AKU MILIK-MU
By. Mutiara Sakha
“Apa? Anak Pak Romi hamil? Yang
benar saja bukankah sudah lama berkerudung?”
“Iya. Memangnya pada belum tahu
ya. Kan udah tiga bulan, denger-denger minggu depan mau dinikahin.”
“Namanya juga anak jaman
sekarang. Mau berkerudung apa tidak kelihatannya sama aja ah. Liat aja kalau
malam minggu di Alun-alun banyak yang pada mojok tuh para jilbaber kebanyakan.
Tingkahnya sama aja sungguh memalukan ya.”
“Iya. Udah nutup aurat tapi
masih mendekati zina juga. Iihh.... mudah-mudahan anakku nggak kena racun yang
begituan ya?”
“Eh. Udahan ngomongnya ada
anaknya tuh. Stt....”
“Berapa semaunya harga
belanjaanku, Mang?”
Suara-suara itu bagaikan pedang yang menusuk hatiku yang
berdarah. Nyeri. Astaghfirrullah....
Begegas kutinggalkan lapak
belanjaan Mang Engkus, terasa wajah memerah, marah dalam gigil kekalutan
bercampur kepedihan.
Ya Rabbi, ampuni aku atas segala
khilaf dan dosa yang menggunung ini. Hanya kepada-Mu aku bersimpuh dan
menangis.
Sungguh hambamu ini hanyalah mahluk
yang hina dina dan pembawa aib keluarga, kuburlah , dosa besar ini, Tuhanku.
Aku tak tega melihat kesedihan
Mamak dan Bapakku yang selalu dirundung duka oleh tingkah polahku.
Matahari pagi lembut menyinari
bayangan kabut yang masih enggan beranjak. Ku kemasi peralatan kemping yang
masih berserakan. Hari ini aku dan anggota Mapala berencana untuk mengadakan acara alam terbuka
di sebuah tempat di kaki gunung Slamet.
Ya, begitulah kebiasaan Klub
Mapala di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi tempatku belajar. Selalu aktif dan
kreatif membuat program yang bermafaat.
Kali ini program kemping ini ditambah dengan memerikan bantuan sembako kepada
penduduk kurang mampu di daerah sekitar.
“Gina, tuh dipanggil sama Aldo.
Buruan deh kayanya ada yang penting,” Tiur menggamit lenganku tiba-tiba. Ada
rasa aneh yang merayapi dinding hatiku, terasa sangat sejuk mendebarkan.
Gelisahku sangup meruntuhkan keraguan
yang mendera tiba-tiba.
Aldo, siapa tak kenal dengan
pendekar gunung yang satu ini. Pria macho berahang kukuh serba bisa idola para
gadis kampus. Walaupun demikian gayanya cukup santun sehingga tak mudah untuk
ditaklukan dengan mudah.
“Emm... Ada apa memanggilku ke
sini.” Huff.... lihatlah untuk sekedar menyebut namanya saja aku tak sanggup.
Benar-benar norak !!
“Ada yang mau aku omongin.
Duduklah.”
Ampuunnn...
Dingin banget sih , berasa
berendam di dalam air es saja rasanya.
“Ayolah. Kenapa hanya bengong
begitu rupa. Atau takutkah pada tampangku yang kece ini?” Senyumnya mengembang
lebar selebar hamparan langit yang membiru.
Aku bergeming. Melangkah
malu-malu sambil merasakan irama jantungku yang hampir serupa bunyi bedug di hari raya. Riuh rendah, andaikan Aldo
mendengar tentulah akan tertawa hinggan terlihat gigi geliginya.
Begitulah awal mula hubungan
kami, semakin lama terasa menyenangkan.
Bagiku bunga-bunga bermekaran setiap hari tiada henti. Dunia seakan selalu bernyayi ceria,
memabukkan.
Semua kegiatan sehari-hari
hampir selalu berdua. Makan, belanja buku dan mengerjakan tugas dari dosen.
Kebetulan saja kami satu angkatan dan satu jurusan pula maka peluang untuk selalu bersama sangat dimungkinkan.
Hingga suatu ketika terjadilah
sesuatu yang haram untuk dilakukan. Semua terjadi begitu saja tanpa kami
inginkan. Sungguh jebakan setan telah merenggut kesadaran kami berdua.
