Wednesday, September 10, 2014

MENGGAPAI RAHMAT-MU



MENGGAPAI RAHMAT-MU
By: Mutiara  Sakha

Ramai suara orang-orang berkeliling membangunkanku untuk segera beranjak menyiapkan makan sahur. Kutatap  anak dan suamiku yang masih asyik bergelung merenda mimpi.
“Ayah, bangun dong bantuin nyiapin makanan sahur,” kupencet hidungnya yang mancung  dengan gemas.
“Iyalah bentar lagi. Bunda aja duluan yang bangun nanti aku nyusul,” katanya tanpa membuka mata. Hufft... Mau bilang apa lagi  memang belahan hatiku ini termasuk manusia yang doyan banget tidur. Pantas saja perutnya semakin buncit. Doyan makan dan juga suka tidur.
“Ayolah, lagian masa sih nggak pengen tambah pahala di bulan suci ini. Sayang khan kalau bulan Ramadhan Mubarok  cuma habis buat tidur mulu,” omelku panjang kali lebar sama dengan sebal.
Dengan memasang muka bebek akhirnya  aku beranjak  ke dapur sendirian. Si kecil tadi sore berpesan untuk  dibuatkan jamur kriuk. Makanan favoritnya ini memang simpel saja membuatnya hanya suwiran  jamur tiram yang dimasukan ke dalam celupan telur dan tepung beras kemudian digoreng kering.
Segera  kubenahi dapur yang begitu berantakan sisa buka puasa tadi sore. Piring, gelas dan alat memasak yang lain masih bergelimpangan kotor  menyebalkan.  Memang untuk mendidik anak dan suami supaya peduli akan kebersihan sangatlah sulit, harus disertai dengan omelan yang panjangnya melebihi gerbong kereta api. Itupun  belum tentu berhasil seperti yang diharapkan. Astaghfirullah ..... sabar, sabar.
Yah, beginilah nasib seorang ibu yang juga bekerja membantu mencari nafkah untuk keluarga, kadang tenaga telah habis terkuras di luar rumah. Ada rasa iri juga ketika melihat tetangga yang telah berhasil bersinergi dalam pekerjaan rumah tangga. Begitu harmonis dan penuh pengertian, mungkin inilah surga dunia itu secara sederhana.
Kutepis keluh dan nelangsa yang seringkali bertengger manis di unjung rasa hati ini. Bagaimanapun  keluargaku adalah takdir dari Illahi yang harus selalu dibina dan syukuri setiap saat. Tuhan tidak pernah salah dan keliru dalam  menulis lembar takdir yang telah digariskan untuk setiap hambanya. Inilah yang terbaik untuk kami. Percaya  dan berkhusnudhon pada  suratan Illahi adalah yang terbaik, semoga.
“Ayo... pada bangun semua. Makanan sudah siap nanti keburu terlambat lho. Anak cantiknya Bunda kok nggak bangun juga? Ketinggalan berkah mau?”
“Iyalah, Bunda. Mau susu dulu dong. “ Assa merajuk sambil merem.
Heemm ....kebiasaan mengulur waktu pakai acara minta ini dan itu. Kesabaranku memang harus berlipatganda di bulan suci ini. Mungkin harus mengambil stok maksimal agar tidak berujung pada kemarahan yang akan merusak pahala puasa.
Suara televisi beradu dengan denting sendok . Coleteh Assa menambah ramai suasana  dini hari itu. Ramadhan telah beranjak separuh perjalanan. Tiada terasa hingga belum banyak amalan dilakukan. Taraweh  yang lebih ramai dengan tangisan anak balita sama sekali tidak bisa ternikmati sepenuhnya, tilawah yang belum seberapa dan pengajian setiap pagi rutin itupun terkadang banyak terlewatkan
Ya Rabbi, betapa sia-sia waktu penuh barokah yang  telah terlewatkan begitu saja tanpa makna. Rutinitas kantorpun tak jauh beda dengan hari-hari lain masih sering bergosip ria, mulut tiada terkontrol  komentar sana sini bak komentator sepak bola handal.  Lalu apakah lagi  yang masih tersisa? Apakah pahala puasa masih teraih?  Wallahu a’lam. Mulut seorang wanita memang tajam dan sangat licin untuk berkata-kata karena itulah dalam hadits Rasulullah telah bersabda bahwa berbicaralah yang baik atau diam.
Sesungguhnya ibadah  puasa itu untuk Alloh dan hanya Dialah yang akan menilainya. Akan tetapi sebagaimana manusia yang bersyukur setidaknya harus  ada rasa malu hati atas segala karunia yang telah diberikan. Mencoba memaksimalkan peluang yang ada untuk meraih surga yang telah dijanjikan, berharap bisa memasuki pintu Arroyan kelak. Sebuah pintu yang disediakan untuk para ahli puasa.
