Elegi Sahabat Sejati
By: Mutiara Sakha
Derai air mata mengabur bercampur dengan air hujan yang datang mengguyur bumi.
Aku masih tertegun, bersimpuh di atas pusara yang masih memerah basah. Sendiri dalam
kenangan yang tak akan pernah mati selamanya. Kang Slamet, sosok seorang pemuda kurus dan hitam
berambut keriting. Sahabat kecilku itu selalu tersenyum lebar dengan gigi
tonggosnya, jenaka.
**********
Pagi seperti biasa kami berdua berangkat ke pasar
untuk bekerja sebagai tukang parkir.
“Aduh kita kesiangan .” Kang Slamet mengomel seperti biasanya. Walaupun hanya tamatan
SMP akan tetapi prinsip tepat waktu selalu dipegangnya. Kupercepat ayunan langkah tergesa-gesa mengikuti langkah
kaki yang lincah berenergi, semangat
yang selalu dibawanya serta. “Kalau sampai Joko mengambil lahan kita bisa gawat ini.” Cerewetnya mulai lagi. Memang
kami berdua sudah mempunyai lahan tetap akan tetapi kadang ada saja yang tega
menyerobot apabila sedikit saja kami
datang terlambat. Si Joko preman pasar adalah salah satu “ penjajah”
yang berbahaya. Seringkali Kang Slamet berkelahi memperebutkan lahan hak kami. Seperti
pagi ini yang lagi-lagi bangun kesiangan gara-gara aku menonton bola sampai
larut malam. Hobi yang semakin
menyatukan kami berdua sampai sekarang.
“Warni, kamu itu
wong wadon sing aneh lho, doyan begadang nonton bola.” Kata Slamet suatu
ketika. Seperti biasanya aku hanya diam dan pura-pura tidak mendengar.
“Lha nanti kalau kamu menikah siapa yang akan masak buat sarapan keluarga kalau kesiangan terus, bisa marah besar bojomu.”
****************
Tiba di
pasar Gedhe ternyata lahan kami masih aman, kuhela nafas lega karena
kalau sampai diserobot orang maka alamat seharian dia bakalan ngomel panjang
melebihi ke-reta api. Beberapa menit kemudian banyak orang yang datang untuk
berbelanja, menitipkan kendaraan mereka
kepada kami berdua. Rupanya hari ini
Minggu karenanya pasar semakin
ramai saja. Aku memang tidak pernah berhitung dengan hari karena setiap hari adalah sama dan serupa, menjadi
tukang parkir dan menjadi tukang parkir, jadi apa bedanya nama-nama hari itu
bagiku?
**********
Waktu hampir menjelang Dhuhur ketika kami berjalan mencari warung nasi di dalam pasar
Gedhe, suasana mulai sepi tinggal beberapa orang yang berbelanja dan pedagang
yang tengah bersiap-siap untuk pulang. Pasar ini memang hanya buka setengah
hari saja setiap harinya terkecuali
menjelang hari raya Lebaran, jam buka bisa sampai sore hari.
Dengan cepat ku habiskan nasi rames racikan Yu Inah yang terkenal enak rasanya
dan murah pula. Karena terburu-buru akhirnya aku tersedak.
“Walah , mbok ya pelan-pelan, perempuan itu kudu
alus, lembut, pinter dandan terus penyabar ojo grusa grusu gitu tho.” Lagi-lagi
kupingku panas mendengar dengar ocehannya lagi. “ Yo ben tho Kang Slamet, nyantai
wae
aku khan masih tetep wadon tho?” Cibirku tak tahan.”Lagian Siapa yang sudi dadi bojomu Kang, udah item kurus kismin lagi”. Telak kubalas
cemoohnya sebal. Sebenarnya memang kami berdua sudah pantas mempunyai keluarga. Tapi apa daya belum ada
yang sudi melirik wajah kami berdua yang bisa di bilang lumayan “ancur”. Bukan
berarti kurang bersyukur atas karunia Alloh akan tetapi memang demikian adanya.
**********
Tak lama berselang, kami bergegas untuk pulang
segera. Terik matahari begitu panas membakar ubun-ubun pastilah akan membuat
siapapun merindukan rumah yang teduh, mandi dan beristirahat. Jalanan masih ramai dengan lalu lalang mobil, motor dan truk-truk besar pengangkut
aspal dan gas Elpiji hasil olahan
Pertamina daerah ini.
“Braakk.....”.Tiba-tiba terdengar suara yang
sangat keras, lalu gelap di sekitarku. Ketika tersadar aku pusing dan menatap
sekeliling, semuanya putih dan bau obat yang menyengat hidung. Perlahan aku
mulai menyadari bahwa ini adalah rumah
sakit, dengan was-was ku tengok seluruh
anggota badanku. “Alhamdulillah tak
kurang suatu apa. Lalu seseorang datang mendekati.” Kamu sudah sadar Mbak?”.
Suara Suster lembut menyapa dalam senyum hangat. “Apa yang terjadi Sus, dimana Kang Slamet ?”
**********
Di sini aku menangis dalam doa dan penyesalan mendalam. Ya, Kang Slamet sahabat terbaik telah pergi
selamanya. Dia tewas seketika menjadi korban tabrak lari sebuah mobil yang ngebut
kehilangan kendali siang itu. Dia telah utuh berkorban untukku, menyerahkan dirinya untuk menggantikanku. Buku tulis kecil
lusuh ini kupegang erat sebagai kenangan darinya. Sesaat sebelum di kuburkan adiknya
menyerahkan sebuah buku kecil yang
ternyata merupakan catatan hatinya setiap saat. Banyak sekali puisi indah
tertulis. Dan pada lembar terakhir terbaca “Warni,
aku tresno sliramu, i love you full”.
********************************
No comments:
Post a Comment