PEREMPUAN KERAMAT
By: MUTIARA SAKHA
Temaram senja lenyap mengikuti suara
anjing yang perlahan mulai menjauh berganti kelamnya malam tanpa sinar
rembulan, denting dawai gitar alam bertautan dengan isak tangis menyayat dari
sebuah rumah bambu di pinggiran sebuah desa nelayan.
Warih, seorang perempuan muda hanya mampu
terbaring dalam tangisan dukacita yang
mendalam dengan ditemani beberapa orang kerabat dekatnya. Ruangan sempit
berdinding kayu dan beratapkan ilalang itu tampak redup dalam bias cahaya pelita,
dingin mencekam.
Sesosok tubuh laki-laki kurus berwajah
teduh terbaring dalam senyum yang beku. Damai, bersukacita menemui Kekasih yang
dicinta. Jauh terbang meninggalkan istri tercinta bersama buah hati, mengarungi bahtera dunia sendiri. Terpagut
sepi tiada yang dinanti.
***************************
“Asalamu’alaikum, Dik. Kakang sudah
pulang nih. Alhamdulillah, banyak sekali tangkapan ikan hari ini buat kita.”
“Wa’ alaikumsalam. Alhamdulillah, Kakang
sudah pulang rupanya. Nih kopi hitamnya sudah terseduh dari tadi. Maaf kalau agak dingin.”
“Dik Warih lupa ya. Bukanya Kakang puasa
hari ini.”
“Aku tidak lupa kok, Kang. Jadi puasanya
belum dibatalkan. Lagi sakit tho?”
“Insha Allah, Kakang masih kuat kok.
Lihat saja sendiri.” Senyum teduh itu meluruhkan rasa cemas Warih. Selalu
begitu, seperti ketika mereka pertama kali bertemu di depan Mushola Kyai Amin
beberapa tahun yang lalu.
Senyuman itu bagaikan embun di siang
hari, sejuk melepaskan dahaga bagi Warih,
perempuan desa berkulit hitam, berambut keriting anak seorang nelayan
miskin tanpa pedidikan yang memadai. Perpaduan yang miris itu membuat tak
seorangpun yang berkehendak untuk meminangnya.
Apalah
yang dicari dari perempuan bodoh sepertiku? Tentu para jejaka akan lebih doyan berebut perhatian dari Sri, kembang desa yang
menawan. Puluhan tahun
pikiran sempit itu telah terpatri lekat dibenaknya. Apalagi kata orang
Warih mempunyai tanda lahir berupa
bercak kecoklatan dibagian tubuhnya. Kata orang –orang tua sesepuh desa
siapapun yang berani bersuamikan dia akan meninggal dunia. Pasti.
*******************************
“Dik Warih, pekan depan kelurga Kakang akan melamarmu.
Apakah kamu tidak keberatan?” Tatapan elang itu kembali menyihir Warih dalam
keterpakuan dan airmata.
“Tapi, Kang Warsid. Apa tidak takut kalau
nanti....?”
“Apa? Mati? Nyawa itu milik-Nya, Dik.
Mempercayai hal-hal seperti itu sama dengan syirik yang artinya menyekutukan
Allah. Tidak mempercayai bahwa semua kejadian takdir manusia itu hak prerogatif
sang Khalik. Garis tangan kita telah kering tertulis dalam lembaran
masing-masing sejak seseorang belum terlahir.”
“Tapi, Kang?”
“Sudahlah, Dik. Nanti Kakang keburu
disamber orang lho.” Wajah jenaka itu menyihir Warih dalam anggukan perlahan.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik-Nya semata. Biarlah Dia yang akan
menentukan segalanya kelak. Inallaha ma’ashobirin. Sesungguhnya Allah bersama
orang-orang yang sabar.
Canda
tawa selalu mewarnai rumah kecil mereka berdua, bersatu dalam kepapan dan
tawakal kepada Tuhan pemberi rezeki yang
adil. Hiruk pikuk kesibukan mengurus rumah tangga telah memupus kekhawatiran
Warih akan kematian yang ditakutkan orang sekitar.
Lima tahun kebahagiaan telah melingkupi
dengan ramainya celoteh si kecil Akbar, anak laki-laki bermata tajam nan teduh.
Bintang kecil itu adalah penyejuk mata bagi orangtuanya. Sejak bayi telah tampak bahwa Akbar adalah anak kecil yang cerdas. Ikan hasil tangkapan
Bapaknya telah menjadikanya istimewa. Ada secercah harapan dalam gilasan
kemiskinan rumah kecil itu. Selalu ada harapan baru.
*****************
“Warih. Warih. Cepat keluar,
Nduk.Cepetan!!!”
“Ada apa, Mak Ijah? Ada apa? Kenapa?”
“Ini, itu, anu....!!!”
“Suamimu. Suamimu tenggelam. Jenazahnya
baru saja diketemukan oleh Lik Jarwo. Kamu yang sabar ya, Nduk. Pasrah sama
Gusti Allah.”
Warih tak mampu lagi berdiri, terpuruk
dalam dekapan erat Mak Ijah yang selama ini telah mengasuhnya sebagai anak
sendiri. Beliau adalah ibu angkat bagi Warih yang telah lama yatim piatu.
“Ternyata semua kata orang itu benar,
Mak. Aku telah membunuh suamiku sendiri. Aku pembunuh, pembunuh...!!!” Warih
mencakar-cakar mukanya sendiri agar perih derita suaminya juga terasa padanya.
“Tidak. Tidak. Bukan! Hentikan perbuatan
meratap seperti itu. Umat islam dilarang menyakiti dirinya sendiri dalam
berkabung. Kamu istri yang baik, Warih. Selalu setia menjaga amanah suami dan
tabah dalam menghadapi cemo’oh orang lain. Warsid pasti bangga beristrikan
kamu, Nduk! Percayalah. Bahwa ini hanya ujian semata. Jangan takut. Inallaha ma’ana. Sesungguhnya Allah bersama kita, memelukmu setiap saat.”
Ya
Allah, jangan tinggalkan aku sendirian dalam gelap. Terangilah jalan kami.
Sayangilah suamiku dalam rahmat-Mu. Cintailah anak kami menjadi salah satu
penyatu kami di Jannah-Mu kelak. Kabulkanlah doaku wahai Yang Maha Pengasih. Aamiin.
**********************************
No comments:
Post a Comment