Wednesday, September 10, 2014

AKU MILIK-MU



AKU MILIK-MU
By. Mutiara Sakha

“Apa? Anak Pak Romi hamil? Yang benar saja bukankah sudah lama berkerudung?”
“Iya. Memangnya pada belum tahu ya. Kan udah tiga bulan, denger-denger minggu depan mau dinikahin.”
“Namanya juga anak jaman sekarang. Mau berkerudung apa tidak kelihatannya sama aja ah. Liat aja kalau malam minggu di Alun-alun banyak yang pada mojok tuh para jilbaber kebanyakan. Tingkahnya sama aja sungguh memalukan ya.”
“Iya. Udah nutup aurat tapi masih mendekati zina juga. Iihh.... mudah-mudahan anakku nggak kena racun yang begituan ya?”
“Eh. Udahan ngomongnya ada anaknya tuh. Stt....”
“Berapa semaunya harga belanjaanku, Mang?”
Suara-suara  itu bagaikan pedang yang menusuk hatiku yang berdarah.  Nyeri. Astaghfirrullah.... 
Begegas kutinggalkan lapak belanjaan Mang Engkus, terasa wajah memerah, marah dalam gigil kekalutan bercampur kepedihan.
Ya Rabbi, ampuni aku atas segala khilaf dan dosa yang menggunung ini. Hanya kepada-Mu aku bersimpuh dan menangis.
Sungguh hambamu ini hanyalah mahluk yang hina dina dan pembawa aib keluarga, kuburlah , dosa besar ini, Tuhanku.
Aku tak tega melihat kesedihan Mamak dan Bapakku yang selalu dirundung duka oleh tingkah polahku.
Matahari pagi lembut menyinari bayangan kabut yang masih enggan beranjak. Ku kemasi peralatan kemping yang masih berserakan. Hari ini aku dan anggota Mapala  berencana untuk mengadakan acara alam terbuka di sebuah tempat di kaki gunung Slamet.
Ya, begitulah kebiasaan Klub Mapala di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi tempatku belajar. Selalu aktif dan kreatif  membuat program yang bermafaat. Kali ini program kemping ini ditambah dengan memerikan bantuan sembako kepada penduduk kurang mampu di daerah sekitar.
“Gina, tuh dipanggil sama Aldo. Buruan deh kayanya ada yang penting,” Tiur menggamit lenganku tiba-tiba. Ada rasa aneh yang merayapi dinding hatiku, terasa sangat sejuk mendebarkan. Gelisahku  sangup meruntuhkan keraguan yang mendera tiba-tiba.
Aldo, siapa tak kenal dengan pendekar gunung yang satu ini. Pria macho berahang kukuh serba bisa idola para gadis kampus. Walaupun demikian gayanya cukup santun sehingga tak mudah untuk ditaklukan dengan mudah.
“Emm... Ada apa memanggilku ke sini.” Huff.... lihatlah untuk sekedar menyebut namanya saja aku tak sanggup. Benar-benar norak !!
“Ada yang mau aku omongin. Duduklah.”
Ampuunnn...
Dingin banget sih , berasa berendam di dalam air es saja rasanya.
“Ayolah. Kenapa hanya bengong begitu rupa. Atau takutkah pada tampangku yang kece ini?” Senyumnya mengembang lebar selebar  hamparan langit yang membiru.
Aku bergeming. Melangkah malu-malu sambil merasakan irama jantungku yang hampir serupa bunyi  bedug di hari raya. Riuh rendah, andaikan Aldo mendengar tentulah akan tertawa hinggan terlihat gigi geliginya.
Begitulah awal mula hubungan kami, semakin lama  terasa menyenangkan. Bagiku bunga-bunga bermekaran setiap hari tiada henti.  Dunia seakan selalu bernyayi ceria, memabukkan.
Semua kegiatan sehari-hari hampir selalu berdua. Makan, belanja buku dan mengerjakan tugas dari dosen. Kebetulan saja kami satu angkatan dan satu jurusan pula maka peluang  untuk selalu bersama sangat dimungkinkan.
Hingga suatu ketika terjadilah sesuatu yang haram untuk dilakukan. Semua terjadi begitu saja tanpa kami inginkan. Sungguh jebakan setan telah merenggut kesadaran kami berdua. Memalukan sekaligus memilukan.
