Wednesday, September 10, 2014

PEREMPUAN KERAMAT



PEREMPUAN KERAMAT
By: MUTIARA SAKHA

Temaram senja lenyap mengikuti suara anjing yang perlahan mulai menjauh berganti kelamnya malam tanpa sinar rembulan, denting dawai gitar alam bertautan dengan isak tangis menyayat dari sebuah rumah bambu di pinggiran sebuah desa nelayan.
Warih, seorang perempuan muda hanya mampu terbaring dalam  tangisan dukacita yang mendalam dengan ditemani beberapa orang kerabat dekatnya. Ruangan sempit berdinding kayu dan beratapkan ilalang itu tampak redup dalam bias cahaya pelita, dingin mencekam.
Sesosok tubuh laki-laki kurus berwajah teduh terbaring dalam senyum yang beku. Damai, bersukacita menemui Kekasih yang dicinta. Jauh terbang meninggalkan istri tercinta bersama  buah hati,  mengarungi bahtera dunia sendiri. Terpagut sepi tiada yang dinanti.
***************************
“Asalamu’alaikum, Dik. Kakang sudah pulang nih. Alhamdulillah, banyak sekali tangkapan ikan hari ini buat kita.”
“Wa’ alaikumsalam. Alhamdulillah, Kakang sudah pulang rupanya. Nih kopi hitamnya sudah terseduh dari tadi. Maaf  kalau agak dingin.”
“Dik Warih lupa ya. Bukanya Kakang puasa hari ini.”
“Aku tidak lupa kok, Kang. Jadi puasanya belum dibatalkan. Lagi sakit tho?”
“Insha Allah, Kakang masih kuat kok. Lihat saja sendiri.” Senyum teduh itu meluruhkan rasa cemas Warih. Selalu begitu, seperti ketika mereka pertama kali bertemu di depan Mushola Kyai Amin beberapa tahun yang lalu.
Senyuman itu bagaikan embun di siang hari, sejuk melepaskan dahaga bagi Warih,  perempuan desa berkulit hitam, berambut keriting anak seorang nelayan miskin tanpa pedidikan yang memadai. Perpaduan yang miris itu membuat tak seorangpun yang berkehendak untuk meminangnya.
Apalah yang dicari dari perempuan bodoh sepertiku? Tentu para jejaka akan lebih doyan  berebut perhatian dari Sri, kembang desa yang menawan. Puluhan tahun pikiran sempit itu telah terpatri lekat dibenaknya. Apalagi kata orang Warih  mempunyai tanda lahir berupa bercak kecoklatan dibagian tubuhnya. Kata orang –orang tua sesepuh desa siapapun yang berani bersuamikan dia akan meninggal dunia. Pasti.
*******************************
“Dik Warih,  pekan depan kelurga Kakang akan melamarmu. Apakah kamu tidak keberatan?” Tatapan elang itu kembali menyihir Warih dalam keterpakuan dan airmata.
“Tapi, Kang Warsid. Apa tidak takut kalau nanti....?”
“Apa? Mati? Nyawa itu milik-Nya, Dik. Mempercayai hal-hal seperti itu sama dengan syirik yang artinya menyekutukan Allah. Tidak mempercayai bahwa semua kejadian takdir manusia itu hak prerogatif sang Khalik. Garis tangan kita telah kering tertulis dalam lembaran masing-masing sejak seseorang belum terlahir.”
“Tapi, Kang?”
“Sudahlah, Dik. Nanti Kakang keburu disamber orang lho.” Wajah jenaka itu menyihir Warih dalam anggukan perlahan. Alhamdulillah, segala puji hanya milik-Nya semata. Biarlah Dia yang akan menentukan segalanya kelak. Inallaha ma’ashobirin. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
               Canda tawa selalu mewarnai rumah kecil mereka berdua, bersatu dalam kepapan dan tawakal kepada  Tuhan pemberi rezeki yang adil. Hiruk pikuk kesibukan mengurus rumah tangga telah memupus kekhawatiran Warih akan kematian yang ditakutkan orang sekitar.
Lima tahun kebahagiaan telah melingkupi dengan ramainya celoteh si kecil Akbar, anak laki-laki bermata tajam nan teduh. Bintang kecil itu adalah penyejuk mata bagi orangtuanya. Sejak bayi telah  tampak bahwa Akbar adalah  anak kecil yang cerdas. Ikan hasil tangkapan Bapaknya telah menjadikanya istimewa. Ada secercah harapan dalam gilasan kemiskinan rumah kecil itu. Selalu ada harapan baru.
*****************
“Warih. Warih. Cepat keluar, Nduk.Cepetan!!!”
“Ada apa, Mak Ijah?  Ada apa? Kenapa?”
“Ini, itu, anu....!!!”
“Suamimu. Suamimu tenggelam. Jenazahnya baru saja diketemukan oleh Lik Jarwo. Kamu yang sabar ya, Nduk. Pasrah sama Gusti Allah.”
Warih tak mampu lagi berdiri, terpuruk dalam dekapan erat Mak Ijah yang selama ini telah mengasuhnya sebagai anak sendiri. Beliau adalah ibu angkat bagi Warih yang telah lama yatim piatu.
“Ternyata semua kata orang itu benar, Mak. Aku telah membunuh suamiku sendiri. Aku pembunuh, pembunuh...!!!” Warih mencakar-cakar mukanya sendiri agar perih derita suaminya juga terasa padanya.
“Tidak. Tidak. Bukan! Hentikan perbuatan meratap seperti itu. Umat islam dilarang menyakiti dirinya sendiri dalam berkabung. Kamu istri yang baik, Warih. Selalu setia menjaga amanah suami dan tabah dalam menghadapi cemo’oh orang lain. Warsid pasti bangga beristrikan kamu, Nduk! Percayalah. Bahwa ini hanya ujian semata.  Jangan takut. Inallaha ma’ana.  Sesungguhnya Allah bersama kita,  memelukmu setiap saat.”
Ya Allah, jangan tinggalkan aku sendirian dalam gelap. Terangilah jalan kami. Sayangilah suamiku dalam rahmat-Mu. Cintailah anak kami menjadi salah satu penyatu kami di Jannah-Mu kelak.  Kabulkanlah doaku wahai Yang Maha Pengasih. Aamiin.
**********************************

No comments:

Post a Comment