PRESIDEN IMPIAN
By: MUTIARA SAKHA
Selepas
senja sekawanan burung riuh terbang
mencari kehangatan sarangnya, pulang. Sebagaimana yang terjadi di rumah keluarga Rahmat. Bangunan mungil nan asri itu terdengar ramai dengan celoteh riang para penghuni rumah yang sedang menikmati makan
malam bersama. Hawa dingin pegunungan
Slamet tak mereka rasakan.
“Ummi,
itu kakak merebut perkedel jagungku. Curang.” Abror si Bungsu merengut marah.
“Astaghfirullah.
Anak-anak jangan berebut. Bikin malu
saja ah. Khan masih banyak tuh lauknya. Kakak Azzam, nggak boleh serakah dong. Kita harus isrof
mendahulukan orang lain. Apalagi Kakak lebih besar, seharusnya sudah lebih
mengalah.” Ummi Ilma jadi penceramah ala Mamah Dedeh lagi seperti biasanya.
“Iyalah,
Mi. Kakak cuma bercanda aja kok. Biar rame rumah kita. He....”
“Kenapa
sih godain Adik terus? Males tahu? Kakak
emang nyebelin.”
“Maaf
ya, Kakak becanda kok, guyon aja. Habis kangen denger Adik merajuk gitu
lucu....” Dengan tersenyum jahil Azzam menatap Abror.
“Ya
sudah, teruskan makan. Nanti kesedak loh. Ummi mau ambil buah sebentar.”
“Iya.
Denger apa kata Ummi kalian tuh. Kalau makan harus tenang. “ Pak Rahmat mulai
angkat bicara. Dalam keseharian guru agama ini memang terkenal sebagai orang
yang irit bicara. Lebih baik diam daripada bicara yang tidak benar merupakan
semboyan Beliau.
“Abi,
Azzam sudah punya hak pilih khan besok
Pemilu Presiden?”
“Inshaalloh
sudah kok. Memangnya kenapa? Udah punya calon yang bakal dicoblos ya?”
“Nggak
juga sih, Bi. Belum ada yang cocok. Nggak tahu deh mo milih sapa?”
Abror
menyela dengan mulut penuh,“Kalau begitu pilih aja dua-duanya, Kak. Khan kasian
yang nggak kepilih. Kasian, kasian,kasian.”
“Yeee....
mana bisa begitu. Harus ada yang kalah dong. Itu namanya sportif, Kudu legowo.
Ya khan, Bi?”
“Iya
begitulah. Harus fair play namanya. Eh... ada black campaigne juga tuh. Gimana
menurut Ummi?” Abi memcolek Ummi yang baru saja datang membawa semangkuk
potongan pepaya dengan perasan air jeruk plus taburan gula pasir. Heem.. yummy.
“Wah
memang begitu sih, masalah curi-curi start juga biasa banget ya? Terus kita
pilih siapa ya? Sayangnya Bu Risma nggak
nyalon sih. Pilihan tepat untuk rakyat sekarat ya seperti itu menurut Ummi
sih.”
“Risma
siapa sih, Mi?”
“Itu
Abror Walikota Surabaya yang siap mati
untuk menutup gang Dolly. Daerah lokalisasi yang sudah sangat lama menjadi ikon
jelek kota Surabaya.”
“Kalau saja masih ada orang yang seperti
Khalifah Umar Bin Khatab di jaman
Rasulullah SAW yang tak ragu bersusah payah memanggul gandum malam-malam untuk dibagikan kepada rakyat
yang kelaparan, pasti aku angkat jadi presiden selamanya.” Azzam menerawang
jauh ke masa keemasan umat islam.
“Iya,
Zam. Tapi masih dimana kita akan temukan
orang seperti itu? Abi sendiri merasa
bahwa negeri kita ini sudah sakit parah banget. Kudu dirawat secara intensif
dan istiqomah.”
“Ummi pikir juga sulit lagi kita
beranjak. Tapi toh kita harus optimis loh. Setidaknya masih ada orang yang
berani bertindak dengan mengabaikan nyawa sendiri. Demi mengakkan kebenaran.
Seperti Bu Risma tadi. Mengatur keluarga
sendiri aja sulit apalagi sebuah negara ya, Bi?”
“Eh... lho ... kok seperti bau gosong
sih, Mi? Apa ini ya? Cepetan tengokin ke dapur, Zam.” Pak Rahmat
mendadak kaget dan begegas ke belakang.
“Ya.... bener tuh. Tempenya
gosong....!!! Jerit Ummi panik bin pias.
“Haa..haa haa.........”
“Ummi,Ummi gimana mau ngatur negara
kalau ngatur tempe biar selamat dari
kegosongan aja belum bisa.” Gelak tawa
mereka terdengar sampai luar rumah. Sungguh keluarga yang sakinah.
Nusakambangan,
21 Juni 2014.
######################*****###############****########################
No comments:
Post a Comment