Suasana lingkungan rumah dan kantor yang jauh dari nilai-nilai keislaman sebenarnya merupakan tantangan tersendiri yang bisa menjadi ladang dakwah, akan tetapi apabila dihadapi dengan bekal seadanya maka niscaya akan terbawa arus  yang tidak diinginkan. Tarbiyah rutin atau pengajian rutin satu minggu sekali adalah solusi walaupun sulit untuk menajalani di tengah kehidupan yang justru semakin jauh dari Illahi.
Suatu siang yang terik matahari dengan perkasanya bnersinar dengan kekuatan penuh kegarangan, Assa berlari menuju ke rumah. Anak manis berumur 10 tahun itu terengah-engah dengan peluh membanjir,” Bunda, Assa mau minum, habis itu puasa lagi ya.” Tatapan matanya memelas seperti anak kucing kelaparan. Tentunya setelah bermain sepeda akan segar rasanya meneguk air putih walau cuma seteguk.
“Nggak boleh dong, malu sama Alloh. Khan udah gede, masa begitu puasanya.” Anaku menggelembungkan bibirnya yang montok. Biasa pasti ngambeg lagi.
“Ih, Bunda jahat. Itu barusan Bapaknya Iteh makan di depan rumah, padahal khan udah tua, kenapa boleh nggak puasa,” wajahnya semakin merengut sebal. Ya Malik, kuatkanlah hati dan kesabaran kami semua. Memang berat tantangan dan godaan bagi anak sekecil dia. Terkadang apa yang telah  berusaha kutanamkan kepadanya menjadi mentah tak berarti. Usaha menitipkan anak-anak pada lembaga islam terpadu sejak balita ternyata masih belum cukup menepis godaan semacam itu. Pesimis dan rerasa bingung masih saja bersemayam nyaman di dalam hati.
Oleh karena itulah kedua kakaknya selepas Sekolah Dasar melanjutkan pendidikanya ke Tsanawaiyah yang berada di pondok pesantren luar kota. Pada awalnya banyak sekali omongan miring yang kudengar. Banyak yang bilang  tidak tega melihat anak sekecil itu hidup mandiri jauh dari orang tua dengan segala keterbatasan yang ada. Tapi inshaallah  semua berpulang kepada niat. Sebaik-baiknya bekal adalah ilmu agama sebagai sarana keselamatan di dunia dan akhirat. Hanya kepada-Nya kami berharap dan memohon pertolongan. Dimanapun bumi Alloh terbentang, semoga anaku selalu dalam  naungan kasih sayang-Nya.
Bukan sekali dua aku berusaha membentuk pengajian kampung atau lingkup Rukun Tetangga, kendala yang   muncul adalah tiada guru atau ustad yang bisa mengajar dengan rutin. Dengan sendirinya pengajian itu terhenti begitu saja. Sangat disayangkan. Sedangkan aku sendiri masih belum berkemampuan untuk mengisi kajian karena keterbatasan ilmu yang kumiliki. Mungkin suatu saat nanti akan kubentuk lagi pengajian serupa, seribu jalan  terhampar tergantung niat dan keinginan manusia.
“Bunda tadi ada tetangga datang, katanya mau ngajakin  buat acara selamatan memasuki akhir Ramadhan,” suamiku menatap wajahku yang datar. Untuk acara semacam ini aku tak akan pernah ikut serta. Tak ada anjuran dari Alloh dan Rasul-Nya, bahkan kutakutkan bila acara semacam ini adalah bid’ah. Sungguh sulit memberi pemahaman bahkan terhadap keluarga sendiri bahwa dilarang untuk berkreativitas dalam hal-hal ibadah semacam ini, sangat berbahaya. Bisa  hancur seluruh amalan yang ada bila sampai menyentuh hal  sesat.
“Bunda nggak akan pernah mau,Yah. Biarkan saja orang lain mau bilang apa. Toh amalan itu tidak berdasar kok,” kataku pelan.
“Jangan gitu dong, Bunda. Ga enak rasanya. Toh kita hanya sekedar berdoa bersama.”
“Maaf tapi tetap tidak bisa. Silakan kalau Ayah tetap akan hadir, Bunda berlepas dari itu semua.” Sedih rasanya ketika harus berjalan tanpa seiring seperti ini.
Begitulah kehidupan ini penuh dengan suka duka ceria dan romantika. Betapa heterogen dan kompleks masalah yang timbul mengemuka. Prinsip akidah yang benarpun sulit sekali untuk diterapkan dalam keluarga apalagi untuk masyarakat yang lingkupnya lebih luas lagi.
Sesungguhnya dalam setiap kesulitan itu akan ada kemudahan. Alloh will show the way, the best way for us !!!.
#################################*****################################

No comments:

Post a Comment