MENGGAPAI RAHMAT-MU
By: Mutiara Sakha
Ramai suara
orang-orang berkeliling membangunkanku untuk segera beranjak menyiapkan makan
sahur. Kutatap anak dan suamiku yang masih
asyik bergelung merenda mimpi.
“Ayah, bangun
dong bantuin nyiapin makanan sahur,” kupencet hidungnya yang mancung dengan gemas.
“Iyalah
bentar lagi. Bunda aja duluan yang bangun nanti aku nyusul,” katanya tanpa
membuka mata. Hufft... Mau bilang apa lagi
memang belahan hatiku ini termasuk manusia yang doyan banget tidur.
Pantas saja perutnya semakin buncit. Doyan makan dan juga suka tidur.
“Ayolah,
lagian masa sih nggak pengen tambah pahala di bulan suci ini. Sayang khan kalau
bulan Ramadhan Mubarok cuma habis buat
tidur mulu,” omelku panjang kali lebar sama dengan sebal.
Dengan
memasang muka bebek akhirnya aku
beranjak ke dapur sendirian. Si kecil
tadi sore berpesan untuk dibuatkan jamur
kriuk. Makanan favoritnya ini memang simpel saja membuatnya hanya suwiran jamur tiram yang dimasukan ke dalam celupan
telur dan tepung beras kemudian digoreng kering.
Segera kubenahi dapur yang begitu berantakan sisa
buka puasa tadi sore. Piring, gelas dan alat memasak yang lain masih
bergelimpangan kotor menyebalkan. Memang untuk mendidik anak dan suami supaya
peduli akan kebersihan sangatlah sulit, harus disertai dengan omelan yang
panjangnya melebihi gerbong kereta api. Itupun
belum tentu berhasil seperti yang diharapkan. Astaghfirullah .....
sabar, sabar.
Yah,
beginilah nasib seorang ibu yang juga bekerja membantu mencari nafkah untuk
keluarga, kadang tenaga telah habis terkuras di luar rumah. Ada rasa iri juga
ketika melihat tetangga yang telah berhasil bersinergi dalam pekerjaan rumah
tangga. Begitu harmonis dan penuh pengertian, mungkin inilah surga dunia itu
secara sederhana.
Kutepis keluh
dan nelangsa yang seringkali bertengger manis di unjung rasa hati ini.
Bagaimanapun keluargaku adalah takdir
dari Illahi yang harus selalu dibina dan syukuri setiap saat. Tuhan tidak
pernah salah dan keliru dalam menulis
lembar takdir yang telah digariskan untuk setiap hambanya. Inilah yang terbaik
untuk kami. Percaya dan berkhusnudhon
pada suratan Illahi adalah yang terbaik,
semoga.
“Ayo... pada
bangun semua. Makanan sudah siap nanti keburu terlambat lho. Anak cantiknya
Bunda kok nggak bangun juga? Ketinggalan berkah mau?”
“Iyalah, Bunda. Mau susu dulu
dong. “ Assa merajuk sambil merem.
Heemm
....kebiasaan mengulur waktu pakai acara minta ini dan itu. Kesabaranku memang
harus berlipatganda di bulan suci ini. Mungkin harus mengambil stok maksimal
agar tidak berujung pada kemarahan yang akan merusak pahala puasa.
Suara
televisi beradu dengan denting sendok . Coleteh Assa menambah ramai
suasana dini hari itu. Ramadhan telah
beranjak separuh perjalanan. Tiada terasa hingga belum banyak amalan dilakukan.
Taraweh yang lebih ramai dengan tangisan
anak balita sama sekali tidak bisa ternikmati sepenuhnya, tilawah yang belum
seberapa dan pengajian setiap pagi rutin itupun terkadang banyak terlewatkan
Ya Rabbi,
betapa sia-sia waktu penuh barokah yang
telah terlewatkan begitu saja tanpa makna. Rutinitas kantorpun tak jauh
beda dengan hari-hari lain masih sering bergosip ria, mulut tiada terkontrol komentar sana sini bak komentator sepak bola
handal. Lalu apakah lagi yang masih tersisa? Apakah pahala puasa masih
teraih? Wallahu a’lam. Mulut seorang
wanita memang tajam dan sangat licin untuk berkata-kata karena itulah dalam
hadits Rasulullah telah bersabda bahwa berbicaralah yang baik atau diam.
Sesungguhnya
ibadah puasa itu untuk Alloh dan hanya
Dialah yang akan menilainya. Akan tetapi sebagaimana manusia yang bersyukur
setidaknya harus ada rasa malu hati atas
segala karunia yang telah diberikan. Mencoba memaksimalkan peluang yang ada
untuk meraih surga yang telah dijanjikan, berharap bisa memasuki pintu Arroyan
kelak. Sebuah pintu yang disediakan untuk para ahli puasa.
