurr.....! Ibu jatuh di kamar
mand!!.”
***************
Gundukan tanah merah masih basah oleh untaian doa dan airmata.
Cahaya itu telah pergi. Kembali menjumpai Sang
Maha Abadi. Keremangan senja tak
akan mungkin mengembalikan semangat bagi kami semua. Semua telah usai. Selamat
jalan ibuku, bawalah cinta kami semua bersamamu.
Nusakambangan,
24 Juli 2014
**********************************************************************
No comments:
Post a Comment