Setelah kejadian itu aku terus mengurung diri di kamar kost. Tak mampu lagi menatap masa depan. Tatapan orang-orang sekeliling kurasakan sebagai duri. Entahlah mereka tahu atau tidak kejadian kotor itu. Yang jelas ketakutan senantiasa mengikuti bagaikan bayangan hitam .
Aldo setiap hari menghubungiku dan menghujani dengan SMS yang isinya meminta maaf, berjanji akan bertanggungjawab sepenuhnya dengan kodisi apapun yang akan terjadi pada hubungan kami.
Setelah dua minggu berlalu aku merasakan Morning Sickness.  Ya Rabbi, ternyata perbuatan tanpa disengaja itu telah berbuah saat ini. Begitu cepat Kau menyadarkan aku akan dosa yang tiada kuinginkan. Sesak, sesalku tiada berguna lagi.
Hari-hari berlalu tanpa mampu kucegah, pada akhirnya kami berdua harus bertanggungjawab sebagai anak yang tidak berbakti. Sanksi apapun harus dihadapi termasuk bila nanti sampai terusir dari rumah. Hal itu sudah menjadi konsekuensi yang harus dijalani. Tak ada sedikitpun  fikiran untuk menambah dosa lagi dengan menggugurkan kandunganku. Ini sudah takdir yang tertulis karena jalan pencarian jodoh yang telah tertempuh telah melanggar dari syariat. Proses ta’aruf yang seharusnya tidak dimaknai sebagai pacaran.
Tangisku memecah sunyi ruang rawat yang telah menjadi saksi perjuangan bapakku selama sepekan. Dalam semangat hidup yang sirna dan deraan kecewa akhirnya penyakit jantung Beliau kambuh kembali.
Gundukan tanah merah basah dalam siraman dukaku. Kurengkuh nisan orang yang telah merawat  hati dan jiwaku selama puluhan tahun.  Mimpi manis itu telah pergi. Orang yang paling aku hormati itu tak mungkin lagi melihatku menjadi sarjana.  Ampuni anakmu, Pak.
“Ayolah, Nak. Hari mulai petang. Tak baik larut dalam duka berkepanjangan. Rasulullah melarang kita berkabung secara berlebihan,” suara mamak serak menahan tangis.
“Nggak, Mak. Gita tetap disini, temani bapak. Gita telah membunuh orang tua sendiri, sungguh durhaka,” kurenggut kerudung di kepala tak pantas lagi orang seperti diriku memakainya.
Mamak menangis terguncang memeluk bahuku, merapikan kerudungku perlahan-lahan. “Hanya ini satu-satunya  wasiat Bapakmu, jangan sampai kau cabut hidayah-Nya dengan membuka auratmu lagi. Mari kita pulang.”
Hitam langit senja serasa menggelayut dalam dadaku. Bertasbih menunggu titah untuk menurunkan titik-titik air pembawa rahmat bagi alam semesta.  Etah suka ataupun tidak esok hari mentari akan kembali bersinar menerangi jagat raya.
Bunga-bunga kembali bermekaran semerbak mewangi serupa kesturi. Ceria menyambut kupu-kupu datang berkunjung mencumbui.
Kubelai rambut halus bayiku yang molek. Berahang kukuh  serupa ayah kandungnya. Kurealakan cita-citaku terbang tertunda untuk sementara waktu. Kelak akan kuraih cita cinta bapak dengan menyandang gelar sarjana. Walaupun harus membesarkan bayiku seorang diri.
Ya. Laki-laki berahang kukuh itu tak pernah datang  untuk menemani. Dia pergi setelah akad nikah kami yang sendu tanpa kehadiran wali sesungguhnya yang telah mendahului pergi. Lenyap bagaikan tertelan bumi.
Tetapi kuyakin Dia selalu ada dalam setiap hela nafas ini,  begitu dekat sedekat urat leher. Dan aku tak pernah sendiri.
#####################################
Nusakambangan. 07 Juni 2014.

No comments:

Post a Comment