Wednesday, September 10, 2014

PRESIDEN IMPIAN



PRESIDEN IMPIAN
By: MUTIARA SAKHA

            Selepas senja sekawanan burung riuh  terbang mencari kehangatan sarangnya, pulang. Sebagaimana yang terjadi di rumah  keluarga Rahmat.  Bangunan mungil nan asri  itu terdengar ramai dengan celoteh riang para  penghuni rumah yang sedang menikmati makan malam bersama.  Hawa dingin  pegunungan  Slamet tak mereka rasakan.
            “Ummi, itu kakak merebut perkedel jagungku. Curang.” Abror si Bungsu merengut  marah.
            “Astaghfirullah. Anak-anak  jangan berebut. Bikin malu saja ah. Khan masih banyak tuh lauknya. Kakak Azzam,  nggak boleh serakah dong. Kita harus isrof mendahulukan orang lain. Apalagi Kakak lebih besar, seharusnya sudah lebih mengalah.” Ummi Ilma jadi penceramah ala Mamah Dedeh lagi seperti biasanya.
            “Iyalah, Mi. Kakak cuma bercanda aja kok. Biar rame rumah kita. He....”
            “Kenapa sih godain  Adik terus? Males tahu? Kakak emang nyebelin.”
            “Maaf ya, Kakak becanda kok, guyon aja. Habis kangen denger Adik merajuk gitu lucu....” Dengan tersenyum jahil Azzam menatap Abror.
            “Ya sudah, teruskan makan. Nanti kesedak loh. Ummi mau ambil buah sebentar.”
            “Iya. Denger apa kata Ummi kalian tuh. Kalau makan harus tenang. “ Pak Rahmat mulai angkat bicara. Dalam keseharian guru agama ini memang terkenal sebagai orang yang irit bicara. Lebih baik diam daripada bicara yang tidak benar merupakan semboyan Beliau.
            “Abi, Azzam sudah punya hak pilih khan  besok Pemilu Presiden?”
            “Inshaalloh sudah kok. Memangnya kenapa? Udah punya calon yang bakal dicoblos ya?”
            “Nggak juga sih, Bi. Belum ada yang cocok. Nggak tahu deh mo milih sapa?”
            Abror menyela dengan mulut penuh,“Kalau begitu pilih aja dua-duanya, Kak. Khan kasian yang nggak kepilih. Kasian, kasian,kasian.”
            “Yeee.... mana bisa begitu. Harus ada yang kalah dong. Itu namanya sportif, Kudu legowo. Ya khan, Bi?”
            “Iya begitulah. Harus fair play namanya. Eh... ada black campaigne juga tuh. Gimana menurut Ummi?” Abi memcolek Ummi yang baru saja datang membawa semangkuk potongan pepaya dengan perasan air jeruk plus taburan gula pasir. Heem.. yummy.
            “Wah memang begitu sih, masalah curi-curi start juga biasa banget ya? Terus kita pilih siapa ya? Sayangnya Bu  Risma nggak nyalon sih. Pilihan tepat untuk rakyat sekarat ya seperti itu menurut Ummi sih.”
            “Risma siapa sih, Mi?”
            “Itu Abror  Walikota Surabaya yang siap mati untuk menutup gang Dolly. Daerah lokalisasi yang sudah sangat lama menjadi ikon jelek kota Surabaya.”
            “Kalau  saja masih ada orang yang seperti Khalifah  Umar Bin Khatab di jaman Rasulullah SAW yang tak ragu bersusah payah memanggul gandum  malam-malam untuk dibagikan kepada rakyat yang kelaparan, pasti aku angkat jadi presiden selamanya.” Azzam menerawang jauh ke masa keemasan umat islam.
            “Iya, Zam. Tapi masih  dimana kita akan temukan orang seperti  itu? Abi sendiri merasa bahwa negeri kita ini sudah sakit parah banget. Kudu dirawat secara intensif dan istiqomah.”
“Ummi pikir juga sulit lagi kita beranjak. Tapi toh kita harus optimis loh. Setidaknya masih ada orang yang berani bertindak dengan mengabaikan nyawa sendiri. Demi mengakkan kebenaran. Seperti Bu Risma  tadi. Mengatur keluarga sendiri aja sulit apalagi sebuah negara ya, Bi?”
“Eh... lho ... kok seperti bau gosong sih, Mi? Apa ini ya? Cepetan tengokin ke dapur, Zam.” Pak  Rahmat  mendadak kaget dan begegas ke belakang.
“Ya.... bener tuh. Tempenya gosong....!!! Jerit Ummi panik bin pias.
“Haa..haa haa.........”
“Ummi,Ummi gimana mau ngatur negara kalau ngatur tempe biar  selamat dari kegosongan aja belum bisa.”  Gelak tawa mereka terdengar sampai luar rumah. Sungguh keluarga yang sakinah.


                                                                        Nusakambangan, 21 Juni 2014.
######################*****###############****########################

No comments:

Post a Comment