Suasana
lingkungan rumah dan kantor yang jauh dari nilai-nilai keislaman sebenarnya
merupakan tantangan tersendiri yang bisa menjadi ladang dakwah, akan tetapi
apabila dihadapi dengan bekal seadanya maka niscaya akan terbawa arus yang tidak diinginkan. Tarbiyah rutin atau
pengajian rutin satu minggu sekali adalah solusi walaupun sulit untuk
menajalani di tengah kehidupan yang justru semakin jauh dari Illahi.
Suatu siang yang terik matahari
dengan perkasanya bnersinar dengan kekuatan penuh kegarangan, Assa berlari
menuju ke rumah. Anak manis berumur 10 tahun itu terengah-engah dengan peluh
membanjir,” Bunda, Assa mau minum, habis itu puasa lagi ya.” Tatapan matanya
memelas seperti anak kucing kelaparan. Tentunya setelah bermain sepeda akan
segar rasanya meneguk air putih walau cuma seteguk.
“Nggak boleh dong, malu sama
Alloh. Khan udah gede, masa begitu puasanya.” Anaku menggelembungkan bibirnya
yang montok. Biasa pasti ngambeg lagi.
“Ih, Bunda
jahat. Itu barusan Bapaknya Iteh makan di depan rumah, padahal khan udah tua,
kenapa boleh nggak puasa,” wajahnya semakin merengut sebal. Ya Malik,
kuatkanlah hati dan kesabaran kami semua. Memang berat tantangan dan godaan
bagi anak sekecil dia. Terkadang apa yang telah
berusaha kutanamkan kepadanya menjadi mentah tak berarti. Usaha
menitipkan anak-anak pada lembaga islam terpadu sejak balita ternyata masih
belum cukup menepis godaan semacam itu. Pesimis dan rerasa bingung masih saja
bersemayam nyaman di dalam hati.
Oleh karena
itulah kedua kakaknya selepas Sekolah Dasar melanjutkan pendidikanya ke
Tsanawaiyah yang berada di pondok pesantren luar kota. Pada awalnya banyak
sekali omongan miring yang kudengar. Banyak yang bilang tidak tega melihat anak sekecil itu hidup
mandiri jauh dari orang tua dengan segala keterbatasan yang ada. Tapi
inshaallah semua berpulang kepada niat.
Sebaik-baiknya bekal adalah ilmu agama sebagai sarana keselamatan di dunia dan
akhirat. Hanya kepada-Nya kami berharap dan memohon pertolongan. Dimanapun bumi
Alloh terbentang, semoga anaku selalu dalam
naungan kasih sayang-Nya.
Bukan sekali
dua aku berusaha membentuk pengajian kampung atau lingkup Rukun Tetangga,
kendala yang muncul adalah tiada guru
atau ustad yang bisa mengajar dengan rutin. Dengan sendirinya pengajian itu
terhenti begitu saja. Sangat disayangkan. Sedangkan aku sendiri masih belum
berkemampuan untuk mengisi kajian karena keterbatasan ilmu yang kumiliki.
Mungkin suatu saat nanti akan kubentuk lagi pengajian serupa, seribu jalan terhampar tergantung niat dan keinginan
manusia.
“Bunda tadi
ada tetangga datang, katanya mau ngajakin
buat acara selamatan memasuki akhir Ramadhan,” suamiku menatap wajahku
yang datar. Untuk acara semacam ini aku tak akan pernah ikut serta. Tak ada
anjuran dari Alloh dan Rasul-Nya, bahkan kutakutkan bila acara semacam ini
adalah bid’ah. Sungguh sulit memberi pemahaman bahkan terhadap keluarga sendiri
bahwa dilarang untuk berkreativitas dalam hal-hal ibadah semacam ini, sangat
berbahaya. Bisa hancur seluruh amalan
yang ada bila sampai menyentuh hal
sesat.
“Bunda nggak
akan pernah mau,Yah. Biarkan saja orang lain mau bilang apa. Toh amalan itu
tidak berdasar kok,” kataku pelan.
“Jangan gitu
dong, Bunda. Ga enak rasanya. Toh kita hanya sekedar berdoa bersama.”
“Maaf tapi
tetap tidak bisa. Silakan kalau Ayah tetap akan hadir, Bunda berlepas dari itu
semua.” Sedih rasanya ketika harus berjalan tanpa seiring seperti ini.
Begitulah
kehidupan ini penuh dengan suka duka ceria dan romantika. Betapa heterogen dan
kompleks masalah yang timbul mengemuka. Prinsip akidah yang benarpun sulit
sekali untuk diterapkan dalam keluarga apalagi untuk masyarakat yang lingkupnya
lebih luas lagi.
Sesungguhnya
dalam setiap kesulitan itu akan ada kemudahan. Alloh will show the way, the best way for us !!!.
#################################*****################################
No comments:
Post a Comment