Memalukan sekaligus memilukan.
Setelah kejadian itu aku terus
mengurung diri di kamar kost. Tak mampu lagi menatap masa depan. Tatapan
orang-orang sekeliling kurasakan sebagai duri. Entahlah mereka tahu atau tidak
kejadian kotor itu. Yang jelas ketakutan senantiasa mengikuti bagaikan bayangan
hitam .
Aldo setiap hari menghubungiku
dan menghujani dengan SMS yang isinya meminta maaf, berjanji akan
bertanggungjawab sepenuhnya dengan kodisi apapun yang akan terjadi pada
hubungan kami.
Setelah dua minggu berlalu aku
merasakan Morning Sickness. Ya Rabbi, ternyata perbuatan tanpa disengaja
itu telah berbuah saat ini. Begitu cepat Kau menyadarkan aku akan dosa yang
tiada kuinginkan. Sesak, sesalku tiada berguna lagi.
Hari-hari berlalu tanpa mampu
kucegah, pada akhirnya kami berdua harus bertanggungjawab sebagai anak yang
tidak berbakti. Sanksi apapun harus dihadapi termasuk bila nanti sampai terusir
dari rumah. Hal itu sudah menjadi konsekuensi yang harus dijalani. Tak ada
sedikitpun fikiran untuk menambah dosa
lagi dengan menggugurkan kandunganku. Ini sudah takdir yang tertulis karena
jalan pencarian jodoh yang telah tertempuh telah melanggar dari syariat. Proses
ta’aruf yang seharusnya tidak dimaknai sebagai pacaran.
Tangisku memecah sunyi ruang
rawat yang telah menjadi saksi perjuangan bapakku selama sepekan. Dalam
semangat hidup yang sirna dan deraan kecewa akhirnya penyakit jantung Beliau
kambuh kembali.
Gundukan tanah merah basah dalam
siraman dukaku. Kurengkuh nisan orang yang telah merawat hati dan jiwaku selama puluhan tahun. Mimpi manis itu telah pergi. Orang yang
paling aku hormati itu tak mungkin lagi melihatku menjadi sarjana. Ampuni anakmu, Pak.
“Ayolah, Nak. Hari mulai petang.
Tak baik larut dalam duka berkepanjangan. Rasulullah melarang kita berkabung
secara berlebihan,” suara mamak serak menahan tangis.
“Nggak, Mak. Gita tetap disini,
temani bapak. Gita telah membunuh orang tua sendiri, sungguh durhaka,”
kurenggut kerudung di kepala tak pantas lagi orang seperti diriku memakainya.
Mamak menangis terguncang
memeluk bahuku, merapikan kerudungku perlahan-lahan. “Hanya ini
satu-satunya wasiat Bapakmu, jangan
sampai kau cabut hidayah-Nya dengan membuka auratmu lagi. Mari kita pulang.”
Hitam langit senja serasa
menggelayut dalam dadaku. Bertasbih menunggu titah untuk menurunkan titik-titik
air pembawa rahmat bagi alam semesta. Etah suka ataupun tidak esok hari mentari akan
kembali bersinar menerangi jagat raya.
Bunga-bunga kembali bermekaran
semerbak mewangi serupa kesturi. Ceria menyambut kupu-kupu datang berkunjung
mencumbui.
Kubelai rambut halus bayiku yang
molek. Berahang kukuh serupa ayah
kandungnya. Kurealakan cita-citaku terbang tertunda untuk sementara waktu.
Kelak akan kuraih cita cinta bapak dengan menyandang gelar sarjana. Walaupun harus
membesarkan bayiku seorang diri.
Ya. Laki-laki berahang kukuh itu
tak pernah datang untuk menemani. Dia
pergi setelah akad nikah kami yang sendu tanpa kehadiran wali sesungguhnya yang
telah mendahului pergi. Lenyap bagaikan tertelan bumi.
Tetapi kuyakin Dia selalu ada
dalam setiap hela nafas ini, begitu
dekat sedekat urat leher. Dan aku tak pernah sendiri.
#####################################
Nusakambangan. 07 Juni 2014.
No comments:
Post a Comment